NovelToon NovelToon
Ingfah & Nara Si Indigo

Ingfah & Nara Si Indigo

Status: tamat
Genre:Mata Batin / Misteri / Anak Yatim Piatu / CEO / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

SINOPSIS
​Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
​Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
​Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas Baru: Keluarga Cankimha

Suasana latihan yang tenang mendadak berubah dengan kedatangan Arun. Pria berpakaian rapi itu melangkah masuk membawa bantuan pangan sebagai penyamaran, namun sorot matanya membawa berita berat dari luar tembok kuil.

Biksu Dutar menyambut Arun di selasar aula, menjauh sedikit dari pendengaran kedua gadis itu agar mereka tetap fokus pada latihan. Namun, Nara, yang indra pendengarannya semakin tajam berkat latihan busur cahaya, sempat menangkap beberapa kata penting.

"Antek-antek Luang Wicit sudah ditangkap," lapor Arun dengan nada rendah namun mantap.

"Mereka telah melanggar konstitusi kerajaan dan membuat kekacauan besar di hutan perbatasan. Ambisi mereka untuk memberontak akhirnya tercium oleh istana."

Arun melanjutkan bahwa hukuman berat telah dijatuhkan kepada para pengkhianat tersebut.

Dengan jatuhnya kelompok Luang Wicit, ancaman langsung terhadap nyawa Nara dan Ingfah untuk sementara waktu telah mereda. Hutan suci Ban Khun Phum kini bisa bernapas lega.

Rencana Jangka Panjang

Meskipun berita itu menggembirakan, Arun tetap waspada. Ia tahu bahwa meski Luang Wicit sudah tumbang, rahasia Mustika Prema-Vana akan selalu menarik perhatian orang-orang yang haus kekuasaan di masa depan.

"Biksu Dutar, saya punya satu permintaan," kata Arun dengan sungguh-sungguh.

"Biarkan mereka tinggal di sini hingga berusia 16 tahun. Selama waktu itu, biarkan mereka menempa ilmu di bawah bimbinganmu. Saya akan secara rutin mengirimkan segala keperluan mereka melalui orang-orang kepercayaan saya."

Arun menatap Nara yang sedang membidik sasaran dan Ingfah yang masih tenang di depan mangkuk air.

"Dunia di luar sana penuh tipu daya. Saat mereka berusia 16 tahun, saya sendiri yang akan datang menjemput mereka. Pada saat itu, Nara harus sudah menjadi pelindung yang tangguh, dan Ingfah harus sudah menguasai hatinya."

Biksu Dutar mengangguk setuju. "Itu adalah keputusan yang bijaksana, Arun. Enam belas tahun adalah usia di mana bunga mulai mekar dan akar sudah cukup kuat menahan badai. Mereka akan aman di sini."

Nara, yang mendengar percakapan itu dari kejauhan, terhenti sejenak. Enam belas tahun... pikirnya. Itu berarti masih bertahun-tahun lagi sebelum ia bisa menepati janjinya menjemput Nenek Bua dan Mae Parang. Namun, ia menyadari satu hal: ia butuh waktu itu untuk menjadi cukup kuat agar tidak ada lagi yang bisa menyakiti adiknya.

Ia menggenggam busur cahayanya lebih erat, menatap langit Chiang Mai yang cerah. Sebuah tekad baru tertanam di hatinya.

___________________________

Masa Depan (Time Skip)

Beberapa tahun kemudian...

Fajar menyingsing di Kuil Emas. Seorang gadis remaja dengan rambut yang dikuncir rapi dan pakaian safron yang pas di tubuhnya yang tegap, berdiri di puncak tebing. Di tangannya bukan lagi tongkat kayu, melainkan busur emas yang bercahaya redup.

Di sampingnya, seorang gadis yang lebih muda dengan tatapan mata yang dalam dan tenang, sedang duduk bermeditasi tanpa perlu lagi mangkuk air—ia bisa merasakan alam hanya dengan napasnya.

Nara dan Ingfah kini telah tumbuh dewasa.

Waktu telah berlalu dengan cepat di Kuil Emas. Hutan pinus yang dulu terasa asing, kini menjadi taman bermain sekaligus medan latihan bagi kedua gadis itu.

Dua Gadis, Dua Takdir

Nara (16 tahun) telah tumbuh menjadi gadis yang atletis dan tangkas. Gerakannya efisien, matanya tajam layaknya elang yang mengincar mangsa. Busur pusakanya seolah sudah menjadi bagian dari lengannya sendiri.

Ingfah (13 tahun) telah berubah secara fisik dengan sangat mengejutkan. Darah ibunya—sang Putri Khon Khaw yang legendaris—mulai muncul sepenuhnya. Rambutnya kini pirang keemasan, matanya berwarna biru jernih seperti langit pagi, dan kulitnya putih bersih. Ia tampak seperti Farang (orang asing), sangat cantik namun memancarkan aura misterius yang membuat siapa pun segan.

***

Latihan di Puncak Pohon

"Nong, jangan membuat gerakan mendadak seperti itu! Kau membuat pohon itu susah aku pijak," seru Nara sambil menyeimbangkan tubuhnya di dahan pohon pinus yang tinggi.

Ia baru saja hampir terpeleset karena Ingfah secara tidak sengaja memanipulasi energi tanah di bawah pohon tersebut saat meditasi.

Ingfah membuka matanya, menatap kakaknya dengan kerlingan nakal.

"Pi, kamu harus lebih gesit dari si monyet. Mereka tidak akan terpeleset hanya karena sedikit getaran," godanya sambil tertawa kecil.

Nara meloncat turun dengan ringannya, mendarat tepat di depan Ingfah.

"Kakiku bukan seperti kaki monyet yang bisa mencengkeram dahan dengan jari kaki, tahu!" timpal Nara sambil mencubit pelan hidung adiknya.

"Baiklah, aku minta maaf, Pi," kata Ingfah sambil bangkit berdiri. Ia merapikan pakaian safronnya yang kini tampak sangat kontras dengan warna rambut emasnya.

Nara menoleh ke arah matahari yang mulai condong ke barat. "Sebaiknya kita kembali sekarang, sebelum Kakek Biksu meminta Pi Wit (biksu muda senior) mencari kita. Aku tidak mau mendapat hukuman menyalin mantra semalaman lagi."

Ingfah mengangguk setuju. Ia tahu Nara sangat disiplin, bukan karena takut pada hukuman, tapi karena Nara merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan mereka. Tatapan Nara yang biasanya tajam dan waspada hanya akan melunak dan berubah menjadi senyum manis saat ia menatap Ingfah.

"Ayo, Pi. Aku juga sudah rindu teh jahe buatan Pi Wit," kata Ingfah sambil menggandeng tangan Nara.

Saat mereka berjalan menuruni jalan setapak menuju aula utama, mereka melihat sebuah bayangan yang tidak asing berdiri di gerbang kuil. Seorang pria dengan pakaian perjalanan yang kokoh, ditemani oleh beberapa pengawal.

Nara seketika waspada. Tangannya secara otomatis meraba tongkat kayu di pinggangnya yang siap berubah menjadi busur kapan saja. Namun, saat pria itu berbalik, Nara mengendurkan ketegangannya.

"Itu Paman Arun," bisik Nara.

Jantung Nara berdegup kencang. Ia ingat janji Arun: Saat Nara berusia 16 tahun, ia akan datang menjemput. Hari itu akhirnya tiba. Waktunya untuk membuktikan latihan mereka selama bertahun-tahun dan menjemput kembali keluarga mereka yang tersisa.

Pertemuan di aula kuil sore itu terasa sangat formal dan serius. Arun berdiri tegak, memandang dua gadis di depannya dengan rasa bangga sekaligus cemas. Ia melihat Nara yang kini setegar karang, dan Ingfah yang kecantikannya tampak tidak berasal dari dunia ini.

Arun mengeluarkan dua buah dokumen resmi kerajaan yang telah ia siapkan bertahun-tahun.

"Dunia di luar sana masih mengingat nama 'Khon Khaw' dan 'Patan'. Jika kalian menggunakan nama itu, para pemburu mustika akan menemukan kalian dalam hitungan jam," ujar Arun dengan suara berat.

"Mulai hari ini, di mata hukum dan masyarakat, kalian adalah bagian dari keluargaku. Nama belakang kalian adalah Cankimha."

Nara mencicipi nama itu di lidahnya. Nara Cankimha. Terasa asing, namun ia tahu ini adalah perisai baru mereka.

"Nara, kamu akan berlatih bela diri modern dan mengikuti pendidikan formal setelah tinggal bersamaku. Aku ingin kalian siap bukan hanya secara rohani dan fisik, tapi secara sosial," papar Arun.

Arun berjalan mendekat, menatap Nara dan Ingfah bergantian. Ia ingin mereka paham bahwa kekuatan busur cahaya dan meditasi saja tidak cukup untuk bertahan hidup di tengah kota besar yang penuh tipu daya.

"Di kota, orang tidak bertarung dengan pedang atau sihir di jalanan. Mereka bertarung dengan kedudukan, uang, dan kecerdasan," lanjut Arun.

"Kalian harus memiliki pendidikan. Kalian harus bisa bekerja dan berbaur. Tanpa itu, kalian akan tetap menjadi target yang mudah dipojokkan."

Arun menekankan bahwa misi mereka bukan hanya menjemput Nenek Bua, tapi membangun hidup baru yang aman. Jika mereka kuat secara ekonomi dan sosial, mereka bisa melindungi keluarga mereka dengan lebih legal dan kokoh.

Langkah Pertama: Persiapan Keberangkatan

Biksu Dutar, yang duduk menyimak, akhirnya angkat bicara.

"Arun benar. Pergilah bersama dia. Kuil ini telah memberi kalian akar yang kuat, sekarang saatnya kalian menumbuhkan sayap di dunia nyata."

Nara menoleh ke arah Ingfah. Adiknya tampak sedikit ragu, namun ia menggenggam tangan Nara dengan erat.

"Pi... apakah kita akan sekolah seperti anak-anak di pasar Ayutthaya dulu?" tanya Ingfah pelan.

Nara tersenyum, meski hatinya berkecamuk membayangkan kerasnya kehidupan kota.

"Iya, Nong. Kita akan belajar banyak hal baru. Kita akan menjadi keluarga Cankimha yang hebat, sampai tidak ada seorang pun yang berani mengusik kita lagi."

***

Besok pagi, mereka akan menanggalkan jubah safron mereka dan mengenakan pakaian warga sipil. Nara akan menyimpan busurnya dalam wujud tongkat pendaki, dan Ingfah harus belajar menyembunyikan pendaran auranya di balik sikap tenang seorang gadis sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!