NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Selepas makan, Naina kembali ke apartemen tersebut. Namun siapa yang tahu kalau apartemen itu menggunakan kode khusus untuk membukanya. Naina berkali-kali menekan bel pintu namun Ryan tak membukakan pintu untuknya.

Naina terdiam lemas di bawah pintu. Sekali lagi ia menangis. Suaminya seperti dua orang berbeda. Kenapa begitu jelas sekali perbedaan antara Ryan yang ia kenal di kampung dan Ryan yang berada di kota.

Naina memeluk kedua kakinya, menahan udara dingin yang perlahan menguasai tubuhnya. Sesekali orang yang melewatinya hanya menatap sengit ke arah Naina. Orang kota benar-benar kehilangan rasa empatinya.

Tanpa Naina sadari ia tertidur meringkuk. Sampai seseorang menemukannya dan membangunkan Naina.

Ternyata satpam yang bertugas. Naina perlahan membuka matanya. Dan meminta maaf pada satpam yang telah membangunkannya.

Naina kembali mengetuk pintu, dan kini pintu itu terbuka. Tanpa perasaan bersalah, bahkan Ryan tak menanyakan keadaan Naina sedikit pun.

"Nay sudah bangun?" Naina bertanya dengan suara masih bergetar menahan dingin yang masih menusuk tulangnya.

Ryan hanya menunjuk pada kamarnya. Namun siapa sangka saat Naina hendak masuk ke kamar Ryan, Naina langsung di cegah.

"Aku harap kau tak lupa apa larangan yang aku katakan, Naina." Ucap Ryan tegas.

"Maaf, aku salah."

Naina berlalu pergi. Hatinya sakit. Baru juga Naina menemukan kebahagiaannya. Namun siapa sangka kebahagiaan yang ia nantikan malah berujung menyakitkan.

"Pak, boleh aku minta uang? Di dapur tidak ada bahan makanan dan juga ---"

Ryan langsung melempar kartu kredit pada Naina. Baru juga Naina akan berkata Ryan langsung membungkam Naina.

"Kau tidak perlu sibuk ke ATM, berikan saja pada petugas kasir. Kodenya 060686." Ryan berlalu pergi.

"060686? Apa itu ulang tahun Pak Ryan? Biasanya kode yang di pakai adalah tanggal spesial." Gumam Naina.

"Tapi di buku nikah tanggal ulang tahun Pak Ryan itu 17 April." Naina masih saja bergumam sendiri.

"Lupakan saja, sekarang waktunya berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari." Naina berjalan menuju kamarnya untuk membawa pakaian menuju kamar mandi.

...****************...

Jam menunjukkan pukul 10.15. Naina telah siap untuk pergi berbelanja bersama Nayla. Nampaknya pusat perbelanjaan tak jauh dari apartemen. Cukup berjalan kurang lebih 1 Km sudah sampai di sana.

Naina yang menggendong Nayla menggunakan jarit kusam menjadi pusat perhatian orang-orang. Tak jarang dari mereka memandang Naina adalah gembel.

Lihatlah pakaian Naina yang tak kalah kusamnya. Naina menjadi minder karena tatapan orang-orang yang berlalu lalang, dan cibiran yang tak enak di dengar.

"Kita berbelanja sebentar, lalu pulang ya." Naina berbicara pada Nayla, meski ia tahu tak mungkin ada jawaban dari anak kecil itu.

Naina membeli sayuran dan buah-buahan. Tak lupa juga Naina membeli daging dan juga telur. Selain bahan makanan lainnya, Naina membeli peralatan mandi dirinya juga Nayla, serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Setelah di rasa semuanya beres, Naina membayarnya dan ternyata memang bisa menggunakan kartu kredit itu. Naina pun mengingat kode yang Ryan katakan tadi.

"Terimakasih atas belanjaannya, semoga datang kembali." Ucap petugas kasir tersebut.

Naina tersenyum dan membawa 3 kantong keresek penuh. Jelas itu membuat Naina kewalahan ditambah Nayla yang masih ia gendong.

Dengan susah payah, akhirnya Naina kembali ke apartemen dengan selamat.

"Nay diam di sini, ya." Naina meletakan Nayla di ruang tengah dengan di temani oleh beberapa mainan.

Waktu telah menunjukkan pukul 3, akhirnya Naina selesai dengan aktivitasnya. Setelah memberi makan Nayla dan menidurkan putrinya, kini bagian Naina bersantai.

Naina mencoba mengoperasikan televisi yang ada di sana. Meraba smart tv yang ada itu. Akhirnya Naina bisa menyalakan tv tersebut dan menonton program tv yang ada.

Di tengah keasikannya, tiba-tiba suara pintu terbuka. Naina bergegas menyambut orang tersebut. Karena Naina yakin itu adalah Ryan.

Siapa sangka orang yang masuk menyelonong itu ternyata Reyhan. Naina terdiam, dan Reyhan terkejut. Bagaimana bisa Naina ada di apartemen Kakaknya.

"Naina? Sedang apa kamu disini?" Tanya Reyhan pelan.

"Harusnya aku yang bertanya begitu, Rey. Kamu ada apa ke sini?" Naina balik bertanya.

Reyhan tersenyum kebingungan. "Naina, apa kamu kenal pemilik apartemen ini siapa?"

"Iya, dia suamiku."

Deg...

Hati Reyhan seolah berhenti berdetak untuk sesaat.

"Siapa?" Reyhan bertanya untuk memastikan.

"Suamiku. Ini apartemen suamiku."

"Siapa nama suamimu?" Reyhan kembali bertanya.

"Ryan. Pak Ryan Varatanu."

Reyhan kini tertawa dalam kebingungan. Jangankan Reyhan, Naina pun ikut bingung. Apa sebenarnya yang terjadi, dan apa maksud dari ucapan Reyhan tadi.

"Jadi lelaki bajingan itu bernama Ryan?" Untuk kesekian kalinya Reyhan bertanya.

Naina hanya menganggukkan kepalanya.

"Hah.... Dunia ini sempit ternyata." Reyhan mengusap wajahnya gusar.

"Rey," sapa Naina khawatir.

"Kau bahagia, Na?" Reyhan bertanya di balik jemarinya yang menutupi wajahnya.

Naina terdiam, ia tak bisa membongkar aib rumah tangganya. Terlebih Reyhan nampaknya mengetahui dengan baik Ryan.

"Naina."

Yang di panggil masih saja terdiam.

"Rey, kamu sudah makan? Kebetulan aku buat sayur bening ikan kembung."

Reyhan tersenyum kecut. Antara marah dan kecewa. Ia marah entah apa sebabnya, dan ia kecewa pada Naina dan Ryan.

Bagaimana kalau Reyhan mengatakan bahwa Ryan bukan laki-laki baik-baik saja. Ryan adalah pria yang sudah bertunangan dan akan menikah tahun depan. Apakah Naina akan percaya padanya?

Reyhan terus saja menatap Naina, ada rasa kesal dan gemas dengan kepolosan gadis desa itu. Naina menuangkan nasi dan lauknya untuk Reyhan.

"Coba cicipi, enak tidak? Ini makanan kesukaan Pak Ryan. Dia sangat lahap jika makan sayur ini." Naina terus saja memuji dan mengagungkan suaminya di depan Ryan.

"Dasar bodoh." Pekik Reyhan.

Ditengah ketegangan mereka berdua, tiba-tiba Nayla bangun dan membuat Reyhan semakin geleng-geleng kepala.

"Gila, benar-benar gila!" Desisnya semakin kesal.

"Anak ini yang kamu maksud juga anaknya dia?"

Naina hanya menganggukkan kepalanya.

"Na, aku beri kamu kesempatan sekali lagi. Ikut aku ke luar negeri, dan tinggalkan Ryan."

"Rey, seburuk apapun Pak Ryan, dia tetap suamiku dan juga ayah dari anakku."

"Tapi kamu gila, Na. Ryan itu telah, ---" Reyhan menjeda ucapannya sendiri.

"Lupakan!" Reyhan pergi meninggalkan Naina yang semakin kebingungan.

Malam kian larut, dari kejadian tadi sore, pikiran Naina menjadi tak karuan. Siapa sebenarnya Reyhan? Dan apa hubungan Reyhan dan Ryan?

Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Dan Ryan tak juga pulang. Naina dengan sabar menunggu kepulangan suaminya itu. Di tengah rasa kantuknya, suara pintu terdengar. Naina buru-buru bangun dan mendekat ke arah pintu.

Naina tersenyum manis dan mengambil jas serta merapihkan sepatu yang di kenakan Ryan. Naina benar-benar menjalankan perannya sebagai istri yang baik.

"Pak, sudah makan malam?" Tanya Naina membuntuti Ryan.

Yang ditanya hanya diam dan terus berjalan menuju kamarnya. Naina terdiam mematung saat tiba di ambang pintu kamar. Tanpa menoleh kebelakang Ryan menutup pintu kamarnya.

Hati Naina sakit, harusnya ia terbiasa dengan sikap pengabaian dari orang-orang. Tapi kenapa dengan Ryan tak bisa. Naina menjadi lemah dan cengeng. Kenapa Naina seperti tak ikhlas jika Ryan berubah.

Naina hanya punya Ryan dan Nayla di dunia ini. Jika satunya tak menginginkan dirinya, besar kemungkinan Nayla pun akan pergi dari hidupnya.

Naina harus memiliki waktu yang tepat jika ingin membawa Nayla menjauh. Tapi resiko yang harus ia terima adalah Nayla akan dapat hinaan karena hidup tanpa seorang ayah.

"Apakah aku harus siap menderita demi anak?" Gumam Naina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!