NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13_PERUBAHAN YANG MEMBINGUNGKAN

Hari ini adalah hari pertama Nayla kembali ke sekolah setelah skorsing yang terasa aneh sejak ia menginjakkan kaki di halaman sekolah.

Bukan karena tatapan murid lain, itu sudah ia duga. Bisik-bisik negatif masih ada, meski tidak sekeras sebelumnya. Namun, yang membuat langkah Nayla sedikit ragu itu, justru satu hal lain.

Azka.

Mobil hitam itu berhenti di depan gerbang hampir bersamaan dengan Nayla turun dari mobil milik keluarga Mahendra, ia diantar oleh sopir yang lain. Seperti biasa, Azka keluar dengan aura dingin dan sikap tak tersentuh. Namun pagi itu, tatapannya sempat mengarah ke Nayla.

Bukan lama. Bukan jelas. Tapi ada.

Nayla pura-pura tidak melihat. Ia berjalan lebih dulu, menembus kerumunan murid.

Di kelas, suasana terasa canggung.

Beberapa murid menoleh saat Nayla masuk. Ada yang langsung diam, ada yang cepat-cepat berpura-pura sibuk. Dani dan Sena menyambutnya dengan senyum lega.

“Lo balik!” bisik Dani sambil menarik tangan Nayla.

“Syukurlah,” tambah Sena.

Nayla duduk di bangkunya. Baru saja ia membuka tas, suara kursi ditarik terdengar dari depan.

Azka berdiri.

“Bangku kamu pindah,” ucapnya datar, menunjuk kursi kosong di sebelahnya.

Kelas langsung hening.

Nayla mengangkat wajahnya perlahan. “Apa?”

“Pindah,” ulang Azka, nada suaranya tidak sabaran. “Guru BK minta duduk depan.”

Semua mata tertuju pada Nayla.

Dani berbisik panik, “Itu beneran?”

Nayla menggeleng kecil. Ia tahu, tu bohong.

“Aku nggak dengar apa-apa,” jawab Nayla pelan.

Azka menatapnya tajam. “Aku nggak nanya pendapat kamu.”

Nada itu membuat beberapa murid saling pandang.

Nayla menggertakkan gigi, lalu berdiri. “Baik.”

Ia memindahkan tasnya dan duduk di kursi yang Azka tunjuk. Tepat di sampingnya. Terlalu dekat.

Azka kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa.

Raka mengangkat alis tinggi. Devan menyandarkan punggung, menatap Azka dengan ekspresi heran. Dion hanya diam, tapi jelas memperhatikan.

Pelajaran dimulai.

Sepanjang satu jam, Nayla merasa tidak nyaman. Bukan karena materi. Tapi karena Azka.

Setiap kali Nayla sedikit mencondongkan badan untuk menulis, Azka menggeser lengannya, seolah membatasi jarak murid lain yang ingin lewat. Saat seorang siswa laki-laki dari barisan belakang meminjam penghapus Nayla, Azka yang menjawab.

“Nanti,” katanya singkat, sambil mendorong penghapus itu kembali ke Nayla.

Siswa itu mengernyit, tapi pergi.

Nayla menoleh. “Kenapa kamu jawab?”

Azka tidak menatapnya. “Ganggu.”

“Dia cuma minjam penghapus,” bisik Nayla kesal.

Azka melirik sekilas. “Dan?”

Nayla terdiam. Ada sesuatu yang salah.

Azka tetap dingin. Tetap kasar. Tetap menyebalkan. Tapi ada pola baru dalam sikapnya. Seolah ia sengaja berdiri terlalu dekat. Terlalu sering ikut campur.

Saat bel istirahat berbunyi, Nayla berdiri hendak pergi ke kantin bersama Dani dan Sena.

“Tunggu,” kata Azka.

Nayla menoleh. “Apa lagi?”

“Makan di sini,” ucap Azka datar.

Dani dan Sena langsung berhenti.

“Hah?” Dani refleks bersuara.

Azka menatap Dani tajam. “Saya lagi ngomong sama is—”

Kalimat itu terhenti. Satu detik terlalu lama. Nayla membeku.

Azka menarik napas kasar. “Sama Nayla.”

Suasana jadi aneh.

Raka berdeham. “Ka, lo kenapa sih?”

Azka menoleh. “Masalah?”

“Masalahnya,” sambung Devan pelan, “lo nggak pernah ngurusin makan orang.”

Azka berdiri. “Sekarang iya.”

Nayla menatapnya tidak percaya. “Aku mau ke kantin.”

“Enggak,” potong Azka.

Nada itu membuat darah Nayla mendidih. “Kamu nggak punya hak ngatur aku.”

Azka mendekat setengah langkah. Suaranya diturunkan. “Sekarang kamu masih jadi bahan omongan. Aku nggak mau kamu bikin hal baru.”

Nayla menatapnya tajam. “Atau kamu cuma nggak mau aku kelihatan sama orang lain?”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Azka terdiam. Hanya satu detik, tapi Nayla menangkapnya.

“Jangan GR,” ucap Azka akhirnya, lebih kasar dari perlu. “kamu makan di sini. Titik.”

Lalu Azka berjalan keluar kelas tanpa menunggu jawaban.

Nayla berdiri kaku.

Dani menarik lengannya. “Nay, itu barusan…”

“Aneh,” sambung Sena pelan.

Nayla mengangguk. “Aku tahu.”

***

Di kantin, Azka berdiri menunggu. Ia membeli dua minuman dan satu roti, lalu meletakkannya di meja begitu Nayla datang.

“Makan,” katanya singkat.

Nayla menatap roti itu. “Aku nggak laper.”

Azka menghela napas kasar. “Jangan keras kepala.”

Nayla mendongak. “Lucu. Biasanya kamu nggak peduli aku hidup atau mati.”

Azka menegang. “Jaga kata-katamu.”

Nayla tertawa kecil. “Itu jawabanmu?”

Azka tidak menjawab. Ia hanya mendorong roti itu lebih dekat.

“Makan,” ulangnya.

Nayla akhirnya duduk. Mengambil roti itu, tapi tidak langsung menggigit. “Kamu kenapa, Ka?”

Pertanyaan itu membuat Azka berhenti bergerak.

“Apa kamu ngerasa bersalah?” tanya Nayla pelan.

Azka menatapnya tajam. “Aku nggak pernah salah.”

Nayla tersenyum tipis. “Jawaban paling Azka Mahendra.”

Ia menggigit roti itu, sedikit. “Terima kasih.”

Azka menoleh. “Untuk apa?”

“Untuk kemarin,” jawab Nayla jujur. “Dan...hari ini.”

Azka mengalihkan pandangan. “Jangan salah paham.”

Nayla mengangguk. “Aku cuma bingung.”

***

Kebingungan itu tidak hanya milik Nayla.

Di lapangan basket, Raka melempar bola dengan kesal. “Gue sumpah, Azka aneh.”

Devan menangkap bola. “Dia protektif.”

“Protektif versi nyebelin,” sahut Raka.

Dion menyilangkan tangan. “Dia takut kehilangan kendali.”

Devan menoleh. “Atau takut kehilangan Nayla.”

Raka terdiam. “Lo serius?”

Devan tidak menjawab. Tapi tatapannya jelas.

***

Sore itu, di rumah Mahendra, Nayla duduk di ruang belajarnya. Ia sedang mencatat, tapi tiba-tiba Azka masuk tanpa mengetuk.

“Kamu ke mana tadi siang sama Dani?” tanya Azka.

Nayla menoleh. “Ke perpustakaan.”

“Ngapain lama?” lanjut Azka.

Nayla berdiri. “Sejak kapan kamu nanya begitu?”

Azka mendekat. “Sejak gue perlu tahu.”

“Perlu tahu sebagai apa?” tanya Nayla, suaranya pelan tapi menusuk.

Azka terdiam. Jawaban itu tidak keluar.

Nayla menghela napas. “Kamu bikin aku bingung, Ka.”

Azka menatapnya. “kamu maunya apa?”

“Aku maunya kamu konsisten,” jawab Nayla jujur. “Kalau mau dingin, sekalian. Jangan setengah-setengah.”

Azka mengepalkan tangan. “kamu pikir gampang?”

Nayla menatapnya lurus. “Aku nggak minta kamu baik. Aku cuma minta kamu berhenti nyakitin aku dengan cara yang nggak jelas.”

Azka memalingkan wajah. Rahangnya mengeras.

“Masuk kamar,” ucapnya kasar. “Belajar.”

Nayla tersenyum pahit. “Itu caramu kabur?”

Azka menatapnya lagi. Tajam. Bingung. Marah...pada dirinya sendiri.

“Jangan uji kesabaran aku, Nayla,” katanya.

Nayla mengangguk pelan. “Aku udah cukup sabar.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan Azka sendirian di ruang itu.

Azka menghembuskan napas berat. Ia tidak tahu kapan semuanya berubah. Ia tidak tahu sejak kapan Nayla menjadi sesuatu yang ingin ia lindungi, tapi juga ia sakiti.

Yang ia tahu satu hal. Sikapnya kini tidak lagi sekadar dingin. Ada rasa posesif yang tumbuh tanpa izin, dibungkus dengan cara kasar yang bahkan membuat dirinya sendiri bingung.

Dan kebingungan itu, mulai dirasakan oleh semua orang.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!