NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 **Bertemu kembali**

Galenio menunduk, menatap pucuk kepala Ila dengan perasaan campur aduk antara bingung, tidak percaya, dan rindu yang menyakitkan.

"Ila?" tanya Galenio dengan nada suara yang bergetar karena bingung. Ia merasa seperti sedang melihat bayangan masa lalunya kembali dalam wujud murid paling kecil di sekolah ini.

Ila perlahan melepas pelukannya pada tubuh Galenio. Ila menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan mungilnya, lalu sedetik kemudian ia mendongak dan memberikan senyum yang sangat manis, jenis senyum yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.

"Bang Nio pasti gak ngenalin Ila kan? Ila sekarang tambah cantik, hihi," Ila terkikik geli, merasa sangat percaya diri dengan penampilannya sekarang.

Sementara itu, Galenio hanya terdiam membatu. Ia menatap lekat gadis kecil di depannya. Tentu saja ia mengenal raga ini. Galenio mengenal "Aqila" (nama asli raga Ila) karena keluarga mereka, Diaskara dan Weylin, pernah bertemu dalam beberapa acara kolega. Namun, aura yang dipancarkan anak ini benar-benar asing baginya.

"Kamu Aqila, kan?" tanya Galenio, mencoba kembali pada realita bahwa yang berdiri di depannya adalah putri keluarga Weylin yang terkenal pendiam.

"No Aqila! I'm Ila," koreksi Ila dengan tegas.

"Aqila Weylin?" tanya Galenio lagi, mencoba memastikan nama lengkap anak itu.

"Shabila!" Ila langsung cemberut. Bibirnya mengerucut sebal saat "abang"-nya itu salah menyebutkan nama aslinya. Biasanya, abangnya itu tidak pernah salah sebut, meski hanya satu huruf. 

Sejenak, Galenio terkekeh kecil. Ia tidak bisa menahan tawa melihat cara Ila memanyunkan bibirnya. Ekspresi itu sangat mirip—terlalu mirip—dengan kebiasaan mendiang adiknya dulu jika sedang merajuk. Namun, tawa itu segera surut, digantikan oleh raut wajah yang kembali bingung dan penuh tanda tanya.

"Bisa kita bicara di ruangan saya saja?" pinta Galenio lembut. Ia merasa tidak enak jika harus membicarakan hal yang tampak sangat personal ini di tengah koridor sekolah yang bisa saja dilewati murid atau guru lain.

Ila mengangguk penuh semangat. "Ayooo!"

Sungguh, Ila sangat merindu momen-momen berdua seperti ini dengan abangnya. Galenio mulai berjalan lebih dulu, namun langkah kakinya yang jenjang membuat jarak di antara mereka melebar dengan cepat.

"Bang Nio cepat banget sih jalannya! Ila gak bisa imbangin!" teriak Ila kesal. Napasnya sedikit terengah karena kaki pendeknya harus dipaksa melangkah dua kali lebih cepat.

Mendengar keluhan itu, Galenio langsung memelankan langkahnya. Ia menoleh ke belakang dan membiarkan Ila berjalan di sisinya dengan riang.

"Mari masuk," ajak Galenio saat mereka sampai di depan pintu kayu jati besar bertuliskan 'Kepala Sekolah'.

Tanpa menjawab atau menunggu dipersilakan secara resmi, Ila langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan itu dengan santai. Sikap itu benar-benar persis seperti mendiang adiknya dulu yang tidak pernah mengenal tata krama jika sudah berada di dekatnya, pikir Galenio.

Setahu Galenio, Aqila Weylin adalah anak yang sangat cupu, pendiam, dan penakut. Namun, Aqila yang ada di hadapannya sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan perubahan sikap, gaya bicara, hingga gestur tubuhnya sama persis seperti adik perempuan yang selalu ia rindukan.

Di dalam ruangan yang sejuk itu, Ila dengan santainya langsung mendudukkan diri di sofa empuk tanpa menunggu disuruh. Ia menggerak-gerakkan kaki mungilnya yang menggantung dengan riang, seolah-olah ruangan Kepala Sekolah itu adalah taman bermain pribadinya. Galenio kemudian duduk tepat di hadapan Ila, menatap tajam namun penuh rasa ingin tahu.

"Kamu Aqila Weylin, kan? Anak dari Om Bryan dan Tante Zeline?" tanya Galenio, mencoba memancing logika yang masuk akal.

"Sekarang iya, hihi," sahut Ila sambil terkikik geli dan mengangguk-angguk lucu.

Galenio mengernyitkan dahi, benar-benar bingung dengan jawaban gadis kecil di depannya ini. 'Maksudnya sekarang apa? Emang dulu dia bukan anak Om Bryan dan Tante Zeline?' batin Galenio bertanya-tanya, merasa ada yang tidak beres dengan alur pembicaraan ini.

"Sekarang? Emang dulu kamu anak siapa?" tanya Galenio akhirnya, mencoba menggali lebih dalam.

"Dulu Ila anak Daddy Zidan," sahutnya dengan wajah sangat polos.

Galenio semakin dibuat pening. Jawaban itu bagaikan petir di siang bolong. "Daddy Zidan? Maksud kamu... Daddy-nya saya, kan?"

Ila langsung cemberut, matanya menatap tajam ke arah Galenio karena abangnya itu seolah-olah mengklaim bahwa ayahnya hanya milik Galenio saja. "Daddy Zidan itu Daddy-nya Ila juga!" kesal Ila sambil menghentakkan kaki kecilnya ke lantai.

Melihat ekspresi marah yang menggemaskan itu, Galenio merasa dadanya sesak. "Kamu bilang tadi nama kamu Shabila, kan? Maksud kamu... Shabila Diaskara, adik saya?" tanya Galenio dengan suara yang nyaris berbisik, takut jawabannya akan meleset.

Ila kembali tersenyum manis, sebuah senyuman yang sangat familiar di mata Galenio. "Iya!" jawabnya mantap sambil mengangguk lucu.

Rasa penasaran Galenio kini berada di puncaknya. "Kalau kamu memang adik saya, terus kenapa wajah kamu sekarang mirip sekali dengan anak sahabat Daddy?" tanya Galenio. Ia berharap gadis kecil ini bisa memberikan penjelasan yang masuk akal, meskipun ia tahu jika ini benar-benar adiknya, bertanya padanya adalah tantangan besar karena tingkat kepolosan Arawinda yang seringkali di luar batas.

"Gak tau!" sahut Ila dengan nada sangat santai, seolah-olah bertukar raga adalah hal yang biasa terjadi seperti berganti pakaian.

Nah, kan! Benar dugaan Galenio. Bertanya pada Shabila memang tidak akan memberikan jawaban teknis. Namun, pikiran Galenio kini melalang buana. Bagaimana mungkin adiknya bisa berada di tubuh anak dari sahabat orang tuanya sendiri? Apakah ini yang dinamakan transmigrasi? Tapi di zaman modern seperti sekarang, mungkinkah hal mistis seperti itu benar-benar terjadi? Galenio menatap Ila dengan tatapan kosong, berusaha mencerna kenyataan yang benar-benar tidak masuk akal ini.

"Coba ceritain dari awal, kenapa kamu bisa ada di dalam tubuh Aqila?" ucap Galenio dengan suara yang sedikit bergetar. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa jika benar gadis kecil di depannya ini adalah adiknya yang sedang bertransmigrasi, maka ia akan menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini.

Ila menarik napas panjang, mencoba mengingat kejadian kelam itu dengan ekspresi polosnya. "Ila waktu itu dibentak Daddy... terus Ila keluar karena ingin melihat dunia luar lagi. Padahal Ila maunya perginya sama Abang Galen, tapi Abang nggak ada. Terus Ila keluar sendiri deh," cerita Ila pelan.

"Ila jalan-jalan, terus Ila lihat ada kucing di tengah jalan. Karena Ila sayang kucingnya, Ila mau selamatin... tapi Ila malah ditabrak, huhu..." Ila menjelaskan seluruh rangkaian kejadian itu dengan detail pada Galenio. Mulai dari rasa sakit dibentak, kecelakaan maut itu, hingga bagaimana ia secara ajaib terbangun dan mendapatkan keluarga baru di kediaman Weylin.

Galenio yang mendengarkan setiap patah kata itu tak kuasa menahan air mata haru. Pertahanannya runtuh. Ia benar-benar tidak menyangka takdir akan bekerja seajaib ini; adiknya kembali dalam raga Aqila Weylin, anak dari sahabat orang tuanya sendiri.

"Sayang... Abang kangen banget!" Galenio merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memberikan ruang bagi adiknya untuk pulang.

Ila yang melihat sang abang membuka pelukan langsung menghambur masuk ke dalam dekapan hangat Galenio. Pelukan yang selama ini sangat ia rindukan.

"Ila juga kangen Abang, huhu," ucapnya dengan nada lucu yang membuat hati Galenio semakin lumer.

Galenio terkekeh di sela tangis harunya. Saking gemas dan bersyukurnya, ia mulai menghujani seluruh wajah mungil adiknya dengan ciuman bertubi-tubi.

Cup!

Cup!

Cup!

"Abang berhenti! Ila geli, haha!" Ila tertawa riang, berusaha menutupi wajahnya dengan tangan-tangan mungilnya agar sang abang berhenti menciuminya.

"Abang benar-benar mengira kamu sudah pergi selamanya ninggalin Abang dan Daddy... ternyata kamu malah transmigrasi ke tubuh Aqila," ucap Galenio seraya mengeratkan pelukannya, seolah takut jika ia melepasnya sedikit saja, Ila akan menghilang lagi.

"Transmigrasi?" tanya Ila dengan raut bingung. Ia wemengerjapkan matanya berkali-kali, merasa asing dengan kata yang baru saja diucapkan abangnya itu. Baginya, ia hanya "pindah rumah" ke tubuh yang lebih mungil.

Galenio tersenyum tipis, menatap mata jernih adiknya dengan penuh kasih. "Roh kamu masuk ke dalam tubuh Aqila, Sayang. Itu namanya kamu bertransmigrasi ke tubuh Aqila," jelas Galenio dengan nada lembut, mencoba memahamkan konsep yang sulit itu pada pikiran mungil adiknya.

"Gimana Ila masuknya?" tanya Ila dengan dahi berkerut, tampak benar-benar penasaran dengan proses kepindahannya.

Galenio terkekeh kecil, "Ya kamu sendiri gimana kok bisa sampai masuk ke sini?"

"Ila nggak tau..." jawabnya polos sambil mengangkat bahu.

Galenio menghela napas panjang, mencoba meredam segala logika medis di kepalanya. "Ya sudah, lupakan saja caranya. Yang penting sekarang adek Abang ini masih hidup," ucap Galenio seraya mencubit gemas pipi chubby adiknya.

Ia memperhatikan wajah Ila baik-baik. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan fisik adiknya dulu; Shabila dan Aqila sama-sama menggemaskan, meskipun harus ia akui pipi Aqila saat ini terasa sedikit lebih gemoy dan kenyal.

"Kamu bahagia dengan kehidupan baru kamu sekarang, Sayang?" tanya Galenio hati-hati. Ada sedikit nada kecemasan dalam suaranya. Ia takut Ila tidak bahagia tinggal di keluarga Weylin, sama seperti saat ia merasa tertekan di kehidupan sebelumnya.

"Ila bahagia! Ila punya Ayah dan Bunda, terus punya Abang kembar yang sangat menyayangi Ila... Ila like banyak-banyak!" Ila bercerita dengan semangat yang meluap-luap. Matanya berbinar ceria saat menceritakan betapa ia dicintai oleh keluarga barunya.

Hati Galenio terasa sedikit nyeri melihat wajah ceria itu. Ada rasa sesak saat menyadari bahwa Ila tampak lebih bahagia di keluarga barunya dari pada saat bersamanya dulu. Ia merasa gagal sebagai kakak karena tidak mampu memberikan kebahagiaan sebesar itu sebelumnya. Namun, detik itu juga ia berjanji di dalam hati untuk selalu menjaga dan membahagiakan adiknya mulai sekarang.

Cup!

"Maafin Abang ya, waktu itu Abang tidak ada di sana saat kamu dibentak Daddy, Sayang," ucap Galenio penuh penyesalan, lalu mengecup kening Ila dengan sangat dalam dan lama.

"Ila kangen Bang Nio banyak-banyak..." gumam Ila manja. Ia mulai ngedusel dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Galenio, mencari kehangatan yang dulu selalu menjadi tempat favoritnya.

Galenio terkekeh melihat kebiasaan lama adiknya yang tidak berubah itu. "Abang lebih kangen lagi, Sayang... Nanti kamu pulang bareng Abang ya? Pasti Daddy Zidan senang banget." ajak Galenio.

Ia sudah cukup melihat penyesalan mendalam sang Daddy selama sebulan terakhir. Jika Daddy Zidan tahu bahwa putri kecilnya masih hidup—meskipun dalam raga yang berbeda—Galenio yakin ayahnya akan kembali menemukan semangat hidupnya.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!