Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTORITAS SANG RATU TEKNIK
Langkah kaki Jane yang terburu-buru menuruni tangga darurat terhenti seketika saat bayangan seseorang menghalangi jalannya. Ia mendongak, dan pupil matanya mengecil saat melihat siapa yang berdiri di sana. Scarlett berdiri dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan sorot mata yang sedingin es, seolah mampu menembus setiap kebohongan yang tersimpan di balik kepala Jane.
Jane merasa harga dirinya terusik. Baginya, Scarlett hanyalah sisa-sisa masa lalu yang menyedihkan—seorang wanita yang selama lima tahun hanya tahu cara memegang sudip di dapur dan melayani suami yang tidak mencintainya. Di mata Jane, mana mungkin wanita "pindahan dapur" ini mengerti tentang sirkuit, algoritma kompleks, apalagi memiliki otoritas di perusahaan teknologi sebesar UME?
"Jane," suara Scarlett memecah keheningan tangga darurat, rendah namun berwibawa. "Apa yang kamu lakukan di lantai atas? Itu area kantor pribadi Pak Mavin. Di sana tersimpan dokumen rahasia perusahaan yang tidak boleh diakses asisten sembarangan."
Wajah Jane memucat sesaat, namun dengan cepat ia memasang topeng angkuh yang menjadi ciri khasnya. "Aku tidak mencuri apa-apa! Aku hanya... hanya ingin mengantar sarapan untuknya. Memangnya salah seorang asisten memperhatikan atasannya?"
"Sarapan?" Scarlett melirik tangan Jane yang kosong dengan tatapan menghina. "Aku tidak melihat kotak makan atau bungkusan apa pun. Kamu naik dengan tangan kosong, dan turun dengan wajah panik. Berikan aku satu alasan logis kenapa aku tidak perlu memanggil keamanan sekarang juga."
Tensi di tangga itu meningkat drastis. Jane merasa tersudut. Kebohongannya yang dangkal mulai retak di bawah tatapan tajam Scarlett yang seakan-akan merupakan pemindaian sistematis. Namun, alih-alih menyerah, Jane justru meledak dalam amarah yang defensif.
"Atas dasar apa aku harus menjelaskan semuanya padamu?!" bentak Jane, suaranya bergema nyaring di lorong tangga yang sunyi. "Hanya karena Mavin membantumu masuk ke sini karena rasa kasihan, bukan berarti kamu punya hak untuk menginterogasiku! Scarlett, aku tahu akal bulusmu. Kamu mencoba menggoda Mavin, kan? Kamu ingin berselingkuh karena Devan sudah tidak sudi menyentuhmu lagi?"
Jane mencoba menerjang maju, bermaksud menabrak bahu Scarlett dengan kasar untuk menunjukkan dominasinya seperti yang biasa ia lakukan di rumah keluarga mereka dulu. Namun, Scarlett bergerak dengan gerakan yang sangat halus namun presisi—seperti predator yang sudah membaca setiap inci langkah mangsanya. Ia bergeser satu inci, membuat Jane terhuyung menabrak angin dan nyaris jatuh tersungkur ke anak tangga bawah.
Scarlett berbalik, aura otoritasnya kini meluap, memenuhi ruang sempit itu dan membuat Jane merasa kecil.
"Jane, dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya," ucap Scarlett, setiap katanya ditekan dengan ancaman yang nyata. "Ini bukan rumah Keluarga Permana di mana kamu bisa merengek dan mendapatkan apa pun. Ini UME. Di sini, aku adalah kepalamu. Aku adalah atasanmu. Kariermu di industri ini berada di ujung pulpenku. Sekali lagi kamu melangkah melewati batas, aku pastikan namamu masuk daftar hitam di seluruh Nordigo."
Jane gemetar hebat. Ia ingin membalas, namun lidahnya terasa kelu saat menyadari bahwa wanita di depannya ini bukan lagi Aulia yang lemah. Keheningan itu mencekam sampai Scarlett mengeluarkan sebuah map biru dari balik lengannya.
"Bawa dokumen proyek ini ke divisi promosi sekarang. Pastikan sampai ke tangan Kepala Divisi dalam sepuluh menit."
Jane menyambar map itu dengan geram, matanya berkilat penuh dendam. "Kenapa harus aku? Yang lain bisa melakukannya! Aku sedang sibuk!"
"Sibuk apa?" Scarlett bertanya datar, matanya menyipit penuh selidik.
Sibuk yang dimaksud Jane adalah rencana besarnya malam ini: ia telah menyuap sekretaris Mavin dengan perhiasan berlian edisi terbatas agar bisa menggantikan posisinya di jamuan makan malam bisnis penting. Ia butuh waktu untuk berdandan menjadi "Nyonya Mavin" di masa depan, bukan menjadi kurir Scarlett.
"Tugas dari Pak Henry! Aku sedang mengerjakan riset khusus untuknya. Jadi jangan ganggu aku dengan urusan remeh ini!" Jane berbalik dan mengentakkan kakinya pergi, meninggalkan lorong tersebut.
Scarlett menatap punggung Jane dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu Jane berbohong secara total. Henry, meskipun sombong, tidak akan memberikan tugas riset pada asisten yang bahkan tidak mengerti dasar-dasar teknik.
Ada sesuatu yang sedang direncanakan Jane, dan Scarlett tahu, ini bukan sekadar urusan asmara atau jabatan sekretaris. Ini adalah awal dari sabotase yang lebih besar yang melibatkan Henry dan kemungkinan besar, Meli di balik layar.
Aulia kembali ke mejanya dan segera membuka log aktivitas server. Ia harus bertindak cepat. Jika Jane mencoba mendekati Mavin untuk mendapatkan akses data, berarti waktu perlindungan data teknisnya semakin menipis. Akankah Scarlett berhasil menjebak Jane dalam permainannya sendiri malam ini?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.