NovelToon NovelToon
Suara Hati DARREN

Suara Hati DARREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Berbaikan / Anak Genius / Murid Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.

Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya

Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.



Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangis Penyesalan Erland Dan Keempat Putra Tertuanya

Darren sudah berada di kampus. Setibanya dia di kampus, kekasihnya menunggunya di depan gerbang Kampus sembari membawa bekal di tangannya.

"Brenda!" panggil Darren sembari menghampiri kekasihnya yang saat ini tengah duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari gerbang kampus.

Gadis yang bernama Brenda tersebut seketika tersenyum bersamaan dia berdiri dari duduknya.

"Sudah lama?" tanya Darren bersamaan tangannya mengusap lembut kepala belakang Brenda kemudian memberikan ciuman di kening kekasihnya itu.

"Baru beberapa menit yang lalu." jawab Brenda sembari tersenyum. "Ini." Brenda memberikan kotak bekal pada Darren.

Darren langsung menerima kotak bekal tersebut. Kemudian Darren membukanya.

Seketika Darren tersenyum ketika melihat isinya dari dalam kotak bekal tersebut.

"Mama sengaja buat khusus untuk kamu."

"Aku tidak menyangka jika mama kamu masih ingat dengan kue kesukaan aku. Padahal kue ini kue kesukaan aku saat aku masih kecil."

"Mama akan selalu ingat makanan kesukaan anak-anaknya dan orang-orang special dalam kehidupan anak-anaknya."

Darren seketika tersenyum ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari kekasihnya.

Setelah itu, Darren dan Brenda pergi meninggalkan halaman kampus untuk menuju kelas masing-masing.

^^^

Darren dan Brenda melangkah menyusuri luasnya kampus. Koridor demi koridor mereka lalui. Mereka berjalan sembari bercerita.

Namun detik kemudian, seorang mahasiswi tiba-tiba tak sengaja menabraknya sehingga membuat kotak bekal yang ada di tangan Darren terjatuh sehingga kue-kue tersebut berserakan di lantai.

"Ka-kak, ma-maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap mahasiswi itu dengan suara bergetarnya.

"Itu dia!" teriak beberapa mahasiswa sembari menunjuk kearah mahasiswi yang saat ini ketakutan akan tatapan mata Darren.

Baik Darren maupun Brenda langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat sekitar 6 mahasiswa yang berlari menuju kearah mahasiswi yang berdiri di depannya.

"Ka-kak, tolongin saya. Mereka... Mereka akan menyakiti saya." mahasiswi itu berbicara dengan suara gugup dan tubuh bergetarnya.

Brenda seketika langsung melihat kearah kekasihnya yang saat ini tampak biasa saja.

"Ren, tolongin ya. Kasihan dia."

Mendengar ucapan serta tatapan memelas kekasihnya membuat Darren mau membantu mahasiswa tersebut.

Sementara beberapa mahasiswa yang mengejar satu mahasiswi tersebut langsung berhenti mengejar mahasiswi tersebut. Mereka berlahan-lahan melangkah mundur.

Setelah menjauh, mereka langsung putar badan dan berlari seketika.

Mahasiswi tersebut langsung menghela nafas leganya ketika melihat para mahasiswa tersebut telah pergi.

Mahasiswi itu seketika melihat kearah kue-kue yang berserakan di lantai. Dia meyakini bahwa kue-kue itu adalah milik kakak kelasnya itu.

"Kak, kue-kue itu?"

"Lupakan!"

Setelah mengatakan itu, Darren menarik tangan Brenda untuk pergi meninggalkan mahasiswi tersebut. Hatinya sejak tadi sudah dongkol akan ulah dari mahasiswi itu yang membuat kue pemberian ibunya Brenda berserakan di lantai.

^^^

Di kelas..

Gilang dan Darka saat ini berada di kelas. Mereka tidak hanya berdua saja, melainkan bersama kekasih mereka yaitu Kayana dan Kathleen. Mereka saat ini tengah bercerita, mengobrol dan bersenda gurau bersama.

"Aku turuti bahagia karena kalian sudah dekat lagi dengan Darren," ucap Kathleen.

"Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua!" seru Kayana dengan semangatnya.

Gilang dan Darka seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari kekasihnya. Ditambah lagi raut bahagia yang terpampang di wajah cantiknya.

"Terima kasih ya!" Gilang dan Darka berucap bersamaan.

"Aku berharap Paman Erland, kak Davin, kak Andra, kak Dzaky dan kak Adnan segera menyusul. Aku ingin melihat kalian seperti dulu lagi," ucap Kayana.

"Kalau pun mereka menyadari kesalahannya dan ingin meminta maaf kepada Darren, aku tidak yakin jika Darren akan memberikan maaf kepada mereka." Darka berbicara dengan ekspresi sedih.

"Kenapa kamu berpikir seperti itu, Darka?" tanya Kathleen.

"Karena aku tahu seperti apa adikku. Coba kalian pikirkan. Anak mana yang tidak sakit hatinya dikatakan pembunuh oleh ayahnya sendiri? Anak mana yang tidak terluka perasaannya ketika mendengar ucapan ayahnya tidak ingin memiliki anak pembunuh sepertinya? Semua anak di dunia ini pasti akan merasakan sakit dan terluka jika dikatakan pembunuh dan tidak dianggap anak oleh ayahnya." Darka berbicara dengan sorot matanya yang tampak sedih.

"Bukan hanya ayahnya, melainkan empat kakaknya juga melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Coba bayangkan oleh kalian berdua, berapa besar rasa sakit yang dirasakan oleh adikku? Berapa besar luka yang diberikan oleh ayahnya dan keempat kakaknya selama satu tahun ini? Jawabannya adalah tidak terhitung," ucap Gilang yang sudah menangis.

Mendengar ucapan dari Gilang dan Darka serta melihat keduanya menangis membuat hati Kayana dan Kathleen sesak.

Grep..

Seketika Kayana dan Kathleen memeluk tubuh kekasihnya. Mereka berusaha untuk memberikan semangat untuk kekasihnya itu.

"Kamu nggak sendirian. Ada aku." ucap Kayana dan Kathleen bersamaan kepada kekasihnya. "Kita akan sama-sama jagain Darren."

***

Erland sekarang ini berada di ruang kerjanya yang ada di rumahnya. Dia kini sedang duduk termenung di sofa sembari memegang bingkai foto ibu dan istrinya.

Flashback On..

Rumah sakit..

Erland dan keenam putranya berada di ruang rawat ibunya/neneknya. Mereka semua menangis ketika melihat kondisi ibunya/neneknya.

"Bu!"

"Oma!"

"Erland."

"Iya, Bu."

"Hiduplah dengan baik bersama dengan ketujuh putramu karena kelak mereka yang akan menjaga dan melindungimu, terutama putra bungsumu."

"Bu..."

"Erland, ibu sudah tidak sanggup lagi. Ibu bertahan beberapa bulan ini hanya untuk sekedar ingin berpamitan denganmu, dengan adik-adikmu dan semua cucu-cucu ibu. Sekarang ibu sudah bisa pergi dengan tenang karena ibu sudah meminta izin padamu dan pada semuanya."

"Tidak ibu, nek!" Erland dan keenam putranya seketika menggelengkan kepalanya.

"Erland, ibu berharap padamu agar kamu jangan menyalahkan putra bungsumu. Ibu tahu bahwa kamu pasti menyalahkan dia atas apa yang menimpa ibu dan istrimu. Ibu hanya ingin mengatakan bahwa putra bungsumulah yang membawa ibu dan istrimu ke rumah sakit. Dia yang menyelamatkan ibu dan istrimu dari tempat penyekapan itu."

Erland seketika menangis ketika mendengar ucapan sekaligus permohonan dari ibunya.

"Erland, jaga putra-putramu terutama putra bungsumu. Jangan sakiti dia."

Oma Vidya melihat kearah enam cucunya yang saat dalam keadaan menangis.

"Untuk kalian juga! Jangan benci adik kalian. Dia tidak salah dalam hal ini. Dia yang telah menyelamatkan Oma dan Mama kalian."

"Davin, kamu adalah saudara tertua disini. Oma berharap padamu kamu bisa menjaga dan melindungi adik-adikmu terutama adik bungsumu. Jangan sakiti dia, apalagi sampai membuat dia menangis."

Davin hanya diam sembari mendengarkan perkataan dari neneknya. Air matanya terus mengalir.

"Oma minta kepada kalian. Kalian adalah bertujuh bersaudara. Akurlah dan jangan pernah bertengkar, apalagi sampai saling menyakiti. Jika kalian bisa akur, hidup rukun dan saling melindungi. Oma yakin orang-orang diluar sana yang tidak menyukai kalian tidak akan bisa menghancurkan kalian dan tidak akan bisa membuat kalian terpecah belah. Justru mereka yang akan hancur ditangan kalian."

"Sekali lagi Oma minta kepada kalian terutama kamu, Davin. Jangan sakiti Darren. Justru sebaliknya. Jaga dia, sayangi dia dan lindungi dia. Sekali saja kalian menyakitinya, maka seumur hidup akan membekas di hatinya. Dan jika itu terjadi, maka akan sulit untuk kalian mendapatkan maaf darinya. Jangan sampai kalian menyesal."

"Ingat! Kalian sudah kehilangan ibu kalian. Jangan sampai kalian merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya."

Setelah mengatakan itu kepada putra sulungnya dan keenam cucu-cucunya, Oma Vidya seketika menutup matanya. Dia akhirnya pergi dengan tenang. Terlihat senyuman di bibirnya.

Flashback Off..

Tes..

Air mata Erland seketika jatuh membasahi pipinya ketika mengingat tentang kata-kata dan pesan dari ibunya sebelum ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya.

"Bu, maafkan aku. Aku telah gagal menjalankan amanahmu. Aku gagal menjadi ayah untuk cucu bungsumu. Aku ayah yang jahat terhadap cucu kesayanganmu. Aku telah menyakiti hati cucu ibu."

Erland berbicara dengan menyebut nama sang ibu sembari tangannya mengusap lembut foto ibunya itu. Dan jangan lupa, air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya.

Erland beralih menatap foto istrinya. "Hiks... Belva, Sayang! Maafkan aku yang telah menyakiti putra bungsu kita. Aku... Hiks... telah gagal memenuhi tugas dan tanggung jawabku terhadap putra bungsu kita. Aku telah menyakitinya dengan menyebut dia sebagai pembunuh. Hiks... Bahkan aku tidak menganggap dia sebagai putraku lagi."

Erland semakin terisak ketika mengatakan kata-kata itu di hadapan bingkai foto istrinya. Hatinya benar-benar hancur saat ini.

"Belva, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku terhadap putra bungsu kita? Aku berjanji dan bersumpah akan melakukan apapun untuk meminta maaf pada putra bungsu kita."

"Ibu, Belva... Hiks," isak Erland bersamaan dia memeluk kedua bingkai foto itu.

Tanpa Erland ketahui, di luar ruangan kerjanya terlihat putra-putranya yang sejak tadi melihat dan mendengar ucapan penyesalannya terhadap putra bungsunya.

Para putra-putranya yang melihat dan mendengar ucapannya itu menangis. Mereka sama hancurnya seperti ayahnya. Apa yang dirasakan oleh ayahnya, itu juga yang dirasakan oleh mereka.

Mereka adalah Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.

"Mama, Oma. Maafkan aku."

"Hiks... Ren," isak mereka.

Mereka berucap memohon maaf kepada mendiang ibu dan sang nenek, serta memohon maaf kepada adik bungsunya.

1
Miftahur Rahmi23
cerita nya bagus thor. bahasanya ringan, mudah dimengerti
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
lagi kak
sri wahyu
up yg banyak
penasaran kelanjutannya
sri wahyu
makasih kak
semangat
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semangat kak
up lagi ya
Glastor Roy
up
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
makasih kak semangat updatenya
sri wahyu
baru sadar setelah satu tahun benci
sri wahyu
semangat kak
sri wahyu
menyesal kan
sri wahyu
semngat kak
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
semngat kak
sri wahyu
jantungnya kambuh kah


kasian Darren
Glastor Roy
yg banyak tor up ya
sri wahyu
emang enak di cuekin
semangat trus kak
Glastor Roy
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!