Kayla seorang perempuan yang memiliki 3 Saudara, mereka telah yatim piatu sejak kecil, Adik bungsunya merupakan anak istimewa yang membutuhkan perhatian khusus. Perjuangan mereka yang penuh dengan tangis, penderitaan akankah bisa menuju kesuksesan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Kepala Desa Kesekolah
Mereka semua menatap lelaki parubayah ini dengan seksama, mendengar perkataan itu, kening mereka semua mengkerut.
"Maksud bapak apa, kenapa anak kepala sekolah itu mau dilaporkan?? ". Tanya sang istri dengan penasaran.
Pak desa menghela nafas, dia mengingat bagaimana pertemuannya dengan ibu Husni saat dia berjalan memantau keadaan desa.
"permisii pak desa, bisaka saya bicara dengan anda sebentar?? ". Tanya Ibu Husni dengan sopan.
"Tentu bu, ada apa, seperti nya ada masalah yang akan ibu sampai kan kepada saya?? Tanya pak desa penasaran.
"Begini pak, tadi waktu disekolah, Kanaya dan Keenan dibully oleh anak kepala sekolah, mereka memang terkenal dengan tukang bully, tapi tak ada yang berani melaporkan kelakuan mereka kepada kepala sekolah, katanya takut dikeluarkan". Ucap Bu Husni perlahan.
"Apa bu, di bully??, Ya ampun, mereka masih kecil sudah bertindak hal memalukan seperti itu?? ". Tanyanya dengan geram
Bagaimana bisa anak usia SD seperti mereka bisa membully anak-anak lain, padahal dia juga anak kepala sekolah.
"Iya pak, saya memberi tahu bapak, agar menindak lanjut ini dengan tegas, bukan hanya Kanaya dan Keenan korbannya pak, mereka juga sering membully anak lain".
"Baiklah besok lusa saya akan mengatakan ini kepada kepala sekolah, jika dia tidak menindak tegas anaknya maka akan saya bawah ke dinas pendidikan".
"Iya pak, saya hanya kasihan pada anak-anak yang jadi korban bully itu".
"Terima kasih infonya bu, saya akan bertindak dengan tegas setelah ini, ini perbuatan yang tidak bisa di toleransi".
"Iya pak, kalau begitu saya permisi". Ucap Ibu Husni mengundurkan diri.
Pak desa menatap mereka dengan seksama, dia bisa melihat tatapan kesel, marah dan jengkel dari semua anggota keluarganya.
"Ya ampun pak, bisa-bisanya anak kecil seperti mereka sudah pintar membully, bagaimana mereka dididik dengan orangtuanya?? Tanya bu desa menghilangkan kepalanya.
Dia sungguh tidak menyangka, sekolah yang cukup disegani di kecamatan mereka malah bisa berbuat seperti itu dan yang melakukannya anak kepala sekolah.
"Itu harus ditindak lanjut pak, saya saja yang mengajar jadi guru tidak menerima perbuatan yang mereka lakukan, bagaimana dengan orang-orang yang lain yang mengetahuinya, bisa rusak nama sekolah yang menjadi kebanggaan kecamatan pak".
"Iya nak, besok bapak akan kesana, dan kamu Kanaya harus menjadi saksi dan korban, bapak tidak mau kamu menyembunyikan apapun besok, bisa??
"Iya pak, aku akan jadi saksi, mereka memang harus dihentikan, mereka sok berkuasa karena mereka anak kepala sekolah dan bagian data pusat, itu sebabnya mereka semena-mena disekolah". Kayla menjawab itu agar kepala desa tahu dia juga tahu kejadian itu.
"Kamu mengetahuinya nak??
"Aku juga sering mereka bully pak, hanya saja aku belum sempat melaporkan malah ada dirumah sakit sekarang".
"Baiklah kalau begitu nak, bapak akan tindak lanjuti itu, dad kami pulang dulu, ini sudah mau malam, kasian adik-adik kamu, besok mereka akan ke sekolah, dan katanya akan kerja di kantin??
"Iya pak, Kanaya saja yang akan ke sekolah, biar Keenan dirumah sama ibu, kasian dia kalau selalu dibawah ke sekolah".
"Iya bu, terima kasih". Ucap Kayla dengan sopan.
Kalau begitu kami semua pamit yah dek, kamu baik-baik disini dan jaga adikmu baik-baik, kamu jaga kesehatan juga".
"Iya kak, makasih, kalian semua hati". Ucap Kayla dengan senyuman sendu karena berpisah dari sang adik.
"Kami akan baik-baik saja kak, tidak perlu khawatir, mereka semua baik kepada kami". Kanaya mencium tangan dan juga pipi sang kakak dan adiknya bergantian dengan Keenan.
"Kalian jaga diri baik-baik yah dek, tunggu kakak pulang supaya kita bisa berkumpul lagi".
"Iya kak, kakak dan adek baik-baik disini kami pulang dulu".
Mereka semua melambaikan tangan dan Kanaya mencium tangan para ibu-ibu Yang ada disana lalu pergi mengikuti keluarga pak desa.
Keesokan harinya seperti perkataan pak desa, dia ke sekolah Kanaya dan Kayla, dia akan mengusut kasus pembully disekolah itu sampai tuntas.
"Permisi bu, saya ingin bertemu dengan kepala sekolah, bisa?? tanya pak desa dengan to do point
Saat itu dia kini berhadapan dengan pengurus data sekolah yang tidak lain ibu dari salah satu pembully.
"Ada apa memang anda mencari kepala sekolah". Sinisnya.
Dia tidak tahu jika dihadapan dirinya ini adalah kepala desa yang paling di hormati dan disegani di desa ini. Karena dia tinggal di kampung sebelah.
"Saya ada perlu dengan beliau, dimana ruangannya?? Tanya kepala sekolah berusaha sabar dengan tingkah orang dihadapan nya.
"Beliau ada di ruangan sebelah, jangan ganggu beliau, beliau sibuk". Ketusnya lagi.
Pak desa melangkah keluar dari ruangan itu tapi baru sampai di pintu dia berbalik dan menatap perempuan itu dengan dingin.
"Saya bisa saja membuat anda dipecat dari jabatan anda sekarang, saya tidak menyangka sekolah kebanggaan kecamatan memiliki guru kurang baik dalam bersikap". Ucap Kepala desa kemudian keluar dari ruangan itu.
Mata Ibu Rahayu melotot seketika mendengar perkataan bapak yang baru saja keluar dari ruangannya, dia menyimpan data kemudian menyusul orang itu keruang kepala sekolah.
"Bisa saya masuk". Ucap Pak desa ketika selesai mengetuk pintu.
"Oh ada pak desa, silahkan masuk pak". Ucap Bu Ningsih sang kepala sekolah dengan ramah.
Dia sebenarnya penasaran dengan kedatangan kepala desa tempatnya tinggal ini, tidak biasanya beliau datang kecuali dia sedang akan mengurusi sesuatu.
"Terima kasih". Ucap Pak desa dengan datar.
"Maaf pak, ada keperluan apa sehingga membawa anda ketempat ini". Tanya dengan ramah.
"Saya datang kesini menindak lanjuti laporan tentang pembuktian yang terjadi disekolah ini, saya khawatir jika ini sampai terdengar keluar maka reputasi sekolah kebanggan desa ini akan tercoreng". Ucapnya dengan tatapan tajam
"Apa pak, pembullyan?? ". Tanyanya dengan gugup.
Dia tahu maksud kepala desa, adalah tindakan anaknya selama ini, ya dia tahu tapi terkesan tak perduli, dia berpikir itu hanya kenakalan anak-anak saja.
"Jangan pura-pura tidak tahu bu, yang melakukannya adalah putri anda dan juga putri ibu pengurus data didepan". Ucapnya saat tahu ibu tadi menyusul dirinya.
"Maaf pak, kami memang tidak tahu dan kami juga tidak mendapat laporan itu.
"Kalian pikir saya tidak menyelidiki dulu sebelum kesini, jangan sampai saya melaporkan perbuatan anak kalian ke dinas pendidikan dan membuat kalian kehilangan pekerjaan kalian, tegur dan pastikan anak kalian tidak melakukannya lagi, jika tidak, saya tidak akan tinggal diam". Ucapnya dengan tegas.
"Jangan hanya berdiri di pintu bu, anda mendengar sendiri perkataan saya, saya punya bukti dan saksi jika kalian mengetahui perbuatan anak kalian tapi menganggapnya biasa jadi terserah kalau kalian mau kehilangan jabatan dan gelar PNS kalian itu, permisi".
Pak desa langsung berdiri dari duduknya, dia memang terlihat sangat ramah dan baik hati tapi dia orang yang sangat teliti dalam bertindak dan mengumpulkan bukti.
"Aduh bu bagaimana ini". Tanya Bu Rahayu dengan panik.