Ongoing
Feng Niu dan Ji Chen menikah dalam pernikahan tanpa cinta. Di balik kemewahan dan senyum palsu, mereka menghadapi konflik, pengkhianatan, dan luka yang tak terucapkan. Kehadiran anak mereka, Xiao Fan, semakin memperumit hubungan yang penuh ketegangan.
Saat Feng Niu tergoda oleh pria lain dan Ji Chen diam-diam menanggung sakit hatinya, dunia mereka mulai runtuh oleh perselingkuhan, kebohongan, dan skandal yang mengancam reputasi keluarga. Namun waktu memberi kesempatan kedua: sebuah kesadaran, perubahan, dan perlahan muncul cinta yang hangat di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Tidak ada yang benar-benar berubah di permukaan.
Pagi tetap datang dengan suara mobil di kejauhan, notifikasi surel yang menumpuk, dan Feng Niu yang berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya—menatap dirinya sendiri seolah mencari seseorang yang lain di balik pantulan kaca.
Beberapa minggu berlalu sejak hubungannya dengan Hao Yiran menemukan ritme yang rapi. Terlalu rapi. Seolah mereka sedang memainkan peran yang disepakati tanpa kontrak, tanpa saksi. Tidak ada janji. Tidak ada status. Hanya keberadaan satu sama lain yang terasa… memudahkan.
Namun justru di situlah masalahnya mulai tumbuh.
Hari itu, Feng Niu tiba di kantor lebih awal. Lobi masih sepi, aroma pembersih lantai masih menggantung. Ia menyukai waktu-waktu seperti ini—ketika dunia belum sepenuhnya terbangun dan semua orang belum menuntut apa pun darinya.
Di meja kerjanya, ada pesan dari Hao Yiran.
Sarapan? Aku di kafe seberang.
Pesan sederhana. Tidak ada emotikon. Tidak ada kata manis. Tapi Feng Niu tahu, jika ia mengabaikannya, akan ada tatapan tertentu nanti. Tatapan yang membuatnya merasa bersalah tanpa alasan jelas.
Ia membalas singkat: Sepuluh menit.
Kafe itu kecil, dengan jendela lebar dan kursi kayu yang sudah sedikit aus. Hao Yiran duduk di sudut, jasnya rapi, rambutnya tersisir sempurna. Ia tampak seperti seseorang yang selalu tahu di mana posisinya—dan bagaimana memanfaatkannya.
“Kamu kelihatan capek,” katanya begitu Feng Niu duduk.
“Kamu selalu bilang begitu,” jawab Feng Niu, hampir refleks.
“Karena itu selalu benar.”
Mereka memesan kopi. Percakapan mengalir ringan—tentang pekerjaan, tentang proyek yang tertunda, tentang hujan yang tidak juga berhenti belakangan ini. Hao Yiran pandai menjaga suasana tetap nyaman. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus tertawa kecil.
Dan di sela semua itu, ia mulai menyelipkan sesuatu yang baru.
“Aku dapat undangan,” katanya santai. “Acara kecil. Pameran seni. Minggu depan.”
“Oh?” Feng Niu mengangkat alis. “Kamu suka seni?”
“Aku suka ditemani,” jawab Hao Yiran, tanpa ragu.
Feng Niu tersenyum tipis. “Aku tidak yakin bisa.”
“Kamu selalu bisa,” katanya lembut. “Kamu hanya sering memilih tidak mau.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi juga seperti dorongan kecil—halus, nyaris tak terasa.
Di rumah, suasana tetap datar. Xiao Fan kini sudah lebih besar, lebih banyak bicara, tapi tetap berhati-hati saat berada dekat ibunya. Ia lebih sering menempel pada Ji Chen, yang akhir-akhir ini semakin jarang pulang tepat waktu—bukan karena pekerjaan semata, melainkan karena ia tidak tahu harus berbuat apa saat berada di rumah yang terasa asing.
Suatu malam, saat Feng Niu sedang menata tas kerjanya, Ji Chen berdiri di ambang pintu kamar.
“Kamu ada rencana akhir pekan ini?” tanyanya.
Pertanyaan itu terdengar biasa. Tapi Feng Niu tahu, tidak ada pertanyaan yang benar-benar biasa lagi di antara mereka.
“Ada urusan kantor,” jawabnya.
Ji Chen mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Ia sudah belajar—atau mungkin menyerah.
Beberapa hari kemudian, Hao Yiran kembali mengirim pesan. Kali ini lebih panjang.
Aku tahu ini terdengar sepele, tapi… aku ingin sesuatu yang menandai kita. Tidak besar. Tidak mencolok.
Feng Niu membaca pesan itu beberapa kali. Jarinya menggantung di atas layar, ragu.
Menandai kita? balasnya akhirnya.
Hadiah, jawab Hao Yiran. Sesuatu yang hanya kamu dan aku tahu.
Ada jeda panjang sebelum Feng Niu membalas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Kata itu—hadiah—membuka pintu ke wilayah yang belum ia petakan.
Untuk apa? tulisnya.
Untuk aku. Dan mungkin… untuk kamu juga.
Mereka bertemu malam itu di restoran yang agak tersembunyi. Bukan tempat mahal, tapi cukup privat. Lampu redup, musik pelan. Tempat yang terasa aman untuk percakapan yang tidak ingin didengar orang lain.
Hao Yiran datang dengan senyum yang sama. Tapi ada sesuatu di matanya—kilau yang lebih tajam.
“Aku tidak ingin kamu salah paham,” katanya setelah mereka duduk. “Aku tidak menuntut.”
“Lalu apa ini?” tanya Feng Niu, langsung.
Hao Yiran menyandarkan punggung. “Aku hanya ingin tahu… seberapa serius kamu.”
Kalimat itu membuat Feng Niu terdiam. Serius. Kata yang belum pernah mereka ucapkan sebelumnya.
“Kita tidak pernah membicarakan ini,” katanya pelan.
“Karena kamu selalu menghindar.”
“Aku tidak—”
“Kamu selalu menarik diri saat pembicaraan mulai menyentuh batas,” potong Hao Yiran, masih dengan nada tenang. “Aku menghargai itu. Tapi aku juga manusia.”
Feng Niu menatap meja. Urat di lehernya menegang. Ia tidak terbiasa diminta seperti ini—tidak secara langsung, tidak dengan cara yang terdengar masuk akal.
“Aku sudah memberikan waktuku,” lanjut Hao Yiran. “Perhatianku. Aku ada saat kamu butuh. Aku tidak meminta kamu meninggalkan siapa pun. Aku hanya ingin… pengakuan kecil.”
“Dengan hadiah,” gumam Feng Niu.
Hao Yiran tersenyum. “Simbol. Itu saja.”
Ia menyebutkan barangnya dengan santai—tas edisi terbatas yang sering Feng Niu lihat di majalah. Tidak murah. Tidak pula mustahil.
“Kenapa harus itu?” tanya Feng Niu.
“Karena kamu mampu,” jawabnya tanpa ragu. “Dan karena itu akan mengingatkan kamu padaku. Setiap kali kamu memakainya.”
Ada sesuatu yang bergetar di dada Feng Niu. Bukan karena jumlah uangnya. Tapi karena maknanya.
Ia teringat Ji Chen—bagaimana ia jarang meminta apa pun. Bagaimana hadiah-hadiah yang ia terima selama ini lebih sering datang tanpa diminta, tanpa pamrih. Dan sekarang, di hadapannya, ada seseorang yang meminta—dengan cara yang terasa wajar, tapi juga menekan.
“Aku perlu waktu,” katanya akhirnya.
“Tentu,” jawab Hao Yiran cepat. “Aku tidak terburu-buru.”
Namun tatapan itu—tatapan yang menyiratkan harapan—tidak benar-benar memberinya ruang.
Hari-hari berikutnya, Feng Niu gelisah. Ia membuka laman belanja daring, menutupnya lagi. Ia menghitung pengeluaran, lalu mengingat bonus yang akan cair. Semuanya masuk akal. Terlalu masuk akal.
Qin Mo, yang selalu tahu kapan harus muncul, tertawa saat Feng Niu menceritakan sebagian ceritanya.
“Dia hanya ingin merasa dipilih,” katanya. “Dan kamu tidak rugi apa-apa. Anggap saja investasi kebahagiaan.”
“Kamu menyederhanakan segalanya,” jawab Feng Niu.
“Karena hidup memang sesederhana itu, kalau kamu berhenti merasa bersalah.”
Di kantor, Chen Li memperhatikan perubahan kecil. Feng Niu lebih sering melamun. Hao Yiran semakin percaya diri. Ada bahasa tubuh baru di antara mereka—jarak yang menyempit, senyum yang tertahan.
Sementara itu, Ji Chen menemukan kuitansi di mobil. Bukan sesuatu yang mencurigakan. Hanya struk kecil dari butik mahal. Tanggalnya baru. Namanya tercetak jelas.
Ia menatapnya lama. Tidak marah. Tidak juga terkejut. Hanya ada rasa berat yang menekan dadanya.
Malam itu, Feng Niu akhirnya mengambil keputusan. Ia membeli hadiah itu. Prosesnya cepat. Klik. Konfirmasi. Selesai.
Saat tas itu tiba beberapa hari kemudian, ia membukanya perlahan. Kulitnya halus. Aromanya khas. Cantik.
Kosong.
Kosong seperti perasaannya saat itu.
Ia memberikannya pada Hao Yiran di parkiran bawah tanah—tempat yang sunyi, tempat yang aman dari mata orang lain.
Hao Yiran menerimanya dengan senyum lebar. “Aku tahu kamu tidak akan mengecewakan.”
Kata-kata itu—alih-alih membuatnya merasa dihargai—justru menimbulkan rasa dingin.
“Ini tidak mengubah apa pun,” kata Feng Niu cepat.
“Tentu,” jawab Hao Yiran. “Ini hanya tanda.”
Namun saat Hao Yiran mendekat, mencium keningnya dengan cepat, Feng Niu menyadari sesuatu yang terlambat ia pahami.
Hadiah itu bukan akhir.
Itu awal.
Dan ia baru saja membuka pintu ke sesuatu yang akan menuntut lebih banyak—perlahan, pasti, dan tanpa ia sadari, semakin sulit ditolak.