NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Keajaiban di Atas Kertas

​Hari pembagian hasil Ujian Tengah Semester (UTS) di SMA Pelita Bangsa selalu terasa seperti hari penghakiman di akhirat. Bedanya, malaikat pencatat amalnya bukan Raqib dan Atid, melainkan Pak Burhan dan guru mata pelajaran masing-masing.

​Suasana di kelas XI IPS 3 pagi itu hening mencekam. Tidak ada yang main gitar, tidak ada yang lempar-lemparan kertas. Semua duduk rapi di bangku masing-masing, menatap pintu kelas dengan jantung berdegup kencang.

​"Gue mual," bisik Raka sambil memegangi perutnya. "Sumpah, gue mual. Kalau nilai Matematika gue merah lagi, PS5 gue bakal disita bokap selama sebulan."

​Alea tidak menjawab. Ia duduk tegak, tangannya meremas ujung roknya sampai kusut. Keringat dingin mengucur di punggungnya.

​Bagi Alea, taruhannya bukan konsol game. Taruhannya adalah Pensi. Band-nya. Dan harga dirinya di depan Julian.

​Please, please, please... Alea merapal doa dalam hati, berjanji kalau nilainya bagus dia akan puasa ngomong kasar selama seminggu (janji yang agak mustahil, tapi niatnya ada).

​Pintu kelas terbuka.

​Bukan wali kelas mereka yang masuk. Melainkan sosok jangkung dengan seragam OSIS yang licin sempurna, membawa tumpukan map tebal di tangannya.

​Julian Pradana.

​Seisi kelas menahan napas. Julian berjalan menuju meja guru di depan, meletakkan tumpukan map itu dengan bunyi gedebuk yang mengintimidasi. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seperti robot pembunuh yang siap mengeksekusi target.

​"Wali kelas kalian, Bu Siska, berhalangan hadir karena sakit. Beliau meminta saya untuk membagikan hasil UTS kalian," umum Julian. Suaranya tenang tapi menggema di ruangan yang sunyi itu.

​"Mampus. Malaikat mautnya dateng langsung," bisik Bobby di belakang.

​Julian mulai memanggil nama satu per satu.

Setiap siswa yang maju menerima kertas hasil ujian dengan wajah pucat, lalu kembali ke bangku dengan ekspresi bervariasi: ada yang lega, ada yang mau nangis, ada yang langsung sujud syukur.

​"Raka Andika," panggil Julian.

​Raka maju dengan kaki gemetar. Ia mengambil kertasnya, mengintip nilainya, lalu menghembuskan napas panjang. "Alhamdulillah, KKM pas!" serunya sambil mencium kertas itu.

​Julian hanya menggeleng pelan melihat kelakuan drummer band-nya itu.

​"Berikutnya. Aleandra Kamila."

​Jantung Alea rasanya berhenti berdetak sesaat. Ia berdiri, kakinya terasa seperti jeli. Ia berjalan lambat menuju depan kelas. Langkahnya berat seolah ada bola besi yang diikat di kakinya.

​Ia berdiri di hadapan Julian.

​Julian menatapnya. Di balik kacamata itu, Alea mencari tanda-tanda. Apakah Julian marah? Kecewa? Sedih? Tapi wajah Ketua OSIS itu tetap tembok.

​Julian mengambil lembaran hasil ujian Alea. Ia tidak langsung memberikannya. Ia menatap kertas itu sejenak, lalu menatap Alea lagi.

​"Ini," kata Julian, menyodorkan kertas itu terbalik.

​Alea mengambilnya dengan tangan gemetar. Ia kembali ke bangkunya tanpa berani melihatnya di depan Julian. Ia duduk, menarik napas dalam-dalam, lalu membalik kertas itu perlahan.

​Matanya menyisir kolom nilai.

​Bahasa Indonesia: 82 (Oke, ini standar).

Bahasa Inggris: 88 (Efek sering denger lagu barat).

Sosiologi: 80.

Ekonomi: 78.

​Lalu, mata Alea tertuju pada dua mata pelajaran keramat. Musuh bebuyutannya.

​Matematika: 76.

Fisika (Lintas Minat): 85.

​Alea mengerjap. Ia mengucek matanya, takut salah lihat. Angka itu tidak berubah. 76 dan 85. Tidak ada tinta merah. Tidak ada tulisan "REMEDIAL".

​Di bagian bawah, tertulis Rata-Rata Nilai: 81,5.

​Jauh di atas target 75.

​"ANJIR!" teriak Alea refleks. Suaranya menggelegar di kelas yang hening.

​Semua orang menoleh kaget. Julian di depan kelas mengangkat alisnya.

​"Aleandra, bahasa," tegur Julian, tapi nada suaranya tidak galak.

​Alea menutup mulutnya, tapi matanya berkaca-kaca. Ia menoleh ke Raka. "Ka... gue lulus. Gue nggak remed. Fisika gue delapan puluh lima, Ka! DELAPAN PULUH LIMA!"

​Raka melongo, lalu merebut kertas Alea. "Gila! Lo nyontek siapa?! Kerasukan Einstein lo?!"

​"Gue belajar, bego!" Alea tertawa, air mata haru menetes di pipinya. Rasanya... luar biasa. Perasaan bangga ini. Perasaan bahwa otaknya ternyata berguna.

​Alea menatap ke depan kelas. Julian sedang membereskan map sisa. Cowok itu menatap Alea sekilas.

​Untuk sepersekian detik, Julian mengangguk kecil. Dan di sana, di sudut bibirnya, terukir senyum tipis yang sangat tulus. Senyum bangga seorang guru pada muridnya. Senyum bangga seorang partner pada rekannya.

​Alea membalas dengan seringai lebar sambil mengacungkan dua jempol.

​Pensi terselamatkan.

Dan yang lebih penting: Alea menang.

​Pulang sekolah.

​Langit Jakarta cerah, secerah hati Alea. Ia menunggu di parkiran motor, duduk di atas jok motor matic-nya sambil bersenandung.

​Julian muncul beberapa menit kemudian, berjalan menuju mobilnya.

​"Woi! Junaedi!" panggil Alea.

​Julian berhenti, menoleh kanan-kiri dengan panik, lalu mendesis. "Jangan panggil nama itu di sekolah, Alea."

​Alea tertawa, turun dari motor dan menghampiri Julian.

​"Lo mau langsung balik?" tanya Alea.

​"Iya. Ada jadwal les bahasa Jerman jam 5," jawab Julian.

​"Bolos bentar, bisa?"

​Julian mengerutkan kening. "Bolos? Untuk?"

​"Merayakan kemenangan!" Alea mengibaskan kertas hasil ujiannya. "Gue janji sama diri gue sendiri, kalau gue berhasil lolos target gila lo, gue bakal traktir lo makan enak. Sebagai ucapan terima kasih karena lo udah sabar ngadepin otak gue yang lemot ini."

​Julian menatap jam tangannya. Ragu. "Saya tidak bisa makan sembarangan, Alea. Higienitas itu penting."

​"Ah elah, sekali-sekali kotor dikit napa biar imun tubuh lo kerja! Ayolah, Jul. Sekali ini aja. Gue traktir Bakso Pak Kumis di ujung jalan sana. Enak banget, sumpah. Daging tikusnya kerasa banget—bercanda!"

​Julian menatap wajah Alea yang berseri-seri. Euphoria gadis itu menular. Lagipula, Julian merasa ia juga berhak merayakan ini. Mengajar Alea adalah tantangan terberat dalam karir akademiknya, dan dia berhasil.

​"Tiga puluh menit," kata Julian akhirnya. "Saya tidak mau telat les."

​"Sip! Lo ikutin motor gue dari belakang. Jangan ngebut, mobil lo kegedean buat nyalip angkot."

​Warung Bakso Pak Kumis adalah tenda pinggir jalan yang sederhana, panas, dan ramai. Kipas angin yang berputar di pojok hanya menyebarkan udara panas bercampur aroma kuah kaldu sapi yang gurih.

​Julian duduk di bangku plastik dengan canggung. Ia satu-satunya orang di sana yang memakai seragam rapi lengkap dengan dasi dan sepatu mengkilap, sementara pengunjung lain rata-rata supir ojol atau anak sekolah yang bajunya sudah dikeluarkan.

​Julian mengeluarkan tisu basah, mengelap sendok dan garpu di depannya dengan teliti. Dua kali.

​"Santai kali, Jul. Bakterinya udah mati kena kuah panas," ledek Alea yang sudah menyantap baksonya dengan lahap.

​Julian menatap mangkuk di depannya. Bakso urat besar, mie kuning, bihun, dan taburan bawang goreng. Baunya... menggoda.

​Ia mencicipi kuahnya sedikit.

​Matanya melebar. "Enak."

​"Kan gue bilang juga apa!" Alea menuangkan sambal dua sendok penuh ke mangkuknya. "Hidup itu perlu rasa, Jul. Jangan hambar kayak air putih."

​Julian memperhatikan Alea makan. Gadis itu makan dengan semangat, tidak jaim. Keringat kecil muncul di hidungnya karena kepedesan.

​"Selamat, Alea," ucap Julian tiba-tiba di tengah kunyahan.

​Alea berhenti mengunyah, menelan baksonya susah payah. "Makasih. Ini semua gara-gara lo juga. Gara-gara teori gelombang gitar itu."

​"Itu usaha kamu. Saya cuma membukakan pintu, kamu yang berjalan masuk sendiri," kata Julian bijak. "Ayah saya selalu bilang, kecerdasan itu bukan cuma soal IQ, tapi soal ketahanan mental. Dan kamu punya itu. Kamu tahan banting."

​Alea tersenyum malu. Dipuji Julian rasanya lebih memuaskan daripada dapet like seribu di Instagram.

​"Bokap lo... bakal seneng nggak kalau tau nilai lo juga sempurna terus?" tanya Alea hati-hati.

​Wajah Julian berubah sedikit mendung. Ia mengaduk baksonya pelan.

​"Nilai sempurna itu standar minimum bagi Ayah. Kalau saya dapat 100, reaksinya cuma 'bagus, pertahankan'. Tidak ada perayaan makan bakso seperti ini."

​Alea meletakkan sendoknya. Ia menatap Julian iba.

​"Kasian banget lo," kata Alea jujur. "Hidup lo isinya cuma target, target, target. Kapan lo nikmatin hidup?"

​"Sekarang," jawab Julian spontan.

​Alea terdiam. "Hah?"

​Julian tersadar dengan ucapannya sendiri. Ia buru-buru menyuapkan bakso ke mulutnya untuk menutupi salah tingkah. "Maksud saya... bakso ini enak. Saya sedang menikmatinya."

​Wajah Alea memerah tipis. Jantungnya berdegup lebih kencang dari efek sambal.

​"Jul," panggil Alea.

​"Ya?"

​"Makasih ya. Bukan cuma soal nilai. Tapi karena lo udah mau jadi Phantom. Lo udah nyelamatin mimpi gue dua kali. Sekali di akademik, sekali di musik."

​Julian menatap Alea. Di tengah hiruk pikuk warung tenda, suara pengamen jalanan yang sumbang, dan asap knalpot kendaraan, Julian merasa... tenang.

​"Kita impas," kata Julian lembut. "Kamu juga menyelamatkan saya."

​"Nyelamatin dari apa?"

​"Dari menjadi robot selamanya."

​Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Tatapan yang dalam dan penuh makna. Tidak ada kata-kata gombal, tidak ada pegangan tangan, tapi koneksi di antara mereka terasa begitu kuat. Seperti dua dawai gitar yang bergetar dalam frekuensi yang sama.

​TIN TIN!

​Suara klakson bajaj yang lewat mengagetkan mereka. Momen magis itu pecah.

​Alea tertawa canggung. "Udah ah, abisin baksonya. Nanti lo telat les Jerman. Ich liebe dich... eh, apa sih artinya 'cepetan' dalam bahasa Jerman?"

​Julian tersenyum geli, hampir tersedak kuah. "Schnell. Ich liebe dich itu artinya 'aku cinta kamu'."

​Alea melotot, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. "Sialan! Gue salah denger di film! Lupain! Gue nggak bilang gitu!"

​Julian tertawa lepas. Tawa yang renyah dan bahagia. "Iya, saya anggap kamu tidak tahu artinya."

​Alea mengipas-ngipasi wajahnya yang panas—entah karena sambal atau karena malu setengah mati.

​Sore itu ditutup dengan perut kenyang dan hati yang penuh. Alea berhasil menaklukkan angka-angka di kertas ujian, dan tanpa sadar, ia juga mulai menaklukkan hati sang Ketua OSIS yang beku.

​Pensi sudah aman. Band sudah lengkap.

Tapi tantangan baru menanti.

​Di seberang jalan, tanpa mereka sadari, sebuah motor berhenti. Pengendaranya membuka kaca helm. Doni, kakak kelas yang waktu itu dilawan Alea.

​Doni menatap Julian dan Alea dengan mata menyipit curiga.

​"Ketua OSIS sama si preman cewek?" gumam Doni. "Menarik. Si Julian yang katanya suci ternyata mainnya sama sampah."

​Doni mengeluarkan HP-nya, memotret mereka diam-diam dari kejauhan. Foto Julian yang sedang tertawa lepas sambil makan bakso pinggir jalan dengan seragam agak berantakan.

​"Liat aja nanti, Jul," desis Doni sebelum memacu motornya pergi. "Gue bikin reputasi lo hancur."

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!