NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Di Balik Gerbang Garuda

Pemandangan dari jendela bus perlahan berubah. Hiruk-pikuk kota yang penuh dengan asap knalpot dan deretan ruko yang berdempetan mulai digantikan oleh deretan pohon pinus yang berjajar rapi di sepanjang jalan menanjak. SMA Garuda Nusantara tidak dibangun di jantung kota, bangunan itu berdiri megah di atas perbukitan yang sejuk, terisolasi dari dunia luar, seolah-olah memang dirancang untuk menjadi sebuah ekosistem elit bagi calon pemimpin masa depan.

Senara menatap gerbang raksasa berwarna perak yang terbuka secara otomatis saat bus mereka mendekat. Di balik gerbang itu, terhampar kompleks bangunan modern dengan arsitektur minimalis yang didominasi kaca dan baja. Ada lapangan rumput yang luasnya setara dengan seluruh area Blok 4, dan beberapa gedung asrama yang tampak seperti hotel kelas atas. Tempat ini berbeda dengan yang pernah Senara datangi sebelumnya, karena SMA Garuda, tidak hanya punya satu kompleks bangunan saja. Bangunan-bangunan megah itu dibagi berdasarkan fungsi dan kelasnya masing-masing.

Bus berhenti di depan gedung utama. Saat pintu terbuka, udara dingin pegunungan langsung menyergap masuk. Senara turun dengan koper biru tuanya yang rodanya sempat macet di tangga bus, menciptakan suara gesekan yang memilukan di atas lantai granit yang mulus. Ia merasa semua mata siswa di sana tertuju padanya dan koper tua itu.

"Selamat datang, para calon pemimpin bangsa," sebuah suara bariton menyambut mereka.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi berdiri di sana. Namanya Baskoro, kepala asrama putra yang juga merangkap sebagai instruktur kedisiplinan. Di sampingnya berdiri Sarah, kepala asrama putri yang tampak anggun namun memiliki sorot matanya sangat teliti.

"Mulai detik ini, identitas kalian di luar sana sebagai anak pejabat, pengusaha, atau anak beasiswa sekalipun, semuanya diletakkan di gerbang depan," ujar Baskoro, matanya menyapu barisan siswa, sempat berhenti sejenak pada Bima, lalu pada Senara. "Di sini, kalian hanya dikenal berdasarkan nomor induk dan prestasi kalian. Peraturan asrama adalah hukum tertinggi. Pelanggaran kecil berarti poin minus, pelanggaran besar berarti koper kalian kembali ke depan gerbang."

Senara mencengkeram erat pegangan kopernya, kalimat itu terdengar seperti tantangan sekaligus peringatan. Ia tahu, di tempat sebersih ini, rahasia sekecil apa pun akan sangat mudah terlihat jika ia tidak berhati-hati.

Senara menatap gedung asrama yang didominasi kaca gelap. Di depan pintu masuk, tidak ada lubang kunci. Hanya ada sebuah panel hitam mengkilat dengan cahaya biru tipis.

"Silakan tempelkan kartu identitas kalian pada pembaca sensor untuk aktivasi kamar," instruksi Sarah.

Senara mengambil kartunya, ia belum pernah menggunakan sistem Keyless seperti ini. Ia melihat siswa di depannya menempelkan kartu dengan santai, lalu pintu terbuka. Senara mencoba melakukan hal yang sama, namun ia menempelkan sisi yang salah. Merah. Ia mencoba lagi dengan panik. Merah lagi.

"Sisi chipnya menghadap ke dalam, Senara. Sensornya ada di sana," suara dingin Bima terdengar dari belakang.

Senara tersentak, membalik kartunya, dan klik. Pintu terbuka.

"Terima kasih," gumam Senara datar. Ia merasa sedikit malu, namun ia mencoba tetap tenang. Di warnet Bang Jaka, pintu hanya butuh ditarik kuat-kuat, bukan dielus dengan kartu plastik.

Proses registrasi dilakukan dengan sangat efisien menggunakan tablet yang dibagikan kepada setiap siswa. Senara mendapatkan kunci digital untuk kamarnya di Asrama Putri Blok C, Lantai 3. Sementara Bima ditempatkan di Asrama Putra Blok A. Secara fisik, mereka akan terpisah oleh sebuah taman tengah yang sangat luas, namun mereka akan bertemu di ruang makan pusat, perpustakaan, dan gedung akademik.

"Rika, kamu kamar berapa?" tanya Senara pada gadis yang tadi menyapanya di bus.

"Aku kamar 302! Wah, kita tetangga, Nara! Kamu 301 kan?" Rika tampak sangat antusias, kontras dengan Senara yang masih mencoba mencerna kemewahan di sekelilingnya.

Di dalam kamarnya, Senara merasa seperti masuk ke laboratorium masa depan. Meja belajarnya bukan sekedar kayu, permukaan mejanya adalah layar monitor besar yang tertanam di balik lapisan kaca. Saat ia meletakkan tasnya, meja itu tiba-tiba menyala otomatis, menampilkan tulisan, "Selamat Datang, Senara. Silakan Login ke Cloud Sekolah."

Senara tertegun. Ia mencari-cari tombol power atau kabel yang bisa ia cabut, tapi semuanya tertutup rapat. Ia merasa terintimidasi. Di kepalanya, dia tahu cara kerja sistem ini, tapi secara fisik, tangannya ragu untuk menyentuh permukaan yang begitu licin dan mewah.

Kamar asrama itu lebih luas dari seluruh ruang tamu rumahnya. Ada tempat tidur kayu yang kokoh, rak buku yang luas, dan jendela besar yang menyuguhkan pemandangan lembah di bawah sana. Ada sebuah kotak hitam di atas meja. Saat dibuka, isinya adalah seragam SMA Garuda yang lengkap. Setelan jas biru navy, kemeja putih sutra, dasi dengan logo emas, dan sepatu kulit yang tampak sangat mahal.

Senara membuka kopernya, ia mulai menata pakaiannya ke dalam lemari yang disediakan. Saat ia mencapai bagian dasar koper, ia mengeluarkan robot biru itu. Di ruangan yang sangat modern dan serba digital ini, robot plastik usang itu tampak seperti sebuah artefak dari zaman purba. Senara meletakkannya di sudut paling gelap di rak buku, di belakang tumpukan buku catatan kosong.

Namun, saat Senara sedang merapikan baju, pintu kamarnya diketuk. Sarah masuk untuk melakukan inspeksi awal.

"Senara, sudah rapi?" tanya Sarah. Ia berjalan masuk, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan kecepatan seorang detektif. "Di sini, kerapian adalah bagian dari penilaian karakter. Kami tidak mentoleransi barang-barang yang tidak relevan dengan pendidikan."

Mata Sarah berhenti pada rak buku. Senara menahan napas. Tangan Sarah meraih robot biru itu.

"Ini apa? Mainan?" tanya Sarah, alisnya bertaut.

"Itu... satu-satunya barang istimewa yang saya punya, Bu. Barang itulah yang menjadi teman dan penyemangat belajar saya selama ini," jawab Senara dengan suara yang diatur agar tetap tenang dan sedikit bergetar, seolah menunjukkan nilai emosional.

Sarah menatap robot itu sebentar, lalu mengembalikannya ke rak. "Pastikan itu tidak mengganggu studimu. Kami tidak ingin melihat ada siswa yang masih bermain mainan di level pendidikan ini."

"Baik, Bu."

Begitu Sarah keluar, Senara terduduk di kursi belajarnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia baru menyadari bahwa di asrama ini, privasi adalah barang mewah yang sulit didapat.

Senara mencoba mencari sakelar lampu di dinding, namun hanya menemukan panel sentuh dengan ikon-ikon kecil. Ia menyentuh salah satunya, dan tiba-tiba seluruh lampu di kamar berubah menjadi warna ungu redup.

"Aduh, salah lagi," bisiknya frustrasi. Ia mencoba menekan ikon lain, tapi malah tirai jendela yang tertutup secara otomatis. Akhirnya, Senara menyerah. Ia membiarkan kamarnya berwarna ungu daripada harus merusak sistem yang ia tahu pasti harganya sangat mahal.

Malam harinya, seluruh siswa baru berkumpul di Ruang Makan Pusat. Ruangan itu menyerupai aula besar di film-film kolosal, dengan lampu gantung kristal minimalis dan meja-meja panjang yang terbuat dari kayu jati. Makanan disajikan secara prasmanan dengan menu nutrisi seimbang yang disusun oleh ahli gizi.

Senara duduk di ujung meja asrama putri, mencoba menikmati sup jamur yang rasanya sangat asing bagi lidahnya yang terbiasa dengan tempe goreng dan telur dadar. Di seberang aula, ia bisa melihat meja asrama putra. Bima duduk di sana, dikelilingi oleh beberapa siswa yang tampak berusaha mengambil hatinya, namun Bima tampak tidak peduli, matanya tertuju pada tablet di depannya, dan sesekali ia melirik ke arah meja putri.

Setelah makan malam selesai, ada waktu bebas selama satu jam sebelum jam malam dimulai. Para siswa diperbolehkan berada di taman tengah.

Senara memilih untuk duduk di salah satu bangku taman yang jauh dari keramaian, mencoba menghirup udara malam yang segar. Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di depannya.

Bima. Ia tidak membawa tablet lagi, tangannya masuk ke saku jas sekolah barunya yang sangat pas di tubuhnya yang atletis.

"Bagaimana kamarmu? Jauh lebih baik dari Blok 4, bukan?" tanya Bima sambil duduk di ujung bangku yang sama.

Senara tidak menoleh. "Kamarnya sangat bagus, tapi tempat yang bagus tidak selalu berarti kehidupan yang tenang."

Bima tertawa pendek. "Kamu benar. Di sini, tenang adalah sebuah ilusi. Kamu akan segera merasakannya besok, saat orientasi akademik dimulai. Guru-guru di sini tidak akan memberimu nilai 100 hanya karena kamu pintar menghafal, mereka akan membedah cara berpikirmu."

"Sistem asrama ini punya tingkat keamanan militer, Senara." Bima memajukan tubuhnya sedikit. "Apa pun yang kamu lakukan di dalam kamar, termasuk berapa kali kamu menyentuh layar meja belajarmu, akan terekam oleh pusat data."

Senara akhirnya menoleh, menatap Bima dengan tatapan tajam yang tersembunyi di balik kacamatanya. "Bima, aku datang ke sini untuk belajar, bukan untuk bermain dengan teknologi yang canggih. Bisakah kamu berhenti bicara seolah-olah aku sedang merencanakan sebuah kejahatan? Aku bahkan tidak tahu cara mengganti warna lampu kamarku yang sekarang jadi ungu."

Bima menatap mata Senara. Tatapan gadis itu tampak jujur, kebingungan dan sedikit rasa jengkel.

"Ungu?" Bima hampir saja tertawa, tapi ia menahannya. "Itu mode istirahat. Tekan ikon matahari di pojok kanan bawah selama tiga detik."

"Terima kasih," sahut Senara ketus, lalu berjalan pergi.

Kembali ke kamar, Senara mengikuti instruksi Bima. Lampu kamarnya akhirnya kembali menjadi putih normal. Ia duduk di kursi, menatap meja layar sentuh yang masih memintanya untuk login.

Senara tidak login. Ia tahu, begitu ia login dengan akun siswanya, setiap bit data yang ia akses akan bisa dipantau oleh Bima melalui jalur belakang perusahaannya. Senara mengeluarkan sebuah buku catatan dari tasnya. Ia mengambil bolpoin murahnya. Di tengah kemewahan digital SMA Garuda, Senara memilih untuk menulis secara manual.

Ia menulis surat untuk ibunya, menulis daftar pelajaran yang harus ia kejar. Ia sama sekali tidak menyentuh internet, kecuali jika dibutuhkan untuk kebutuhan akademik.

Senara mematikan lampu dan berbaring. Ia memeluk gulingnya erat, merasa dadanya sesak karena segala teknologi di sekolah ini membuatnya merasa sangat kecil. Ia takut salah melangkah, ia takut jika ia menyentuh meja layar sentuh itu, ia akan merusak sesuatu yang sangat mahal dan membuat beasiswanya dicabut.

"Aku harus berhati-hati," bisiknya pada kegelapan. "Aku ke sini cuma untuk belajar, demi masa depanku. Selama aku tidak menyentuh benda-benda aneh itu, aku akan aman. Aku akan tanya pada pengawas jika memang dibutuhkan."

Bagi Senara, ketidakpahamannya pada teknologi asrama bukan hanya karena ia "norak", tapi itu menjadi pelindung alami agar ia tetap fokus pada buku-bukunya. Satu-satunya hal yang ia mengerti dan kuasai sepenuhnya

Di kamar asrama putra, Bima menatap monitornya hingga lewat tengah malam. Ia sedang melihat log aktivitas kamar 301.

[Log Kamar 301: USER ATTEMPTING LIGHTING CONTROL - 4 ERRORS]

[Log Kamar 301: SYSTEM LOGIN - NOT STARTED]

Bima menyipitkan mata. "Empat kali salah tekan sakelar lampu? Apa dia benar-benar senorak itu atau dia sedang berpura-pura tidak mengerti teknologi agar aku berhenti mengawasinya?"

[Status Kamar 301: OFFLINE]

Bima melempar ponselnya ke tempat tidur. "Sial. Dia benar-benar tidak menyentuh jaringan. Apa dia sengaja memboikot teknologi asrama?"

Bima merasa frustrasi. Ia sudah menyiapkan berbagai jebakan peretasan untuk mendeteksi apakah Senara punya perangkat tersembunyi, tapi Senara justru tidak menggunakan teknologi sama sekali. Senara bertindak seperti siswi dari zaman batu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!