Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.Pengakuan
“Tidak! Bukan seperti itu… tapi perempuan yang kamu lihat saat ini adalah aku, Raka—Anes Maheswari!” teriak Raline, suaranya pecah, dadanya terasa seperti diremas dari dalam. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tanpa sempat ia susun dengan tenang, membuat laki-laki di hadapannya terpaku dalam keterkejutan yang tak bisa disembunyikan.
Raline menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pengakuan barusan benar-benar menguras seluruh sisa keberaniannya. Tubuhnya terasa lemas, lututnya menyerah, hingga ia berjongkok di lantai, masih menutup wajah, tak tahu lagi harus berkata apa.
Raka tetap membisu. Ia hanya duduk dia di kursi rodanya menatap wanita yang kini berjongkok di hadapannya, tatapannya kosong, seolah mencoba memahami sesuatu yang sama sekali di luar nalar.
“Kamu pasti mengiraku gila, bukan?” ucap Raline lirih, suaranya bergetar, wajahnya terangkat sedikit, menampakkan mata yang basah dan memelas.
Namun Raka tetap tak mengatakan apa pun. Ia hanya menatapnya, seolah mencari celah logika di antara kekacauan itu.
Raline kemudian menunjuk foto yang masih berada di tangan Raka. “Kamu masih ingat foto itu? Foto yang aku ambil dari dompetmu saat kita mengerjakan tugas di perpustakaan berdua,” ucapnya pelan namun tegas. Kalimat itu membuat mata Raka kembali terbelalak.
“Foto anak kecil yang sengaja kamu balik karena kamu pikir foto waktu kecilmu sangat jelek,” lanjut Raline. “Apa kamu masih menyimpan foto masa kecilku yang aku berikan kepadamu? Foto bersama yang aku potong, menyisakan diriku sendiri. Kamu menjaganya dengan baik, bukan? Aku sudah memperingatkanmu kalau foto itu satu-satunya foto masa kecil yang aku miliki. Aku memberikannya kepadamu karena aku ingin memiliki foto masa kecilmu.”
Suara Raline bergetar di akhir kalimatnya. Raka memajukan kursi rodanya untuk mendekat, menatap gadis itu lekat-lekat, seperti melihat hantu dari masa lalu yang bangkit dalam wujud yang tak pernah ia bayangkan.
“Kenapa kamu bisa tahu semua itu? Apa benar kamu dan Anes sedekat itu?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah, dipenuhi kebingungan.
Raline menggeleng pelan. “Seperti yang kamu katakan, gadis ini dan Anes memang tidak pernah bertemu. Aku-lah yang menemui gadis ini… hingga membuat nyawanya tersingkir dari tubuhnya sendiri,” ucapnya, membuat Raka semakin kehilangan arah.
“Aku tidak tahu apa maksudmu sebenarnya,” balas Raka, napasnya mulai berat.
“Aku bereinkarnasi ke dalam tubuh gadis ini. Jiwa gadis ini diisi oleh jiwaku—jiwa Anes Maheswari yang meninggal karena dibunuh dari hotel pencakar langit itu.”
“Tidak… tidak mungkin.” Raka tertawa kecil, pahit dan kering. “Bukan ini yang ingin aku dengar. Aku ingin kamu mengakui semua perbuatanmu—bagaimana brankas Anes bisa ada di sini, bagaimana kamu tahu foto ini dan semua yang berkaitan dengan Anes—bukan mengaku-ngaku dirimu sebagai Anes. Itu sama sekali tidak masuk akal.”
Ia menarik napas, suaranya semakin berat. “Aku akui aku sangat membenci gadis itu karena dia tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku. Karena kesalahpahaman di kampus waktu itu, dia mendirikan tembok permusuhan denganku. Tapi aku begitu peduli padanya, karena aku begitu mencintainya. Momen yang seharusnya indah malah menjadi puncak kesalahpahamanku dengannya. Jangan mengada-ada dengan mengaku sebagai Anes di sini, Raline. Aku mengakui aku mencurigaimu seperti orang lain, tapi bukan menjadi Anes juga.”
“Salah paham?” Raline tertawa getir. “Kamu berciuman di atas rooftop dengan seorang wanita. Rooftop itu dihias begitu romantis, lalu kamu menyuruhku pergi ke sana. Apa itu salah paham?”
Ia menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. “Jika kamu tidak percaya, ya sudahlah. Kamu bisa menceraikanku. Lagi pula aku juga lelah berpura-pura menyukaimu. Kamu pun pasti begitu, bukan? Mana mungkin kamu bisa hidup rukun dengan musuh bebuyutanmu ini setelah kamu tahu siapa aku.”
Raline kemudian merebut selembar foto itu dari tangan Raka, memasukkannya kembali ke dalam brankas, lalu mendorong kursi roda Raka keluar dari kamarnya tanpa menoleh lagi. Pintu kamar itu tertutup perlahan, meninggalkan kesunyian yang menekan, seolah udara di ruangan itu ikut kehilangan napasnya.
Raka masih terdiam di depan pintu kamar, mencoba mencerna kata-kata Raline kepadanya. Kepalanya terasa penuh, dadanya sesak oleh kebingungan yang tak kunjung reda.
“Dia adalah Anes… bagaimana bisa?” gumam Raka lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam kesunyian. “Tapi… kenapa dia bisa tahu semuanya tentangku dan Anes? Bahkan dia juga menyimpan brankas Anes. Mungkinkah aku harus mempercayainya?”
Ia menggeleng pelan, seolah menolak pikirannya sendiri. “Tidak… ini gila. Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja,” ucapnya lagi, meski keraguan di dalam hatinya justru semakin tumbuh, bukan menghilang.
_____
Di sisi lain, Kenzo, Celine, dan Arumi tengah mengemas barang-barang mereka untuk pindah ke paviliun tua milik keluarga Arumi, setidaknya sampai mereka mengumpulkan cukup uang untuk membeli rumah atau sekadar menyewanya. Lagipula, Kenzo bersikeras untuk terus menyelidiki Raline, karena ia yakin perempuan itu adalah Anes.
“Kamu sudah selesai?” tanya Kenzo.
Celine dan Arumi mengangguk bersamaan.
“Baiklah, kita berangkat sekarang,” ucap Kenzo sambil mengangkat beberapa tas, turun ke bawah apartemen menuju mobil sewaan yang sudah ia siapkan untuk mengangkut barang-barang mereka.
Begitu semua barang dimasukkan, mereka langsung berangkat menuju rumah Arumi.
Tak berapa lama, mereka pun tiba. Penjaga membukakan pintu gerbang tepat saat Raline tengah bersantai di atas balkon, sementara Raka berada di lantai bawah. Raline cukup terkejut melihat kedatangan Arumi, Kenzo, dan Celine ke rumahnya, terlebih setelah para agen properti yang ia minta berhasil mengusir dua orang itu dari apartemen Anes.
“Kenapa mereka ke sini?” ucap Raline, menatap tak percaya apa yang dilihatnya. Ia pun bergegas turun dan berdiri di samping Raka.
“Ini ulahmu, bukan? Mereka justru sekarang malah datang ke sini setelah kamu mengusir mereka dari apartemen Anes,” ucap Raka.
“Aku memang mengusir mereka, tapi aku tidak menyangka jika Kenzo, Celine, dan Arumi akan pindah ke paviliun tua itu,” jawab Raline. Wajahnya tampak tegang. “Apa mereka merencanakan sesuatu tentangku atau… mereka sudah curiga kalau aku adalah Anes?”
Raline lalu menatap Raka, matanya penuh kegelisahan. “Hanya kamu yang ada di sisiku. Percaya atau tidaknya kamu bahwa aku adalah Anes itu tidak penting. Yang aku mau, kamu membantuku dalam misi balas dendamku kepada mereka.”
“Maksudmu?” tanya Raka.
“Celine dan Kenzo-lah yang sudah membunuhku,” ucap Raline, membuat Raka kembali terbelalak mendengar kata-katanya.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Raka yuk Raka percaya sama Raline balaskan dendam Raline dan ungkap kecelakaanmu 😫
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuan ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤