Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat
"Tolong buka! Jika tidak kami akan membuka menggunakan kunci cadangan!" Ucap petugas kepolisian, diikuti hansip. Sidak yang memang terkadang diadakan, pemilik kost sendiri menitipkan kunci cadagan pada RT setempat. Karena tidak dapat selalu ada di tempat.
Pada akhirnya kunci cadangan dimasukkan petugas, namun bersamaan dengan pintu yang terbuka dari dalam.
"Maaf pak, saya tadi sedang mandi," ucap Raka dengan rambut yang masih basah. Keluar hanya mengenakan boxer saja, serta handuk di bagian lehernya.
"Kami sedang mengadakan sidak, mana KTP-mu, juga kartu ijin menetap," Sang petugas menadahkan tangannya.
Sedangkan satu petugas lagi masuk, menggeledah, jika ada narkotika atau menyimpan lawan jenis dalam kamar ini. Raka menelan ludahnya, mengambil kartu identitasnya dan ijin menetap.
Dirinya masih dapat tersenyum seperti biasanya. Sedangkan para penghuni kost lainnya melihat dari dekat kamar mereka. Menahan diri agar tidak tertawa, bukan hanya kali ini sepasang teman ini akan terkena sidak.
Mereka ingin menunggu dan menyaksikan, apa nasib sepasang sahabat ini akan dinikahkan secara paksa, atau berhasil selamat seperti biasanya.
Lebih gilanya lagi ada yang sampai-sampai mengeluarkan banyak cemilan. Menonton pertunjukan menarik dan mendebarkan.
Mata petugas menelisik setelah memeriksa lemari plastik berjaga-jaga jika ada narkotika. Hingga beralih menatap ke arah dapur, benar-benar tidak ada yang aneh. Hingga berakhir pada pintu kamar mandi yang tertutup sempurna.
Bug!
Pintu terbuka, salah seorang anak kost yang mengintip dari luar terlihat tegang."Semoga ketahuan," batinnya ingin ikut makan di kondangan.
Sedangkan Raka hanya sedikit meliriknya saja, menunggu petugas lainnya mendata.
"Tidak ada yang aneh," sang petugas menghela napas kasar menatap ke arah kamar mandi yang kosong. Tidak menyadari seorang wanita berada di balik pintu, bahkan terlalu takut untuk bernapas rasanya.
Petugas yang melakukan penggeledahan keluar dari kamar Raka.
"Terimakasih atas kerja samanya." Ucap petugas lainnya yang mendata, mengembalikan KTP dan ijin menetap milik pemuda itu.
Penonton kecewa, padahal seru jika tertangkap. Setelah itu mata sang petugas menelisik ke kamar di sebelahnya. Sama seperti sebelumnya, pintu diketuk tapi tidak ada yang menjawab.
"Orang ini kemana?" tanya sang petugas kepolisian, menanyakan tentang orang yang ada di sebelah kamar Raka.
"Menginap di tempat kost temannya. Katanya takut tinggal sendiri." Jawaban jujur dari Raka.
"Licik," gumam Ragil dengan suara kecil, memakan keripik singkong yang disodorkan Evi.
"Kalian yang menyaksikan, kami tidak mengambil apapun," ucap sang petugas, membuka kunci kamar. Seperti sebelumnya kamar di geledah tidak ditemukan apapun.
Hingga sang petugas yang menggeledah kamar Fujiko keluar."Tidak ada benda mencurigakan," ucapnya memberi laporan.
Petugas yang mendata menghela napas kasar sedikit curiga."Sidak empat bulan lalu wanita yang ada di kamar ini ada, tapi kamu tidak ada. Sidak dua bulan lalu juga, dan sidak bulan lalu, juga sama." Ucap sang petugas curiga.
"Empat bulan lalu aku masuk rumah sakit karena terkena kolera, dua bulan lalu aku ikut lomba burung berkicau di luar kota, bulan lalu ibuku memintaku menikah tapi batal. Sedangkan untuk Fujiko tetanggaku, aku berani bersumpah dia menginap di rumah temannya. Dia dipecat, jadi akan menumpang di rumah temannya. Aku benar-benar bersumpah!" tegasnya mengatakan kebenaran.
"Kata-kata diplomatis lagi," ucap Cahaya, menggeser posisi duduk Evi dan Ragil agar dirinya ada di tengah-tengah ikut memakan keripik kentang.
Mata sang polisi yang memang menjadi rangkap menjadi penyidik itu menatap tidak adanya gelagat sang pemuda berbohong. Menepuk bahunya."Mungkin aku terlalu banyak berfikir." Sang petugas tersenyum.
Kemudian berlalu pergi."Maaf sudah menggangu waktu kalian," ucap sang petugas melewati gerbang diikuti hansip. Berjalan menuju tempat kost lainnya.
Raka menghela napas lega, duduk di atas lantai. Hampir setiap bulan ini terjadi, tapi sebelumnya selalu dirinya yang bersembunyi di kamar Fujio. Terkadang di plafon kamar mandi, balik pintu, beberapa tempat persembunyian yang dilafalnya.
Tapi di dalam kamarnya? Ini lebih buruk.
"Tidak jadi kondangan, makan gratis," Eva mulai bangkit, menguap beberapa kali.
"Jangan berharap makanan gratis, karena Raka akan mengenakan tarif untuk batasan minimum isi amplop. Makanan resepsi paling hanya tahu, tempe, sayur," Tiga orang yang hendak bangkit kembali ke kamarnya.
"Jika aku menikah, tidak akan ada batasan isi amplop. Yang ada hanya acara besar-besaran, kalian bisa makan enak," gumam Raka dengan wajah pucat pasi membayangkan uang yang harus dikeluarkannya untuk resepsi. Hotel, pakaian pengantin, prewedding, EO, bulan madu, persiapan kehamilan, istri melahirkan, dan masih banyak lagi. Apa uangnya akan cukup? Itulah yang ada di benaknya.
Sebenarnya anak-anak kost lainnya bukan cuma mereka, ada di lantai dua dan tiga. Sedangkan, dua orang lagi di lantai satu tapi mereka memiliki pergaulan sendiri, ada juga salah satunya yang introvet.
Evi menghentikan langkahnya mengenyitkan keningnya."Janji jika kamu menikah akan mengundang kami,"
Raka mengangguk, mulai bangkit."Sebaiknya kalian menabung dulu untuk membeli gaun dan setelan jas," ucapnya yang sudah mengetahui, jika suatu hari dirinya menikah, ibu dan kakeknya akan mengadakan acara besar-besaran. Entah kapan hal itu akan terjadi, tapi dirinya benar-benar belum siap secara finansial dan mental.
"Baju batik sama kebaya mungkin maksudnya. Kalau itu kami punya," Cahaya tersenyum, menutup pintu kamarnya sendiri.
*
Perlahan Raka merebahkan tubuhnya setelah menatap pintu, menghela napas kasar. Dirinya nyaris dinikahkan lagi.
Hingga gadis itu menatap ke kanan dan ke kiri bagaikan orang yang hendak menyebrang, kemudian keluar dari kamar mandi berbaring di samping Raka.
"Kita hampir menikah lagi," gumam Fujiko.
Sepasang sahabat yang sama-sama menghela napas mereka. Menetralkan detak jantungnya. Situasi yang sering mereka hadapi setiap ada sidak.
"Sudah malam, ayo tidur..." ucap Raka memeluk Fujiko, terlalu melelahkan baginya untuk melanjutkan hal yang membuat dirinya kehilangan logika.
"Raka kamu sudah tidak marah padaku?" tanya Fujiko dijawab dengan anggukan kepala oleh Raka yang telah memejamkan matanya.
"Sebenarnya aku tidak dipecat, besok sarapan bersama di kamarku ya?" ucap sang gadis tertunduk malu-malu.
Raka tersenyum mengeratkan pelukannya, mulai tertidur. Begitu juga dengan Fujiko yang tersenyum-senyum sendiri, antara malu dan perasaan aneh yang entah itu apa. Namun begitu menyenangkan tanpa sebab dalam dirinya.
*
Hari berlalu seperti biasanya bekal buatan Raka kembali didapatkannya. Sejenak wajahnya bersemu merah, mengingat pemuda yang sempat berada di atas tubuhnya, mencium tubuhnya pelan. Walaupun adegan terpotong oleh lembaga sensor, salah maksudnya sidak.
Hingga pandangan matanya beralih menatap Nolan tengah berbincang dengan seorang wanita. Pegawai baru di tempat tersebut, seorang pegawai wanita yang terlihat genit.
Namun pandangan Nolan beralih pada wanita tercantik di tempat ini."Ini untukmu," ucapnya pada Fujiko, kali ini membelikan nasi kotak ya entah dibelinya di restauran mana.
Gadis yang menghela napas kasar. Haruskah menerimanya sebagai kekasih, mengikuti nasehat kakak-kakaknya. Atau mengikuti kata-kata Raka?