Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The end
Waktu telah melunakkan sudut-sudut tajam Manhattan, dan di dalam dinding kediaman Xander-Rodriguez, sebuah sejarah baru telah tertulis dengan tinta emas kasih sayang. Bertahun-tahun telah berlalu sejak badai skandal yang hampir meruntuhkan dua dinasti besar itu, dan kini, kedamaian bukan lagi sebuah kemewahan yang diperjuangkan, melainkan udara yang mereka hirup setiap hari.
Sore yang Keemasan di Mansion
Sore itu, matahari musim gugur menyinari taman belakang mansion dengan cahaya yang hangat dan nostalgia. Daun-daun mapel berwarna merah dan jingga menari-nari sebelum mendarat di atas rumput hijau.
Tidak ada kebisingan kota yang menembus tempat ini; hanya ada suara tawa yang saling bersahutan, menandakan bahwa rumah ini bukan lagi sekadar simbol kekayaan, melainkan sebuah tempat bernaung yang sesungguhnya.
Pablo Xander berdiri di balkon lantai dua, mengenakan kemeja linen putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Jam tangan mewahnya masih melingkar di pergelangan tangan, namun tatapannya tidak lagi tertuju pada laporan bursa saham di tabletnya. Matanya terpaku pada pemandangan di bawah—pemandangan yang jauh lebih berharga daripada seluruh aset perusahaannya.
Di bawah sana, Freya sedang duduk di sebuah selimut piknik besar. Ia tampak anggun dengan gaun musim panas yang sederhana, rambutnya yang kecokelatan berkilau tertimpa cahaya sore. Di sampingnya, Alessia yang kini sudah tumbuh menjadi balita yang ceria dan penuh rasa ingin tahu, sedang sibuk mencoba menyusun blok kayu dengan konsentrasi yang luar biasa—sifat keras kepala dan fokus yang ia warisi langsung dari ayahnya.
Nael, yang kini telah menginjak usia remaja awal, tampak sedang melatih Alessia cara menendang bola kecil. Postur tubuh Nael sudah mulai menyerupai Pablo—tegap dan penuh percaya diri. Namun, dalam setiap gerakannya, ada kelembutan yang ia pelajari dari Freya. Ia tidak lagi hanya menjadi anak laki-laki yang membutuhkan perlindungan; ia telah bertransformasi menjadi kakak laki-laki yang protektif dan penuh kasih.
"Bagus, Alessia! Tendang sedikit lebih kuat!" seru Nael sambil bertepuk tangan saat Alessia berhasil mengenai bola.
Alessia tertawa geli, memperlihatkan lesung pipit yang mirip dengan Freya. Ia berlari kecil ke arah Nael dan memeluk kaki kakaknya, sebuah pemandangan yang selalu berhasil meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.
Tak lama kemudian, Kakek Alan, Joice, dan Anne Rodriguez tiba. Mereka berjalan perlahan melalui jalan setapak taman. Kakek Alan, meskipun kini sudah sangat senja dan harus menggunakan kursi roda listrik yang canggih, masih memancarkan aura seorang patriark. Ia menolak untuk hanya tinggal di dalam; ia ingin melihat cucu-cucu buyutnya tumbuh di bawah sinar matahari.
"Lihat mereka, Dad," bisik Anne sambil memegang tangan suaminya, Joice. "Siapa yang sangka perjodohan yang penuh air mata itu akan melahirkan kebahagiaan seindah ini?"
Joice mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Freya dan Pablo telah melakukan apa yang gagal kita lakukan dulu. Mereka tidak hanya menggabungkan bisnis, mereka menggabungkan hati."
Pablo turun dari balkon dan menyambut mereka semua. Ia menyalami Joice dengan rasa hormat seorang anak pada ayahnya, dan membungkuk dalam di hadapan Kakek Alan.
"Selamat datang, Kakek. Anak-anak sudah menunggu cerita tentang laut darimu," ucap Pablo ramah.
...----------------...
Malam pun tiba, namun mereka tidak masuk ke ruang makan yang kaku. Freya telah menyiapkan meja panjang di teras terbuka, di bawah naungan lampu-lampu gantung yang menyerupai bintang. Meja itu penuh dengan makanan yang melambangkan perjalanan mereka—pasta dari Italia, hidangan laut dari pesisir Long Island, dan kue favorit Nael.
Saat mereka duduk mengelilingi meja, suasana dipenuhi dengan celoteh Alessia dan pertanyaan Nael tentang sejarah keluarga. Pablo duduk di kepala meja, namun kali ini ia tidak memimpin rapat; ia memimpin sebuah keluarga.
"Aku punya sesuatu untuk dikatakan," ucap Pablo, berdiri sambil memegang gelas kristalnya. Keheningan segera menyelimuti meja. "Malam ini, tepat sepuluh tahun sejak pertama kali aku bertemu Freya di ruang kerja Kakek Alan. Saat itu, aku adalah pria yang penuh dengan kemarahan dan ambisi kosong. Aku pikir hidup adalah tentang menaklukkan musuh."
Ia menatap Freya dengan pandangan yang begitu dalam hingga semua orang bisa merasakan getaran cintanya. "Tapi wanita di sampingku ini mengajariku bahwa kemenangan terbesar adalah saat kita bisa menaklukkan ego kita sendiri demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Dia memberiku Nael, dia memberiku Alessia, dan dia memberiku alasan untuk menjadi pria yang lebih baik setiap harinya."
Freya memegang tangan Pablo, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Dan kau, Pablo, memberiku keberanian untuk percaya bahwa cinta bisa tumbuh di tempat yang paling tidak terduga sekalipun."
Kakek Alan mengangkat tangannya yang gemetar. "Aku telah membangun banyak gedung di kota ini. Aku telah melihat banyak perusahaan naik dan jatuh. Tapi melihat kalian berdua... melihat Nael dan Alessia... aku tahu bahwa warisan yang paling abadi bukan terbuat dari baja atau beton. Warisan itu adalah kesetiaan."
Ia menatap Nael dan Alessia secara bergantian. "Kalian adalah masa depan. Jangan pernah lupa bahwa kalian berdiri di sini karena orang tua kalian berani bertarung demi satu sama lain."
Setelah makan malam, saat para tetua sudah beristirahat di dalam, Pablo dan Freya berjalan ke ujung taman, menjauh dari lampu-lampu teras. Mereka berdiri di tepi balkon yang menghadap langsung ke cakrawala New York yang berkilauan.
Nael sedang duduk di ayunan kayu di bawah pohon, sementara Alessia sudah tertidur pulas di dalam keranjang bayi di sampingnya. Nael menjaga adiknya sambil membaca buku dengan senter kecil, sebuah pemandangan kedamaian yang mutlak.
"Kau ingat malam saat Dante Valerius mencoba menghancurkan kita?" tanya Freya pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Pablo.
"Aku ingat," jawab Pablo. "Tapi aku lebih ingat malam saat kau berdiri di depan mikrofon dan mengakui Nael sebagai putramu. Itu adalah momen paling heroik yang pernah kulihat seumur hidupku. Sejak saat itu, aku tahu aku akan mengikutimu sampai ke ujung dunia."
Pablo membalikkan tubuh Freya, menatap wajah istrinya yang masih secantik saat pertama kali mereka menikah. Ia mengusap pipi Freya dengan jempolnya. "Kita berhasil, Freya. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi ketakutan. Hanya kita."
"Hanya kita," ulang Freya.
Di kejauhan, jam besar di pusat kota berdentang pelan. New York yang keras dan tak kenal ampun tetap berjalan di luar sana, namun di dalam wilayah kekuasaan Xander-Rodriguez, sebuah mukjizat telah terjadi.
Sebuah perjodohan paksa telah bertransformasi menjadi cinta sejati.
Seorang anak yang terbuang telah menjadi pewaris yang paling dicintai.
Seorang bayi telah menjadi simbol harapan baru.
Dan dua orang asing yang dulu saling membenci telah menjadi satu jiwa yang tak terpisahkan.
Pablo dan Freya berciuman dengan lembut di bawah cahaya bulan, sebuah ciuman yang mengandung ribuan kata janji untuk masa depan. Mereka tidak lagi takut akan badai apa pun yang mungkin datang, karena mereka tahu bahwa selama mereka berempat berdiri bersama, mereka tidak akan pernah bisa dipatahkan.
Malam itu berakhir dengan keheningan yang paling indah. Di dalam rumah, tawa dan tangis masa lalu telah berubah menjadi doa-doa syukur. Dinasti Xander-Rodriguez akan terus berlanjut, bukan hanya sebagai raksasa ekonomi, melainkan sebagai monumen hidup dari kekuatan cinta yang mampu menyembuhkan segalanya.
Dan begitulah, di tengah kota yang tak pernah tidur, empat jiwa itu menemukan kedamaian yang abadi. Mereka hidup bahagia, tidak hanya untuk selamanya dalam kata-kata, tapi dalam setiap detik, setiap tarikan napas, dan setiap detak jantung yang mereka bagi bersama.
...SELESAI....