BUDAYAKAN BACA SKRIPSI DULU. TYPO, MAKSUDNYA DESKRIPSI!!
WARNING☇☇
DILARANG BOOM LIKE (SPAM LIKE). KASIH JEDA WAKTU MINIMAL 1 atau 2 MENIT!!!
Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu masuk ke Dunia Novel dan tidak bisa kembali ke Dunia nyata?
Adinda yang notabene seorang sekretaris, ia adalah orang yang tidak mudah menangis dan percaya diri, tiba-tiba keluar dari dunianya dan masuk ke dunia novel yang ia baca.
Adinda terkejut saat membuka mata, ia bergumam, "Dimana aku?". Adinda semakin terkejut dengan rasa tidak percayanya melihat lingkungan sekitar dan tubuhnya bukanlah dirinya sendiri melainkan tokoh utama dari novel tersebut yang mana ia adalah korban bullying.
Bersusah payah kembali ke dunia asalnya, ia akhirnya memutuskan untuk menetap dan mengubah takdir sang tokoh utama. Apakah ia berhasil mengubah takdir tokoh utama dari novel tersebut dan bisa kembali ke dunia nyata? Ataukah ia akan gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Kado dari Ayah ~ Hp Baru
🍀🍀🍀
Pukul 16:00
Larina baru pulang sekolah.
"Darimana saja?" tanya Ibu Larina yang membuka pintu rumah.
"Dari Sekolah, Bu. Ujian Akhir Semester untuk kenaikan kelas kan sudah hampir tiba, jadi ada kelas tambahan."
"Hem, alasan. Itu, cucian belum di setrika. Cepat, ya."
Larina menghela nafas, Ibu Larina masuk ke dalam rumah.
Pukul 18:00
Larina baru selesai menyetrika semua cucian, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai dengan ritual mandinya, ia dikejutkan dengan adanya suatu benda yang terletak di meja belajarnya.
"Apa itu? Kado kah?" gumam Larina sembari melangkah ke arah meja belajarnya.
"Eh iya, kado!" dengan senyum merekah ia segera membuka kado tersebut.
"Apa ini dari Ayah Larina? Apa ya isinya?"
Setelah beberapa saat ia berhasil membuka bungkusan kado itu dan terlihat box Hp baru.
"Hp?" Larina terharu.
Larina meletakkan hadiahnya tersebut di meja belajarnya lalu ia pergi menemui Ayahnya.
"Ayah," panggil Larina saat melihat Ayahnya akan pergi ke dapur.
"Iya?"
"Itu kado dari Ayah, kan?" Sembari mendekat ke samping Ayahnya.
Ayah Larina tersenyum.
"Iya. Suka tidak?"
"Wah! Terimakasih banyak!" Larina langsung memeluk Ayahnya.
"Giliran aku yang minta Hp baru, kamu selalu saja punya alasan." Ibu Larina keluar dari kamar dan berjalan melewati mereka berdua.
"Bu, Hp kamu kan masih sangat bagus. Baru juga beli 3 bulan lalu. Anak kita lebih butuh Hp."
"Alasan." Ibu Larina membuang muka.
"Sudah, jangan di fikirkan perkataan Ibumu. Semoga kamu suka kado dari Ayah."
Larina tersenyum di selingi anggukan.
***
Larina mengeluarkan Hp dari boxnya, kemudian ia mengambil charger dan membiarkan Hp nya di cas selama beberapa jam.
Pukul 21:30
Larina memasukkan buku-buku LKS untuk besok pagi, selanjutnya ia beralih ke Hp baru miliknya.
"Akhirnyaaaa! Aku punya Hp." Larina tersenyum lebar
Larina mengambil kartu perdana yang juga telah di belikan oleh Ayahnya, ia segera mengaktifkan kartu tersebut.
"Akan ku coba untuk menghubungi nomerku." ucapnya pelan.
Setelah beberapa menit akhirnya kartunya pun aktif, ia segera mengetik nomor pribadinya, dengen gemetar ia menelfon nomer yang telah ia ketik.
'tuttt, nomor yang anda hubungi salah, bla bla bla'
"Eh? Apa nomorku terblokir? Tapi tidak mungkin, masa aktif nomorku itu sampai tahun depan."
Tubuh Larina terasa panas dingin. Ia kembali mencoba untuk menghubungi nomor pribadinya.
'tuttt, nomor yang anda hubungi salah, bla bla bla'
Larina menghela nafas, ia sedih dan kecewa. Ia kemudian mengetik nomor sahabat-sahabatnya,
"Semoga bisa!" sambil menelfon.
'tuttt, nomor yang anda hubungi salah, bla bla bla'
Larina memejamkan mata saat semua nomor yang ia hubungi tidak bisa tersambung, bahkan nomor kantornya tidak terdaftar sehingga tidak bisa di hubungi.
"Huufft," Larina mengusap wajahnya.
Tidak mau berlarut-larut dalam suasana hati yang tidak mengenakkan seperti ini, Larina segera mendownload beberapa aplikasi sosmed.
Ia mencoba mengingat akun-akun sosmed milik Larina asli,
"Eemmm, Facebook, Instagram, dan beberapa aplikasi lainnya." ucapnya pelan sambil mendowload aplikasi yang ia sebutkan.
"Sebentar, aku agak lupa password dari semua akunnya." Larina memangku wajah sambil mengingat password akun sosmednya.
"Haiisshhh mana kartu milik Larina sudah dibuang oleh Ibunya, aku jadi tidak punga pilihan lain selain mengingat kata sandinya."
Setelah beberapa menit berfikir, akhirnya ia mengingat password akun sosmed Larina.
"Nah!" Larina senang karena bisa login kembali ke akun-akun sosmednya.
"Hemm, sepi followers." gumamnya
Larina segera mengganti foto profil akun sosmednya menggunakan foto-foto yang ceria.
"Foto Profil ini kan lebih bagus daripada foto yang lama yang suram itu."
Larina teringat sesuatu.
"Semoga akunku bisa di searching!" ucapnya penuh harap.
Larina mengetik nama akun user miliknya di dunia Asli. Wajahnya yang penuh harap kini berganti dengan raut wajah yang kecewa lagi karena akun sosmednya di dunia aslinya pun tidak muncul.
"Astaga, apakah Dunia ini benar-benar tidak terhubung dengan Duniaku?" ia menepuk Dahinya pelan.
"Apakah benar-benar tidak bisa di cari??" lanjutnya dengan suara yang lemah.
"Pasti di WhatsApp itu nomorku di Dunia asli juga tidak akan muncul."
Benar saja, setelah menyimpan nomor miliknya semasa di dunia aslinya, nomor itu tidak masuk di kontak WhatsApp.
"Sudah ku duga," Larina berbaring di tempat tidur.
"Aku ingin tau bagaimana caranya aku bisa kembali ke Duniaku!" Batin Larina
Larina menepis keputus asaannya itu, ia langsung mulai memfollow banyak user di beberapa akun sosmed, dalam hitungan menit rupanya banyak yang menfollow kembali Larina.
"Wow, semoga aku beruntung. Hihi."
Larina meletakkan Hp nya, ia pergi ke dapur karena merasa haus. Saat kembali dari dapur ia terkejut semua user yang ia follow ternyata memfollow kembali dirinya.
"Yups! Langkah selanjutnya aku harus berani berbicara di sosial media tentang pembullyan."
"Halo guys, selamat malam semuanya. Salam kenal, aku Larina, usiaku masih 16 tahun. Disini aku mau menyampaikan sesuatu yang berjudul Bullying. Yups, dari namanya pun sudah tidak enak didengar, bukan? Bullying atau pembullyan itu merupakan suatu perilaku yang tentunya sangat merugikan pihak korban. Bagaimana tidak? Korban Bullying itu kerap mengalami gangguan mental bahkan taruhannya nyawa, loh. Tidak semua manusia memiliki mental kuat yang kebal akan pembullyan yang menimpa dirinya. Bagi orang yang tidak punya hati mungkin tindakan bullying itu hanyalah suatu hal yang remeh dan merupakan salah satu bentuk candaan, tapi bagiku tidak. Bullying itu sangat merugikan, sangat dan sangat. Jika korban sampai meninggal, ucapan maaf dan penyesalan seumur hidup tidak akan mampu menghidupkan kembali Si korban. Satu fakta, Aku merupakan korban dari Bullying loh, hihi. Beryukur karena aku mampu bertahan karena aku ingin tetap melanjutkan hidup. Oke, mungkin malam ini hanya ini yang bisa ku publish, jumpa lagi besok ya! Untuk para korban Bullying diluar sana, kalian harus punya alasan untuk tetal hidup! Ingat, jika kita menyerah maka para pembully lah pemenangnya! Selamat malam, see you!"
Larina mempublishnya di laman akun sosmednya. Tidak butuh waktu lama, like dan komentar membanjiri postingannya. Banyak yang berkomentar mengecam perbuatan yang berbau Bullying, tidak sedikit pula dari mereka yang mengatakan bahwa mereka terharu karena Larina selaku korban Bullying mampu bertahan bahkan angkat bicara di sosial media yang bersifaf publik ini.
Larina senang karena tidak mendapati komentar negatif. 1 jam berlalu, postingan Larina rupanya di screnshoot dan banyak di reupload oleh pengguna sosmed lainnya, followers Larina juga bertambah.
Larina memutuskan tidur karena sudah mulai larut malam.
semangat ya, pokoknya aku tunggu kelanjutannya jangan pernah berhenti. kecuali menulis langsung terbitkan oke💕