Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar di Belakang Nama
Sembilan bulan telah berlalu sejak peristiwa di rumah sakit yang menguji ketahanan Donny. Kini, rumah besar di kawasan elit itu tak lagi terasa sunyi. Suara tawa Katya yang lebih renyah dan langkah kaki Donny yang lebih santai memenuhi setiap sudut ruangan. Perut Katya sudah membuncit sempurna, sebuah beban indah yang ia bawa dengan penuh kebanggaan.
Donny benar-benar menepati janjinya. Ia tak lagi pulang larut malam. Ia delegasikan sebagian besar urusan kantor kepada Zaky dan dewan direksi yang kini telah ia bersihkan dari sisa-sisa pengaruh Sandra. Donny bertransformasi menjadi suami yang siaga; ia yang menyiapkan susu kehamilan Katya setiap pagi, dan ia yang memijat kaki istrinya setiap malam sebelum tidur.
"Mas, lihat ini," ujar Katya suatu sore sambil membolak-balik album foto lama di teras belakang. "Ibu baru saja memberikan ini kemarin. Foto-foto waktu kita masih di kontrakan lama."
Donny duduk di sampingnya, menyesap teh herbalnya. Ia memperhatikan sebuah foto kusam yang menampilkan dirinya saat masih berusia dua puluhan awal, berdiri di depan sebuah gang sempit bersama Arman. Di antara mereka, ada seorang wanita yang sedang menggendong bayi—ibunya Katya.
"Waktu itu kita nggak punya apa-apa, Ya," kenang Donny dengan mata menerawang. "Hanya punya mimpi dan persahabatan. Ayahmu itu orang yang paling keras kepala yang pernah saya kenal. Dia mau kelaparan asal kamu dan ibumu bisa makan enak."
Katya tersenyum, lalu jemarinya berhenti pada sebuah foto kecil yang terselip di bagian belakang. Foto itu menampilkan Donny sedang memegang sebuah buku catatan kecil di depan kamar kontrakan.
"Itu buku apa, Mas?"
Donny tertegun. Ia mengambil foto itu, lalu tersenyum tipis. "Itu buku catatan nama-nama. Dulu, sebelum kamu lahir, Ayahmu dan saya sering berdebat soal nama. Arman ingin namamu ada unsur kebangsawanan karena dia ingin kamu dihormati orang. Tapi saya..." Donny menggantung kalimatnya.
"Tapi Mas ingin namaku Katyamarsha," sambung Katya.
"Sebenarnya, ada rahasia kecil di balik nama itu, Ya," Donny menoleh pada istrinya, tatapannya melembut. "Dulu, saat saya masih sangat muda dan baru saja kehilangan orang tua saya, saya punya seorang guru mengaji di desa yang sangat bijaksana. Beliau punya seorang putri kecil bernama Katya yang meninggal karena sakit. Beliau bilang, Katya itu artinya murni. Dan 'Marsha' itu adalah doa saya sendiri agar kamu menjadi pelindung bagi orang-orang di sekitarmu."
Donny menghela napas panjang. "Tapi yang Ayahmu tidak tahu sampai hari ini adalah... saya memberikan nama itu karena saya merasa, melalui kamu, saya mendapatkan kembali keluarga yang hilang. Saya tidak pernah menyangka bahwa bayi yang saya beri nama itu suatu saat akan menjadi penyelamat hidup saya."
Katya terenyuh. Ia menyadari bahwa ikatan mereka bukan sekadar cinta yang tumbuh mendadak, tapi sudah berakar sejak napas pertamanya di dunia ini.
---
Memasuki trimester ketiga, kecemasan mulai menyapa. Bukan hanya soal persalinan, tapi soal bayang-bayang kesehatan Donny. Meskipun Donny tampak sehat, Katya sering mendapati suaminya berdiri di depan cermin, mengamati rambutnya yang kian memutih atau guratan di wajahnya.
"Mas memikirkan apa?" tanya Katya suatu malam saat mereka sedang menyiapkan tas rumah sakit.
"Saya hanya berpikir, apakah saya akan cukup kuat untuk menggendongnya saat dia mulai aktif berlari nanti?" Donny mencoba bercanda, namun ada nada getir di suaranya.
Katya menghampiri suaminya, memeluknya dari belakang. "Mas, anak kita nggak butuh ayah yang bisa lari maraton. Dia butuh ayah yang bisa membacakannya dongeng, yang bisa mengajarkannya tentang integritas, dan yang mencintai ibunya seperti Mas mencintaiku. Itu lebih dari cukup."
Donny berbalik, memegang perut Katya yang terasa keras. Tiba-tiba, ia merasakan tendangan kuat dari dalam. "Dia setuju denganmu, sepertinya."
Persiapan nama untuk buah hati mereka menjadi diskusi yang panjang. Jika dulu Donny yang memberikan nama untuk Katya, kali ini Donny ingin Katya yang menentukan.
"Aku ingin namanya mengandung unsur nama Mas," ujar Katya. "Agar dia selalu ingat bahwa dia adalah bukti dari cinta yang melampaui waktu."
"Bagaimana kalau 'Adiwangsa' saja di belakangnya? Itu sudah cukup berat untuknya," goda Donny.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah kabar datang dari rumah sakit tempat Sandra dirawat (karena mengalami gangguan mental setelah kasus hukumnya). Sandra ingin bertemu dengan Katya untuk terakhir kalinya sebelum ia dipindahkan ke fasilitas rehabilitasi yang lebih tertutup.
Donny awalnya melarang keras. "Tidak, Katya. Itu terlalu berisiko bagi kehamilanmu. Dia hanya ingin merusak pikiranmu lagi."
"Mas, dia adalah keluarga mendiang Marina. Bagaimanapun, dia adalah bagian dari sejarah yang membuat kita sampai di sini. Aku ingin menutup bab ini dengan damai sebelum bayi kita lahir," pinta Katya.
Dengan pengawalan ketat dan kehadiran Donny, Katya menemui Sandra. Wanita yang dulu angkuh itu kini tampak layu. Rambutnya kusam, dan matanya kehilangan binar kebenciannya.
"Kau datang..." bisik Sandra saat melihat Katya.
Katya duduk di depannya, tangannya tetap memegang tangan Donny. "Apa yang ingin Anda katakan?"
Sandra menatap perut Katya yang besar, lalu ia menangis. Bukan tangis amarah, tapi tangis penyesalan yang hancur. "Marina... dulu dia sangat ingin punya anak. Tapi aku dan ibuku melarangnya. Kami bilang anak hanya akan menghambat dia untuk mendapatkan lebih banyak uang dari Donny untuk kami."
Donny terperanjat. Ia baru tahu fakta ini sekarang.
"Maafkan aku, Donny," lanjut Sandra dengan suara serak. "Marina meninggal dengan membawa kerinduan itu. Dan melihat istrimu sekarang... aku sadar betapa jahatnya kami selama ini. Rawatlah anak itu baik-baik. Jangan biarkan dia tahu betapa kotornya sebagian dari masa lalu keluarganya."
Sandra menyerahkan sebuah kalung kecil berliontin mutiara. "Ini milik Marina. Dia ingin memberikan ini pada anaknya kelak. Berikan pada anakmu. Sebagai tanda bahwa Marina sudah memberikan restunya dari sana."
Keluar dari ruangan itu, Katya merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Dendam telah padam, digantikan oleh rasa haru yang mendalam. Ia merasa lingkaran hidup mereka kini telah tertutup sempurna.
---
Malam harinya, sepulang dari menemui Sandra, Katya merasakan kontraksi pertama. Itu bukan kontraksi palsu. Rasa sakit yang teratur itu mulai datang, membuat Donny seketika berubah menjadi pria paling panik sekaligus paling siaga.
"Zaky! Siapkan mobil! Sekarang!" teriak Donny melalui telepon.
Donny membantu Katya menuruni tangga dengan sangat hati-hati. Arman dan Resti sudah dikabari dan langsung meluncur ke rumah sakit. Di dalam mobil, Katya mencengkeram tangan Donny dengan sangat kuat setiap kali rasa sakit itu datang.
"Sabar, Sayang... napas... ingat apa kata dokter," Donny membimbingnya, meski wajahnya sendiri lebih pucat dari Katya.
Sesampainya di rumah sakit, Katya segera dibawa ke ruang persalinan. Donny tak sedetik pun melepaskan tangan istrinya. Di sela-sela rasa sakitnya, Katya menatap wajah suaminya. Pria yang dulu memberinya nama, pria yang mendampingi ayahnya di gang sempit, kini sedang bersiap menyambut garis keturunan mereka sendiri.
"Mas... aku sayang Mas," bisik Katya di tengah peluhnya.
"Saya lebih menyayangimu, Katyamarsha. Lebih dari dunia ini," jawab Donny sambil mengecup kening istrinya yang basah.
Di luar ruangan, Arman berdiri dengan gelisah, menatap pintu kamar bersalin. Ia teringat dua puluh satu tahun lalu, saat ia berdiri di tempat yang sama dan Donny berada di sampingnya sebagai sahabat. Kini, sahabatnya itu berada di dalam, sedang berjuang bersama putrinya untuk sebuah kehidupan baru.