Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 34
Ketegangan di pelataran Delphi Hospital memuncak hingga ke titik didih saat unit taktis kepolisian mulai mengarahkan peluncur beban hidrolik dan muatan peledak termal ke arah gerbang baja yang mengunci akses masuk. Magnus, dengan raut wajah yang keras dan mata yang memerah karena kelelahan, sudah memberikan instruksi terakhir untuk menjebol barikade tersebut demi menyelamatkan Lyra. Namun, tepat sebelum perintah eksekusi diteriakkan, sebuah iring-iringan mobil hitam mewah menerobos garis polisi, dan sosok Walikota Maximillian Vane keluar dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya memancarkan kemarahan sekaligus ketakutan yang mendalam.
"Hentikan semua ini sekarang juga! Magnus, perintahkan pasukanmu untuk mundur!" teriak Walikota Vane, suaranya menggelegar di antara deru mesin pemadam kebakaran.
Magnus berbalik dengan napas memburu, menatap sang walikota dengan tatapan tidak percaya. "Tuan Walikota, setiap detik yang kita buang di sini adalah detik di mana nyawa warga kita di dalam sana terancam! Kita harus masuk dan menghentikan Pharma!"
Walikota Vane melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Magnus, ia menunjuk ke arah kepulan asap biru kehijauan yang mulai merembes dari celah-celah ventilasi gedung. "Kau bodoh atau buta, Detektif? Pharma baru saja mengirimkan rincian sensor kimiawi ke meja kerja saya secara langsung! Jika kau menjebol pintu itu secara paksa, tekanan udara akan berubah dan melepaskan ribuan galon gas Neuro-Vex yang dia simpan di tangki bawah tanah. Gas itu bukan hanya akan membunuh orang di dalam, tapi akan terbawa angin dan meracuni seluruh distrik ini dalam hitungan menit!"
Magnus tertegun, tangannya yang masih memegang radio panggil perlahan menurun. Ia melihat ke arah para petugas pemadam yang juga mulai ragu. Penjelasan Vane menciptakan dilema moral yang menghancurkan: menyelamatkan segelintir orang di dalam namun berisiko memusnahkan seisi kota, atau membiarkan gedung itu menjadi peti mati demi keselamatan publik yang lebih luas.
"Dia telah mengubah seluruh rumah sakit ini menjadi bom kimia raksasa," lanjut Walikota Vane dengan suara yang lebih rendah namun sarat ancaman. "Saya tidak akan membiarkanmu menjadi pemicu kiamat di kota ini hanya karena alasan emosionalmu terhadap adik sahabatmu. Selama sensor itu masih aktif, tidak akan ada satu pun lubang yang boleh dibuat di dinding Delphi. Itu adalah perintah mutlak, Magnus. Jika kau melanggarnya, kau bukan hanya kehilangan lencana, kau akan dihukum karena pengkhianatan terhadap negara."
Mendengar larangan keras tersebut, Ratchet dan Jazz hanya bisa terdiam membeku di belakang Magnus. Di atas gedung tinggi seberang sana, Tarn melihat melalui teropongnya dan tersenyum tipis; Walikota Vane telah melakukan persis seperti yang ia harapkan,memberikan DJD waktu dua hari yang mereka butuhkan tanpa perlu mengangkat satu jari pun.
Cliffhanger: Magnus kini berdiri terjepit di antara otoritas hukum yang melarangnya bergerak dan rintihan samar dari dalam radio yang memanggil namanya. Saat Walikota Vane memerintahkan unit taktis untuk menarik kembali peledak mereka, Magnus melihat ke arah Ceptor Rakha yang tiba-tiba memberinya kode rahasia lewat kedipan mata. Tampaknya, ada jalur masuk lain yang tidak terdeteksi oleh sensor kimia Pharma, namun jalur itu hanya bisa diakses dengan satu syarat yang sangat berbahaya.
"Magnus," bisik Ceptor saat walikota sibuk berdebat dengan wartawan, "Ada satu pipa pembuangan limbah yang tidak memiliki sensor tekanan. Tapi untuk masuk ke sana, kau harus masuk tanpa peralatan taktis sama sekali, atau tangki gas itu akan mendeteksi logam di tubuhmu dan meledak seketika. Kau berani melakukannya sendirian?"
Akankah Magnus nekat melanggar perintah Walikota Vane dan masuk ke 'jalur bunuh diri' tersebut demi Lyra?
Di dalam jantung laboratorium utama yang kini terisolasi total, keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan tersebut. Meskipun di luar sana kepulan asap biru kehijauan yang beracun mulai memenuhi lorong-lorong rumah sakit, ruangan tempat Lyra berada terasa sangat berbeda. Pharma, dengan ketelitian seorang maestro, telah mengaktifkan sistem sterilisasi tingkat tinggi di laboratorium tersebut. Udara di dalam sana terasa dingin dan murni, disaring oleh teknologi filtrasi mandiri yang memastikan tidak ada satu pun partikel gas Neuro-Vex yang bisa menyusup masuk. Pharma tidak menginginkan spesimen berharganya—Lyra—rusak oleh racun buatannya sendiri sebelum "prosedur" yang ia rencanakan terlaksana.
Kini, di bangunan raksasa Delphi Hospital yang sunyi senyap, hanya tersisa tiga nyawa: Lyra yang gemetar dalam ketakutan, Loen yang terkapar sekarat di atas tandu, dan Pharma yang berdiri dengan ketenangan yang gila. Ribuan pasien, staf, dan tamu undangan telah dievakuasi keluar, meninggalkan mereka bertiga dalam drama mematikan yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun dari dunia luar.
"Jangan takut, Lyra. Kau berada di tempat paling aman di kota ini," ucap Pharma sambil berjalan perlahan mendekati meja laboratorium yang masih utuh. Ia meletakkan pisau bedahnya dengan denting logam yang halus, lalu mulai memakai sarung tangan lateks baru dengan gerakan yang sangat sistematis. "Di luar sana, mereka sedang panik karena gas yang aku lepaskan, tapi di sini, udara ini bahkan lebih bersih daripada oksigen yang kau hirup saat lahir."
Lyra mundur selangkah, tangannya masih memegang erat kain jaket yang ia gunakan untuk menyumbat luka Loen. Ia menatap Pharma dengan kebencian yang mendalam, meskipun matanya berkaca-kaca. "Kenapa kau melakukan ini, Pharma? Kau adalah seorang dokter! Kau seharusnya menyelamatkan nyawa, bukan menyandera mereka di dalam neraka ini!"
Pharma tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat lembut namun kosong. "Menyelamatkan nyawa hanyalah tahap dasar dari kedokteran, Lyra. Tahap selanjutnya adalah menentukan takdir dari nyawa tersebut. Lihatlah Loen," ia menunjuk ke arah asistennya yang napasnya semakin dangkal. "Dia adalah asisten yang baik, tapi dia tidak memiliki visi. Dia pikir dia bisa menghentikan ledakan itu, padahal ledakan itu adalah upacara pembersihan. Pembersihan dari semua saksi yang tidak diperlukan."
Lyra melihat ke arah Loen, lalu kembali ke arah Pharma. "Magnus akan datang. Dia tidak akan membiarkanmu melakukan ini."
"Magnus?" Pharma tersenyum sinis sambil menatap layar monitor yang menampilkan barisan polisi yang tertahan di luar oleh perintah Walikota Vane. "Detektifmu yang malang itu sedang berlutut di depan hukum yang aku ciptakan. Dia tidak bisa masuk tanpa membunuh ribuan orang di luar sana. Dia terjebak dalam dilema moral, sementara aku... aku bebas dari semua itu."
Pharma kemudian mengambil sebuah jarum suntik berisi cairan bening keperakan. Cahaya lampu sterilisasi memantul di permukaan jarum tersebut, menciptakan kilatan yang mengerikan. "Sekarang, mari kita bicara tentang potensi yang kau miliki. Paul selalu bangga pada adiknya, tapi dia tidak pernah tahu bahwa kau membawa kode genetik yang jauh lebih berharga daripada seluruh karier kepolisiannya."
Lyra merasakan firasat buruk yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Pharma tidak mengejar Paul, melainkan menggunakan Paul sebagai umpan untuk membawanya ke sini. Di tengah kesunyian laboratorium yang kedap suara itu, Lyra menyadari bahwa ia benar-benar sendirian menghadapi monster yang paling cerdas di kota ini.
Cliffhanger: Tepat saat Pharma melangkah maju untuk menyentuh lengan Lyra, Loen tiba-tiba menggerakkan tangannya yang bersimbah darah dan mencengkeram kaki Pharma dengan sisa tenaga terakhirnya. "Lari... Lyra... konsol kendali di bawah meja... tekan tombol merah..." bisik Loen dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Pharma menunduk, menatap Loen dengan pandangan dingin seolah sedang menatap serangga yang mengganggu. "Kau masih berusaha menjadi pahlawan, Loen? Sungguh menyedihkan."
Akankah Lyra sempat mencapai konsol kendali itu sebelum Pharma melumpuhkannya, ataukah upaya terakhir Loen justru akan memicu kemarahan Pharma yang lebih besar?