NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Nadir

Pintu ruang kerja Elang terbanting keras. Seorang pria tua dengan rambut memutih namun tubuh yang masih tegap dan sehat, Pak Darmawan, ayah Elang, masuk dengan wajah merah padam. Ia menghantamkan tongkat kayunya ke lantai hingga suaranya bergema ke seluruh ruangan. 

“Apa yang kamu lakukan, Elang?! Kamu ingin menghancurkan apa yang sudah aku dan kakekmu bangun selama puluhan tahun?!” teriak Darmawan tanpa memedulikan staf di luar yang mulai berbisik. 

Elang berdiri, mencoba tetap tenang meski hatinya berdenyut nyeri. “Aku sedang mangaudit semuanya, Yah. Ada pengkhianat di dalam sini.”

“Pengkhianat?” Pak Darmawan tersenyum sinis. “Satu-satunya pengkhianat di sini adalah kamu. Sejak peristiwa yang terjadi pada istrimu, dan anakmu jadi… cacat mental, kamu sudah kehilangan taringmu.”

Rahang Elang mengeras, tangannya terkepal. “Tolong, jangan sebut Kanara seperti itu.”

“Itu kenyataannya! Kamu membiarkan emosimu mengambil alih. Kamu menghabiskan waktumu di rumah, bolak-balik mencari dokter jiwa buat anakmu, kamu tidak fokus pada perusahaan. Sekarang, lihat hasilnya! Perusahaan ini di ambang kehancuran karena pemimpinnya terlalu lembek dan sibuk meratapi nasib.”

Hinaan ayahnya terasa lebih tajam dari sembilu. Di saat Elang membutuhkan dukungan keluarga untuk mencari tahu siapa pelakunya, ia justru di salahkan karena kondisi Kanara, satu-satunya hal berharga yang ia miliki.

“Lakukan konferensi pers siang ini,” perintah Darmawan dingin. “Berhenti bicara soal pengkhianat kalau kamu belum punya buktinya. Katakan itu sebagai kesalahan sistem atau manajemen risiko. Selamatkan harga saham kita, atau dewan direksi akan mencopotmu hari ini juga.”

*********”

Aula utama gedung sudah penuh sesak dengan wartawan. Kilatan lampu kamera menyilaukan mata saat Elang melangkah naik ke atas podium. Di barisan depan, terlihat Aditya dengan wajah prihatin, sekali-kali mengangguk pada rekan bisnis, memperlihatkan dia adalah orang paling setia di sisi Elang. 

Elang berdiri di depan puluhan mikrofon. Ia merasa sangat sendirian. Namun, tiba-tiba terbayang wajah Kanara dan… Nura. Mereka berdua menunggunya di rumah. 

Elang memejamkan matanya. Bayangan itu seolah memberinya kekuatan tambahan. Elang menegakkan punggungnya, menatap tajam ke arah kamera.

“Selamat siang semuanya,” suara Elang menggema, berat dan penuh otoritas. “Saya di sini bukan untuk memberikan alasan. Benar bahwa perusahaan kami mengalami kebocoran dana yang signifikan.”

Bisikan riuh mulai terdengar di ruangan. 

“Namun,” Elang melanjutkan, matanya melirik sekilas ke arah Aditya, seolah meminta dukungan. Aditya memberikan anggukkan, “Saya tidak akan menyebut ini sebagai kesalahan sistem. Ini adalah tindakan kriminal yang direncanakan dengan sangat rapi oleh seseorang yang sangat dekat dengan jantung perusahaan ini.”

Pak Darmawan yang berdiri di sudut ruangan tampak sangat geram karena Elang tidak mengikuti naskah yang ia berikan. 

“Saya akan menyelidiki sampai tuntas siapa orang di balik semua ini. Bukti-bukti sedang kami kumpulkan. Jadi, siapapun Anda…” Elang memberikan tatapan predator ke arah kamera. “Saya akan segera membawa Anda ke meja kepolisian.”

“Dan satu hal lagi…,” tegas Elang. “Perusahaan ini berdiri tegak bukan karena uang, tapi karena integritas. Saya tidak akan membiarkan siapapun, termasuk keluarga saya sendiri, membungkam kebenaran demi harga saham.”

Elang menutup pernyataannya dengan langkah mantap keluar dari aula, meninggalkan kegaduhan luar biasa di belakang.

Begitu masuk ke dalam mobil, Elang menyandarkan kepalanya di sandaran jok. Ia baru saja mendeklarasikan perang terbuka. Ia tahu posisinya sebegai CEO kini berada di ujung tanduk karena telah membangkang perintah ayahnya. 

Ia mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik pesan untuk Nura. 

Elang: "Aku dalam perjalanan pulang, Ra.”

Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk.

Nura: “Baik, Pak. Saya dan Kanara melihat Bapak di televisi. Saya melihat mata Kanara berbinar saat menatap Bapak. Bapak adalah sosok pahlawan di matanya.”

Air mata yang sejak tadi ia tahan hampir saja luruh. Di tengah dunia yang coba menghancurkannya, masih ada tempat aman untuk pulang.  Nura dan Kanara. 

**********

Sore itu, Jakarta diguyur hujan deras, seolah langit ikut merasakan kegaduhan yang baru saja Elang ciptakan di podium konferensi pers. Elang mematikan mesin mobilnya di depan rumah, namun ia tidak segera turun. Ia hanya duduk diam di balik kemudi, menatap pintu utama dari kaca depan yang basah. 

Tubuhnya terasa remuk, tapi mentalnya jauh lebih hancur. Kalimat ayahnya yang menyebut Kanara sebagai ‘anak cacat’ masih terngiang, beradu dengan wajah samar yang ingin menghancurkan dirinya lewat perusahaan. 

Begitu pintu utama terbuka, keheningan rumah menyambutnya. Namun, kali ini keheningan itu terasa berbeda, tidak lagi mencengkam tapi menenangkan. Nura muncul dari arah ruang tengah, masih mengenakan kardigan rajut tipisnya. 

“Pak Elang?” panggil Nura lembut. 

Elang hanya berdiri mematung di ambang pintu. Jasnya tersampir asal di lengan, kemejanya berantakan. Saat Nura mendekat, ia langsung mengambil tangan Nura, menjalin jemarinya di antara jemari Nura. 

Nura menunduk melihat jalinan jemari itu, kemudian mengangkat wajahnya menatap mata Elang yang memerah. Nura meremas tangan Elang, menandakan kalau ia memberikan dukungan penuh pada Elang.

Elang memejamkan mata, merasakan remasan jemari Nura. Hatinya yang tadi hancur secara perlahan tersusun kembali. Nura tersenyum lembut saat Elang kembali membuka matanya. 

Tanpa suara, Nura menuntun pria itu menuju sofa panjang di ruang tengah. Ia menududukkan Elang di sana, mengambil jas dan tas kerjanya, kemudian diletakkan di atas meja. Ia kemudian beranjak ke dapur. Tak lama, ia kembali membawa nampan berisi segelas susu coklat hangat.

Ia meletakkan nampan itu di meja, memberikan gelas susu coklat itu ke tangan Elang. “Minum ini dulu, Pak. Biar badannya hangat.”

Elang menerima gelas itu, menyesapnya perlahan hingga habis. Ia lalu meletakkan gelasnya, tangannya terangkat menyentuh kepala Nura, mengusap rambutnya dengan lembut. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun frekuensi hari mereka berada di gelombang yang sama. 

“Ayah…”

Kanara berdiri di ujung tangga, mengenakan piyama bermotif bintang, memegang sebuah buku gambar besar dan krayon yang berantakan di pelukannya. Matanya yang jernih menatap langsung ke arah Elang yang tampak kacau di sofa.

Kanara berjalan mendekat. Nura menepi, memberikan ruang bagi gadis kecil itu. Anak itu naik ke sofa, duduk di samping Elang. Tanpa sepatah katapun, ia membuka buku gambarnya dan menyodorkan selembar kertas yang sudah dipenuhi dengan coretan warna-warni. 

Itu adalah gambar tiga orang yang berpegangan tangan di bawah matahari yang sangat besar. Ada sosok pria tinggi, sosok wanita berambut panjang, dan seorang anak di tengahnya. Di bagian bawah, ada tulisan tangan kaku yang baru saja dipelajarinya, ‘Ayah Kuat’.

Hati Elang serasa diremas. Kekakuan yang ia bangun di depan ayahnya tadi siang runtuh seketika. Ia menarik Kanara ke pangkuannya, memeluk putrinya dengan sangat erat hingga bahunya bergetar. Kanara membalas pelukan itu dengan melingkarkan lengan kecilnya di leher Elang, menepuk-nepuk punggung ayahnya, seolah mencoba menirukan cara Nura menenangkan dirinya. 

“Terima kasih, Sayang… terima kasih,” bisik Elang dengan suara serak. 

Nura yang melihat pemandangan itu harus menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak pecah. Ia sangat haru melihat Kanara, yang sebelumnya tenggelam dalam traumanya sendiri, kini justru menjadi penyembah bagi ayahnya. 

Namun, keharuan itu pecah saat gedoran keras terdengar dari pintu depan, disusul suara bariton keras Pak Darmawan memanggil nama Elang dengan penuh amarah. 

Elang kembali menegakkan punggungnya, namun kali ini ia tidak tampak serapuh tadi. Ia menurunkan Kanara, menatap Nura, lalu menggenggam erat wanita itu seolah sedang mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya. 

“Tetap di sini, Ra,” bisik Elang. “Jaga Kanara. Jangan biarkan dia melihat Kanara atau dirimu ketakutan. Karena bagiku, kalian adalah satu-satunya hal yang benar di hidupku saat ini. 

1
NyonyaGala
diam dan menghindar berarti copying mechanisme nura ya 🥺 huhu pokoknya selain kanara, nura pun harus bisa pulih
NyonyaGala
aduuuh ada yang galau pasti inii karena nura menjauhh
Nadinta
Pak, sudah merasakan jejak jejak cinta kahh hhaha
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
Nura tulus sayang sama anak kamu, krn itu Kanara bisa tersenyum 😊
Xlyzy
Kanara tampak tenang kalau di temani Nura memang cocok lah mereka ini
Xlyzy
pak elang emosi nya jangan Bawak ke rumah takut nya ga sengaja bikin Nura takut
sjulerjn29
ini vibes nya kaya suami disambut anak istri di rumah saat pulang kerja ya..🤭
sjulerjn29
jangan sampai karena ada masalah di kantor nanti elang marah atau melampiaskan ke kanara atau nura
Addb_Rh
susah ya ngadepin anak trauma kaya Kanara, harus hati-hati benerrr😩
Addb_Rh
Elang, jan goda anak gadis. bahaya lhooo bapernya nanti nembusss😌
ginevra
selamat malam sayang
ginevra
wah... nangis sih aku kalau jadi elang....
ginevra
seneng banget lihatnya... kanara akhirnya punya teman di rumah.
ginevra
ya, mending ikhlasin aja sih... nggak harus jadi CEO kan... turun jabatan dibawahnya juga nggak apa apa.
Aruna02
🤣🤣 akhirnya 😘😘
Aruna02
ya tuhan sampe bundir pak hendra
GreenForest
🤭🤭 akhirnya kesampaian juga bang duda. Semoga setelah ini hubungan kalian lebih serius dari sebelumnya
Ayank~Oma
Jaga jarak, jaga hatimu Nura, manusia kayak gitu sulit untuk berubah. Jangan harap menjalani hubungan serius dengan Elang akan berjalan mulus tanpa kendala.
Ayank~Oma
Jadi curiga sama bapaknya sendiri. Jangan jangan Darmawan ingin menghancurkan anaknya sendiri 🤔
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
seneng bgt interaksi semakin membaik 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!