NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paling ditolak Tama

Tet! Tet!

Suara bel sekolah berbunyi nyaring. Hal itu membuat Guno langsung mengarahkan pandangannya ke luar. Dengan sigap, ia membuka pintu ruang musik selebar mungkin.

"Cepat kamu keluar sekarang, sebelum ada yang lihat!" perintah Guno tegas.

Tama menurut. Ia langsung berdiri, kemudian berlari menjauhi 'ruang neraka' yang baru saja ia datangi. Sementara itu, Guno yang ingin tetap terlihat berwibawa dan berkesan baik, menunda kepergiannya selama beberapa menit agar tidak ada yang curiga.

Lima belas menit berlalu, Guno akhirnya keluar ruangan dengan tenang. Namun, begitu ia menutup pintu, tiba-tiba dari belakang, Indri mengejutkannya.

"Darrr!"

Guno terperenjat. Ia langsung membalikkan badan dan memasang wajah hangat andalannya kepada anak didiknya itu.

"Eh, Indri!"

"Sendirian saja Pak?" tanya Indri penuh selidik.

"Iya nih, habis pinjam gitar."

"Oh, Bapak tidak mengajar?"

"Nanti setelah jam istirahat."

Indri memonyongkan bibirnya, lalu mengangguk-angguk.

"Ya sudah, saya ke kantin dulu, ya." Guno hendak melangkah pergi, namun Indri menahannya.

"Pak! Aku mau konsul."

"Konsul apa? Kan ada guru BK, kenapa harus sama saya?"

"Soalnya nyaman bercerita sama Bapak. Kalau sama guru BK suka dibocorkan, suka disindir juga di kelas."

"Nanti dulu ya, pulang sekolah saja gimana?Sekarang saya harus makan. Lapar!"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Guno melangkah pergi meninggalkan Indri. Ia menghiraukan panggilan gadis itu.

"Eh, Bapak ih!" Indri menghentakkan kaki kanannya dengan kesal sambil bersedekap "Giliran sama Tama saja cepat bukan main. Sama aku? Dih, jual mahal!"

...*******************...

Kini Guno mengajar di kelas XII IPA-2. Ya, itu adalah kelas Tamara. Begitu Guno masuk, semua siswa kompak diam. Dari awal mengucap salam sampai akhir penjelasan Biologi, tak ada yang bertanya atau sekadar mengobrol. Mereka membisu di hadapan Guno.

Guno melirik ke ujung bangku paling belakang. Di sana ada Tama yang hanya menunduk tanpa berani menatapnya. Guno memakluminya, mungkin Tama masih trauma. Namun, Guno yakin suatu saat nanti gadis itu akan luluh.

Guno membereskan peralatannya lalu keluar kelas karena jam pelajaran telah usai. Saat berjalan menuju kantor guru, langkahnya disusul oleh Tama. Guno mengernyit "Kenapa dia?" tanyanya dalam hati.

Sampai di kantor guru, ternyata Tama meminta izin untuk pulang dengan alasan sakit. Bu Etik, selaku guru piket, memberikan izin. "Ya sudah, saya suruh Mang Jamal untuk antar kamu deh!".

Namun, Mang Jamal ternyata tidak bisa karena harus menyelesaikan pekerjaan lain saat itu juga. Lagi-lagi, ini menjadi kesempatan emas bagi Guno.

"Kalau begitu, biar saya saja Bu!" tawar Guno cepat.

Tamara langsung menggelengkan kepala dengan kuat. Bu Etik yang menyadari kegelisahan Tama langsung menoleh ke arah Pak Irfan. "Pak Irfan saja deh! Bapak tidak ada jam mengajar lagi kan?"

Pak Irfan mengangguk "Ya Bu!".

Guno mengembuskan napas kesal

"Saya saja Bu, lagipula saya tahu rumahnya."

Entah mengapa, Irfan tampak bersikeras ingin mengantarkan Tama, seolah sedang bersaing dengan Guno "Saya juga tahu rumah Tamara, Bu!"

"Bu, saya sudah kenal ibunya Tama" timpal Guno tak mau kalah.

"Memangnya mengantarkan anak sekolah harus kenal ibunya dulu? Kalau dia sedang sakit-kan cukup tahu rumahnya saja!" Irfan tampak geram dengan kekukuhan Guno.

"Ya harus lah, biar ibunya tidak banyak tanya!"

Bu Etik dan Tama kebingungan melihat perdebatan dua guru ini. Tiba-tiba, seorang siswa kelas XI IPA-1 datang menjemput Guno.

"Permisi Pak, sudah ditunggu di kelas XI IPA-1!"

Guno berkacak pinggang. Bu Etik segera mempersilakan Guno pergi dengan isyarat mata. Guno ingin marah, tetapi ia tak punya pilihan karena ada agenda presentasi nilai tambahan yang penting. Alhasil, Tama pulang diantar oleh Pak Irfan.

"Tama, ayo ikuti Pak Irfan!" perintah Bu Etik.

Akhirnya, Tama bisa pulang dengan perasaan lega.

...***********************...

Guno pulang ke rumah dengan perasaan hampa dan cemburu berat terhadap Irfan. Pikirannya kalut! Takut Irfan menghasut Tama atau bahkan merebutnya.

Ia mengempaskan tubuh ke kasur dan memejamkan mata. Bayangan wajah ketakutan Tama dan aroma tubuh gadis itu masih terasa nyata di benaknya. Guno menatap ibu jarinya sendiri dengan saksama.

"Apa gue harus bawa nama Tama ke dukun? Gue sih yakin dia akan luluh tapi, gak yakin itu bisa cepat. Banyak sekali penghalangnya!"

Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring, membuyarkan lamunannya. "Irfan?" gumamnya heran sembari mengangkat telepon. "Ya!"

"Gue pengen ketemu sama lo, bisa enggak?" tanya Irfan di seberang sana.

"Sudah malam nih."

"Baru jam tujuh, bisalah nongkrong sebentar."

Guno memutar bola matanya. "Ya sudah, ayo! Di mana?"

"Nanti gue kirim lokasinya. Lo jalan saja dulu."

Guno bersiap-siap. Ia memakai celana jeans panjang, sweter hitam, dan topi. Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada ibu mertuanya. "Bu, Guno jalan dulu ya" ucapnya sambil menyalami tangan beliau.

"Jangan apel Gun. Ingat, sebentar lagi empat puluh hari Hana" pesan sang mertua.

Guno hanya mengangguk lalu meluncur menuju lokasi. Di sana, sudah ada Dika, Fahri, dan Irfan. Guno memarkir motornya dan masuk ke dalam kafe.

"Mau minum apa?" tanya Dika.

"Kopi susu saja!" jawab Guno semangat.

"Tumben minta kopi susu, lagi kangen ya sama..." Fahri menggoda sambil menaikkan alis.

"Sama apa?!" Guno tertawa balik.

Mereka tertawa bersama, kecuali Irfan. Suasana mendadak canggung. Mereka bertiga menatap Irfan dengan heran.

"Kenapa lo?" tanya Dika.

Irfan menggeleng.

"Paling lagi galau karena habis ditolak" celetuk Guno asal.

"Ditolak sama siapa?" tanya Fahri penasaran.

"Mungkin sama Tama" jawab Guno lagi dengan nada mengejek.

Sontak semua terkejut "Hah?!" Irfan tetap diam. Tangannya menggenggam kuat, menahan emosi yang meluap, sambil sesekali melempar senyum kaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!