Adeeva harus rela menikah dengan pria yang bernama Arion demi membantu perusahaan ayahnya yang sedang di ambang kehancuran.
namun di balik itu Adeeva bisa bernafas lega karena biaa keluar dari tempat yang di bakalan rumah namun menurutnya adalah neraka.
akankah Adeeva biaa mendapatkan kebahgiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
014
Typo masih berkeliaran di setiap sudut cerita.
___________
"Minggir" Adeeva mendorong tubuh kekar Arion, namun sayangnya kekuatan Adeeva tidak sebanding dengan kekuatan Arion.
"Mengapa, apa kau takut"
"Aku tidak takut padamu "
"Benarkah" Arion melingkarkan tangannya pada pinggang Adeeva tang sontak mendapat tatapan tajam dari Adeeva.
"Lepaskan"
"Tidak akan"
"Arion, aku kedinginan. Bisakah kau menghentikan ini"
"Aku belum mulai sedikitpun dan kau sudah ingin berhenti"
"Kau dan otak mesummu harus segera di bersihkan" seru Adeeva sedikit jengah.
Arion menaikkan sebelah alisnya. "Aku rasa begitu, dan kau pasti tahu seperti apa cara menjernihkan otak pria"
"Arion, aku mohon. Aku sudah kedinginan" Adeeva mencoba kembali memohon. Adeeva akan mengalah untuk kali ini demi keselamatannya.
Arion segera melepaskan pelukannya.
"Aku tidak akan bisa menang jika harus berdebat denganmu" gerutu Adeeva.
"Kau tahu itu, tapi mengapa kau masih melakukannya" Arion duduk di sofa yang ada di walk and closet.
"Mengapa kau masih ada di sini. Aku ingin berganti baju" seru Adeeva.
"Ganti saja, aku hanya ingin duduk di sini"
"Dan memperhatikan ku mengganti baju" lanjut Adeeva.
Arion hanya menaikkan bahunya acuh. "Mungkin, jika itu menarik " seru Arion Enteng.
"Kau, pria mesum kurang ajar" seru Adeeva dengan satu tangan menunjuk wajah Arion.
Adeeva segera mengambil beberapa pakaian yang akan di gunakannya dan kembali ke kamar mandi. Adeeva tidak ingin tubuhnya di pandangi oleh orang, bahkan jika itu adalah suaminya sendiri.
Butuh waktu lebih lama untuk Adeeva mengganti baju namun semuanya bisa Adeeva lakukan tanpa bantuan siapapun.
Adeeva kembali keluar dari kamar mandi, tidak ada Arion di kamarnya dan itu membuat Adeeva beraukur.
Adeeva mengambil ponsel yang tergeletak di nakal kamarnya, Beberapa pesan dari karyawannya membuat Adeeva larut pada benda pipih tersebut.
"Sepertinya besok akan banyak pesanan" seru Adeeva.
Pagi-pagi Adeeva sudah terbangun, Adeeva berjalan perlahan menuju dapur meskipun sedikit tertatih.
Ara yang melihat Adeeva berjalan kearah dapur segera menghamiptinya.
"Nona, apa yang anda lakukan di sini" seru Ara.
"Aku hanya ingin teh hangat"
"Saya akan membuatkannya untuk anda"
"Aku tidak mau merepotkan "
"Itu sudah tugas saya Nona"
"Baiklah terima kasih" Adeeva tersenyum manis kearah Ara.
Ara membantu Adeeva duduk di kursi untuk menunggu tehnya.
Tidak butuh waktu lama teh yang di minta Adeeva sudah siap.
"Ini teh pesanan anda Nona"
"Terima kasih Ara"
Adeeva segera meminum teh yang masih panas itu perlahan. Tanpa Adeeva sadari Arion berdiri di ambang pintu menatap kurus ke arah deva yang sedang menikmati secangkir teh.
Arion tersenyum sekilas ke arah Adeeva. Entah apa yang di pikirkannya saat ini. Arion menghampiri Adeeva setelah puas memandang sang istri dari kejauhan.
"Apa yang kau lakukan" seru Arion dengan suara beratnya.
"Oh tuhan" Adeeva terkejut karena suara Arion yang tiba-tiba.
"Kau mengagetkanku"
"Aku hanya bertanya?"
"Kau bisa lihat sendiri bukan jika aku sedang meminum teh" seru Adeeva.
Arion menarik kursi yang ada di depan Adeeva dan duduk bergadang dengannya.
Seorang pelayan membawakan secangkir kopi yang biasa Arion minum di pagi hari.
Keduanya menikmati minuman mereka tanpa bersuara, namun baik Arion maupun Adeeva mendapatkan kehangatan masing masing dari minuman mereka.
"Apa kau bekerja hari ini" Arion memulai pembicaraan lebih dulu.
Adeeva mengangguk sekilas.
"Banyak pesanan yang harus aku selesaikan hari ini"
"Jangan terlalu banyak bergerak, atau kakimu tidak akan pernah sembuh"
"Kau menyunpahiku" tuduh Adeeva.
"Bukan menyumphimu aku hanya sedikit khawatir, kakimu semakin hari semakin bengkak" seru Arion santai.
"Baiklah aku tidak akan banyak bergerak, dan aku harus sembuh secepatnya aku harus mendekor satu aula dua minggu lagi"Seru Adeeva.
"Sepertinya kolega mu banyak"
"Tentu saja, kau saja yang tidak tahu" jawab Adeeva asal.
Arion mengambil sebuah kartu dan kenyerahkannya pada Adeeva.
"Apa ini"
"Credit card milikmu, aku lupa memberikannya"
"Ini untukku"
"Kau bisa berbelanja apapun yang kau mau dengan kartu itu, belilah barang yang kau mau"
Adeeva memandang katu yang tergeletak itu sebentar.
"Aku tidak membutuhkannya" seru Adeeva mengembalikan kartu itu pada Arion.
Arion menatap Adeeva sekilas. Baru kali ini ada wanita yang menolak Black Card miliknya.
"Aku mempunyai tabungan sendiri dan itu cukup untukku" seru Adeeva dengan senyum lembut.
Sekilas Arion terpesona dengan senyum manis Adeeva.
"Aku sudah memberikannya padamu, dan aku tidak suka sebuah penolakkan" seru Arion pada akhirnya.
"Kau kembali menjadi tukang pemaksa" seru Adeeva.
"Ini adalah hadiah pernikahan dariku, kau bebas melakukan apapun pada kartu itu"
"Apa kau yakin"
"Kau meremehkan ku"
"Baiklah aku akan mengambilnya, namun jangan menyesal jika ku menghabiskan semua isinya"
Arion tidak mendengarkan apa yang di ucapkan Adeeva, Arion memilih pergi meninggalkan Adeeva duduk sendirian di dapur.
"Apa yang harus ku lakukan pada black card ini" seru Adeeva.
P.s
Maaf jika cerita ini sedikit monoton, semoga kalian suka. Jangan lupa comment, like dan Vote ya.
terima kasih .