Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Naura baru saja melangkah tiga langkah untuk menjauh dari meja dapur, tangannya masih menempel di perut dengan akting "mulas" yang cukup meyakinkan. Namun, langkahnya terhenti seketika saat sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya.
"Mau ke mana, Ra? Sakit perut?"
Suara bariton itu tenang, namun bagi Naura, itu terdengar seperti alarm bahaya. Ia mendongak dan mendapati Gibran berdiri tepat di depannya dengan tangan masuk ke saku celana kargo. Tatapan mata Gibran tajam, seolah sedang memindai apakah Naura benar-benar sakit atau hanya mencari alasan.
"Eh, Kak Gibran..." Naura memaksakan senyum kecut sambil meringis. "Iya nih, Kak. Kayaknya tadi di bus salah makan camilan pedas. Perut gue berasa diaduk-aduk."
Mika yang melihat Gibran malah menghampiri Naura langsung menyusul dengan wajah cemberut. "Tuh kan, Kak! Baru juga disuruh cuci sayur bentar udah banyak alasan. Manja banget sih, Naura."
Gibran tidak menghiraukan celotehan Mika. Ia justru melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Naura. "Kebetulan saya bawa obat maag dan pencernaan di tas panitia. Kamu ikut saya ke posko sebentar, biar dikasih dosis yang pas."
Jantung Naura berdegup kencang. Gawat, pikirnya. Jika ia ikut ke posko panitia, ia justru akan semakin jauh dari Arkan dan semakin sulit mengecek alat pemindainya. Apalagi, posko panitia adalah area yang paling steril dari jangkauan siswa biasa.
"Nggak usah, Kak! Beneran deh," tolak Naura cepat, mungkin sedikit terlalu cepat. Ia segera mengatur nada bicaranya kembali.
"Maksudnya... gue cuma butuh ke toilet bentar. Habis itu juga mendingan kok. Nggak mau ngerepotin Kak Gibran, nanti malah dicariin anak-anak lain."
"Nggak repot kok," sahut Gibran dengan nada flat namun tegas. "Sebagai ketua, gue bertanggung jawab atas kesehatan kalian. Ayo, sekalian gue mau ambil daftar absensi di sana."
Clara yang masih memegang sodet di depan kompor berteriak, "Kak! Terus gimana sama masakan aku? Katanya mau nyobain?"
"Nanti, Clara. Tolong awasin Nadira sama yang lain dulu," jawab Gibran tanpa menoleh.
Naura melirik ke arah pohon pinus tempat Arkan mungkin sudah menunggu. Ia bisa melihat sekilas ujung jaket Arkan yang menghilang di balik batang pohon besar, menandakan rekannya itu sudah di posisi.
Sial, rencana berantakan, umpat Naura dalam hati. Ia kini terjepit di antara dua pilihan, memaksa kabur dan memicu kecurigaan Gibran, atau mengikuti Gibran ke posko yang mungkin saja merupakan "sarang" dari gangguan sinyal yang mematikan alatnya.
"Ayo, Ra. Kenapa bengong? Makin lama ditahan makin sakit, lho," goda Gibran dengan senyum yang sulit diartikan.
Naura hanya bisa pasrah. Sambil berjalan di samping Gibran, ia diam-diam merogoh saku jaketnya, mencoba menekan tombol darurat di komunikatornya untuk memberi sinyal pada Arkan bahwa ia sedang "ditawan" secara halus oleh ketua osis
......................
Arkan mengamati dari balik bayangan pohon pinus saat Naura dibawa pergi oleh Gibran. Ia tahu ia tidak bisa mendekati posko panitia tanpa alasan yang jelas, apalagi di bawah pengawasan tajam Gibran yang tampak selalu waspada.
Pandangan Arkan kemudian beralih ke arah Rio yang sedang memilah kayu bakar tak jauh dari sana. Berbeda dengan citranya di sekolah sebagai cowok populer yang hobi tebar pesona, Rio sebenarnya adalah salah satu personel pendukung teknis yang berada di bawah komando Arkan dalam struktur tim agen mereka.
Arkan memberikan isyarat siulan pendek yang hanya dipahami oleh unitnya. Rio segera menghentikan aktivitasnya, menoleh sekilas, lalu berjalan mendekati Arkan dengan gestur yang santai agar tidak memancing kecurigaan siswa lain.
"Ada masalah, Kapten?" bisik Rio begitu mereka berada di posisi yang cukup tersembunyi.
Arkan menyerahkan perangkat milik Naura yang tadi sempat ditukarnya dengan cepat saat di area dapur. "Alat Naura mati total. Dia curiga ada jammer atau interferensi frekuensi di radius dekat. Cek sekarang, gue butuh alat ini hidup sebelum hari gelap."
Rio menerima perangkat itu, wajahnya yang tadi tampak santai berubah menjadi sangat serius. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk seperti pemantik api dari sakunya, sebenarnya itu adalah alat diagnostik portabel.
"Gila, ini bukan sekadar gangguan sinyal biasa," gumam Rio sambil mengamati layar kecil di alat diagnostiknya. "Ada gelombang elektromagnetik yang sengaja ditembakkan ke arah tenda kita. Seseorang tahu kita punya perangkat aktif."
"Bisa lo bypass?" tanya Arkan dingin.
"Gue butuh waktu lima menit buat ganti enkripsinya. Gue bakal bikin alat ini seolah-olah cuma barang elektronik mati di radar mereka, tapi tetep bisa nerima data dari sensor pusat," jawab Rio lincah, jemarinya bergerak cepat membongkar sirkuit dalam alat tersebut.
......................
Sementara itu di dapur, suasana makin panas. Clara yang merasa "berkuasa" mulai memberikan perintah-perintah baru pada Nadira.
"Nad! Itu piring-pirignya belum kering benar, lap lagi dong. Masa calon menantu konglomerat kerjanya setengah-setengah," sindir Clara sambil menuangkan krim ke dalam wajannya dengan gaya sombong.
Nadira mendengus kesal, tangannya yang halus kini terasa kasar karena air gunung yang dingin. "Sabar, Clara. Gue juga punya batasan tenaga ya. Lagian ini airnya dingin banget, bikin kulit gue stres tahu nggak!"
Siska, teman Clara, tertawa kecil. "Makanya, lain kali bawa asisten pribadi kalau mau kemping, Nad. Eh, tapi denger-dengar Naura lagi berduaan ya sama Kak Gibran di posko? Wah, pinter juga ya dia pura-pura sakit perut biar bisa deket sama ketua panitia."
Mendengar nama Naura disebut, Raisa yang sejak tadi diam sambil menata logistik, melirik tajam ke arah posko panitia. Ia melihat bayangan Naura dan Gibran masuk ke dalam tenda besar. Ia tahu Arkan dan Rio sedang bekerja, namun posisi Naura adalah yang paling berbahaya saat ini.
"Selesai," bisik Rio tiba-tiba, menyerahkan kembali alat itu pada Arkan. "Sinyalnya sudah gue samarkan. Sekarang alat ini 'tak terlihat' oleh jammer mereka."
Arkan menerima alat itu dan menyembunyikannya kembali. "Bagus. Kembali ke kayu bakar lo. Jangan sampai yang lain curiga karena lo terlalu lama sama gue."
......................
Malam telah jatuh di kaki Gunung Salak, membawa udara dingin yang menusuk tulang. Di tengah area perkemahan, api unggun besar telah berkobar, memancarkan cahaya jingga yang menari-nari di wajah para siswa. Bau harum pasta carbonara buatan Clara menyeruak, bercampur dengan aroma kayu bakar yang terbakar sempurna berkat pilihan kayu berkualitas dari Rio dan Bimo.
Semua orang berkumpul melingkari api, duduk di atas log kayu atau alas tikar. Clara, Siska, dan Mika duduk dengan gaya paling menonjol, membagikan piring-piring pasta mereka dengan ekspresi bangga.
"Silakan dicicipi ya, ini limited edition banget buat malam ini," ujar Clara saat memberikan sepiring pasta kepada Gibran yang duduk tidak jauh dari Naura.
Naura, yang akhirnya "dibebaskan" dari posko setelah diberi obat oleh Gibran, duduk di samping Nadira. Ia tampak tenang, namun tangannya di dalam saku jaket sesekali menyentuh perangkat yang sudah diperbaiki Rio. Getaran halus di sakunya menandakan alat itu sudah kembali bekerja, menangkap transmisi data yang kini terenkripsi.
"Gila, Clara... ini enak banget!" puji Bimo sambil menyuap pasta dengan lahap. "Nggak nyangka lo bisa masak ginian di tengah hutan."
"Ya jelas dong, Bim. Skill nggak bisa bohong," sahut Clara sambil melirik sinis ke arah Naura. "Nggak kayak yang cuma bisa cuci kangkung itu pun sambil ngeluh."
Nadira hanya mendengus, mencoba menikmati makanannya meski ia masih merasa tangannya kasar. "Halah, cuma pasta doang. Kalau di Jakarta mah ini makanan tiap hari," bisiknya pada Naura yang dibalas dengan senyum tipis.
Arkan duduk di sisi yang agak gelap, sedikit di luar lingkaran cahaya utama. Ia makan dengan tenang, namun matanya terus bergerak menyapu kegelapan di balik pepohonan pinus. Di sebelahnya, Raisa tetap dengan wajah datarnya, namun telinganya terpasang earpiece mikro yang terhubung langsung ke pemindai Naura.
Tiba-tiba, Gibran berdiri dan mengangkat gelas plastiknya. "Oke semuanya, perhatian sebentar! Terima kasih buat tim konsumsi yang sudah masak malam ini. Setelah makan malam, kita akan masuk ke acara inti, penjelajahan malam singkat untuk mengenal navigasi bintang."
Mendengar kata "penjelajahan malam", Naura dan Arkan saling bertukar pandang.