NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama yang Fatal

Malam di kediaman Mahardika selalu terasa lebih panjang daripada siang harinya. Jam besar di aula utama berdenting satu kali, menandakan pukul satu dini hari. Baskara berdiri di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka, menunggu isyarat. Ia telah menanggalkan kemeja kantornya dan mengenakan pakaian serba hitam, bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan koridor.

Ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari Alea: “Ibu sudah masuk ke kamar mandi untuk ritual perawatannya. Aku punya waktu sepuluh menit.”

Baskara segera melangkah keluar. Jantungnya berdegup dengan ritme yang terjaga. Ini adalah langkah paling berisiko sejak ia menginjakkan kaki kembali di rumah ini. Ruang kerja pribadi Sarah adalah area terlarang; bahkan Baskoro pun jarang masuk ke sana tanpa izin istrinya.

Di ujung lorong dekat sayap barat, Alea sudah menunggu. Wajah gadis itu tampak pucat di bawah temaram lampu dinding. Ia memegang sebuah tas kecil milik Sarah dengan tangan yang gemetar hebat.

"Kau yakin ingin melakukan ini, Baskara?" bisik Alea, suaranya hampir hilang ditelan kesunyian. "Jika dia tahu... dia tidak akan pernah memaafkanku."

"Dia tidak akan tahu, Alea. Selama kau tetap tenang," jawab Baskara sambil mengambil kunci kuningan dari dalam tas tersebut. Ia menatap mata Alea, mencoba menyalurkan keberanian palsu. "Ingat, ini untuk mencari kebenaranmu juga."

Di Dalam Ruang Rahasia

Pintu kayu jati itu terbuka tanpa suara setelah Baskara memutar kuncinya. Ruang kerja Sarah sangat kontras dengan bagian rumah lainnya yang bergaya klasik; ruangan ini dingin, modern, dan sangat rapi. Baskara segera menuju sebuah lemari besi yang tertanam di dinding di balik lukisan potret keluarga mereka yang palsu.

"Cepat, Baskara. Aku mendengar suara air di kamar mandi sudah berhenti," Alea berjaga di ambang pintu, matanya melirik gelisah ke arah koridor.

Baskara tidak menjawab. Ia memasukkan kode yang berhasil ia intip dari rekaman kamera tersembunyi yang sempat ia pasang minggu lalu di meja kerja Sarah. Klik. Pintu brankas terbuka.

Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau perhiasan. Hanya ada beberapa map kulit tua dan sebuah flash drive berwarna merah dengan label bertuliskan "SURYAKENCANA - 1995".

Tangan Baskara menyambar flash drive itu. Namun, matanya tertuju pada sebuah map berwarna cokelat kusam yang terselip di bagian paling bawah. Ia membukanya sekilas. Isinya bukan laporan keuangan, melainkan foto-foto lama dan sebuah akta kelahiran.

"Alea Arkananta," gumam Baskara saat membaca nama di akta itu. Di bawahnya, terdapat foto seorang pria dan wanita muda yang sedang menggendong bayi di depan sebuah truk besar berlogo lumba-lumba. Wajah pria itu sangat mirip dengan Alea.

"Baskara! Dia keluar! Sarah keluar dari kamarnya!" suara Alea meninggi karena panik.

Baskara dengan cepat mengembalikan map itu, mengunci brankas, dan menarik Alea menjauh dari pintu tepat saat suara langkah kaki stiletto Sarah mulai terdengar di koridor lantai atas.

Pertemuan yang Menyesakkan

Mereka tidak sempat kembali ke kamar masing-masing. Langkah kaki itu semakin dekat. Baskara menarik Alea ke dalam ceruk gelap di bawah tangga utama, menekan tubuh gadis itu ke dinding untuk bersembunyi.

Alea bisa merasakan napas Baskara di keningnya. Tubuhnya gemetar hebat, air mata mulai menggenang karena ketakutan yang luar biasa. Baskara meletakkan jarinya di bibir, memberi isyarat agar Alea tidak bersuara.

Sarah muncul di balkon lantai dua, mengenakan jubah sutra merah marun. Ia memegang segelas air, matanya menyisir lantai bawah dengan curiga. Ia sempat berhenti tepat di atas posisi mereka bersembunyi. Suasana begitu sunyi hingga detak jantung Alea terasa seperti dentuman genderang bagi Baskara.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Sarah mendengus kecil dan kembali masuk ke kamarnya.

Konsekuensi dan Keraguan

Baskara melepaskan Alea. Gadis itu langsung merosot ke lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Baskara... Aku merasa seperti pengkhianat," isak Alea pelan.

Baskara berjongkok di hadapannya. Rasa bersalah mulai menggerogoti rencananya. Ia memegang flash drive merah itu di kantongnya—kunci untuk menghancurkan Sarah, tapi juga kunci yang akan menghancurkan seluruh hidup Alea. Jika ia mengungkap isinya, Alea akan tahu bahwa "Ibu" yang ia cintai adalah pembunuh orang tuanya.

"Kau bukan pengkhianat, Alea. Kau adalah korban yang sedang mencari jalan pulang," ujar Baskara dengan nada yang kini lebih tulus daripada manipulatif.

Ia membantu Alea berdiri dan mengantarnya hingga ke depan kamar. Sebelum Alea masuk, ia menatap Baskara dengan tatapan yang hancur. "Jika apa yang kau cari di dalam sana ternyata menyakitkan... apakah kau tetap akan memberitahuku?"

Baskara terdiam. Ia melihat kepolosan yang sedang dipertaruhkan. "Kebenaran sering kali menyakitkan, Alea. Tapi kebohongan akan membunuhmu perlahan."

Baskara kembali ke kamarnya, segera menyalakan laptop dan memasukkan flash drive tersebut. Layar monitornya menyala, menampilkan dokumen-dokumen bertajuk "Proyek Erase: Likuidasi Aset Suryakencana".

Di sana, tertulis dengan jelas instruksi dari ayahnya, Baskoro, dan eksekusi teknis oleh Sarah: “Pastikan tidak ada saksi hidup dari keluarga Arkananta. Anak tersebut akan dipelihara sebagai jaminan asuransi hukum.”

Baskara mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Ini bukan lagi sekadar tentang perusahaan ibunya. Ini adalah tentang sebuah kejahatan kemanusiaan yang terstruktur. Dan sekarang, dia memegang senjata paling mematikan untuk menghancurkan ayahnya dan Sarah, namun Alea akan menjadi korban ledakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!