NovelToon NovelToon
BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Pelakor / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.

Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Menyusun Rencana Hidup

Ditha sudah duduk rapi di ruang tunggu kantor notaris itu sejak hampir setengah jam lalu. Tas kerja berisi berkas proposal usaha kateringnya terletak di pangkuan, sementara jemarinya sesekali men-scroll layar gawai, mencoba mengusir gugup. Hari ini seharusnya menjadi langkah besar dalam hidupnya—tanda tangan sewa ruko pertama atas namanya sendiri.

Di kepalanya sudah berderet rencana: dapur bersih, etalase kaca, aroma masakan yang hangat setiap pagi. Usaha yang ingin dia bangun dengan tangannya sendiri, perlahan tapi pasti.

"Sebentar lagi, Bu Ditha,” Kata staf notaris tadi.

Ditha mengangguk, lalu kembali menunduk. Hingga tiba-tiba, bayangan beberapa orang berhenti tepat di depannya.

"Halo, Ditha.”

Suara itu membuatnya refleks menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat. Om Irwan berdiri di sana, rapi dengan jas abu-abu khas pengacara. Di sampingnya… mama dan papa.

"Ma? Pa?” Ditha bangkit setengah berdiri. “Kok mama, papa, bisa sama Om Irwan? Bagaimana ceritanya?”

Bu Lisa menatap putrinya dengan senyum yang sulit diterjemahkan—antara lega dan haru. Papa berdiri lebih ke belakang, wajahnya tenang tapi matanya jelas menyimpan banyak hal.

"Ceritanya panjang,” Ujar Om Irwan santai, menarik kursi lalu duduk. “Yang pasti, pagi ini kamu tidak usah menyewa itu ruko.”

Ditha mengerutkan kening. “Lho, kok?” Nada suaranya otomatis naik. Kekecewaan langsung menyelinap di wajahnya. Semua persiapan sudah matang, bahkan dia sudah membayangkan menandatangani berkas itu beberapa menit lagi.

Bu Lisa meraih tangan Ditha, menggenggamnya lembut. “Iya, ngapain kamu menyewanya…”

Papa akhirnya bersuara, nadanya tegas namun hangat, “…kalau kamu bisa membelinya sendiri?”

Ditha terdiam. Tangannya membeku dalam genggaman sang mama. “Membelinya?” Ulangnya lirih, seolah takut salah dengar.

Om Irwan tersenyum tipis. “Iya, kenapa nggak? Kamu punya uang, Dit, termasuk untuk memulai usaha tanpa harus setengah-setengah. Itu hasil penjualan rumahmu di Jakarta. .”

Ruang tunggu itu mendadak terasa sunyi. Ditha menunduk, dadanya sesak bukan karena sedih, melainkan karena perasaan campur aduk yang sulit dia definisikan. Kecewa yang tadi muncul perlahan luruh, digantikan rasa lega—dan kekuatan baru.

Dia tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. Langkahnya hari ini ternyata bukan sekadar menyewa ruko, tapi benar-benar memulai hidup dari titik yang lebih kokoh.

Ooommmm, ini serius kan?” Ditha menatap Om Irwan lekat-lekat, suaranya bergetar antara tidak percaya dan harap yang menumpuk.

Om Irwan terkekeh kecil. “Serius, Dith. Ini bukan bercanda.”

"Iya,” sambung Bu Lisa pelan, “Uang hasil penjualan rumahmu yang di Jakarta itu cukup untuk membeli ruko ini. Bahkan masih bersisa.”

Ditha terbelalak. “Kok bisa?”

Om Irwan lalu membuka map cokelat di tangannya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen. “Kita atur semuanya rapi. Ternyata nilai jual rumahmu bagus, apalagi lokasinya strategis. Setelah dipotong ini-itu, masih sangat aman. Jadinya teman Om yang ambil, dia berani hampir dua kali lipat.

"Lho, katanya mau sama Om?"

"Gak jadi, Ditha, setelah Om pikir-pikir, tes tkah itu punyakeangan buruk untuk keluarga kita. So, pas teman Om ada yang mau dengan harga tinggi,ya sudah, om lepas aja.'

"Oh gitu. Makasih banyak ya Om."

"Iya sama-sama."

Ditha menelan ludah. “Terus, ini beli ruko ini, semua lunas?”

,"Enggak sepenuhnya.” Jawab Om Irwan jujur. "Masih nyisa cicilan, tapi cuma dua tahun lagi kok. Ringan. Dan ini aset atas namamu sendiri.”

Kalimat terakhir itu menghantam perasaan Ditha lebih keras dari apa pun. Atas namanya sendiri. Bukan pinjam nama, bukan numpang, bukan belas kasihan.

"Ya Allah, Om…” Suara Ditha pecah. Tanpa ragu dia berdiri dan langsung memeluk Om Irwan erat. "Makasih ya, Om. Makasih banget.”

Om Irwan menepuk punggung keponakannya dengan canggung tapi hangat. “Jangan terima kasih ke Om. Ini hak kamu. Om cuma bantu di jualin.”

Bu Lisa menyeka sudut matanya yang basah. Papa menatap Ditha dengan dada mengembang, bangga tanpa perlu banyak kata.

Di ruang notaris itu, Ditha berdiri dengan air mata yang jatuh bukan karena luka lama, melainkan karena satu hal yang kini dia rasakan utuh:

Dia akhirnya benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri.

"Tapi kok bisa waktunya bertepatan dengan jadwal Ditha tanda tangan sewa?” Ditha masih belum sepenuhnya berhenti heran, matanya bergantian menatap mama, papa, lalu Om Irwan.

Om Irwan tersenyum penuh arti. “Ya bisa dong,” katanya santai, “kan waktunya Om yang menentukan sendiri.”

Bu Lisa ikut tertawa kecil, ada rasa lega yang akhirnya tumpah. “Mama sama papa sengaja diem, Dith. Takut kalau bocor, nanti kamu keburu kepikiran macam-macam.”

"Iihh kalian itu ya,” Ditha menggeleng sambil tersenyum gemas, matanya kembali berkaca-kaca, Dia lalu memeluk mama papanya. “Semuanya nggak ada yang bilang-bilang ke Ditha.”

"Kami pengin kamu fokus sama langkahmu sendiri. Biar hari ini jadi kejutan yang benar-benar utuh.”

Ditha menghembuskan napas panjang, lalu tertawa kecil di sela air mata. Kesal iya, terkejut iya, tapi lebih dari itu—hatinya hangat.

Di hari yang dia kira hanya akan menjadi awal usaha katering sederhana, ternyata semesta memberinya hadiah yang jauh lebih besar: kepercayaan, dukungan, dan pijakan hidup yang baru.

***

Malam itu Jakarta diguyur hujan tipis. Tari duduk di tepi ranjang kamar apartemennya, lampu temaram membuat bayangannya memanjang di dinding. Ponsel di tangannya terasa berat sejak tadi. Beberapa kali dia menghela napas, seolah sedang menguatkan diri, sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar panjang. Hingga akhirnya layar menampilkan wajah sang mama—Bu Renny—dengan latar jendela besar khas rumah mereka di Swiss. Di belakangnya, lampu-lampu kota Eropa tampak berkelip.

"Ma...” Sapa Tari, suaranya dibuat setenang mungkin.

"Ya, Tari.” Jawab Bu Renny lembut. “Kamu belum tidur? Di sini masih sore.”

Tari menggeleng pelan. “Tari butuh bicara serius, Ma.”

Wajah Bu Renny langsung berubah waspada. Tak lama, Pak Kusuma ikut masuk ke frame, menatap putrinya dengan sorot tanya.

"Ada apa, Nak?” Tanya sang papa.

Tari menelan ludah. “Ma, Pa… kalian harus segera pulang ke Jakarta.”

Bu Renny terdiam sejenak. “Kenapa mendadak begitu?”

"Ada hal penting,” Jawab Tari cepat, nadanya mulai mendesak. “Tari nggak bisa nunggu lama. Mama Rizal bilang, dia akan melamar Tari kalau mama dan papa sudah berada di Jakarta.

"Kamu serius, Tar?

"Iya , ibunya Reza bilang begitu. Kita malah tadi sudah nyari gedung untuk resepsi pernikahan kita." Ucapnya akhirnya, lugas tanpa berputar. Matanya berkilat, bukan malu, melainkan tekad.

Di seberang sana, suasana mendadak senyap. Bu Renny dan Pak Kusuma saling berpandangan.

"Tari…” Suara Bu Renny melembut tapi berat. "Kamu yakin, mama tahu kamu tidak begitu mencintai Reza.”

"Iya, Ma. Tari yakin." Jawabnya mantap. “Semua harus dipercepat. Tari nggak mau kesempatan ini lepas.”

Pak Kusuma menarik napas panjang. “Baik. Papa dan Mama akan atur jadwal pulang secepatnya.”

Mendengar itu, bahu Tari sedikit mengendur. "Terima kasih, Pa, Ma. Tari tunggu di Jakarta.”

Panggilan ditutup. Tari menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar hitam yang memantulkan wajahnya sendiri. Di balik ketenangan yang dia tunjukkan, dadanya bergejolak.

Malam itu, di bawah hujan yang tak kunjung reda, Tari sudah memutuskan:

langkahnya tak boleh ragu, dan waktu tak boleh dibiarkan berjalan terlalu lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!