Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 28
BIASAKAN DIRIMU
Ruang makan yang kini terdapat 4 pelayan wanita yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Hidangan yang memuaskan tersusun rapi di atas meja panjang.
Eliza duduk, mengamati salah satu hidangan yang familiar di matanya. Tentu saja dia berkerut alis seolah tengah mengingatnya. -‘Shepherd's pie?’ Wanita itu menatap ke salah satu pelayan. “Permisi...”
Tak membuang waktu, pelayan tadi langsung menghampiri Eliza. “Anda butuh bantuan Nyonya?”
“Bukankah ini terlalu pagi untuk memakan Shepherd's pie?”
Pelayan itu tersenyum. “Ini perintah tuan Vale, kami tidak bisa menolaknya. Jika Anda tidak suka— ”
“Aku suka!” Eliza tersenyum lebar, menghargai masakan tersebut karena dibalik keindahan masakan, pasti ada tubuh yang lelah usai membuatnya.
Ia kembali menatap hidangan tersebut cukup lama, menuangkan masalalu di dalam sana yang tak pernah dia lupakan. Salah satu makanan kesukaannya dan keluarganya.
“Tidak suka makanannya?”
Eliza kaget mendengar suara dingin dan tenang itu. Sosok Vale si pria berkaos hitam, celana hitam serta jam tangan silver yang seperti warna matanya. Pria itu nampak begitu segar untuk dilihat, Eliza tidak berbohong.
“Aku menyukainya! Ini... Makanan kesukaan keluargaku.”
“Aku tahu.”
Ia langsung mengarahkan tatapan matanya ke Vale. Ucapan jujurnya sungguh membuat Eliza bingung dan merasa sedikit lebih canggung.
Eliza yang kembali menatap hidangannya, tanpa memperdulikan Vale yang duduk dan mengamatinya seperti bisa. Ia berpikir dan bergelut dalam pikirannya, meneliti seperti saat dia tengah meneliti sikap, sifat dan gerakan Luis. Dan sekarang, ucapan Vale barusan menunjukkan bahwa pria itu sudah mengorek informasi detail keluarganya termasuk dirinya.
Wanita cantik yang berbalut dress putih corak bunga kekuningan itu kembali menatap Vale. Tatapan yang terus terang.
“Tatapan mu membuatku tidak nyaman.”
“Buat dirimu nyaman, kau akan terbiasa.”
Jawaban yang sangat akurat. Eliza jadi mengingat soal kejadian semalam yang benar-benar panas. Ciuman itu, sentuhan itu, semuanya berasa nyata dan masih terasa sisa-sisanya.
Oh sungguh, betapa tegangnya Eliza saat ini. Dia seperti manekin yang tak bisa bergerak sama sekali, bahkan untuk melahap makanannya pun sangat sulit.
Tak beranjak dari duduknya, Vale masih menatap Eliza tapa bosan meski tatapannya datar dan tegas. Sampai-sampai dari arah berlawanan, terlihat Esme dan Lou berdiri sejajar namun cukup jarak.
“Apa kau pikir tuan Vale akan memanfaatkan nya? Mereka tampak akrab dalam waktu singkat!” ujar Esme yang tersenyum.
Lou hanya diam mengamati, karena dia tahu akan rencana bosnya.
Setelah sarapan selesai, Eliza masih di kursinya, begitu pula dengan Vale. Dia tak bisa menghilangkan jejak semalam jika pria bernama Vale itu terus ada di hadapannya.
“Ada yang ingin aku tanyakan.”
“Katakan.”
Eliza diam beberapa detik, mengumpulkan keberaniannya sebelum dia membuka mulut. “Informasi apa saja yang sudah kau ketahui tentang keluargaku?”
Tatapan Vale yang tajam kini perlahan mulai lebih tenang. “Samuel Taylor. Ayahmu, meminta kerjasama dengan perusahaan Vale, tapi aku menolaknya berulang kali karena aku tidak tertarik.” Jelas Vale yang entah kenapa pria itu benar-benar terlalu jujur dan terus terang, namun anehnya, Eliza tidak curiga jika sudah menyangkut keluarganya.
“Dia mengirim pesan kosong dan itu membuatku muak. Tapi aku mengutus anak buah ku untuk datang menemuinya, mansion yang cukup hening dan tenang, tidak ada seorangpun di sana.”
Bak ada yang pecah, air mata Eliza menetes, namun dia langsung berpaling dan enggan menunjukkan nya.
Tak ingin berlama-lama, Nathaniel Vale bangkit dari kursinya. “Lou, asisten ku akan mengantar mu ke Holloway.”
Seperti belum siap, Eliza langsung bangkit dari duduknya. “Apa ini terlalu cepat?”
“Ya, bahkan sangat singkat.” Jawab Vale. “Tapi pikirkan soal dirimu, kita sudah bermalam, setidaknya kau akan rugi atau tidak sama sekali Mrs. Taylor.”
Pria itu langsung pergi begitu saja.
Eliza berdiri kaku di tengah ruang makan yang perlahan kembali sunyi. Kursi Vale masih sedikit tertarik ke belakang, seolah jejak kehadirannya belum benar-benar pergi. Kata-katanya terpantul di kepalanya, dingin dan presisi seperti peluru.
Mrs. Taylor.
Bukan Elizabeth. Bukan Eliza.
Hanya nama yang terikat pada kematian.
Lou muncul beberapa menit kemudian, langkahnya nyaris tanpa suara. Wajah pria itu tetap netral, seperti patung yang diajari cara bernapas.
“Mobil sudah siap,” katanya singkat.
Eliza menelan ludah. Jari-jarinya mencengkeram ujung gaun hingga ruasnya memutih. “Dia… benar-benar akan mengirimku kembali?”
Lou tidak menjawab langsung. Ia hanya menunduk sedikit, gestur yang lebih menyerupai penghormatan daripada simpati.
“Tuan Vale tidak pernah membuat keputusan tanpa alasan.”
“Itu bukan jawaban.”
Lou menatapnya sesaat, lalu berkata pelan, “Tidak semua kandang adalah penjara. Beberapa hanyalah tempat berlindung yang bentuknya buruk.”
Eliza tertawa kecil—kering, rapuh. “Dan Holloway?”
“Adalah badai,” jawab Lou datar.
Perjalanan menuju mobil terasa seperti berjalan menuju altar pengorbanan. Hutan di sekitar mansion bergoyang perlahan diterpa angin, seperti ribuan mata yang mengintai punggungnya. Saat pintu mobil ditutup, dunia seolah mengecil menjadi ruang sempit yang dipenuhi aroma kulit dan logam dingin.
Mobil melaju.
Eliza menatap keluar jendela, melihat pepohonan berubah menjadi bayangan kabur. Jantungnya berdetak terlalu keras, terlalu cepat.
Ia tidak tahu mana yang lebih kejam: dikembalikan pada monster yang menginginkannya, atau dilepaskan oleh pria yang telah menandainya tanpa janji.
Di lantai atas mansion, Vale berdiri di depan jendela kamar kerjanya. Tangannya memegang gelas berisi cairan gelap, namun tidak disentuhnya. Tatapannya mengikuti jejak mobil yang menjauh di balik pepohonan.
Esme berdiri di ambang pintu, ragu untuk masuk.
“Anda yakin?” tanya wanita itu pelan.
Vale tidak menoleh. “Tidak.”
“Lalu kenapa—”
“Karena jika aku menyimpannya lebih lama,” potongnya dingin, “Luis akan membakar kota ini untuk menemukannya.”
Esme terdiam.
Vale mengangkat gelasnya sedikit, memandang cairan itu seperti menatap dosa yang tak bisa dihapus. “Dan aku tidak menyelamatkan orang untuk kemudian menguburnya di bawah puing-puing.”
pria itu meletakkan gelas tersebut sebelum akhirnya keluar ruangan. Sedangkan Esme hanya diam menatap ke gelas berisi cairan hitam yang mulai bersoda.
Di dalam mobil, Eliza memejamkan mata.
Bayangan Luis muncul lagi. Senyum yang terlalu lembut. Tangan yang selalu hangat sebelum menjadi besi. Janji yang selalu berubah menjadi hukuman.
Namun kini, bayangan lain menyelip di antaranya.
Sepasang mata perak. Dingin. Tajam. Tidak menjanjikan cinta—namun juga tidak berbohong tentang kebusukan dunia.
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan untukku… Nathaniel Vale?” bisiknya.
Mobil melaju semakin jauh.
Dan di balik hutan yang gelap, dua predator mulai bergerak dalam lingkaran yang sama—menuju satu nama yang tidak lagi hanya berarti milik, melainkan medan perang.
Elizabeth.