NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 malam pertama

Suasana kamar semakin panas, hanya diterangi lampu tidur yang temaram. Hilman, yang sudah kehilangan seluruh kendali atas ketenangan yang selama ini ia jaga, mulai membuka kancing jas dan baju kokonya dengan gerakan yang terburu-buru.

Napasnya terdengar berat di telinga Nayla, menandakan bahwa sisi pria normalnya telah mengambil alih sepenuhnya.

Nayla hanya bisa terdiam dengan jantung yang berdegup kencang saat melihat tatapan Hilman yang begitu intens. Tak ada lagi kata-kata sindiran atau godaan nakal; yang ada hanya gairah yang meluap di antara sepasang suami istri yang baru saja dihalalkan ini.

Hilman perlahan mendekatkan jemarinya ke kancing teratas kebaya putih yang dikenakan Nayla. Jemarinya yang biasanya tenang saat membalik halaman kitab, kini tampak sedikit gemetar namun tetap pasti. Satu per satu kancing itu terbuka, menyingkap kulit putih mulus Nayla yang sedari tadi ia perhatikan secara diam-diam.

"Gus..." desis Nayla lirih, suaranya bergetar antara takut dan rasa nikmat yang baru ia rasakan.

Hilman tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan meluruhkan baju yang menutupi bahu Nayla, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai. Kini, di hadapannya, istrinya berdiri dengan segala kecantikannya yang selama ini hanya ia bayangkan dalam mimpinya yang paling rahasia.

Hilman kembali menarik tubuh Nayla ke dalam dekapannya. Tangannya yang hangat merambat di punggung polos istrinya, sementara ia kembali membungkam bibir Nayla dengan ciuman yang jauh lebih menuntut dari sebelumnya. Cekikan lembut di leher Nayla kembali ia lakukan, seolah ingin menegaskan bahwa setiap embusan napas gadis ini adalah miliknya sekarang.

Nayla memejamkan mata, menyerahkan seluruh dirinya kepada sang Gus yang kini tidak lagi kaku. Ia membiarkan Hilman membimbingnya menuju ranjang, menenggelamkan diri dalam malam yang panjang di mana semua godaan kemarin akhirnya menjadi ibadah yang nyata.

Di luar, angin malam berhembus kencang, namun di dalam kamar itu, hanya ada kehangatan dan penyatuan dua jiwa yang baru saja menemukan muaranya.

Suasana di dalam kamar itu semakin intens dan privat. Hilman, yang kini telah sepenuhnya membuang jubah kekakuannya, memandang wajah istrinya dengan tatapan yang sangat dalam. Di bawah temaram lampu, ia melihat Nayla yang biasanya sangat vokal dan nakal kini tampak pasrah dan sedikit tegang.

Saat penyatuan itu terjadi secara perlahan, Nayla melepaskan desahan panjang yang tertahan di tenggorokannya. Suara itu, yang terdengar begitu jujur dan penuh rasa, membuat Hilman berhenti sejenak. Ia menatap wajah Nayla, lalu sebuah senyuman tipis namun penuh makna muncul di bibirnya—senyuman seorang pria yang merasa dihargai.

Namun, senyuman Hilman berubah menjadi rasa haru dan syukur yang luar biasa saat ia melihat noda merah yang muncul di atas seprai putih mereka. Darah itu adalah bukti nyata kesucian yang selama ini dijaga oleh Nayla di balik segala tingkah hyper dan penampilan modisnya.

"Nayla..." bisik Hilman lirih, suaranya kini kembali lembut. Ia mengecup kening istrinya dengan sangat lama dan penuh takzim. "Terima kasih... terima kasih karena sudah menjaga ini hanya untukku."

Hilman merasa sangat bersalah karena sempat meragukan istrinya kemarin. Ia mengusap pipi Nayla yang basah oleh sedikit air mata haru. Segala keraguan tentang masa lalu Nayla di Jakarta seketika sirna. Di matanya kini, Nayla bukan lagi gadis nakal yang sering menggodanya, melainkan seorang istri yang telah menyerahkan harta paling berharganya.

Nayla yang melihat perubahan ekspresi Hilman hanya bisa tersenyum lemah, ia melingkarkan tangannya di leher Hilman. "Aku emang nakal, Gus... tapi aku tahu siapa yang berhak dapetin ini semua."

Malam itu berlanjut dengan penuh kelembutan. Hilman tidak lagi terburu-buru; ia memperlakukan Nayla dengan sangat hati-hati, seolah-olah istrinya adalah perhiasan yang paling rapuh sekaligus paling indah yang pernah ia miliki. Di setiap sentuhannya, ia kini menyisipkan doa, memastikan bahwa awal dari ibadah panjang mereka ini diberkahi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!