Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penantian di Rumah Sakit dan Gunjingan di Pesantren
[Sampai di RS, bijel langsung dibawa ke UGD, sampai diperiksa ternyata Ning bijel harus dirawat, Abi Rasya mengurus administrasi. Tdk lama datang Abah yai Hamdan dan yg lainnya menyusul mereka langsung ke UGD, dan mereka harus menunggu kurang lebih 2 jam untuk mendapatkan kamar rawat inap.]
[Sesampainya di rumah sakit, Bijel langsung dibawa ke UGD. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata Ning Bijel harus dirawat inap. Gus Rasya segera mengurus administrasi rumah sakit. Tidak lama kemudian, Abah Yai Hamdan dan yang lainnya menyusul. Mereka langsung menuju ke UGD dan menunggu di sana. Mereka harus menunggu kurang lebih 2 jam untuk mendapatkan kamar rawat inap bagi Ning Bijel.]
Gus Rasya: (dengan nada cemas) "Bagaimana keadaan Bijel, Dok?"
Dokter: (dengan nada tenang) "Kami sudah memberikan penanganan yang terbaik. Sekarang kita tunggu saja hasilnya."
Abah Yai Hamdan: (dengan nada bijaksana) "Kita serahkan semuanya kepada Allah SWT. Semoga Bijel segera diberikan kesembuhan."
Ning Nida: (dengan nada khawatir) "Ya Allah, semoga anakku baik-baik saja."
Gus Arzan: "Semoga Bijel cepat sembuh dan bisa kembali ke pesantren."
Gus Ivan: "Kita doakan saja yang terbaik untuk Bijel."
Gus Atha: (terdiam, berdoa dalam hati)
Gus Faiq: (dengan nada dingin) "Kita tunggu saja kabar selanjutnya."
[Sebelumnya mereka keluar RS mencari makanan untuk selama menjaga bijel kedepannya. kurang lama sudah 2 jam lamanya mereka menunggu ruang inap, mereka mendapat ruang VVIP lantai 3, bijel langsung dipindah ke ruang inap, bijel blm sadarkan diri.]
[Sambil menunggu, sebagian dari mereka keluar dari rumah sakit untuk mencari makanan dan keperluan lainnya untuk menjaga Ning Bijel selama di rumah sakit. Setelah menunggu selama kurang lebih 2 jam, akhirnya mereka mendapatkan kamar rawat inap VVIP di lantai 3. Bijel langsung dipindahkan ke ruang inap tersebut, namun ia masih belum sadarkan diri.]
Ning Nida: (dengan nada khawatir, memegang tangan Ning Bijel) "Bijel, Nak, bangun sayang. Ini Umi."
Gus Rasya: (dengan nada cemas, menatap wajah Ning Bijel) "Semoga Bijel segera sadar."
Abah Yai Hamdan: (dengan nada bijaksana, berdoa) "Ya Allah, sembuhkanlah cucuku. Angkatlah penyakitnya dan berikanlah dia kekuatan untuk menghadapi cobaan ini."
[Lalu 20 menit kemudian bijel sadar setelah pindah ke ruangan inap,]
Ning Abigail: (terbangun, dengan nada lemas) "Umi...Abi... Saya di mana?"
Ning Nida: (dengan nada lega) "Alhamdulillah, Bijel sudah sadar. Kamu di rumah sakit, Nak."
Gus Rasya: (dengan nada cemas) "Bagaimana perasaanmu, Nak? Apa ada yang sakit?"
Ning Abigail: (dengan nada lemas) "Kepala saya pusing sekali, Abi. Badan saya juga lemas."
Nyai Dewi: (dengan nada lembut) "Sudah, Nak, istirahat saja dulu. Jangan banyak bergerak."
Abah Yai Hamdan: (dengan nada bijaksana) "Alhamdulillah, Bijel sudah sadar. Sekarang yang penting istirahat yang cukup dan minum obat secara teratur."
[Di pesantren Queen Al Falah, Reaksi para pengurus yg melihat kejadian tadi hingga dibicarakan di asrama santri putra lalu santri putra yg di ndalem kejadian siang tadi dikaitkannya.]
[Sementara itu, di pesantren Queen Al-Falah, para pengurus dan santri membicarakan kejadian tadi malam. Berita tentang Ning Abigail yang sakit dan dilarikan ke rumah sakit menyebar dengan cepat di kalangan santri. Para santri putra yang tadi siang mendatangi ndalem barat juga ikut membicarakan kejadian tersebut dan mengaitkannya dengan kondisi Ning Abigail.]
Santri 1: "Eh, kalian tahu nggak? Ning Abigail semalam dilarikan ke rumah sakit."
Santri 2: "Serius? Sakit apa?"
Santri 3: "Katanya sih kecapekan dan banyak pikiran."
Santri 4: (dengan nada berbisik) "Jangan-jangan karena kita demo tadi siang?"
Santri 5: "Mungkin aja. Kita kan tadi siang sudah bikin Ning Abigail marah."
Santri 6: "Gimana ini? Kita jadi merasa bersalah."
Santri 7: "Sebaiknya kita jenguk Ning Abigail ke rumah sakit."
Santri 8: "Setuju! Kita harus minta maaf sama Ning Abigail."
Santri 9: (dengan nada khawatir) "Tapi kita berani nggak ya ketemu sama Ning Abigail?"
Santri 10: "Kita harus berani. Ini semua salah kita."
[Para santri putra merasa bersalah dan khawatir dengan kondisi Ning Abigail. Mereka berencana untuk menjenguk Ning Abigail ke rumah sakit dan meminta maaf atas kejadian tadi siang.]
Kang Resya: (dengan nada prihatin) "Kasihan sekali Ning Abigail. Padahal dia baru saja menjabat sebagai pengurus asrama putra."
Kang Salim: (dengan nada khawatir) "Semoga Ning Abigail cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa."
Kang Hasan: (dengan nada bertanya) "Apa kita perlu menjenguk Ning Abigail ke rumah sakit?"
Kang Hamid: (dengan nada bijaksana) "Sebaiknya kita tunggu saja kabar dari keluarga ndalem. Kalau memang diperbolehkan, kita akan menjenguk Ning Abigail bersama-sama."
[Para pengurus pondok juga merasa prihatin dengan kondisi Ning Abigail. Mereka sepakat untuk menunggu kabar dari keluarga ndalem sebelum menjenguk Ning Abigail ke rumah sakit.]
Santri 7: "Oke, jadi kita sepakat ya, kita jenguk Ning Abigail besok pagi?"
Santri 8: "Siap! Kita patungan buat beliin buah atau apa gitu."
Santri 9: "Gimana kalau kita bikin surat permintaan maaf juga?"
Santri 10: "Ide bagus! Biar Ning Abigail tahu kalau kita benar-benar menyesal."
[Keesokan harinya, para pengurus asrama putra dan perwakilan santri putra datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ning Abigail. Namun, sesampainya di sana, mereka dihentikan oleh Gus Arya dan Gus Rasya.]
Di Rumah Sakit - Pagi Hari
Kang Resya: (kepada Gus Arya yang berjaga di depan kamar) "Assalamualaikum, Gus Arya. Kami dari pengurus asrama putra ingin menjenguk Ning Abigail."
Gus Arya: (dengan nada sopan namun tegas) "Waalaikumsalam. Maaf, Kang, untuk saat ini Ning Abigail masih butuh istirahat total. Dokter juga belum mengizinkan adanya kunjungan."
Santri 1: (memohon) "Tapi, Gus, kami ingin sekali meminta maaf kepada Ning Abigail atas kejadian kemarin."
Gus Rasya: (datang menghampiri, dengan nada lembut) "Saya mengerti niat baik kalian, tapi kondisi Bijel memang belum memungkinkan untuk menerima tamu. Lebih baik kalian doakan saja dari jauh agar Bijel cepat sembuh."
Kang Salim: (dengan nada kecewa) "Baiklah, Gus, Abi. Kami mengerti. Kalau begitu, ini ada sedikit buah untuk Ning Abigail. Semoga bisa bermanfaat."
Gus Arya: (menerima buah tersebut) "Terima kasih banyak, Kang. Nanti saya sampaikan kepada Ning Abigail."
Gus Rasya: "Saya sangat menghargai perhatian kalian semua. Semoga kalian juga bisa mengambil hikmah dari kejadian ini dan menjadi santri yang lebih baik lagi."