Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Lukas Vantobel
Pria dari Zurich itu, Lukas Vontobel, berdiri di depan lukisan abstrak di dinding galeri. Di tengah kerumunan elite Paris, kehadirannya terasa seperti badai yang tenang; tinggi, atletis, dengan setelan jas rapi yang membungkus tubuhnya yang kekar.
Bianca berdiri beberapa langkah di sampingnya, mematung seolah terpesona oleh palet warna pada kanvas, meski sebenarnya ia bisa merasakan tatapan Lukas yang mulai berpindah dari ke arahnya.
Lukas tidak terburu-buru. Ia menyesap champagne-nya, lalu berujar tanpa menoleh, suaranya bariton dan penuh percaya diri.
"Pelukisnya mencoba menggambarkan kekacauan, tapi kurasa dia gagal menangkap keindahan yang sebenarnya ada di ruangan ini." Lukas akhirnya menoleh, matanya yang tajam dan jernih mengunci tatapan Bianca. Ada binar ketertarikan yang maskulin, namun sangat berkelas.
Bianca menoleh perlahan, memasang raut terkejut yang manis. "Maksud Anda, lukisan ini kurang indah?"
Lukas melangkah satu langkah lebih dekat, aroma sandalwood dan maskulinitas yang bersih. "Maksud saya, lukisan itu hanyalah benda mati. Keindahan yang hidup jauh lebih berbahaya untuk dikagumi." Ia tersenyum, sebuah senyuman yang jarang ia berikan pada sembarang orang. "Saya Lukas. Dan saya rasa, saya baru saja menemukan alasan mengapa saya harus tinggal di Paris lebih lama dari rencana awal."
Cara Lukas mendekat tidak agresif seperti pria haus yang Bianca temui, Mateo misalnya. Namun sangat mendominasi. Ia memperlakukan Bianca seperti sebuah karya seni langka yang harus segera ia miliki sebelum kolektor lain menyadarinya.
"Ingin lebih lama di Paris? Bagaimana jika istri atau kekasihmu mulai merindukanmu?" pancing Bianca, sekadar ingin memastikan status Lukas.
Sebenarnya, status pria-pria itu sama sekali tidak penting baginya maupun Lora. Sesuai rencana, Bianca hanya akan menemui mereka sekali saja: pertemuan pertama sekaligus yang terakhir.
Lukas terkekeh rendah, tatapannya tidak lepas dari mata Bianca.
"Aku masih lajang. Paris selalu terasa membosankan bagiku, tapi malam ini segalanya berubah. Jadi, apakah ada seseorang yang keberatan jika aku mencuri waktumu sedikit lebih lama?"
Lukas membawa Bianca ke sebuah bar eksklusif yang temaram. Suasana terasa kental dengan ketegangan seksual. Lukas menyesap wiskinya, menatap Bianca dengan tatapan terpesona.
"Paris jauh lebih menarik dari balik gelas ini, bersamamu," gumam Lukas rendah. Jemarinya yang kuat sengaja menyentuh punggung tangan Bianca, memberikan tekanan yang dominan namun menggoda.
Bianca tersenyum penuh rahasia, membiarkan sentuhan itu membakar suasana. Lukas mendekatkan wajahnya, aroma maskulin yang mahal menyapu indra Bianca.
"Aku bukan pria yang suka membuang waktu, Bianca. Aku ingin malam ini berakhir di tempat yang jauh lebih privat dari bar ini. Bagaimana menurutmu?"
Bianca menyesap minumannya, Ia tahu, mangsa Zurich-nya sudah benar-benar masuk dalam perangkap.
"Aku setuju, Lukas. Bawalah aku pergi dari tempat ini."
Suara pintu penthouse tertutup, Lukas tanpa basa-basi menarik Bianca ke dalam pelukan yang membakar, bibirnya langsung menyerbu bibir Bianca dengan ciuman yang dalam dan menuntut.
Bianca membalasnya dengan intensitas yang sama, jemarinya merayap ke rambut Lukas, menariknya mendekat.
Pakaian mulai berjatuhan ke lantai marmer yang dingin, meninggalkan jejak kain-kain mahal. Lukas mengangkat Bianca dalam gendongan, langkahnya mantap menuju kamar tidur utama. Di sana, di bawah remangnya cahaya lampu yang berpendar lembut, gairah mereka meledak. Bisikan-bisikan nakal dan desahan tertahan memenuhi ruangan, seiring dengan sentuhan-sentuhan yang semakin berani dan tak terlarang. Malam itu, Bianca dan Lukas tenggelam dalam pusaran kenikmatan yang memabukkan, melupakan dunia di luar penthouse itu.
Pagi harinya, cahaya matahari Paris menembus tirai tipis penthouse mewah tersebut. Lukas sudah rapi dengan kemeja putih yang tidak dikancingkan sepenuhnya, menatap Bianca yang masih berselimut sutra dengan tatapan penuh kepuasan. Pria itu meletakkan sebuah kartu hitam berbahan metal di atas nakas, tepat di samping segelas air mineral.
"Aku harus kembali ke Zurich siang ini, ada pertemuan yang tidak bisa ditunda," Lukas dengan suara baritonnya. Ia mendekat, mengecup kening Bianca sekilas. "Gunakan kartu itu untuk apa pun yang kau suka di Paris. Tidak ada batas, tidak ada pertanyaan. Aku ingin kau tetap tampil mempesona sampai aku kembali menjemputmu."
Bianca hanya tersenyum tipis, jemarinya menyentuh kartu dingin itu, sebuah Centurion Card tanpa limit. Lukas benar-benar mangsa yang royal.
Begitu pintu penthouse tertutup dan Lukas pergi, sosok Lora muncul dari balik bayangan cermin besar di kamar itu. Lora tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding marmer.
"Satu mangsa, satu kartu hitam. Kau belajar dengan cepat, Bianca," puji Lora. "Sekarang, mari kita lihat apakah Hernan akan merasa cukup 'miskin' dan bersalah saat dia kembali, sehingga dia rela menyerahkan kunci Lykan Hypersport-nya padamu."
"Baiklah, aku setuju. Besok saat Hernan pulang, aku akan menagih apartemen modern minimalis itu. Tidak perlu terlalu besar, yang penting nilai investasinya tinggi di jantung Paris."
Bianca berdiri di depan cermin besar di penthouse mewah milik Hernan. Ia mengamati pantulan dirinya, lalu mendesah pelan saat jemarinya menyentuh bercak kemerahan di lehernya.
"Lora, lihat diriku. Bisakah kau hilangkan bekas gigitan Lukas di seluruh tubuhku? Hampir di setiap jengkal ada bekasnya. Tak kusangka dia jauh lebih ganas daripada Mateo. Bahkan di bagian bokong dan selangkanganku pun ada," ucap Bianca dengan nada jengkel sekaligus lelah.
Lora muncul dari balik bayangan, mendekat dengan senyum tipis yang penuh arti. Ia mengusap bahu Bianca, dan perlahan-lahan hawa dingin menjalar ke seluruh kulit gadis itu, memudarkan noda kemerahan dalam sekejap.
"Pria Zurich itu memang sangat lapar, bukan? Tapi lihat hasilnya, sebuah kartu tanpa batas di tanganmu. Sekarang kulitmu sudah kembali bersih, Bianca. Sambutlah Hernan besok dengan wajah paling polos yang kau punya, seolah-olah kau hanya menghabiskan waktumu di dapur selama dia pergi."
...****************...
Wanita itu berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang membuat ruangan terasa menyempit.
"Kau Bianca Wolfe? Aku Béatrice de Valois, ibunya Hernan."
Béatrice menatap Bianca dengan tatapan menilai, khas bangsawan yang terbiasa mengatur segalanya.
"Aku sudah lama mencium aroma rahasia yang disimpan putraku di penthouse ini. Hernan pikir dia bisa terus menyembunyikan 'kesenangannya' tanpa aku tahu," lanjut Béatrice sambil meletakkan sarung tangan kulitnya di atas meja dengan anggun.
"Dengarkan baik-baik, Petite. Aku tidak suka melihat putraku membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak memiliki status hukum yang jelas. Jika kau ingin tetap berada di sampingnya, maka jadilah bagian dari keluarga ini secara resmi. Aku akan mendesak Hernan untuk segera menikahimu. Aku butuh pewaris. Jadi, berhentilah bersikap seperti simpanan dan mulailah bersikap seperti calon istri, atau aku sendiri yang akan menyingkirkanmu dari hidupnya."
"Calon istri?."
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?