Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Kecurigaan Teman Sebangku
Lana duduk di bangkunya dan mencoba untuk fokus pada buku teks yang ada di hadapannya meski pikirannya melayang jauh. Ia meraba kalung di balik seragamnya dan menyadari bahwa ia sedang membawa rahasia di balik tas branded pemberian suaminya.
Teman sebangku Lana yang bernama Maya terus memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh rasa penasaran. Maya mendekatkan kursi miliknya hingga menyentuh bahu Lana dengan gerakan yang cukup mengejutkan bagi siapa pun yang melihatnya.
Ia melirik ke arah tas mewah yang tersandar di kaki meja Lana dengan binar mata yang sulit untuk dijelaskan maknanya. Lana mencoba bersikap tenang namun tangannya mulai berkeringat saat Maya mulai membuka suara dengan nada bicara yang sangat lirih.
"Sejak kapan kamu punya tas seharga mobil mewah ini, Lana, apakah kamu baru saja memenangkan lotre?" tanya Maya dengan nada yang sangat menyelidiki.
Lana tersentak kecil dan segera menarik tas tersebut agar tertutup oleh kain seragamnya yang panjang. Ia mencoba mencari alasan yang paling masuk akal agar rahasia tentang Adrian tidak terbongkar di lingkungan sekolah yang sangat sempit ini.
Namun Maya justru semakin mendekat dan mencoba menyentuh gantungan emas yang ada pada resleting tas bermerek tersebut. "Ini hanya barang tiruan yang saya beli di pasar loak dengan harga sangat murah," bohong Lana sambil mencoba tersenyum kaku.
Maya tertawa kecil seolah ia baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat bodoh dari mulut sahabatnya sendiri. Ia tahu betul perbedaan antara barang tiruan dengan barang asli yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan bangsawan atau pejabat tinggi.
Maya kembali menatap Lana dengan pandangan yang jauh lebih dalam seolah sedang menguliti setiap kebohongan yang baru saja diucapkan. "Barang tiruan tidak akan diantar oleh pengawal berseragam militer dengan mobil antipeluru seperti tadi pagi," ucap Maya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Lana terdiam seribu bahasa saat menyadari bahwa upayanya untuk menyembunyikan status baru miliknya telah gagal total di hadapan Maya. Ia merasa terjepit di antara janji setia kepada Adrian dan rasa takut akan dikucilkan oleh teman-teman sebayanya sendiri.
Suara riuh di dalam kelas seketika meredup saat guru mata pelajaran sejarah mulai memasuki ruangan dengan langkah yang sangat berwibawa. Lana merasa sedikit lega karena interogasi Maya harus terhenti untuk sementara waktu demi mengikuti proses belajar mengajar.
Namun sepanjang pelajaran berlangsung, ia bisa merasakan punggungnya terus diperhatikan oleh pasang mata yang penuh dengan prasangka buruk. Lana meremas tali tasnya dengan sangat kuat hingga kuku jarinya memutih karena rasa tertekan yang sudah berada di ambang batas.
"Jangan sampai rahasia ini keluar dari mulutmu, Maya, saya mohon kepada kamu," bisik Lana saat guru sedang menulis di papan tulis.
Maya hanya tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban yang pasti sehingga membuat perasaan Lana menjadi semakin tidak menentu. Ia menyadari bahwa hidupnya sebagai siswi biasa sudah berakhir sejak lencana militer Adrian muncul di hadapannya malam itu.
Lana terus memikirkan konsekuensi apa yang akan ia terima jika Adrian mengetahui bahwa identitas rahasia mereka mulai terancam oleh gosip sekolah. Kecurigaan teman sebangku ini akan menjadi awal dari bencana baru yang jauh lebih besar ketika jam istirahat sekolah tiba.
Lana melihat Maya mulai membisikkan sesuatu kepada teman-teman lainnya sambil terus melirik ke arah tas bermerek milik Lana. Rasa cemas itu semakin memuncak saat Lana melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri di lapangan latihan militer dekat sekolah.
Adrian di medan latihan tampak sangat berbeda dengan sosok yang ia temui di meja makan mansion mewah tadi pagi.