Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Malam turun pelan. Malam ini tak sekedar malam yang dingin, tapi malam yang terasa penuh dengan sesuatu yang belum terucap.
Senja duduk di kursi dekat jendela, memandangi taman yang diterangi lampu-lampu kecil. Sup ayam tadi ia minum sampai habis membuat perutnya lebih nyaman, namun dadanya justru terasa sedikit berat. Bukan karena mual, tapi karena firasat.
Sagara berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tangan dimasukkan ke saku celana. Bahunya tegap seperti biasa, tapi pikirannya tidak setenang itu.
“Senja,” panggilnya akhirnya.
Senja menoleh. “Iya, Om?”
“Kita perlu bicara.”
Nada serius Sagara membuat Senja langsung duduk lebih tegak. Bukan takut, hanya mempersiapkan diri.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Mereka pindah ke ruang kerja di samping ruang tamu. Ruangan itu rapi, minim ornamen, seperti pemiliknya. Senja duduk di sofa kecil.
Sagara tetap berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursi berseberangan. Jarak mereka tidak jauh, tapi percakapan ini akan membawa keduanya ke hal yang lebih jauh.
Yaitu tentang hidup. Tentang masa depan.
Tentang tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.
Sagara menatap Senja lurus. Tidak tajam, tidak pula dingin, tapi keseriusan terpampang jelas.
“Kamu tahu, di negara ini, hidup serumah tanpa ikatan pernikahan bukan hal yang bisa diterima.”
Senja mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Dan keluargaku,” lanjut Sagara, “bukan keluarga yang memandang ringan soal itu.”
“Aku juga tahu,” jawab Senja lirih.
Sagara menghela napas pendek. “Karena itu, kita tidak bisa membiarkan situasi ini berjalan tanpa arah.”
Senja meremas jemarinya. “Om… maksudnya… kita harus menikah?”
Pertanyaan itu meluncur dengan suara yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menunggu jawaban tentang masa hidupnya sendiri.
Sagara tidak langsung menjawab. Ia menatap Senja beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Iya,” katanya akhirnya. “Kita akan menikah.”
Senja terdiam. Bukan terkejut. Bukan bahagia berlebihan. Lebih seperti seseorang yang baru menerima sebuah keputusan besar, dan mencoba memahaminya dengan kepala, bukan dengan emosi.
“Karena kewajiban?” tanya Senja pelan.
“Karena tanggung jawab. Dan karena martabatmu. Aku tidak akan membiarkan kau hidup di bawah bisik-bisik orang. Tidak setelah apa yang terjadi," jawab Sagara.
Senja mengangguk. Ia paham. Ia menerima.
Namun, Sagara belum selesai. “Tapi Senja,” katanya lagi, nadanya tetap tenang, “aku ingin kau memahami satu hal. Pernikahan ini bukan penjara.”
Senja mengangkat wajahnya.
“Bukan pengikat hidupmu. Bukan akhir dari pilihanmu. Dan bukan juga jaminan bahwa kau harus menghabiskan seluruh hidupmu bersamaku," imbuh Sagara.
Senja tertegun. “Om…?”
“Aku menikahimu karena aku bertanggung jawab,” lanjut Sagara. “Bukan karena aku ingin kau merasa terikat seumur hidup oleh kesalahan ini.”
Hening turun menyelimuti. Terasa berat, tapi jujur.
“Kalau suatu hari kau berdiri dengan hidupmu sendiri, dengan mimpi yang utuh, dan kau mencintai pria lain yang seumuran, yang bisa berjalan sejajar denganmu… aku tidak akan menahanmu," ucapnya lagi dengan nada suara sedikit lebih rendah.
Senja menatapnya lekat-lekat. Matanya membesar, bukan karena takut, tapi karena tidak menyangka dengan arah pembicaraan ini.
“Kenapa Om bicara seperti itu… sekarang?”
“Karena aku tidak ingin kamu menikah denganku karena merasa tidak punya pilihan.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi dalam. “Aku tidak ingin kau mencintaiku karena aku memberimu rumah. Karena aku melindungimu. Karena aku satu-satunya tempat aman yang kamu punya.”
Sagara mencondongkan tubuh sedikit.
Tatapannya tegas, tapi tidak memaksa.
“Aku ingin, kalau kau mencintaiku… itu karena kamu memilih. Bukan karena kamu butuh.”
Dada Senja bergetar.
“Dan kalau suatu hari,” lanjut Sagara, “Kamu memilih hidupmu sendiri, tanpa aku, itu juga keputusan yang akan kuhormati.”
Senja menggigit bibirnya. “Jadi… pernikahan ini…”
“Adalah tanggung jawab,” potong Sagara.
“Bukan kepemilikan.”
Senja menunduk. Air matanya jatuh setetes, lalu ia tersenyum getir sambil mengusapnya cepat. “Om ini aneh,” katanya lirih. “Kamu tidak sedang melamar dengan janji bahagia. Tapi malah memberiku izin untuk pergi.”
Sagara menjawab tenang. “Karena kebahagiaan yang lahir dari kebebasan lebih jujur.”
Senja terdiam lama. “Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang akan kupilih,” katanya pelan. “Tapi… sekarang aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Om tidak sedang mengikatku. Om sedang menjagaku.”
Sagara tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu yang melunak di matanya.
“Dan itu sudah cukup.” Senja mengangguk pelan. “Aku akan menikah dengan Om, bukan karena aku tidak punya pilihan. Tapi karena hari ini… aku memilih percaya.”
Itu bukan lagi kalimat seorang gadis belia.
Itu kalimat perempuan muda yang mulai sadar bahwa hidup adalah rangkaian pilihan, bukan sekadar takdir yang diterima.
Dan kalimat itu membuat Sagara terdiam beberapa detik. Bukan karena lega, bukan pula karena bangga. Tapi, lebih seperti seseorang yang baru menerima amanah yang sangat besar.
“Terima kasih,” katanya pendek.
Senja tersenyum kecil. “Om tidak perlu mengucapkan itu seperti sedang menerima penghargaan.”
“Ini lebih berat dari penghargaan apa pun.”
Di dalam hati Sagara, satu keyakinan berdiri tegak, bahwa ia tidak menikahi Senja untuk memilikinya. Ia menikahi untuk memastikan suatu hari, jika Senja ingin pergi, ia bisa pergi dengan kepala tegak, tanpa rasa hutang, tanpa rasa terikat. Itulah bentuk tanggung jawab paling dewasa yang bisa ia berikan.
“Om…”
“Ya?”
“Kalau nanti kita menikah… Om masih mau masak?”
“Kenapa tidak?”
“Katanya laki-laki biasanya tidak boleh masak kalau sudah menikah.”
Sagara mengernyit tipis. “Itu teori dari mana?”
“Dari drama pendek Cina.”
“Berarti dramanya salah.”
Kalimat pendek itu membuat Senja tersenyum samar. Senyuman ringan yang jarang muncul di hari-hari beratnya.
"Om..."
"Ya?"
Senja sedikit menunduk, ragu, malu, tapi keinginannya begitu menggebu. "Sup bikinan Om... enak. Perutku lebih bisa menerimanya, mualku berkurang. Besok... bisakah Om buatkan lagi?" lirihnya.
"Baik."
Binar mata Senja sedikit merekah. "Terima kasih..."
"Sekarang beristirahatlah," titah Sagara kemudian.
Senja mengangguk pelan, lalu bangkit. Keluar dari ruang kerja, ia tidak langsung ke kamar, melainkan melangkah ke dapur terlebih dahulu. Tangannya meraih gelas, tapi karena masih sedikit lemas, gelas itu hampir terlepas.
Entah sejak kapan Sagara sudah berdiri di belakangnya, reflek menangkap pergelangan tangan Senja.
"Pelan," katanya pendek.
Sentuhan itu tipis. Sangat tipis.
Tapi cukup membuat Senja terdiam satu detik lebih lama dari seharusnya.
"Maaf…" Senja refleks berkata, kebiasaan lamanya muncul lagi.
Sagara melepas tangannya. “Kamu tidak perlu minta maaf untuk tubuhmu sendiri.”
Senja menatap Sagara, sedikit bingung, lalu tersenyum kecil. “Oh…”
Ia menuang air dengan lebih hati-hati.
Setelah itu, ia menoleh ragu.
“Om… menikah itu… berat ya.”
“Memang.”
“Tapi…” Senja menunduk, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Terima kasih sudah ngomong jujur. Aku lebih takut sama orang yang kelihatan baik tapi pura-pura.”
Sagara terdiam sejenak.
“Kejujuran itu tidak selalu membuat nyaman.”
“Tapi membuat aman,” sahut Senja pelan.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan panjang dengan Senja, sudut bibir Sagara bergerak. Bukan senyum penuh. Hanya lengkungan kecil, hampir tidak terlihat.
“Kau cepat belajar,” katanya.
Senja tersenyum lebih lebar. “Karena Om guru.”
Sagara menatapnya. “Dan kau murid yang keras kepala.”
Senja terkekeh kecil. Itu tawa kecil pertama yang keluar darinya hari itu. Dan di antara dapur yang masih berbau sup ayam, dua manusia yang baru saja bicara tentang masa depan, tanggung jawab, dan pernikahan, akhirnya berbagi sesuatu yang lebih sederhana. Keheningan yang tidak lagi berat. Keheningan yang hangat.
Bersambung~~