Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14 - Gitar Valen
Malam itu berlanjut dengan diskusi yang panjang. Bunda Selfi dan Mama Aty asyik membahas seragam keluarga, sementara para ayah sibuk membicarakan urusan bisnis yang sesekali diselingi candaan.
Di tengah keramaian keluarga itu, Mila dan Valen sesekali saling mencuri pandang. Meski tidak ada kata-kata yang terucap lagi setelah di teras tadi, ada sebuah kesepahaman baru yang terjalin di antara mereka.
Tepat pukul sebelas malam, keluarga Adiwangsa pun berpamitan.
"Besok jam delapan tepat, Oma," ucap Valen sembari menjabat tangan Oma Soimah dengan hormat.
"Jangan terlambat semenit pun, Valen. Dan ingat janji kamu," pesan Oma sebelum melepas mereka pulang.
Mila menatap mobil Valen yang mulai bergerak meninggalkan halaman rumah. Di sebelahnya, Bunda Selfi merangkul pundak Mila. "Istirahat, Sayang. Besok hari besar buat skripsi kamu."
_______
Pukul 08.00 tepat, Valen sudah berdiri di teras rumah Mila. Penampilannya sangat rapi, khas seorang mahasiswa tingkat akhir yang selangkah lagi menyandang gelar sarjana. Di tangan kirinya, ia menjinjing tas instrumen yang membuat Oma Soimah menyipitkan mata.
"Bimbingan skripsi atau mau konser, Valen?" tanya Oma sambil menyesap teh paginya.
Valen tersenyum tipis, sangat sopan. "Ini Keytar, Oma. Gitar tuts. Karena skripsi saya sendiri sudah selesai dan tinggal menunggu jadwal sidang akhir, saya punya banyak waktu luang. Saya bawa ini sebagai 'alat bantu' kalau Mila mulai bosan dengan teori. Musik bisa meningkatkan fokus, Oma."
Oma hanya bergumam, namun ia memberikan gestur pada Mila untuk segera berangkat. "Ingat, jam satu siang. Tidak boleh kurang sedetik pun."
Valen dan Mila segera menyalami Oma dan bergegas menuju mobil langsung meluncur ke wangsa cafe.
Suasana kafe masih sangat tenang. Valen sengaja belum membuka pintu untuk pelanggan umum demi fokus pada Mila. Di meja kayu favorit Valen, laptop Mila sudah menyala, menampilkan draf Bab 2 yang penuh dengan coretan revisi dari dosen tempo hari.
"Bab dua kamu sudah bersih, Mil. Teori akuntansi biaya untuk katering dan kafe sudah sinkron," ucap Valen sambil menandai dokumen di layar laptop Mila. "Sekarang kita lanjut ke Bab tiga. Metodologi. Aku mau kamu bedah bagaimana sistem audit di kafe ini."
Mila menghela napas panjang. "Bab tiga itu bagian paling membosankan, Kak. Aku selalu bingung menentukan variabelnya."
Melihat Mila yang mulai menekuk wajahnya, Valen meraih Gitar hitam metalik miliknya yang bersandar di kursi. Ia menyandangkan alat musik itu, jemarinya mulai menari lincah di atas tuts. Suara yang dihasilkan sangat unik—perpaduan antara denting piano yang elegan namun memiliki vibe elektrik seperti gitar.
"Ini namanya Keytar, Mil. Tapi aku biasa sebutnya ini Gitar," ucap Valen.
Valen memainkan melodi jazz bertempo sedang yang sangat menenangkan. Mila terpaku, ia berhenti mengetik dan menumpu dagunya dengan tangan, memperhatikan bagaimana jemari Valen bergerak sangat cepat namun penuh perasaan.
"Kenapa berhenti? Ayo diketik latar belakang metodologinya. Aku bakal iringi sampai kamu nemu kalimat pembukanya," goda Valen tanpa menghentikan permainannya.
"Suaranya enak banget, Kak. Kok bisa kepikiran bawa Gitar ke sini?" tanya Mila kagum.
"Gitar ini saksi perjuangan skripsiku, Mil. Dulu pas aku jenuh ngerjain tugas akhirku yang sekarang tinggal nunggu sidang itu, instrumen ini yang nemenin. Dan sekarang, dia bakal nemenin kamu sampai pakai toga," jawab Valen sambil mengedipkan sebelah mata.
Mila tersipu, ia kembali fokus ke layar laptopnya. Anehnya, alunan nada dari Gitar Valen benar-benar membuatnya lebih tenang. Kata-kata yang tadinya macet di kepala, kini mengalir lancar.
Gitar Valen berhasil mencuri perhatian dan hati Mila.
Dua jam berlalu dengan sangat produktif. Mila berhasil menyelesaikan kerangka Bab 3 dengan bimbingan Valen yang sangat detail. Valen tidak hanya memberi teori, tapi juga memberikan data riil dari kafenya sebagai contoh kasus.
"Selesai! Tinggal dikembangkan sedikit lagi," seru Mila senang sembari meregangkan tangannya.
Valen meletakkan Gitar-nya, lalu melirik jam tangan. "Jam dua belas lewat lima belas. Kita punya waktu empat puluh lima menit untuk sampai di rumah. Aku nggak mau ambil risiko bikin Oma Soimah marah."
Valen merapikan buku-buku Mila dengan sangat telaten. "Ayo, Tuan Putri. Kita pulang. Kamu sudah kerja keras hari ini, dan aku bangga Bab dua kamu lolos tanpa revisi besar, Mil."
_______
Ditunggu part selanjutnya ya, Guys
Love you All❤️