NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertahanan yang runtuh

Waktu istirahat makan siang tidak benar-benar ada bagi Sophie. Ia baru saja akan menyesap kopi dinginnya yang tersisa saat pintu lift berdenting terbuka. Berbeda dengan staf kantor yang biasanya berpakaian kaku, sosok yang keluar dari lift tampak seperti baru saja melangkah keluar dari sampul majalah Vogue.

Dia adalah Isabella von Lutz, seorang supermodel internasional yang wajahnya menghiasi papan iklan di sepanjang jalan Kurfürstendamm. Dengan rambut pirang platinum yang tertata sempurna dan mantel bulu faux yang tersampir anggun di bahunya, kehadirannya membuat seluruh staf di lantai itu menahan napas.

Isabella tidak berhenti di meja resepsionis. Ia berjalan langsung menuju meja asisten, tempat Sophie berada.

"Jadi, ini 'asisten' baru yang sedang ramai dibicarakan?" suara Isabella terdengar merdu namun memiliki nada tajam yang tersembunyi.

Sophie berdiri secara profesional. "Selamat siang, Nona von Lutz. Tuan Hoffmann sedang tidak ingin diganggu, kecuali jika Anda memiliki janji temu."

Isabella tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting gelas kristal. "Janji temu? Aku tidak butuh janji temu untuk menemui Max. Kami sudah bersama sejak sekolah menengah di Swiss. Dia tidak pernah menutup pintu untukku."

Isabella menatap Sophie dengan tatapan menilai yang dingin. Ia sudah mendengar rumor tentang kejadian di Hotel Adlon dan bagaimana Max membawa asisten barunya ke sana. Bagi dunia luar, Isabella adalah calon istri ideal untuk Maximilian Hoffmann. Mereka sering terlihat bersama di acara amal, dan keluarga mereka adalah sekutu lama. Namun, Isabella menyimpan satu rahasia: cintanya pada Max bukan sekadar bisnis atau persahabatan, melainkan obsesi yang ia sembunyikan di balik senyum kameranya.

Tiba-tiba, pintu kantor Max terbuka. Pria itu berdiri di sana, ekspresinya sedikit melunak saat melihat Isabella—pemandangan yang membuat hati Sophie terasa seperti diremas.

"Bella? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Max.

"Hanya ingin mengajakmu makan siang di The Grill. Kau terlalu banyak bekerja, Max," Isabella menghampiri Max dan dengan santai mengaitkan lengannya ke lengan pria itu. Sebuah gestur kepemilikan yang sangat jelas ditujukan untuk memamerkan posisinya kepada Sophie.

Max melirik ke arah Sophie sebentar, seolah ingin melihat reaksinya. Namun, Sophie hanya menunduk dan pura-pura sibuk dengan dokumen di mejanya.

"Baiklah. Aku butuh udara segar," jawab Max singkat. Sebelum pergi, ia menoleh kembali ke arah Sophie. "Nona Adler, pastikan semua berkas yang kuberikan tadi pagi sudah selesai saat aku kembali. Dan jangan lupa, pesankan buket bunga lili putih untuk dikirim ke apartemen Nona von Lutz sore ini."

"Baik, Tuan," sahut Sophie datar.

Saat mereka berjalan menuju lift, Isabella sempat menoleh ke arah Sophie dan memberikan senyum kemenangan yang tipis. Sophie memperhatikan pintu lift tertutup, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruangan itu.

Sophie duduk kembali, tangannya menggenggam pena begitu kuat. Ia tidak cemburu—setidaknya itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri. Namun, melihat kelembutan langka yang Max berikan pada Isabella, sementara ia hanya mendapatkan perintah dan hinaan, membuat Sophie menyadari satu hal: di mata Maximilian, ia hanyalah alat untuk balas dendam, sementara wanita seperti Isabella adalah dunia tempat Max seharusnya berada.

...****************...

Sore itu, suasana kantor terasa mencekam setelah Max kembali. Isabella sudah pulang, tapi aroma parfum mawar mahal milik model itu masih tertinggal di ruangan Max. Sophie masuk untuk menyerahkan laporan terakhir, berusaha bersikap seprofesional mungkin.

"Bunga lili putihnya sudah dikirim ke apartemen Nona von Lutz, Tuan. Ini laporan yang Anda minta," ucap Sophie tanpa menatap wajah Max.

Max yang sedang duduk di kursi kebesarannya, perlahan berdiri. Ia melonggarkan dasinya, matanya mengikuti setiap gerak-gerik Sophie.

"Kau sangat efisien, Nona Adler. Bahkan saat kau harus melayani wanita yang jelas-jelas membencimu."

"Tugas saya adalah memenuhi perintah Anda, bukan untuk menyukai atau tidak menyukai tamu Anda," jawab Sophie datar, berbalik untuk pergi.

Tiba-tiba, dengan gerakan cepat yang tidak terduga, Max sudah berada di belakangnya. Sebelum Sophie sempat mencapai pintu, tangan kekar Max menghantam permukaan kayu pintu dengan bunyi BAM! yang keras, mengurung Sophie di antara tubuhnya dan pintu.

"Apa kau tidak punya perasaan sama sekali?" bisik Max tepat di tengkuk Sophie, suaranya rendah dan berbahaya. "Aku pergi berjam-jam dengan Isabella, dan kau hanya berdiri di sana seperti robot?"

Sophie bisa merasakan napas Max yang hangat. Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kekuatan. "Apa maksud Anda, Tuan Hoffmann? Apakah perasaan merupakan bagian dari kontrak saya? Menjadi penonton untuk kehidupan asmara Anda?"

Max memutar tubuh Sophie dengan paksa hingga wanita itu menghadapnya. Ia mencengkeram bahu Sophie, matanya berkilat penuh emosi yang tidak terbaca—antara amarah dan obsesi.

"Aku ingin kau sadar posisi mana yang lebih menyakitkan," geram Max. "Dihina di depan umum oleh orang asing, atau melihat pria yang memilikimu memberikan perhatiannya pada orang lain?"

Sophie menatap tajam ke mata Max, meski jantungnya berdegup kencang. "Anda tidak memiliki saya, Maximilian. Anda hanya memiliki waktu kerja saya. Dan jika Anda terus melakukan ini, Anda tidak akan mendapatkan apa pun selain kebencian saya."

Suasana membeku. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Max menatap bibir Sophie, lalu kembali ke matanya, seolah-olah dia sedang berperang dengan dirinya sendiri untuk tidak melakukan sesuatu yang lebih jauh.

Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas mereka yang saling berkejaran. Tatapan Max yang tadinya penuh intimidasi berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lapar. Amarahnya terhadap ketenangan Sophie, obsesinya untuk mematahkan pertahanan wanita itu, dan rasa cemburu yang tak masuk akal terhadap Julian Von Arnim meledak menjadi satu dorongan impulsif.

Tanpa peringatan, Max menunduk dan membungkam bibir Sophie.

Ciuman itu tidak lembut. Itu adalah ciuman yang menuntut, penuh dengan keputusasaan dan dominasi. Max seolah ingin menghisap seluruh harga diri yang masih tersisa di dalam diri Sophie, memaksa wanita itu untuk menyerah pada kekuasaannya.

Untuk sesaat, Sophie membeku. Dunianya seolah berhenti berputar. Namun, detik berikutnya, kesadaran menghantamnya seperti tamparan keras. Rasa terhina yang terkumpul sejak malam di Hotel Adlon meluap menjadi tenaga yang luar biasa.

Sophie memberontak. Ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong dada bidang Max. Dengan satu hentakan kuat, ia berhasil melepaskan diri dari kungkungan pria itu.

PLAK!

Suara tamparan Sophie menggema di ruangan luas itu. Napas Sophie tersengal-sengal, matanya yang berkaca-kaca memancarkan kemarahan yang begitu murni hingga membuat Max tertegun di tempatnya.

"Jangan pernah... berani menyentuhku lagi," desis Sophie dengan suara bergetar karena emosi. "Anda bisa mengambil harta keluarga saya, Anda bisa menghancurkan reputasi saya, dan Anda bisa memperlakukan saya seperti pelayan. Tapi Anda tidak punya hak atas tubuh saya!"

Sophie menyambar tasnya dari meja dengan tangan yang gemetar hebat. Tanpa menoleh lagi, ia berlari keluar dari kantor pribadi Max, melewati meja sekretarisnya yang masih penuh tumpukan berkas, dan terus menuju lift. Ia tidak peduli jika ini berarti ia akan dipecat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pria yang baru saja menodai batas terakhirnya.

Di dalam kantor, Maximilian Hoffmann masih berdiri mematung. Telapak tangannya perlahan menyentuh bibirnya yang masih menyisakan rasa manis sekaligus perih dari gigitan Sophie saat mereka bergelut tadi. Bekas tamparan di pipinya terasa panas, namun rasa panas di dadanya jauh lebih menyakitkan.

Ia menatap pintu yang masih berayun, lalu beralih ke cermin dinding yang memperlihatkan bayangan dirinya.

"Sialan," geramnya pada dirinya sendiri.

Max memukul meja mahagoninya hingga gelas kristal di atasnya bergetar. Ia membenci apa yang baru saja ia lakukan. Ia membenci fakta bahwa ia telah kehilangan kendali—sesuatu yang selalu ia banggakan. Selama sepuluh tahun, ia membangun dirinya menjadi pria yang dingin dan kalkulatif, namun hanya dalam satu detik, seorang Sophie Adler berhasil meruntuhkan topengnya.

Ia membenci kenyataan bahwa ciuman tadi bukan sekadar upaya untuk menghina Sophie, melainkan karena ia memang sangat menginginkannya. Rasa haus akan kehadiran Sophie yang awalnya ia kira sebagai dendam, kini mulai menampakkan wajah aslinya: sebuah obsesi yang mulai berubah menjadi cinta yang beracun.

Max duduk di kursinya, menenggelamkan wajah ke kedua telapak tangannya. Keheningan kantor sore itu terasa seperti ejekan baginya. Ia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam permainannya—ia membiarkan mangsanya tahu bahwa sang predator telah jatuh cinta.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!