AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17: when clues slowly appears [1]
BERJALAN menuju kamar mandi, aku melepas kimono dan melemparnya ke lantai. Air hangat kemudian jatuh dari shower setelah memutar kran, membasahi mulai dari atas kepala lalu turun ke bawah. Darah yang telah mengering di bagian leher dan wajah meluruh kemudian bercampur bersama air yang mengalir ke saluran pembuangan. Selama beberapa menit, aku membiarkan seluruh tubuhku basah bersama dengan pikiran yang berkecamuk di dalam kepala.
Kimono yang kulempar ke lantai telah diambil oleh pelayan begitu aku keluar dari kamar mandi. Mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil dan mengambil kimono baru yang tersedia di meja kecil dekat kamar mandi, aku berjalan menuju meja yang di atasnya selalu tersedia sebotol anggur dan gelas. Menuangnya sebanyak setengah gelas lalu meneguknya sampai habis, aku kemudian berbaring di atas kasur.
Dengan posisi yang terlentang di atas kasur, kepalaku mulai mengurutkan hal-hal yang sudah terjadi dari awal hingga saat ini. Dimulai dengan masalah yang ditimbulkan dari kemunculan Elora hingga peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya. Semuanya sejak awal sudah tidak masuk akal, tetapi makin ke sini terasa konyol.
Kakek tua yang menjadi salah satu pemimpin pemberontakan di masa lalu belakangan kuketahui adalah seorang utusan dewa. Fakta tersebut kudapat setelah membasmi seluruh kaki tangan mendiang permaisuri di masa lalu. Berbicara tentang utusan dewa, di Adenium sendiri mereka tidak terlalu memiliki banyak pengaruh dan hanya mendapat perhatian sedikit dari masyarakat. Apalagi, sejak aku membunuh kakek tua itu, sebagian besar utusan dewa memilih pindah ke negara suci sehingga kuil yang bertahan di Adenium hanya sebanyak empat buah di masing-masing wilayah utara, timur, barat, dan selatan.
Perkataan kakek tua utusan dewa anehnya terngiang-ngiang di kepalaku sejak bertemu Elora. Selama ini, perkataannya hanya kuanggap sebagai kalimat kutukan biasa yang dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai dendam. Tak lebih dari sekadar kalimat makian dan doa kepada orang yang dibenci. Namun, makin ke sini aku jadi berpikir bahwa perkataannya itu mungkin bukan hanya omong kosong belaka. Dengan kata lain, itu bisa saja sedang terjadi tanpa disadari.
Ada takhayul yang mengatakan bahwa kemunculan sesuatu yang tiba-tiba tanpa diketahui asalnya selalu diiringi dengan sesuatu yang lain. Jika dipikirkan kembali, hal itu mungkin saja benar. Apalagi peristiwa tidak rasional yang terjadi hingga detik ini dihubungkan, maka semuanya menjadi cukup masuk akal bahwa itu entah bagaimana bisa saling terhubung dengan kejadian di masa lalu.
Aku meyakini bahwa kemunculan Elora terhubung oleh sesuatu setelah mengalami semua kejadian dari awal sampai akhir. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apa hubungan antara Elora dengan peristiwa di masa lalu? Apakah dia adalah kutukan?
***
Sebelum matahari terbit, aku biasanya keluar untuk menggerakkan badan. Berlatih pedang selama satu jam sebelum sarapan dan kembali mengerjakan rutinitas lain. Namun, begitu membuka pintu kamar, tepat di samping pintu, Elora dengan tubuh mungilnya duduk sembari bersandar di tembok. Dia melipat kedua lutut dan tertidur dengan menjadikan kedua lengan sebagai bantal. Aku lantas melirik dua orang ksatria yang bertugas menjaga kamar kaisar, tetapi yang mereka lakukan hanyalah saling melirik satu sama lain.
“Maaf, Yang Mulia.” Salah satu dari mereka akhirnya membuka suara. “Kami telah menyuruh Putri agar kembali ke kamarnya, tetapi beliau tetap bersikeras dan mengancam akan menangis.”
“Kami takut membangunkan Yang Mulia ….” Ksatria kedua melanjutkan, “Maka dari itu, kami terpaksa membiarkan Putri di sini.”
Mereka kemudian membungkuk bersamaan sembari berkata, “Mohon maafkan kami, Yang Mulia!”
Aku mendecak lalu melirik. Dia tidur dengan nyenyak meski posisinya seperti tu, tetapi yang membuatku bingung adalah dia menangis? Aku bahkan tidak mendengar apapun semalam padahal tangisan anak ini biasanya membuat tendang telingaku pecah.
***
Kemeja putih dan celana hitam yang melekat di tubuh ternyata sudah basah oleh keringat begitu ayam berkokok. Aku memasukkan pedang ke dalam sarung dan kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari tempatku berlatih kemudian menghampiri sambil membawa handuk di tangan. Sembari mengelap keringat di wajah dan leher, kepala pelayan bertanya,
“Untuk menu sarapan nanti, apakah Yang Mulia mempunyai menu khusus yang ingin dimakan?”
“Ya, buatkan menu full breakfast dan salad,” jawabku sembari mengembalikan handuk.
“Baik, Yang Mulia.”
Ketika keluar dari kamar mandi, Elora duduk melamun di tempat tidur dengan selimut yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia tidak bicara dan hanya menatap lurus ke depan sehingga membuatku yang sedang mengeringkan rambut bertanya-tanya.
“Kau baik-baik saja?”
Dia sepertinya langsung sadar begitu mendengar suaraku. Matanya mengerjap beberapa kali dan memandang dengan netra biru cerah yang berbinar. “Apa Papa yang menggendong El ke sini?”
“Ya.”
“Telima kasih, Papa, hehe.”
Pelayan yang membawa seragam yang akan kugunakan hari ini kemudian masuk setelah memastikan bahwa aku telah selesai membersihkan diri. Mereka langsung mengambil tempat di sekelilingku dan membantu memakaikan seragam. Masing-masing bertanggung jawab mengancingkan kemeja, memasang belt, mencocokkan perhiasan dengan ornament kemeja, dan memakaikan sepatu.
Cermin memantulkan bayangan Elora yang masih berada di posisi yang sama seperti tadi. Netranya terlihat berbinar dan penuh kagum saat melihat pelayan memasangkan bros di dada kanan. Ketika pelayan selesai mengerjakan tugas dan keluar, anak itu sepertinya menunggu-nunggu momen ini dan berkata,
“El ingin sepelti Papa.”
Aku menaikkan alis. “Sepertiku?” Dia mengangguk dan aku bertanya kembali. “Kenapa?”
“Kalena Papa sangat kelen, hehe. Pokoknya di mata El Papa adalah olang yang paling tampan di dunia ini!” katanya sembari mengangkat kedua tangan ke atas tinggi-tinggi. “El ingin menikah dengan Papa.”
Aku yang sedang merapikan penampilan di depan cermin kemudian membalik badan. Melipat kedua tangan di depan dada, menatapnya datar, bertanya, “Kau ingin menikah denganku?”
“Ya.”
“Kita tidak bisa menikah.” Aku mengembuskan napas panjang. “Aku adalah orang yang paling buruk di kekaisaran ini. Kau mungkin akan mengelaknya, tetapi itulah kenyataannya. Lagipula, dari mana kau mendengar kata itu? Anak seusiamu tidak pantas mengatakannya.”
Kepalanya miring ke kanan, meletakkan telunjuk di dagu, lalu menjawab setelah beberapa saat terdiam. “El dengal dali pelayan.”
Menurunkan tangan kiri ke pinggang sementara tangan kananku mengacak rambut, aku membalas, “Sudahlah. Sekarang kembali dan mandi.”
“Papa mau ke mana?”
“Sarapan.”
Dengan gerakan terburu-buru Elora membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya. Sedikit kesusahan saat hendak turun karena kakinya yang pendek tidak menyentuh lantai. Berpegangan erat pada selimut, dia akhirnya memberanikan diri menurunkan tubuhnya pelan-pelan. Setelah berhasil, dia berlari menghampiriku dan berkata dengan nada riang.
“El juga mau makan.”
“Mandi.”
Suara perutnya kemudian terdengar. Sangat keras dan bunyi beberapa kali seperti suara monster yang sedang membuka mulut dan mengaung. Dia segera memegangi perutnya dan menunduk sedangkan aku menghela napas pendek. “Baiklah, kita makan dulu.”
Wajahnya sertamerta terangkat ceria. Mengambil jari telunjuk dan menggenggamnya erat, dia menarik tanganku agar segera mengikutinya ke ruang makan.
“Ayo, Pa.”
Aku mengalah dan membiarkan dia memimpin jalan. Ketika keluar dari kamar, Elora terdiam dan menunggu agar kami berjalan beriringan. Sekali lagi, aku tidak memprotes dan membiarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Jika diingat kembali, ini sudah kedua kali kami berjalan bersama sambil berpegangan tangan seperti ini. Para pelayan yang melihat pasti akan heboh dan mulai menyebarkan cerita ke mana-mana.
“Hali ini, El sangat senang.”
Dia terkekeh ketika kau meliriknya sebentar. Memlih tidak memberikan respons dalam bentuk apapun, yang kulakukan hanyalah fokus ke depan dan tenggelam dalam pikiran bersama dengan langkah kaki yang terdengar di sepanjang koridor.
Langkah ini membuatku mengingat keputusan yang kubuat setelah berpikir semalaman. Bahwa aku akan menyelidiki alasan kedatangan Elora dan membuat banyak interaksi dengannya. Sebab, anak itu merupakan sebuah eksistensi tambahan yang tidak mungkin ada tanpa alasan. Jadi, aku akan menunggu sembari mencari tahu sambil memegang jari-jari kecilnya selama beberapa waktu ke depan.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak