Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Dinner With Maya
Jumat sore, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan yang kotor oleh polusi. Di balik kemudi Pajero Sport hitamnya yang terparkir di basement kantor, Arga sedang mengalami serangan panik yang sunyi.
Mesin mobil menyala, AC berhembus dingin, namun keringat sebesar biji jagung terus bermunculan di dahi dan punggungnya. Arga menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong, seolah benda pipih itu baru saja menggigit tangannya.
Aplikasi mobile banking-nya terbuka, menampilkan angka saldo yang menyedihkan: Rp 1.250.000.
Itu adalah sisa gajinya. Gaji yang baru masuk beberapa minggu lalu, namun sudah terkuras habis oleh auto-debet cicilan mobil, pembayaran minimum kartu kredit yang menumpuk, dan biaya hidupnya yang mendadak naik kelas.
"Gila..." desis Arga, memukul setir dengan frustrasi. "Duitku hilang kemana?"
Dia mencoba menenangkan diri, tapi notifikasi WhatsApp yang masuk membuat jantungnya kembali berpacu. Pesan dari Maya.
Maya: Beb, jangan lupa ya malem ini! Aku udah reservasi di SKYE jam 7. Temen-temen geng aku juga pada mau ke sana nanti agak maleman. Aku mau pamerin pacar aku yang ganteng ini. Dandan yang oke ya!
Arga membaca pesan itu dengan perut mulas. SKYE. Salah satu restoran dan lounge paling mahal di Jakarta Pusat. Tempat di mana harga segelas air mineral bisa setara dengan dua porsi nasi padang.
Arga ingin menolak. Logika sehatnya berteriak agar dia membatalkan janji, pura-pura sakit, atau mengajak Maya makan di tempat biasa. Tapi kemudian dia teringat wajah cemberut Maya saat di kantin tadi siang. Maya sedang marah besar karena dipermalukan Nadinta. Jika Arga membatalkan makan malam ini atau membawanya ke tempat murah, Maya pasti akan meledak.
Dan lebih buruk lagi, Maya sudah bilang ke teman-teman sosialitanya. Gengsi Arga dipertaruhkan. Dia tidak mau dicap sebagai pacar yang pelit atau susah.
"Oke. Tenang, Ga. Paling habis sejuta. Masih cukup," gumam Arga, berusaha membohongi matematikanya sendiri. Dia lupa bahwa di dompetnya, kartu kredit Bank Mega miliknya sudah menyentuh batas limit pemakaian.
Arga menarik napas panjang, merapikan rambutnya di kaca spion, dan memacu mobilnya keluar dari gedung. Dia menuju kematian finansialnya sendiri dengan mata terbuka.
Pukul 19.00 WIB. Menara BCA, Lantai 56.
Suasana di SKYE malam itu sangat hidup dan glamor. Pemandangan lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di bawah sana memberikan ilusi bahwa mereka sedang berada di puncak dunia. Musik chill-out mengalun elegan, beradu dengan denting gelas kristal dan tawa renyah para eksekutif muda.
Maya dan Arga duduk di meja yang menghadap langsung ke jendela kaca raksasa.
Penampilan Maya malam ini luar biasa niat. Dia mengenakan dress satin berwarna emerald green dengan belahan punggung rendah, dipadukan dengan tas tangan kecil yang baru dia beli minggu lalu. Wajahnya dipulas makeup bold, menutupi kekesalan yang tadi siang dia rasakan di kantor.
"Gila, view-nya bagus banget ya, Yang," ujar Maya sambil sibuk mengambil selfie dengan latar belakang gedung-gedung tinggi.
Arga tersenyum kaku. "Iya. Bagus. Kamu juga cantik banget malam ini."
"Harus dong," Maya mengedipkan mata, lalu membuka buku menu yang tebal dan berat.
Mata Arga mengawasi gerakan tangan Maya dengan was-was. Dia berdoa dalam hati agar Maya tidak memesan menu Wagyu atau Lobster.
"Hmm... aku laper banget gara-gara emosi tadi siang," gumam Maya, jarinya menelusuri daftar menu. "Aku mau starter-nya Pan Seared Foie Gras ya. Terus buat main course... Black Angus Tenderloin, medium rare. Side dish-nya truffle fries."
Dada Arga sesak. Dia hafal harga menu itu. Foie Gras (hati angsa) harganya hampir tiga ratus ribu. Steak-nya empat ratus lima puluh ribu.
"Minumnya apa, Bu?" tanya pelayan dengan ramah.
"Aku mau signature cocktail dong. The Golden Sunset satu," pesan Maya tanpa melihat harga.
Satu gelas seratus delapan puluh ribu.
"Baik. Untuk Bapak?" Pelayan beralih ke Arga.
Arga merasa mual. Total pesanan Maya saja sudah hampir sejuta rupiah. Belum pajak dan layanan 21%. Uang di debitnya akan ludes hanya untuk makanan Maya.
"Saya... air mineral saja," jawab Arga pelan, suaranya serak.
"Lho? Kok air mineral doang?" protes Maya, menatap Arga heran. "Masa kita dinner fancy kamu minum air putih? Nggak asik banget. Pesen steak juga dong, Ga. Biar kita bisa foto bareng makanannya, couple goals gitu."
Arga menelan ludah yang terasa pahit. Gengsinya dipertaruhkan di depan pelayan yang masih menunggu dengan pena di tangan.
"Aku lagi nggak enak perut, May. Agak kembung," dusta Arga. "Saya pesan Spaghetti Aglio Olio saja. Sama Ice Tea."
Dia memilih menu paling murah di halaman pasta.
"Ih, nggak seru," cibir Maya, tapi dia membiarkannya.
Setelah pelayan pergi, Maya kembali ke mode aslinya. Wajah cantiknya berubah menjadi ekspresi korban yang terzalimi. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Arga, meremasnya mencari dukungan.
"Yang, aku tuh sebel banget hari ini," mulai Maya, suaranya merendah dramatis.
Arga mengangguk-angguk, mencoba terlihat mendengarkan, padahal otaknya sibuk menghitung angka. 800 ribu tambah 150 ribu tambah pajak...
"Tadi tuh, Nadinta sengaja banget mempermalukan aku di depan Karina. Bayangin, dia bilang tas aku nggak penting, yang penting otak. Maksudnya apa coba? Dia ngatain aku bodoh? Dia ngatain aku nggak punya skill?"
Maya mendengus kasar.
"Mentang-mentang udah ngerti make-up dikit, dandanannya tuh menor. Padahal dulu dia siapa sih? Cuma cewek kucel yang nempel terus sama aku pas kuliah. Sekarang dia berani nyeramahin aku soal penampilan."
Arga meminum air putihnya banyak-banyak. "Iya, May. Dia emang agak berubah sekarang."
"Bukan agak lagi, tapi banget!" seru Maya. "Aku tuh mikir, apa mungkin sekarang dia lagi nggodain cowok lain, ya? Dia akhir-akhir ini juga pelit ke kamu, kan?"
Maya menatap Arga lekat-lekat. Pria itu terperangah sejenak, Maya benar. Sejak hari di mana mereka fitting baju kala itu, Nadinta tidak seroyal dulu. Setiap kali dimintai uang pinjam oleh Arga untuk beberapa keperluan hidup (gaya hidupnya), Nadinta selalu beralasan.
Arga menatap balik Maya.
"Kamu harus tegasin dia. Jangan mau diinjek-injek sama cewek yang pelit. Laki-laki itu harus pegang kendali. Kalau kamu diem aja pas dia ngehina aku, kamu sama aja nggak ngehargain aku."
Kata-kata itu menyentil ego Arga. Benar juga. Nadinta semakin hari semakin sulit dikendalikan.
"Nanti aku ngomong sama dia," janji Arga kosong.
Tak lama setelah itu, makanan datang. Maya langsung sibuk. Bukan makan, tapi menata piring.
"Mas, geser dikit dong. Kunci mobil Pajero kamu taruh sini, deket gelas cocktail aku. Biar kelihatan logonya pas difoto," perintah Maya.
Arga menurut. Dia meletakkan kunci mobilnya di meja. Maya memotret makanan mahalnya dengan latar belakang kunci mobil dan pemandangan kota.
Cekrek.
"Sempurna!" Maya tersenyum puas, langsung sibuk mengedit dan memposting ke Instagram Story dengan caption: "Dinner with my fav person & fav view ❤️"
Arga mulai memakan pastanya. Rasanya hambar. Minyak di bibirnya terasa lengket. Dia melihat Maya yang makan dengan lahap, menyisakan separuh steak mahal itu karena "takut gendut", lalu memesan dessert tambahan.
"May, udah ya? Besok aku harus pagi ke kantor," kata Arga saat Maya hendak memesan kopi.
"Bentar dong, dessert belum dateng. Chocolate Fondant-nya enak banget kata Siska," rengek Maya.
Arga hanya bisa pasrah.
Satu jam kemudian, momen penghakiman itu tiba.
Pelayan meletakkan map kulit berisi tagihan di meja. Arga mengambilnya dengan gerakan lambat, tangannya terasa dingin. Dia membukanya sedikit.
Matanya membelalak melihat angka di bagian bawah.
Total: Rp 1.450.000.
Satu juta empat ratus lima puluh ribu rupiah.
Darah Arga rasanya surut sampai ke kaki. Uang di rekening debitnya hanya ada 1,2 juta. Kurang dua ratus lima puluh ribu.
Dia melirik Maya yang sedang asyik touch up bedak, sama sekali tidak berniat mengeluarkan dompetnya. Maya menganggap wajar jika Arga yang bayar semua—kan Arga baru beli mobil, pasti banyak uang.
Tangan Arga gemetar hebat di bawah meja. Dia dalam masalah besar.
Dia mencoba mengeluarkan kartu kreditnya. Mungkin masih ada sisa limit sedikit? Mungkin ada overlimit facility?
Dengan nekat, dia menyerahkan kartu kredit itu ke pelayan.
"Silakan, Pak," ujar pelayan, membawa kartu itu ke mesin EDC di kasir.
Arga menunggu dengan jantung yang berdegup menyakitkan. Satu menit terasa seperti satu jam. Dia melihat pelayan itu memasukkan kartu, menekan tombol... lalu kening pelayan itu berkerut. Dia mencoba lagi. Menggesek lagi.
Arga menahan napas. Jangan tolak. Jangan tolak. Please.
Pelayan itu kembali ke meja mereka. Wajahnya sedikit canggung dan menyesal.
"Maaf, Pak. Kartunya decline. Keterangannya limit exceeded," ujar pelayan itu cukup keras, membuat meja sebelah menoleh.
Wajah Arga memerah padam hingga ke telinga. Rasanya dia ingin mati saja saat itu juga.
Maya menoleh kaget, bedaknya berhenti di udara. "Lho? Kok decline? Katanya kamu baru lunasin tagihan?"
"Ah... i-iya. Bank-nya lagi error kayaknya. Biasa, akhir bulan sistem suka maintenance," bohong Arga cepat, suaranya panik. "Aduh, kartu yang satu lagi ketinggalan di mobil."
"Yaudah pake debit aja," kata Maya tidak sabaran.
"Debit..." Arga menelan ludah. "Debit aku limit hariannya udah abis tadi buat transfer."
Kebohongan yang bodoh, tapi dia tidak punya pilihan.
"May..." panggil Arga putus asa, merendahkan suaranya agar pelayan tidak dengar.
"Kamu... ada cash nggak? Atau pake kartu kamu dulu? Nanti sampe rumah aku langsung transfer balik. Token aku ketinggalan di rumah."
Maya menatap Arga dengan tatapan tidak percaya. Matanya menyipit, antara jijik dan kesal.
"Hah? Kamu ngajak makan di tempat beginian tapi nggak bawa duit?" desis Maya. "Malu-maluin banget sih, Ga."
"Tolonglah, May. Darurat. Nanti aku ganti lebih," bisik Arga memohon.
Maya mendecakkan lidah keras-keras, membanting bedaknya ke dalam tas. Dia merogoh dompetnya dengan kasar.
"Nih! Pake kartu aku!" Maya melempar kartu kreditnya ke meja. "Tapi awas ya kalau nggak diganti malam ini juga. Itu limit buat belanja aku besok."
Arga mengambil kartu itu dengan tangan gemetar, menyerahkannya pada pelayan. Dia merasa harga dirinya sebagai laki-laki diinjak-injak sampai rata dengan tanah. Dia, pemilik Pajero, dibayari makan oleh selingkuhannya.
Transaksi berhasil.
Mereka berjalan keluar dari restoran dalam keheningan yang canggung. Maya sudah tidak ceria lagi. Dia berjalan cepat di depan, heels-nya berbunyi tak-tak-tak marah.
Saat di dalam mobil, suasana sangat dingin.
"May, maaf ya. Beneran error tadi," Arga mencoba mencairkan suasana.
"Udah deh, Ga. Anter aku pulang aja. Mood aku udah hancur," potong Maya ketus, memalingkan wajah ke jendela.
Arga menyetir dengan perasaan hancur. Dia bangkrut, dipermalukan, dan sekarang Maya marah.
Tepat saat mobil berhenti di lampu merah, ponsel Arga yang terhubung ke dashboard berbunyi. Panggilan masuk.
Nama di layar membuat Arga semakin panik.
NADINTA Calling...
Maya melirik layar itu, lalu melirik Arga dengan tatapan menantang. "Angkat. Istri sah nelpon tuh."
Arga buru-buru melepas koneksi bluetooth dan mengangkat ponselnya ke telinga. "Halo, Din?"
"Mas Arga lagi di mana? Kata Bu Juragan Kos, kamu belum pulang." suara Nadinta terdengar lembut dan khawatir di seberang sana.
"I-iya, Din. Ini lagi di jalan pulang. Tadi macet banget ada kecelakaan," bohong Arga, melirik Maya yang memutar bola mata.
"Oh, syukur deh kalau nggak kenapa-napa. Mas udah makan?"
"Udah. Tadi makan di warung pinggir jalan sama temen lama," jawab Arga.
"Baguslah. Eh, Mas... aku barusan lihat story Instagram temennya Maya. Si Siska," ujar Nadinta tiba-tiba, suaranya berubah ceria.
Jantung Arga berhenti.
"Kenapa?"
"Itu lho, dia nge-repost story-nya Maya. Maya lagi makan di SKYE ya malam ini? Tempatnya bagus banget, makanannya juga kelihatan mewah. Steak sama cocktail gitu."
Arga memucat. Dia lupa Maya punya teman-teman yang saling follow.
"Eh... iya kali. Aku nggak tahu, kan aku nggak sama dia," elak Arga cepat.
"Iya, aku tahu kok Mas," kata Nadinta dengan nada yang sangat polos—terlalu polos.
"Cuma aku jadi kepikiran. Kalau Maya bisa makan mewah gitu, berarti dia lagi banyak uang ya, Mas?"
"Mungkin..."
"Soalnya gini, Mas," suara Nadinta berubah serius. "Tadi sore vendor katering telepon aku lagi. Mereka nagih pelunasan DP kedua sebesar 25 juta rupiah. Harus dibayar paling lambat lusa."
Arga hampir menabrak motor di depannya.
25 Juta. Lusa.
"Aku tadinya mau minta tolong Maya buat pinjemin dulu kalau dia lagi banyak duit, kan kita temen deket. Tapi nggak enak ah, uangnya udah dipake buat dia makan. Mending sama Mas aja kan?" lanjut Nadinta.
"Mas Arga aman kan dananya? Kemarin kan Mas bilang ada rezeki proyek cair? Kalau Mas bisa beli mobil, pasti uang katering 25 juta mah kecil dong buat Mas?"
Arga merasa seperti tercekik. Dia baru saja berhutang 1,5 juta ke Maya untuk makan malam. Dia tidak punya uang sepeser pun. Dan sekarang Nadinta menagih 25 juta dengan asumsi dia kaya raya.
"A-aman, Din. Tenang aja," jawab Arga, suaranya bergetar hebat. "Besok... besok aku urus."
"Oke, Mas. Aku percaya sama kamu. Kamu kan manajer keuangan rumah tangga kita. Yaudah, hati-hati di jalan ya. Love you."
Telepon ditutup.
Arga menjatuhkan ponselnya ke pangkuan. Tangannya gemetar di atas setir.
Dia menatap jalanan yang buram.
25 juta.
Dia menoleh ke Maya yang sedang sibuk main hp, mungkin sedang curhat ke temannya betapa tidak modalnya Arga.
Arga sadar dia sudah masuk perangkap. Dia tidak bisa minta uang ke Maya, karena baru saja mengutang. Dia tidak bisa bilang ke Nadinta kalau dia bangkrut, karena gengsi
"Aku harus cari duit," batin Arga panik. "Apapun caranya."
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/