NovelToon NovelToon
Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / TKP / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.

Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA NYANYIAN DI MALAM HUJAN

Jam dua belas tengah malam. Aku terbangun karena sesuatu yang menyentuh pipiku dingin seperti es, tapi lembut seperti kain sutra. Aku membuka mata perlahan, tapi kegelapan total menyelimuti kamar. Udara di dalam ruangan terasa lebih dingin dari biasanya, dan ada bau yang aku kenal lagi manis dan menyengat, seperti darah dan bunga kamboja yang sudah layu.

Suara nyanyian mulai terdengar lagi kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Dari arah kamar paling dalam yang Pak Darmo sebutkan tadi. Nada-nadanya naik turun dengan irama yang menyakitkan, seperti orang yang sedang menangis sambil bernyanyi. Aku bisa mendengar kata-kata yang tidak jelas, tapi ada satu frasa yang terus berulang: “Kembali padaku… anakku yang tercinta…”

Tanganku mencari liontin di leherku, tapi tangan itu langsung membeku ketika aku merasakan sesuatu yang berada di sisi lain tempat tidur. Ada bentuk yang membengkak di bawah seprai panjang dan kurus, seperti seseorang yang sedang berbaring menyamping menghadapiku. Aku bisa merasakan napas dinginnya menyentuh leherku, bahkan tidak melihat wajahnya.

“Aku tidak akan menyakitimu, Sevira,” bisik suara yang lemah tapi jelas di telingaku. Suaranya seperti ibu ku, tapi lebih dalam dan penuh dengan kesedihan yang luar biasa. “Hanya ingin kamu mendengarkan saja…”

Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi tidak bisa seperti terkunci oleh sesuatu yang tidak kelihatan. Hanya mataku yang bisa bergerak, melihat ke arah jendela yang tirainya masih terbuka sedikit. Cahaya bulan purnama yang redup menerangi bayangan panjang yang bergoyang-goyang di luar bukan bayangan pohon, tapi bayangan seseorang yang sedang berjalan bolak-balik di teras belakang.

Suara nyanyian semakin keras, dan aku bisa merasakan getaran di lantai kayu di bawah tempat tidur. Seolah setiap nada yang keluar membuat rumah ini bergetar bersama. Aku ingat surat dari ibu yang kudapatkan tadi malam, cepat-cepat mengingat setiap kata yang tertulis di sana: “Jangan pernah merenungkan lingkaran yang kamu lihat…”

Akhirnya aku bisa menggerakkan tanganku, meraih senter yang kubawa ke kamar dan menyimpannya di atas meja malam. Klik cahaya menyala terang, menerangi kamar dari dinding ke dinding. Tidak ada orang di tempat tidur bersamaku. Tidak ada bentuk apapun di bawah seprai. Hanya ada satu hal yang berbeda: di bantalku, ada sehelai kain hitam yang sama seperti yang kudapatkan di ruangan tamu, dilipat rapi dengan pola lingkaran emas yang samar bersinar di tengahnya.

Aku segera berdiri dan mundur ke sudut kamar, memegang senter seperti senjata. Bau darah semakin kuat, dan dari arah kamar utama terdengar suara langkah kaki yang pelan kresek… kresek… kresek… seperti orang yang sedang berjalan dengan kaki telanjang di atas kayu lapuk.

Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati, mengarahkan senter ke lorong yang sempit. Tidak ada orang di sana, tapi di lantai kayu yang kotor, ada jejak kaki kecil yang jelas terlihat seperti jejak anak-anak yang tidak mengenakan sepatu, tapi ukurannya terlalu besar untuk anak-anak. Jejak itu mulai dari arah kamar paling dalam dan berakhir tepat di depan pintu kamarku.

Aku mengambil kain hitam dari bantal dan menekannya ke dadaku. Saat kulitku menyentuh kain itu, aku melihat kilas balik yang jelas ibu ku sedang duduk di lantai kamar yang sama dengan kamar paling dalam itu, menangis sambil menjahit kain hitam itu. Di depannya ada lingkaran yang digambar dengan tanah liat merah, dan di sekitarnya berdiri beberapa wanita berjubah hitam yang sama seperti yang kudengar tadi malam.

“Kamu harus melanjutkan apa yang kulakukan, Sevira,” bisik ibu ku dalam kilas balik itu, tanpa melihat ke arahku. “Kamu tidak punya pilihan lain…”

Kilas balik itu hilang begitu saja, dan aku menemukan diriku berdiri sendirian di lorong yang dingin. Suara nyanyian sudah berhenti, tapi sekarang aku bisa mendengar suara tangisan yang terdengar dari dalam tanah banyak suara, seperti ribuan orang yang sedang menangis bersama-sama.

Aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang ada di kamar paling dalam. Kaki ku gemetar setiap kali menginjak lantai, tapi rasa ingin tahu dan rasa rindu pada ibu membuatku tetap maju. Saat aku mendekati pintu kamar itu, aku merasakan panas yang tidak masuk akal dari dalam padahal malam ini sangat dingin karena hujan.

 

Pintu kamar paling dalam tidak terkunci. Aku mendorongnya perlahan, dan suara derak yang keras membuatku terkejut. Senter ku menerangi ruangan yang luas tapi penuh dengan barang-barang tua yang tertutup debu lemari kayu besar, meja kerja yang penuh dengan buku tua, dan di tengah ruangan ada lubang besar di lantai yang ditutupi dengan papan kayu yang sudah lapuk.

Aku mendekati lubang itu dengan hati-hati, mengarahkan senter ke dalam. Tidak bisa melihat dasar, tapi ada cahaya emas yang redup menyala dari jauh di bawah sama seperti pola pada kain hitam. Bau darah dan bunga kamboja semakin kuat sampai membuatku merasa ingin muntah.

Saat aku ingin menyentuh papan kayu yang menutupi lubang, aku merasakan tangan besar menyentuh bahuku dari belakang. Aku menjerit dan berbalik cepat, melihat seorang pria yang mengenakan baju kerja tua dengan wajah yang penuh dengan bekas luka. Matanya merah dan penuh dengan air mata.

“Jangan turun ke sana, Bu Sevira,” katanya dengan suara yang serak. “Belum waktunya. Jika kamu turun sekarang, kamu tidak akan bisa kembali lagi.”

Aku mengenalnya pria ini adalah ayah ku yang sudah hilang selama delapan tahun. Rambutnya sudah putih sebagian, wajahnya lebih keriput dari yang kuduga, tapi itu dia sama seperti di foto yang selalu kubawa di dompetku.

“Ayah?” bisikku, mata sudah penuh air mata. “Kamu masih hidup? Kenapa kamu pergi begitu saja? Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu aku?”

Dia menggelengkan kepalanya, tangan masih berada di bahuku. “Aku tidak bisa pergi, Sevira. Aku harus menjaganya. Semua dari kita harus menjaganya.” Dia menoleh ke arah lubang di lantai, wajahnya menunjukkan rasa takut dan cinta yang sama kuatnya. “Dan sekarang mereka sudah mulai memanggilmu juga. Kamu harus bersiap, anakku. Karena besok malam, mereka akan datang untuk mengambilmu…”

Saat aku ingin bertanya lagi, ada suara tembakan yang terdengar dari luar rumah keras dan jelas. Ayah ku langsung menghilang seperti kabut yang terbawa angin, hanya menyisakan aroma tanah basah dan air mata. Aku berdiri sendirian di kamar paling dalam itu, menangis sambil memegang kain hitam di dadaku, sementara suara langkah kaki banyak orang mulai terdengar dari arah pintu utama rumah.

Mereka sudah datang.

1
grandi
bau yang gak enak
grandi
cepat
grandi
aku suka tentang sejarah 👍
grandi
hujan 👍
Dewi Kartika
mantap thor
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!