Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dira
Hari itu keluarga Yitno berkumpul dan bersenda gurau bersama. Yitno sibuk menggendong keponakannya yang masih berusia 2 tahun.
"Mas aku pulang besok, soalnya suamiku udah kerja." Ujar Putri, adiknya
"Iya..mas juga besok mau pergi."
"Lah kemana mas?"
"Ngambil barang-barang Weni di kontrakannya,,"
"Pake apa ngambilnya mas?"
"Pake mobil pick up nya lek Parman. Udah ngomong semalem."
Hari-hari yang Yitno jalani berjalan mulus tanpa hambatan. Semenjak menikah ia merasa terbantu. Weni menjaga warungnya, jika ada yang hendak nyalon barulah ia memanggilnya. Pekerjaan Yitno hanya ngopi sembari melihat kolam ikan nilanya.
Pagi itu Yitno mengaduk semen hendak mencetak batako. Ia ingin membuat kamar mandi. Sore harinya setelah mandi, ia menggantikan istrinya menjaga warung..
"Bener kata mamas, aku promo di medsos banyak anak SMA yang tanya-tanya. Kayaknya ide mas manjur. Pasti mereka kemari nanti kalau pengen potong rambut, bonding apa smooting." Ucap Weni
"Iya murahin aja dik, orang jasa aja lho, kalau kamu pengen beli alat buat nyalon apa ada yang kurang ngomong aja nanti mas beliin."
"Eehh..? Yang bener mas?"
"Iya.."
"Emm..dik, mas mau nanya dulu kamu waktu sama suami yang dulu gimana dia ngasih nafkah kamu? Bulanan apa harian gitu?"
"Mingguan mas, suamiku kerja di pabrik harian lepas, bukan karyawan. Jadi gajiannya mingguan."
"Di..dikasih berapa dik kamu tiap Minggu?"
"Di kasih 300 mas, gajinya 420/Minggu. Dia pegang sisanya buat beli bensin."
"Ohh..kalau mas kasih kamu sehari buat uang sayur 50 ribu cukup gak, dik?"
"Cukup lah mas, cuma beli bumbu lauk sama sayur. Kebutuhan lainnya kayak sabun dll 'kan mas jual." Jawab Weni tersenyum.
"Oh ya udah kalo gitu, mas kasih tiap bulan 3 juta. 1,5 juta buat uang sayur. Yang 1,5 juta lagi itu lah nafkah mas buat kamu."
"Eeehhh...?? Yang bener mas?"
"Bener lah.." Wiwin memeluk suaminya bahagia..
"Heh..!! Di warung ini..!! Di liat orang lewat nanti, dik!"
"Kan cuma peluk mas, kita juga udah nikah."
"Tetep gak pantes lah.."
"Akhirnya...." Ucap Weni bersyukur
"Akhirnya apa dik?"
"Emm.. anu mas sebenernya Dira, minta beliin motor. Soalnya ke arah sekolahnya disini gak ada angkot. Dia sering telat mas sekolahnya. Kalau mas kasih aku segitu, emm boleh gak mas aku kredit motor buat Dira.?" Tanya Weni meminta izin kepada suaminya
"Lha motor kamu dik, kan ada?"
"Buat disini mas, aku emang gak izinin Dira bawa motor itu. Motor cuma satu. Aku kasian liat mas kalau mau belanja kepasar jalan kaki, itu jauh lho mas. Dira juga kalau di anter gak mau. Malu mungkin dia mas, udah gede kok di anter."
"Hmm iya juga ya kalau pas lagi belanja apa ada keperluan apa, kalau motor di bawa Dira sekolah kita juga yang repot disini. Ya udah mas izinin, hmm tapi ada syaratnya, 2 syaratnya.." ujar Yitno
"Syarat..? Kok pake syarat, mas? Emang apaan syaratnya?"
"Syarat yang pertama, nanti pake baju dinas ya..di cukur sampe mulus kayak sabun giv."
"Hahaha.." Weni menunduk tertawa terbahak-bahak..
"I..iya..iya...terus syarat kedua apa? Awas bikin aku ketawa lagi hahaha..."jawab Weni sembari tetap tersenyum menahan tawa
"Syarat yang kedua jangan pake uang nafkah mas buat bayar kreditan motor, itu nafkah buat kamu..kamu pake buat keperluan kamu, buat beli make up, baju, apa jajan. Terserah kamu. Motor itu biar mas yang bayar cicilannya. Kamu gak usah mikirin itu."
Senyum Wiwin seketika hilang, ia terpaku menatap suaminya, ia begitu kagum pada sikap tanggung jawab suaminya itu..
"Kok bengong? Gimana sanggup gak sama syarat yang mas ajuin?" Ucao Yitno. Weni pun tersenyum mengangguk.
"Tutup yuk mas, aku pengen meluk mas di kamar."
"Hahaha udah gak sabar mau klaim jatah bulanan 3 juta ya?"
"Hahaha...gak ya. Aku sebenernya pengen cium mas sambil meluk wkwkw.."
"Peluk aja, gak usah cium."
"Hiiiiisssss mas ini kenapa gak mau ciuman sih? Katanya aku cantik? Kok gak mau ciuman? Sampe tiap ke pasar aku beli lipstik yang warnanya beda. Tetep aja mas gak suka kalau di cium?"
"Aneh rasanya,,.."jawab Yitno singkat
"Emang bau ya mas, mulutku? Kayaknya gak lho, tiap mau tidur aku selalu gosok gigi dan kumur Listerine.."
"Nggak bau kok, cuma aneh rasanya. Mas emang gak suka ciuman."
"Lah sia-sia aku cantik kalau gak di cium mas?"
"Kan kening, pipi sama nenen kamu mas cium to, dik? Mosok kurang?"
"Ya..ya sekali kali di cium juga bibirku mas."
"Iya, iya... Nanti mas cium, Kalau lupa."
"Berarti kalau inget, nggak di cium? Hiss..!!" Gerutu Weni. Yitno tertawa sembari berdiri memasukan botol-botol bensin eceran ke dalam warung..
"Udah yuk tutup, nanti kemalaman..mana masih nunggu kamu cukur lagi hahha."
"Ya udah mas tutup sendiri, aku cukur dulu. Biar mas gak kelamaan nungguinnya hahaha."
"Ya udah sana.." Selesai tutup warung Yitno segera masuk ke dalam rumahnya.
Yitno membuka gorden kamar Dira anak tirinya, sekedar melihatnya sudah tertidur apa belum. Tampak Dira anak tirinya sudah tertidur sembari merangkul sebuah buku diary bergambar putri disney bergaun biru.
Yitno membenahi selimut anaknya dan perlahan mengambil buku yang di peluk anak tirinya itu. Ya itu sebuah buku diary anak tirinya. Yitno duduk di bibir kasur anak tirinya tersebut. Perlahan ia membuka halaman buku tersebut dan membacanya..
Ia tampak terkejut dan sangat sedih membaca tulisan di buku itu sesekali ia melihat ke wajah anak tirinya yang sudah tertidur.
Weni keluar dari kamar mencari suaminya yang tak kunjung datang. Ia ke dapur pintu dapur tertutup rapat, bahkan pintu depan sudah terkunci.
"Lho mas Yitno kemana, abis tutup warung?" Batin Weni
Ia lalu menuju kamar putrinya, ia terkejut melihat suaminya berada di situ. Suaminya sedang duduk membaca buku diary anaknya..
"Ngapain mas?" Ujar Weni kepada Yitno dengan suara lirih takut anaknya terbangun.
Yitno diam tak menjawab, ia hanya termenung menatap tulisan di buku itu dengan perasaan sedih. Weni datang mendekat duduk di sebelah suaminya dan ikut membaca..
"Ayo..dik ke kamar" ajak Yitno sembari beranjak pergi meninggalkan istrinya. Weni yang penasaran dengan diary anaknya ia pun membaca nya juga.
Ya ternyata Dira di sekolah tak mempunyai teman. Ia menulis keluh kesah semuanya di buku itu. Dira anak yang manis dan cantik hanya saja sifatnya cenderung introvert, ia sulit bergaul. Jika tidak ada yang mengajaknya bicara ia tak akan berbicara.
Ia anak yang pendiam, ia sulit berkomunikasi duluan. Di tambah ia sangat ingin mempunyai sebuah ponsel. Sehari ia terus menabung, ia menyisihkan uang sakunya. Setiap hari ia menabung sebesar 2 ribu rupiah. Ia pun mengeluhkan dirinya yang selalu terlambat pergi kesekolah.
"Mas Yitno pasti kepikiran.." batin Weni, ia pun menaruh diary itu dan pergi kekamarnya. Tampak Yitno sedang duduk memegang uang.
"Ini uang bulanan kamu dik," ujar Yitno menyerahkan uang sebesar 3 juta rupiah kepada istrinya.
"Iya mas makasih.."
"Dik besok kan hari Minggu, ajak Dira..beliin dia hape, ini duitnya" ujar Yitno memberikan uang lagi
"Mas aja yang beliin, kalau mas mau beliin Dira hape."
"Kok aku dik? Emang ngapa?"
"Emm..semenjak kita nikah, aku liat mas belum pernah ngobrol sama Dira. Anak itu emang pendiem mas. Maaf ya mas kalau tiap mas nyuruh dia, dianya gak jawab. Walaupun dia nurut dan berangkat."
Yitno terdiam..
"Apa dia mau pergi sama aku, dik? Kayaknya dia malu punya ayah tiri kayak aku dik.."
"Eng..nggak mas, nggak gitu..mas. dia canggung aja. Wajar mas..ya udah gini aja mas, pokoknya mas ajak dia pergi besok. Kalau dia gak mau ya udah berarti aku yang beliin. Usahain dulu mas. Biar hubungan keluarga ini harmonis gitu mas. Aku juga gak enak sama mas kalau anakku diemin Mamas..kurang akrab gitu kesannya.."
"Mas gak masalah dia diemin kayak mana juga dik, aku laki-laki dan aku udah nikahin kamu. Mau gimana modelnya dia, tetep aku urusin. Kamu gak usah khawatir soal itu. Mas udah terbiasa sakit hati dari kecil. Mas cuma gak mau kesannya baikin dia dengan beliin dia hape. Ya udah besok sore mas coba ajak dia,,"