Seorang gadis yang berasal dari masa depan bertransmigrasi pada masa lalu di tubuh gadis bodoh keluarga petani yang miskin.
Mereka sebenarnya adalah keluarga bangsawan yang dijebak dan diasingkan.
Bisakah gadis ini dengan sistem pertanian yang mengikutinya bertransmigrasi mengubahkan dan mengangkat kembali harkat dan martabat keluarga nya...
Atau musuh-musuh ayahnya justru akan menghalangi jalannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liyo Owi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Kaya Baru
"Ayah kita pergi ke pasar dulu ya, aku mau membeli daging dulu"; pinta Joan kepada ayahnya.
"Ya"; jawab ayahnya pendek sambil menarik tali kekang ke kanan agar sapi belok ke kanan mengikuti jalan kembali ke pasar. Kakak kedua juga menarik tali kekang sapinya ke kanan mengikuti kereta ayahnya. Kakak kedua dan ketiga belajar dengan cepat dan sebentar saja mereka sudah terlihat mahir mengendalikan kereta sapi itu.
Tiba di pasar, Joan membeli 20 kg daging dan juga berapa puluh ikat sayur, berapa kilo bumbu dapur, bawang merah, bawang putih dan daun bawang.
Ayah terheran-heran melihat begitu banyak yang dibeli Joan.
"Joan, untuk apa membeli daging dan sayuran begitu banyak, apa kita mau buat pesta dan apa cukup uang untuk membayar nya. Berapa keping tembaga yang kita dapatkan dari hasil menjual ayam?"
"Tenang ayah, uangku lebih dari cukup. Kita akan membuat acara syukuran untuk peletakan tiang pertama rumah kita".
Ayah lebih terkejut lagi.
"Rumah baru, berapa puluh ribu uang tembaga yang perlu dibayarkan?".
Ayah memandang putrinya yang selalu memberikan kejutan baginya tapi dia percaya kepada Joan. Ayah merasa sangat bersyukur bahwa anaknya terlahir baru dengan membawa keajaiban. Akhirnya ayah merenung diam-diam sambil mengangkat barang-barang yang dibeli Joan
Saudara-saudaranya juga terheran-heran saat melihat kuli-kuli panggul yang bergantian membawa daging, sayuran dan barang-barang yang dibeli Joan.
Sebentar saja ke dua kereta itu sudah terisi penuh dengan barang. Diantara banyaknya barang itu, mata mereka langsung berbinar saat melihat kue-kue, permen beraneka warna dan manisan dalam banyak bungkusan.
Rupanya Joan tidak melupakan apa yang mereka suka
"Dua ekor sapi, dua ekor kambing, banyak daging, sayuran dan barang. Berapa banyak uang kakak pertama ya?".
Adik bungsu menghitung jumlah kekayaan kakaknya dengan menghitung di antara jari-jari tangannya.
Blue keluar dari belahan pakaian adik bungsu dan menyela;
"Banyak sekali, engkau tidak akan bisa menghitungnya dengan 10 jari tanganmu bahkan jika kamu tambah dengan ke 10 jari kakimu".
"Ye, kakakku kaya sekali"; kata adik bungsu dengan riang.
"Ya kudengar tadi kakak pertama akan membangun rumah baru. Aku mau kamar sendiri, aku tidak mau lagi tidur dengan kalian. Kalian selalu menendang ku kalau tidur".
"Sama, aku juga mau kamar sendiri, kakimu juga suka naik kebadanku kalau kamu tidur, belum lagi suara ngorokmu sangat nyaring";
Kedua bersaudara itu mulai bertengkar mempersoalkan siapa yang menendang siapa waktu tidur.
"Aku tidak mau kamar sendiri, aku mau sekamar dengan kakak Joan saja"; kata adik bungsu.
Joan yang datang dan mendengarkan percakapan adik-adiknya tersenyum simpul.
"Ya semua akan dapat kamar masing-masing. Adik bungsu juga dapat kamar tapi nanti adik bungsu masih boleh tidur sama kakak kalau adik bungsu merasa masih kecil "
"Siapa bilang aku masih kecil, umurku sudah 5 tahun, aku sudah besar dan aku tidak takut tidur sendiri "; kata adik bungsu dengan imut yang segera mengundang tawa keluarganya sehingga kedua kakaknya pun melupakan perdebatan mereka.
Setelah semua barang selesai dinaikkan, kedua kereta itu melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk kembali ke rumah.
Ketiga bersaudara itu memakan permen yang mereka dapatkan dari A Hui dan tidak lupa membaginya pada ayah dan Blue yang dengan senang hati memakannya bahkan dia masih merasa kurang saat sudah menghabiskan permen pertamanya dan meminta bagian Joan yang dia lihat masih ada dikantong dan tidak dimakannya.
"Blue jangan terlalu banyak makan permen nanti gigimu cepat rusak, itu kata kakak Joan";
Kata adik bungsu menegur Blue. Blue membuka mulutnya lebar-lebar dan menunjukkan kepada mereka bahwa tidak ada gigi dalam mulutnya.
Mata adik bungsu membelalak dan membulat.
"Aiya, baru makan satu permen saja, Blue sudah kehilangan semua giginya, kakak jangan beri lagi Blue permen seumur hidupnya ".
Blue cepat -cepat memasukkan paruhnya ke dalam kantong baju Joan dan mengambil permen itu dengan paruhnya.
"Burung mana ada giginya, aku dari lahir memang sudah tidak punya gigi. Jadi tidak masalah kalau aku makan permen sebanyak -banyaknya"; kata Blue cepat sambil menelan permen nya.
Joan tertawa lebar, tetapi dia tetap berkata kepada Blue.
"Meskipun kamu tidak punya gigi, tetap saja tidak boleh makan banyak makan permen nanti tenggorokan mu radang dan batuk".
"Nah benarkan, ayo jadi anak baik seperti diriku yang menurut dan patuh pada kakak dan orang tua"; kata adik bungsu seperti nenek yang memberikan petuah pada cucunya.
Kembali tawa terdengar di kedua kereta yang berjalan beriringan itu
Tidak lama adik bungsu sudah tertidur dengan manisnya di pangkuan Joan.
Joan juga menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya dan tidak lama kemudian dia juga jatuh tertidur.
Sambil satu tangan memegang kendali sapi, satu tangan lainnya dari ayahnya memeluk bahu Joan.
Kedua kakak yang lain di kereta kedua tidak tertidur, justru mereka dengan gembira sambil menyanyikan lagu.
"Aku adalah gembala
Selalu riang serta gembira.
Tak pernah aku malas berkerja.
Tak pernah malas ataupun lengah."
"Tra la la la la la"
Tra la la la la la
Tra la la la la la
Tra la la la la la
Setiap hari kubawa ternak
Ke Padang rumput di kaki bukit
Rumputnya hijau subur dan banyak
Ternakku makan tak pernah sedikit
Berapa
Tra la la la la la
Tra la la la la la
Tra la la la la la
Tra la la la la la
Mereka mengulangi menyanyikan lagu itu berulang -ulang. Ayah tersenyum-senyum sendiri sambil terus mengemudikan kereta.
Hatinya bahagia melihat anak-anaknya akhirnya bisa tertawa gembira setelah melewati banyak kepahitan dalam hidup mereka.
Dari lahir anak-anaknya tidak pernah merasakan kehidupan yang baik tetapi meskipun begitu mereka tidak pernah kehilangan kehangatan keluarga.
Ke dua kereta itu memasuki jalan masuk desa itu dan segera mendatangkan keributan yang cukup besar saat penduduk desa itu melihat kereta yang ditarik dua ekor sapi itu.
"Milik siapa kereta itu, begitu megah dengan dua ekor sapi yang menariknya. Apakah ada orang kaya baru yang pindah ke desa ini".
"Bukan orang baru, itu ayah Joan. Lihat dia yang menjadi sais kereta itu "
Sepanjang perjalanan ke rumah mereka yang terletak di ujung desa di pinggir kaki gunung larangan itu, tidak henti-hentinya orang yang melihat ke dua kereta itu memperbincangkan keberuntungan keluarga Joan.
Meskipun ada yang iri namun mereka tidak suka mencemooh keberuntungan orang lain. Itulah sebabnya di desa itu nyaris tidak pernah terjadi keributan. Sedikit perkecualian ada satu orang yang tidak suka melihat keberuntungan orang lain dan itu adalah nyonya Wang tetapi meskipun demikian sejak kejadian penganiayaan Joan. Dia tidak pernah lagi menampakkan diri di depan keluarga Joan karena suaminya mengancam untuk menceraikannya kalau di terus mencari keributan.
Tiba di rumah, Joan bangun dari tidurnya dan menggendong adiknya masuk ke dalam rumah, membaringkannya di tempat tidur sebelum dia keluar dan mengatur tukang untuk mengangkat barang-barang yang baru dibelinya.
Ibu dan beserta berapa istri tetangga yang membantunya selama ini juga terkejut melihat banyaknya barang yang dibeli Joan apalagi melihat daging dan sayuran itu.
Mereka segera berkerja dalam kegembiraan saat mendengar bahwa mereka akan mengadakan acara syukuran makan bersama esok malam.
Meskipun ibu merasa itu sangat mendadak dan tanpa perencanaan tetapi dia tidak mengatakan apa-apa dan memimpin ibu-ibu yang lain untuk berkerja. Memang cocok ibu Joan jadi ketua PKK
genteng wetan opo genteng kulon