NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEDAMAIAN YANG RAPUH

Ketegangan di lorong supermarket itu terasa mencekik. Kayla mematung, tangannya yang gemetar mencengkeram erat pegangan kereta bayi Ariel. Sosok pria yang sangat mirip dengan Adrian itu menghilang di balik rak makanan kaleng secepat ia muncul. Apakah Adrian benar-benar selamat dari ledakan itu? Ataukah Aris sedang memainkan drama psikologis baru untuk menguji loyalitasnya?

Tiba-tiba, ponsel di saku Kayla bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal:

> "Jangan tertipu oleh bayangan, Kayla. Fokuslah pada instruksiku. Pulang sekarang dan siapkan makan malam untuk tiga orang. Aku akan datang malam ini."

>

Jantung Kayla seakan berhenti berdetak. Malam ini. Aris, pria yang selama ini hanya menghantuinya lewat frekuensi radio dan pesan singkat, akhirnya akan menampakkan wujud fisiknya .

Malam itu, apartemen kecil Kayla terasa seperti ruang tunggu eksekusi. Ia menata meja makan dengan tangan yang dingin. Tiga piring, tiga set alat makan. Di kamar sebelah, Ariel tertidur lelap, tidak menyadari bahwa ayahnya sedang melangkah mendekat dari kegelapan.

Tepat pukul delapan, terdengar ketukan pelan di pintu. Bukan ketukan paksa, melainkan ketukan yang tenang dan berwibawa. Kayla membukanya dengan napas tertahan.

Aris berdiri di sana.

Dia tidak lagi mengenakan pakaian kumuh seperti saat di hutan. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, namun wajahnya... wajahnya adalah peta dari penderitaan. Luka bakar di sisi kirinya telah mengering, meninggalkan bekas luka permanen yang mengkilap di bawah lampu lorong. Ia mengenakan penutup mata hitam pada mata kirinya yang rusak, membuatnya tampak seperti penguasa kegelapan yang baru saja bangkit dari liang lahat.

"Kau merindukanku, Kayla?" suara Aris terdengar lebih rendah, serak, namun memiliki kelembutan yang mematikan.

Kayla tidak menjawab dengan teriakan. Ia justru merasakan dorongan aneh—sebuah campuran antara rasa takut yang murni dan kerinduan traumatis yang sulit dijelaskan. Ia melihat pria yang telah menghancurkannya, namun juga pria yang telah mengorbankan segalanya untuk menjemputnya kembali.

"Masuklah, Aris," ucap Kayla pelan.

Mereka makan dalam keheningan yang menyesakkan. Aris sesekali melirik ke arah kamar Ariel dengan tatapan yang hampir terlihat... tulus. Ia tidak meledak marah, ia tidak berteriak tentang Adrian. Sepertinya, ledakan di gunung itu telah membakar habis sebagian dari kegilaan impulsifnya, menyisakan sebuah obsesi yang lebih dingin dan terencana.

"Aku sudah membereskan segalanya, Kayla," ucap Aris sambil meletakkan garpunya. "Adrian memang selamat dari ledakan itu, pria bertopeng yang kau lihat di supermarket adalah salah satu orangnya yang mencoba memancingmu. Tapi jangan khawatir... siang tadi, aku sudah memastikannya benar-benar 'pergi' untuk selamanya."

Kayla tersedak. "Kau membunuhnya? Kakakmu sendiri?"

Aris menatap Kayla dengan mata kanannya yang tajam. "Siapa pun yang mencoba berdiri di antara aku, kau, dan Ariel, tidak berhak untuk bernapas. Dia ingin menjadikan anak kita subjek penelitian. Aku ingin menjadikannya raja. Kau tahu siapa yang lebih layak memenangi perang ini."

Bab: Transformasi Menuju Keluarga "Bahagia"

Setelah makan malam, Aris mendekati keranjang bayi Ariel. Untuk pertama kalinya, Kayla melihat Aris menggendong putranya dengan sangat hati-hati. Tidak ada amarah di sana, hanya ada kebanggaan yang mendalam. Ariel terbangun, namun bukannya menangis, bayi itu justru meraih wajah Aris—meraba bekas luka bakar yang kasar itu dengan tangan mungilnya.

Aris memejamkan mata, setetes air mata jatuh dari matanya yang sehat. "Dia tidak takut padaku, Kayla."

Di titik itulah, benteng pertahanan terakhir Kayla runtuh. Ia melihat seorang monster yang sedang mencoba menjadi manusia demi anaknya. Ia mendekati Aris, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, dan mereka berdiri bertiga dalam pelukan yang aneh dan beracun.

"Kita akan pergi ke tempat yang sudah kusiapkan," bisik Aris di telinga Kayla. "Sebuah rumah di tepi danau yang jauh dari jangkauan siapa pun. Tidak ada pengawasan kamera, tidak ada kode rahasia. Hanya aku, kau, dan Ariel. Aku akan belajar menjadi suami yang kau inginkan, asalkan kau berjanji satu hal..."

"Apa itu?" tanya Kayla.

"Jangan pernah mencoba lari lagi. Karena jika kau lari, aku tidak akan mencarimu... aku akan membakar dunia ini agar kau tidak punya tempat untuk bersembunyi selain di pelukanku."

Kayla mengangguk. Ia memilih untuk menyerah pada takdir ini. Ia memilih untuk mencintai monster yang ada di depannya daripada terus berlari dalam ketakutan yang tak berujung. Bagi Kayla, kebahagiaan mungkin bukan tentang kebebasan, melainkan tentang memiliki seseorang yang rela menghancurkan dunia hanya untuk memastikannya tetap berada di sampingnya.

Minggu-minggu berikutnya di rumah tepi danau itu adalah masa-masa yang hampir terasa... normal. Aris mulai menjalani terapi untuk cedera otaknya secara rahasia. Ia tidak lagi mengalami delusi hebat. Ia menghabiskan waktunya mengajari Ariel kecil merangkak di atas rumput hijau, sementara Kayla melukis di beranda.

Masyarakat sekitar mengenal mereka sebagai keluarga pengusaha sukses yang sedang menjalani masa pensiun dini. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum ramah Aris, tersimpan sejarah darah dan api. Dan tidak ada yang tahu bahwa Kayla, setiap kali menatap danau yang tenang, selalu berbisik pada dirinya sendiri bahwa ia telah menemukan kedamaian dalam penjara emas yang paling ia cintai.

Keluarga ini lahir dari kegelapan, tumbuh dalam pengkhianatan, namun akhirnya menemukan cara untuk bersinar dengan caranya sendiri .

Rumah di tepi danau itu memang indah. Cahaya matahari pagi selalu memantul di permukaan air yang tenang, memberikan ilusi bahwa hidup mereka telah benar-benar bersih dari noda darah. Ariel kini sudah mulai bisa berjalan, langkah-langkah kecilnya mengisi keheningan rumah besar itu.

Aris benar-benar mencoba. Ia menghujani Kayla dengan hadiah, perhatian, dan kasih sayang yang luar biasa posesif. Namun, Kayla menyadari satu hal: Aris telah membangun sistem keamanan yang jauh lebih canggih di rumah ini daripada yang pernah ada di rumah mewah dulu. Sensor gerak, kaca antipeluru, dan pengawal yang menyamar sebagai tukang kebun.

"Kenapa semua ini masih perlu, Aris?" tanya Kayla suatu sore saat mereka sedang menonton Ariel bermain. "Kau bilang Adrian sudah mati."

Aris menatap danau dengan pandangan kosong. "Adrian mungkin sudah mati, Kayla. Tapi Organisasi tidak pernah mati. Mereka masih mencari data yang dicuri Adrian, dan mereka tahu anak itu adalah kunci dari segalanya."

Ketakutan Aris terbukti. Suatu malam, saat badai petir kembali melanda—seolah-olah alam selalu memberi sinyal sebelum bencana datang—seluruh sistem keamanan rumah tiba-tiba mati total.

Aris seketika waspada. Ia meraih senjata yang selalu ia sembunyikan di balik lukisan ruang tamu. "Kayla, bawa Ariel ke ruang bawah tanah. Sekarang!"

Namun, sebelum Kayla sempat bergerak, pintu depan meledak. Bukan dengan cara yang kasar, melainkan dengan presisi tingkat tinggi. Tiga orang berseragam hitam masuk, dan di belakang mereka, muncul seorang wanita berambut pirang dengan setelan jas abu-abu yang dingin.

"Aris... kau sungguh merepotkan," ucap wanita itu. "Kami butuh anak itu. Organisasi telah berinvestasi terlalu banyak pada genetikanya."

Bab: Perlawanan Berdarah

Aris berdiri di depan Kayla dan Ariel, menjadi perisai hidup bagi mereka. "Kalian tidak akan menyentuh keluargaku!"

Pertempuran pecah di dalam ruang tamu yang mewah itu. Aris bertarung seperti singa yang terluka. Ia tidak lagi memikirkan keselamatannya sendiri. Di tengah kekacauan, Kayla melihat Aris terkena tembakan di bahunya, namun ia tidak berhenti. Ia justru menerjang lawan-lawannya dengan kemarahan yang luar biasa.

Kayla, yang selama ini selalu menjadi pihak yang dilindungi, tiba-tiba merasa sesuatu dalam dirinya meledak. Ia tidak ingin lagi menjadi korban. Ia meraih sebuah vas bunga kristal yang berat dan menghantamkannya ke kepala salah satu penyusup yang mencoba mendekati Ariel.

"Jangan. Sentuh. Anakku!" teriak Kayla.

Di tengah perkelahian itu, wanita pemimpin penyusup itu tertawa kecil. "Kau bodoh, Aris. Kau pikir kau melindunginya? Kau tahu apa yang ada di dalam berkas yang dibawa Adrian? Anak itu bukan hanya sekadar genetikmu. Dia adalah subjek yang sudah dimodifikasi sejak di dalam kandungan melalui vitamin-vitamin yang kau berikan pada Kayla!"

Kayla tertegun. Ia teringat vitamin-vitamin dari Aris... vitamin yang dikirimkan ke gubuk... semuanya.

"Kau tahu itu, Aris?" tanya Kayla dengan suara bergetar.

Aris terdiam sejenak, wajahnya yang cacat tampak penuh penyesalan. "Aku baru mengetahuinya setelah ledakan itu, Kayla. Itulah sebabnya aku ingin menjauhkanmu dari mereka. Aku ingin melindungimu dari hasil perbuatanku sendiri."

Wanita itu kembali mengarahkan senjatanya. "Cukup dramanya. Berikan bayi itu!"

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ariel, yang tadinya menangis, tiba-tiba berhenti. Bayi itu menatap wanita penyusup itu dengan tatapan yang sangat dingin dan dewasa—tatapan yang persis seperti Aris saat sedang marah. Secara misterius, seluruh lampu di rumah itu meledak secara bersamaan, menciptakan kegelapan total.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!