Siapa yang ingin bercerai? Bahkan jika hubungan pelik sekalipun seorang wanita akan berusaha mempertahankan rumah tangganya, terlebih ada bocah kecil lugu, polos dan tampan buah dari pernikahan mereka.
Namun, pada akhirnya dia menyerah, ia berhenti sebab beban berat terus bertumpu pada pundaknya.
Lepas adalah jalan terbaik meski harus mengorbankan sang anak.
Bekerja sebagai sekertaris CEO tampan, Elen tak pernah menyangka jika boss dingin yang lebih mirip kulkas berjalan itu adalah laki-laki yang menyelamatkan putranya.
laki-laki yang dimata Satria lebih pantas dipanggil superhero.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - ELEN KE RUMAH
Divine menatap Elen tak berkedip, tubuhnya bergejolak dan terkejut saat melihat wanita itu tiba-tiba datang di hadapannya.
"Ehm." Deheman Morena membuyarkan keduanya. Wanita paruh baya itu tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kok jadi tatap-tatapan," ujar Morena menatap Divine dan Elen yang seketika salah tingkah.
"Maaf," ujar Elen mendahului. Tubuhnya sedikit bergetar menyodorkan dokumen ke arah Divine.
"Tolong tanda tangani dokumen ini, Pak! Pak Wijaya sendiri yang mengutus saya datang kesini," sambungnya lagi kemudian bernapas lega setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Hm, mana pulpennya?" tanya Divine.
Elen dengan sigap membuka tas, menyodorkan pulpen ke Divine.
Tak butuh waktu lama bagi Divine menanda tangani dokumen itu.
"Terima kasih," pamit Elen.
"Bu,Pak Divine. Saya pamit dulu!" ujar Elen kepada Morena dan Divine.
"Tunggu, ini jam makan siang. Lebih baik tinggal sebentar untuk makan, baru kembali ke kantor," pinta Morena.
"Terima kasih banyak, Bu Morena. Tapi, saya..."
"Elena, tinggalah sebentar. Bundaku sendiri yang memintamu makan siang disini, apa kamu tega menolaknya?" tanya Divine.
Deg.
Elen terdiam, ia tak mungkin bisa menolak lagi.
"Wah, namamu Elena. Nama yang sangat cantik," ujar Morena tersenyum ramah.
Elen semakin salah tingkah, lalu mengangguk pasrah.
"Bund..." Divine melirik bundanya.
"Ah iya, Bunda siapin dulu. Kamu, tolong bantu dorong Divine ke dalam ya Elen."
Lagi-lagi Elen hanya bisa mengangguk pasrah, rasanya ia seperti sedang dikerjai hingga mati kutu.
Divine menghela napas, "kalau gak mau dorong, gak apa-apa! Sekarang boss kamu bukan aku," ujarnya dengan nada rendah.
"Siapa yang bilang gak mau," ujar Elen langsung memegang kendali kursi roda Divine dan mendorongnya masuk.
"Bagaimana kabar Satria?" tanya Divine, berusaha memulai percakapan dengan Elen. Terus terang, ia kebingungan mencari topik disaat seperti ini.
"Sangat baik, bukankah Pak Divine sendiri juga melihatnya di sekolah?" tanya balik Elen.
Divine menunduk, "hanya melihat, bukan bertemu!"
Mereka sampai di meja makan sesuai petunjuk Divine. Meski, laki-laki itu tak sedingin sebelumnya, Elen tetap menjaga sikap. Bagaimana baiknya seorang wanita.
"Wah, kalian sudah sangat akrab ya ternyata," goda Morena yang sedang membantu pelayan menyiapkan makan siang.
"Nah duduklah, Elen! Jangan sungkan," sambungnya lagi.
"Bunda," pinta Divine. Ia ingin pindah ke kursi tapi tak mungkin meminta tolong pada Elen.
"Sebentar sayang," ujar Morena berdiri dan menghampiri Divine. Elen mematung di tempat, melihat Divine kesusahan berpindah tempat membuatnya ikutan sedih.
"Kalau boleh tahu, kaki Pak Divine kenapa, Bu?"
"Kakinya Divine..."
"Kakiku lumpuh," potong Divine.
Elen terkejut, tak pernah menyangka jika separah itu kecelakaannya.
Morena membantu Divine pindah ke kursi sebab kursi rodanya yang pendek membuat Divine kesusahan menjangkau meja.
Sementara Elen, diam memperhatikan mereka dan duduk di samping Divine. Hatinya mencelos saat mendengar langsung pengakuan Divine jika kondisi kakinya lumpuh.
"Makan yang banyak, kamu kurusan semenjak ganti boss," ujar Divine membuat Elen langsung mengernyitkan dahi.
"Divine, dia gak kurus. Tapi seksi," ujar Morena meralat perkataan Divine.
Elen memilih diam, membiarkan Ibu dan anak berasumsi sendiri perihal tubuhnya. Toh selama ini, Elen tak kekurangan makan.
Elen pun pamit akhirnya. Semakin tak enak saat melihat Morena mendorong kursi roda Divine untuk mengantarnya keluar.
"Biar ku bantu, Bu?" tawar Elen.
"Eh jangan, kamu kan harus ke kantor ada meeting. Lain kali, jangan kapok ya kesini, apalagi Divine jadi punya teman," ujar Morena yang diangguki kepala oleh Elen.
Morena mendorong kursi roda Divine sampai ke depan. Melihat Elen yang perlahan melangkah jauh dari halaman rumahnya.
Divine hanya tersenyum tipis, tapi tidak dengan Morena. Ia bisa merasakan sang putra tertarik dengan sekertarisnya itu.
"Kalau kamu suka, lebih baik dikejar. Sebelum janur kuning melengkung masih milik bersama, Div!" terang Morena memberi wejangan.
"Apa sih, Bund?" elak Divine.
"Dia cantik loh, kamu tahu? ayah kamu sangat menyukai kinerjanya, semalam beliau cerita sama bunda."
"Kalau aku mengejarnya, dia belum tentu mau. Lagi pula, Rafael juga menyukainya, masalah seperti ini kami tak bisa..."
"Memang kenapa kalau Rafael menyukainya?" potong Morena.
"Asalkan kalian bersaing secara sehat, bunda rasa tidak masalah. Elen bukan hanya cantik tapi juga muda, energik, dan bertalenta. Ayolah Divine, bunda janji gak akan carikan kamu wanita lain lagi..." Morena sampai mengangkat jarinya hingga membentuk huruf V sebagai tanda janji.
"Dia sudah punya anak, Bund." Divine menunduk, ia sejujurnya takut jikalau kedua orang tuanya tak memberi restu. Maka sebelum melangkah lebih baik memastikannya lebih dulu. Divine takut, jikalau sang Bunda akan menolak Elen seperti Cassandra.
"Bunda tahu kok, udah kamu istirahat ya?" pinta Morena.
Divine mengangguk tanpa suara, akan tetapi hatinya lebih lega mendapat restu langsung dari sang bunda.
***
"Mom, aku tadi melihat ayah!" aku Satria.
Beberapa hari ini ia melihat Bram seolah sedang memperhatikannya dari jauh.
"Ayah??" dahi Elen mengernyit, ayah yang mana? Pikirnya.
"Ayah Bram, siapa lagi mom."
"Ehm, eh iya. Momy lupa, Ayah ada ngomong sesuatu sama Satria?" tanyanya melembut, meski dalam hati cukup terkejut.
"Nggak ada, Ayah cuma lihat dari jauh Mom." Raut wajah Satria tampak kecewa, sejujurnya dalam hati bocah itu masih menyimpan harapan agar Bram datang sekedar menyebut namanya atau bertanya perihal sudah makan atau belum?
"Jangan cemberut, Satria kan kuat." Elen tersenyum getir seraya memeluk sang putra.
"Ayah Bram itu baik, hanya saja..." Elen terdiam, ia tak bisa menemukan alasan yang tepat untuk membela laki-laki itu, terlebih Satria melihat sendiri bagaimana Bram begitu kasar memperlakukannya.
Dan saat menoleh ke arah Satria, bocah hampir tujuh tahun itu sudah terlelap dan masuk ke dalam mimpi. Dengan gemas Elen menciumi wajah Satria sebelum ikut berbaring di samping sang putra.
Pagi hari di TK Pelita Harapan.
Satria tengah berlarian bersama teman-temannya, akan tetapi terkejut saat sebuah panggilan lembut terdengar.
"Kamu yang bernama Satria?" tanya Morena setelah ia menemui Wina untuk bertanya perihal bocah TK yang bernama Satria.
"Iya, Bu." Satria mendekat. Sedikit takut dengan wajah menunduk.
"Kamu tau nggak? Om ini katanya kangen sama kamu!" Morena menunjukan foto Divine.
"Om baik!" Satria langsung mengenali foto itu.
"Ya benar, Om yang waktu itu..."
"Menemaniku lomba, Bu!"
"Ah ya, ibu lupa. Kamu mau ketemu Om baik, nggak? Dia lagi sakit loh..." Morena memasang ekspresi sedih, ia berharap Satria mau ikut dengannya sepulang nanti.
"Mau... Mau... Mau..."
"Beneran?" tanya Morena.
Satria mengangguk, "tapi kata momy..."
"Biar Ibu yang meminta izin pada Momy-mu," ujarnya.
RAHIM ELEN JUGA SUBUR....