NovelToon NovelToon
Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Dilamar Si Cantik Tak Dikenal

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.

Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode Ke-22

Laras bangun lebih awal dari suaminya karena penasaran apa saja yang dilakukan mertuanya ketika pagi hari. Biasanya setiap pagi, Laras menyempatkan waktu berlari kecil atau jalan santai mengelilingi komplek perumahannya. Hanya hari ini ia meliburkan kegiatan paginya.

"Eh, Laras sudah bangun. Bagaimana tidurnya tadi malam? Apa nyenyak?" tanya Maya dengan senyuman kepada menantunya yang berdiri di sampingnya.

"Nyenyak, Bu." Jawab Laras.

"Maaf, ya, tempat tidurnya sempit. Kamar Dio juga tak terlalu besar, tidak seperti kamar kalian di sana," kata Maya.

Laras cuma tersenyum.

"Ibu belum menyiapkan sarapan, kita ke warung dulu, ya!" ajak Maya.

"Ke warung mau apa, Bu?" tanya Laras.

"Belanja lauk pauk dan sayuran," jawab Maya.

Keduanya berangkat ke warung sembako dan sayuran yang jaraknya hanya 200 meter. Sesampainya di sana, mata para ibu-ibu terarah kepada Laras.

"Menantu Bu Maya cantik, ya!" puji salah satu warga.

"Iya, Bu!" ucap Maya tersenyum.

"Kapan Bu Maya buat resepsi pernikahannya Dio di kampung ini?" tanya salah satu warga lainnya.

"Tidak ada. Nanti saja kalau Diana menikah, pasti ibu-ibu semua saya undang!" jawab Maya.

Selesai berbelanja, mereka kembali dengan berjalan kaki. Maya mengeluarkan isi kantong belanjaannya.

"Biar Ibu saja yang masak, kamu ke kamar saja!" kata Maya.

Laras mengangguk mengiyakan dan melangkah ke kamarnya.

Sejam kemudian Dio dan Laras keluar dari kamar menuju ruang makan. Mereka berlima menikmati sarapan bersama.

"Bu, Pak, saya tadi sudah bicara dengan Dio. Kami mau mengadakan acara resepsi di sini juga," kata Laras.

Derry dan istrinya lalu menoleh ke arah Laras kemudian keduanya saling melemparkan pandangannya.

"Seluruh biaya resepsi biar aku yang tanggung," kata Laras.

"Jangan, Ras. Kamu tak perlu mendengarkan omongan tadi para tetangga. Lebih baik uangmu kalian simpan buat membeli kebutuhan yang lain," ucap Maya menolak usulan menantunya.

"Tapi, mereka tidak diundang waktu pernikahan kami," kata Laras lagi.

"Suatu hari nanti kalian 'kan akan mengadakan acara. Nah, kalian boleh mengundang mereka," sahut Derry. Ia dan istrinya tak mau membebani Laras buat menyenangkan hati mereka. Dibayar utang sampai lunas dengan orang tuanya Laras sudah membuat mereka tenang.

"Benar kata Ayah, lain waktu kalian bisa mengundang mereka ke rumah kalian atau membuat acara di sini," timpal Maya setuju dengan ucapan suaminya.

Laras menoleh ke arah suaminya meminta pendapat.

"Benar kata Ayah dan Ibu, kita tak perlu lagi mengadakan acara resepsi. Sangat lelah dan capek," ucap Dio.

"Baiklah, kalau begitu!"

-

Sore harinya, Dio dan Laras balik ke rumah. Sesampainya hidangan makanan telah tersaji di meja makan. Tiga pelayan yang bertugas mengurus rumah selama mereka pergi lalu pamit pulang.

"Cella dan Yuna mengajakku bertemu di kafe Melodi. Apa kamu mengizinkan aku keluar malam ini?" pinta Laras meminta izin.

"Ada acara apa?" tanya Dio.

"Lola berulang tahun," jawab Laras.

"Kamu boleh pergi, jam sepuluh harus sudah sampai rumah," kata Dio.

"Baiklah, terima kasih!" ucap Laras senang.

Jam 7 malam, Laras berangkat menuju kafe langganan mereka dengan menyetir mobil sendiri. Dio tak dapat mengantarkannya karena capek. Dio menikmati makan malamnya sendirian. Beberapa menit kemudian, sisa makanan masih banyak ia lalu memasukkannya ke lemari pendingin.

Selang 20 menit, Laras tiba di kafe Melodi. Di sana juga tampak Rea. Sebenarnya dirinya malas jika Rea ikut bergabung dan mengobrol dengannya. Sejak suami mengenal Rea, dirinya membenci temannya itu.

"Apa kabar, Ras?" tanya Rea menyapa.

"Kita baru seminggu tak bertemu, bersikap biasa saja dan berhenti berbasa-basi," jawab Laras ketus.

Rea pun diam.

"Hari ini hari spesial Lola, kalian berdua jangan berdebat atau bertengkar!" nasihat Yuna kepada Laras dan Rea.

Kedua wanita itu tak menjawab ucapan Yuna.

Acara pun dilakukan singkat, menyanyikan lagu ulang tahun dan memotong kue. Lola menyuapi kue kepada satu persatu sahabatnya. Lalu mereka berswafoto. Tak lupa mereka juga berkaraoke ria, diiringi band kafe.

Jam 10, Laras terlebih dulu izin pamit pulang lebih awal. Sebagai seorang istri, dirinya harus menepati janji dan menghargai suaminya meskipun ia masih ingin lebih lama mengobrol dengan teman-temannya.

Laras menerobos malam dengan kecepatan sedang. Separuh perjalanannya, sebuah mobil menghentikan laju kendaraannya. Laras yang berada di mobil tampak panik dan ketakutan kala melihat 4 orang pria keluar dari mobil yang menghentikan lajunya.

Laras mengeluarkan ponselnya dari tasnya lalu menghubungi suaminya. Panggilan pertama tak terjawab, membuat Laras semakin ketakutan ditambah mendengar suara ketukan jendela yang kuat.

Laras mencoba menghubungi suaminya lagi. "Dio, angkat!!"

Ketukan jendela semakin kuat dan kencang, rasa panik dan ketakutan menjadi tak karuan.

Praangg...

Laras berteriak ketakutan mendengar suara pecahan kaca sebelah kirinya. Para pria itu berhasil menghancurkan kaca jendela mobil.

Salah satu pria berhasil masuk dan membuka pintu sebelah kanannya Laras. Seorang dari mereka, menarik Laras keluar mobil.

"Tolong, lepaskan aku!!!" teriak Laras.

Dua orang pria menarik paksa dan membawa Laras menuju mobil mereka. Laras yang sangat ketakutan terus berusaha berteriak meminta tolong. Teriakannya ternyata tak berhasil membuat orang-orang disekitar jalanan sepi itu mendengarnya.

Dio yang baru selesai dari kamar mandi, melangkah ke ranjangnya. Ia melihat ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit. "Kenapa dia belum sampai, ya?" gumamnya.

Dio lalu mengambil ponselnya diatas nakas, tertera nama istrinya dengan beberapa panggilan tak terjawab dan 2 buah pesan.

Dio, tolong aku.

Satu pesan lagi berisi lokasi tempat Laras terakhir berhenti.

Dio yang khawatir hal buruk menimpa istrinya lantas menghubungi nomor kembali. Tersambung tapi tak dijawab. Dio semakin cemas, ia kembali menghubungi Laras dan lagi-lagi membuatnya kecewa.

"Aku harus menyusulnya!" Dio mengambil kunci mobilnya dan bergegas ke tempat Laras mengirimkan lokasinya.

Dio juga tak lupa memberitahu mertuanya bahwa Laras meminta tolong dan sulit dihubungi.

Beberapa menit kemudian, Dio di jalanan tempat mobil miliknya Laras terparkir. Dio mendekati kendaraan itu, tampak kaca jendela mobil sebelah kiri hancur dengan pintu tertutup. Rasa takut dan cemas semakin besar.

Dio masuk ke mobil tas dan ponsel milik istrinya terjatuh di bawah bangku pengemudi. Dio lalu mengambilnya dan memegangnya.

"Laras... kamu di mana?" Dio berteriak memanggil nama istrinya di dalam keheningan malam.

"Laras, aku sudah di sini?" Dio berteriak lagi sembari mengedarkan pandangannya berharap istrinya muncul dan menghampirinya.

"Apa dia diculik?" batin Dio. Matanya mulai berkaca-kaca.

Mobil yang membawa Papa Johan akhirnya muncul. Pria paruh baya itu juga tampak khawatir. Ia mendekati Dio dan bertanya, "Apa yang terjadi?"

"Laras hilang, Pa!" jawab Dio yang akhirnya menangis.

1
Dew666
💥💥💥💥💥
Dew666
Loh kok tamat thor?
Dew666
🍭💎
Dew666
💜💜💜
Dew666
🍡🪸💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!