Baru menginjak kelas 12, ada saja hal yang membuat Syanza harus menghadapi Pangeran, si ketua Savero.
Ketua apanya coba, tengil gitu.
"Lo pikir, lo kodok bisa berubah jadi pangeran beneran, hah??" Ketus Syanza.
"Emang gue pangeran," balas Pangeran angkuh.
"Nama doang, kelakuan kayak setan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cipaaiinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Setelah keluar dari klinik, terpaksa Pangeran menuruti keinginam tuan putri satu ini. Apalagi kalau bukan balik ke sekolah. Menurut Syanza, sekarang masih bisa mengejar dua mata pelajaran lagi, dan jaraknya juga dekat jadi tidak perlu bolos atau pun izin pulang.
Dari sanalah sekarang Pangeran jenuh mendengarkan materi yang disampaikan guru di depannya. Bukan hanya dirinya, tetapi hampir semua teman sekelasnya merasakan hal yang sama. Mengapa demikian? Karena guru itu sudah ada lima kali mengulang materi yang sama. Sempat diberi tahu secara baik-baik oleh sang ketua kelas, tetapi kekeh guru tersebut melakukannya karena di rasa anak muridnya selalu mendapat nilai jelek dalam materi ini. Jawaban yang menohok sekali, pikir mereka. Jadi, siapa sebenarnya yang salah? Guru tersebut yang kurang dalam menyampaikan materi untuk dipahami atau diserap otak muridnya, atau memang muridnya tidak menyukai guru tersebut karena dikenal galak.
"Pangeran Alastar."
Pemuda yang dipanggil namanya sampai terperanjat, karena saking berpikir tarik. Bisa-bisanya guru itu tahu mana yang tengah fokus dan berpikiran ke mana-mana.
"Hadir, Pak," sahut Pangeran. Meskipun gemas karena namanya kurang lengkap, Pangeran sabar saja.
"Mau kerjakan soal di depan?" tanya guru tersebut.
Nah, ini sebenarnya yang tidak disukai Pangeran. Kalau anak-anak lain pada diam saat disuruh maju untuk mengisi jawaban soal itu, malah langsung diam. Tetapi saat dijelaskan dan ditanya oleh guru itu paham atau tidak, dengan percaya dirinya bilang paham. Beda lagi kalau disuruh ngerjain mah, pikir Pangeran.
"Juna katanya mau, Pak," ujar Pangeran melirik Arjuna yang diam-diam main HP dibalik buku yang ia gunakan sebagai penghalang.
Lantas Arjuna menggeleng dengan panik. "Enggak, Pak. Saya gak ada bilang gitu," jelasnya menatap penuh permusuhan pada Pangeran.
Belum sempat guru itu berkata kembali, sudah disela oleh Pangeran. "Bohong, Pak. Dia pasti lebih paham, karena sedari tadi baca buku mulu," ungkap Pangeran terkekeh puas. Memuji berkedok membuka kelakuan tidak baik temannya.
Arjuna memoloti Pangeran. Tidak puaskah ketuanya itu menyudutkan dan menyiksa dirinya ini?
Guru itu membenarkan kacamatanya dan melihat Arjuna yang memang tengah memegang pinggiran buku dengan posisi berdiri supaya tidak jatuh. Kepalanya mengangguk menyetujui saran dari Pangeran.
"Boleh ke depan, Juna," pinta guru itu mempersilakan. Nama panggilan dari Pangeran pun guru itu sebut kembali, karena tidak banyak guru yang mengingat nama muridnya, dan ada juga yang hanya tahu nama panggilsn anak tersebut.
"Tapi, Pak-"
"Coba dulu," sela guru itu.
Arjuna menghela napas gusar, kemudian berdiri dari kursinya. Tak lupa tatapan horor terus ia perlihatkan pada Pangeran yang tengah terkikik menahan tawa.
Cakra dan Jarrel nampak geleng-geleng dengan ketua mereka.
"Bapak lo, Jar," ungkap Cakra menatap aneh Pangeran yang tertawa sendiri.
"Bapak lo juga," balas Jarrel cepat.
Arjuna dengan pemikirannya tengah berperang dihadapan papan tulis itu. Tangannya yang memegang spidol pun terjeda karena berpikir ekstra dulu.
Kalau dibandingkan dengan Pangeran. Arjuna memang lumayan sebanding. Tapi masih ata Zergan di atasnya sebelum sampai ke kapasitas otak Pangeran.
"Lama amat sih," ledek Pangeran berteriak saking kesalnya menunggu.
"Pangeran."
Mendapat teguran dari sang guru, Pangeran membuang napas gusar. "Baik, Bapak," jawabnya malas.
Sabar, sabar. Itulah yang Arjuna katakan dalam hatinya. Mendapatkan ketua macam Pangeran memang sebuah penderitaan hidupnya. Dramatis sekali Arjuna ini.
Setelah memecahkan permasalahan dari soal itu. Dengan yakin, Arjuna mulai menuliskan jawabannya. Sedikit pusing memang pembelajaran geografi satu ini.
"Sudah, Pak," ujar Arjuna memberikan kembali spidol pada guru itu.
"Pinternya anak buah gue," puji Pangeran bertepuk ria. Di saat orang lain baru melihat jawaban Arjuna, dan belum memeriksanya. Berbeda dengan anak satu ini yang langsung tahu benar tidaknya jawaban tersebut.
Guru itu pun kalah cepat, dan masih menelisik jawaban yang Arjuna tulis untuk membenarkan apa yang dikatakan Pangeran. Kepalanya mengangguk bangga, dan berkata, "Bagus. Benar apa yang Pangeran katakan, jawaban kamu tepat," puji guru itu. "Kamu boleh duduk kembali."
Arjuna menggaruk tekuknya dan mengangguk, kemudian berjalan ke arah mejanya. Tidak percaya juga sebenarnya ia bisa menjawab pelajaran yang kurang disukainya. Suyukurlah tidak menambah cemoohan dari Pangeran.
"Baik, anak-anak. Karena sebentar lagi bel pulang akan terdengar. Cukup sampai di sini saja pembelajaran hari ini, dan ada tugas untuk kalian."
Mendengar kata tugas membuat semangat untuk pulang mereka pun turun anjlok. Keluhan keluar dari mulut mereka.
"Tugasnya akan bapak kirim lewat online ke ketua kelas."
"Baik, Bapak."
Tidak lama bel membahagiakan pun terdengar di seluruh antero SMA Patera.
Melihat guru telah keluar. Kelas pun menjadi ricuh bagai satwa rangunan. Heboh sekali, padahal hanya tinggal memasukkan peralatan sekolah ke dalam tas, dan menggendongnya sampai keluar, sudah. Cukup begitu saja. Yah, memang kelas didikan Pangeran dan anak buahnya, mau bagaimana lagi.
"Ran, langsung ke tempat lokasi?" tanya Cakra. Pasalnya hari ini ada tantangan dari ketua geng Lenox.
"Ganti baju dulu, kumpul di tempat biasa. Kalau langsung yang ada nama sekolah ke bawa," bijak Pangeran.
"Okelah. Gue jadi bisa jemput pacar gue dulu," ujar Cakra.
"Iyadeh si paling bucin," ledek Jarrel memutar malas bola matanya.
"Sirik bae yang gak laku," cibir Cakra.
"Heh. Gue laku, cuma gak mau aja ribet, mana banyak maunya lagi."
"Ya itu karena lo belum dapet yang tepat, bego."
"Udah. Kenapa jadi adu kecot gini sih. Gue duluan, bye!" pamit Arjuna meninggalkan mereka.
"Pangeran."
Suara dari seorang gadis itu menjadi pusat atensi mereka. Terlihat kekasih ketua Xavier itu menghampiri sendiri, dan baru kali ini menjemput Pangeran.