NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Sesuai Skenario.

Cerita tiga yang lalu, beberapa jam setelah kecelakaan ...

Dua unit kendaraan mewah menjauh dari pandangan Rembulan yang sayu. Tak berselang lama, terdengar suara dentuman keras dan api memercik dari sebuah unit mobil yang meluncurkan dari atas tak jauh darinya. Salah satu pintu mobil sebelah kiri, melayang di udara dan akhirnya menimpa kakinya. Api bergulung dan kepulan asap hitam memancar keluar dari bangkai mobil yang terbakar. Panas terasa di ujung kakinya karena mobil jatuh hanya berjarak satu meter darinya.

Yah! Untuk menghilangkan jejak, sebelum mereka ke daerah pantai, Damian (ayah angkatnya) meminta saran ahli tekhnik, tentu saja sudah dibayar mahal. Dia memberitahu anggota keluarganya. Ternyata, semua membenci Rembulan karena sangat disayangi oleh kakek dan neneknya. Dia pun tidak suka mertuanya ikut campur dalam urusannya dengan anak-anaknya. Puncak kebenciannya saat keduanya menjodohkan putera tersayangnya dengan anak angkat keluarga Ambrosia.

Kalau tidak dituruti maka puteranya akan dicoret dari pewaris Ambrosia. Jelas Damian tidak mau tambang emasnya terlepas. Dia sendiri merupakan putera bungsu keluarga Orion dimana hak penerus akan jatuh ke tangan kakak laki-laki pertama.

Alih-alih puteranya menikah dengan Helga, yang menurutnya lebih selevel dibandingkan dengan Rembulan Senja, ibu kandungnya menikahkan puteranya dengan anak panti asuhan yang tidak diketahui asal-usulnya, tanpa persetujuan dirinya dan suaminya.

Sedangkan di luar kawasan yang banyak hutan dan tebing, dua kendaraan hitam berpacu dengan kecepatan landai menuju gairah malam yang semakin bergelora, gegap gempita merayakan pengulangan tahun ibukota, berharap dari gelap terbitlah terang, dari kesedihan muncullah kegembiraan. Dan asa melantunkan ke langit ditandai cahaya kembang api raksasa membuncah di kegelapan malam.

Mobil hitam memasuki kediaman Ambrosia dini hari. Dua dari empat petugas keamanan dengan sigap keluar dari pis penjaga mendekati gerbang.

Dengan tergopoh-gopoh dan cekatan keduanya membuka lebar gerbang yang tinggi menjulang.

"Selamat Malam Pak Damian dan Ibu Elena!" ucap penjaga keamanan bersamaan memberi salam hormat.

"Selamat malam mas Calvin, mbak Rika, mbak Rina, mbak Helga!" sapa ramah para penjaga begitu mobil tuannya memasuki gerbang.

"Malam!" jawab semuanya dengan datar.

"Bagaimana keadaan mansion, aman!?" tanya Damian.

"Aman terkendali, pak! Hanya saja ... "

Petugas Keamanan terdiam sejenak.

"Hanya apa?" tanya Damian tak sabaran.

"Nganu ... Bapak dan Ibu sepuh serta mas Reynand sudah ada di rumah. Mereka telah menunggu sejak sore hari!" ucap sang penjaga terbata-bata.

Deg!

Dada Damian berdegub kencang. Begitu pun jantung lainnya. Tentu saja berdegup sebab mereka telah melakukan dosa besar yang tak terampuni. Tapi mana perduli dia, yang penting kesuksesan kerja dan harta. Dia harus tetap tenang sesuai rencana yang disusun bersama keluarganya saat kembali dari lokasi kejadian.

Dia menyuruh kedua petugas dan bodyguardnya untuk berlalu dari halaman. Mereka pun undur diri setelah memberi hormat. Keempatnya merapat kepada kedua orang tua mereka dan saling berpandangan. Raut keenamnya tampak tegang. Sedangkan satu mobil berisi anak buah yang mengeksekusi pergi ke lain tempat atas perintahnya.

"Tenang! Sesuai skenario kita saat di jalan, kita laksanakan. Mau ditanya atau tidak oleh Opa dan Oma, kita harus memberitahukan kabar kepada mereka. Yang penting jangan gugup dan kita tampilkan wajah sendu!" ujar Damian kalem memberi arahan.

Lalu keenamnya memasuki rumah dan berhenti di ruang keluarga. Mereka disambut muka masam pendiri Ambrosia Group, Jonathan dan Marina Ambrosia.

"Darimana saja kalian jam segini baru pulang? Tidak mengabari orang rumah apalagi pada kami. Pergi begitu saja meninggalkan urusan rumah dan perusahaan selama tiga hari berturut-turut!" berondong Marina Ambrosia.

"Telepon genggam kalian pun bungkam dan tidak bisa dihubungi. Tidak masuk sinyal, di luar jangkauan dan juga ada yang mati!" cerocos nyonya tua.

Dia sewot dan jengkel karena ketika datang keadaan mansion sepi dan orang rumah tidak ada yang tahu kepergian mereka. Anggota keluarganya pun tidak ada yang memberi kabar. Begitu pun keadaan perusahaan. Dia mendengar kabar dari asisten putera bungsunya bahwa Ellena dan keluarga tidak berada di mansion. Perusahaan pun dipegang oleh asisten anaknya.

Damian mengepalkan kepalan tangannya hingga memutih namun mimik wajah tetap diset tenang. Mertuanya telah memperlakukan dirinya seperti pada anak remaja yang baru pulang main tanpa memberitahu orangtuanya. Dia tetap mengalah sebab dia membutuhkan dukungan keluarga Ambrosia untuk menghadapi keluarganya sendiri. Walaupun saat ini bekerja untuk Orion namun suaranya masih kalah dengan suara kedua kakak lelakinya saat RUPS.

Dia dan keluarganya bertahan di mansion Ambrosia karena hanya dihuni oleh mertua di hadapannya dan sang adik ipar yang cacat. Ketiga saudari isterinya ikut suami. Tinggal menyebar di kota yang sama dengan mertuanya. Isterinya menyarankan mereka semua tinggal di rumah ini sebab nanti rumah dan lain sebagainya bisa dikuasai anak yatim-piatu tersebut. Jadi harus mereka awasi dengan seksama pergerakan anak kesayangan ibunya dengan cara tinggal bersama.

"Heiii! Mengapa wajah kalian sedih seperti itu?" tanya Marina kaget melihat keenam rupa keturunannya bermuram durja.

Tadinya nyonya Marina ingin mencecar anak-mantunya dengan banyak pertanyaan tentang kepergian mereka begitu saja selama tiga hari tiada kabar. Tidak ada seorang pun di dalam mansion, baik itu maid dan penjaga keamanan yang mengetahui tujuan kepergian mereka serta meninggalkan tanggungjawab di mansion tanpa mengabarinya. Tapi dia urungkan karena melihat raut wajah keturunannya begitu sedih.

"Mom! Dad!" seru sang puteri sulung tiba-tiba menghambur ke pelukan sang ibu.

Ellena tidak ingin memberikan celah ibunya untuk bertanya macam-macam atas kepergian mereka. Dia pun menanggung dosa sama besar dengan sang suami. Mereka mencelakai Rembulan Senja sebab sebelum kepergian orangtuanya ke China

Guna mengobati kelumpuhan adik bungsunya dengan tekhnik akupuntur. Semua dokter medis dari dalam dan luar negeri, dari selatan ke barat sampai utara, angkat tangan untuk menyembuhkan sang adik.

Dia mendengar kabar langsung dari mulut ibunya bahwa gadis yatim-piatu itu akan diberi saham sebesar 25% bila keduanya tidak menikah. Itu artinya, andil anak itu sama besar dari miliknya, itu pun bila ditambah dengan saham ketiga anaknya.

"Ellena!"

"Katakan ada apa?" tanya nyonya Marina panik sambil mengguncang keras kedua bahu puterinya sulungnya.

Ellena tertunduk dan menangis cukup kencang di hadapan ibunya. Dan semakin panik serta penasaranlah sang bunda begitu tak melihat sosok cucu angkatnya yang dilaporkan pegawai rumah ikut bersama keluarganya.

"Mom! Mommy! Maafkan Ellena. Aku ... aku ... tidak ... tidak bisa menjaga ... Rembulan!" ucapnya sambil menjerit histeris.

Deg!

Ada perasaan tak enak mendengar keadaan Rembulan. Firasatnya mengatakan, sesuatu yang tidak enak tentang cucu angkatnya. Anak itu tidak pernah keluar rumah. Dan tidak biasanya anak-mantu serta tiga cucunya mengajak Rembulan bepergian apalagi untuk perjalanan jauh dan lama karena mereka tidak menyukai keberadaan anak itu. Ditambah ada Helga, yang dia tahu mantan kekasih cucu pertamanya yang disangkakan putus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!