Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.
Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.
Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.
Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.
Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Belas
"Asal kamu tahu saja, Lang. Sebentar lagi status jomlo-ku juga tak lagi kusandang." Dengan percaya dirinya Jupiter berucap. Langit hanya menanggapi dengan sebuah cebikan di bibirnya.
"Sejak lama kamu selalu berkata begitu. Tapi mana buktinya? Nggak ada, kan? Jadi, jangan harap aku bisa percaya begitu saja."
"Lihat saja. Tak akan lama lagi aku pasti akan mengumumkan padamu bahwa seorang Jupiter telah berhasil meluluhkan hati seorang wanita."
"Cih! Jangan banyak menghalu. Lebih baik segera kerjakan apa yang sudah aku berikan padamu."
"Ah, kamu ini. Tidak asyik sama sekali. Pekerjaan mulu yang kamu pikirkan."
"Karena ini di kantor. Tempatnya orang untuk bekerja. Bukan menggosip."
Jupiter beranjak dari duduknya. Meninggalkan ruangan sang sepupu. Tak lantas pria itu melakukan apa yang telah Langit perintahkan. Namun, justru singgah di kantin kantor untuk dapat menikmati secangkir kopi sebelum dirinya disiksa oleh banyaknya tugas yang Langit bebankan padanya. Ya, selain menjadi seorang sepupu, Jupiter juga membantu Langit bekerja di kantornya semenjak pemuda itu masih kuliah dulu. Jupiter sendiri memang sudah tak lagi memiliki orangtua sehingga dalam keseharian pemuda itu, memilih tinggal bersama kedua orangtua Langit yang telah merawatnya hingga sebesar ini. Sementara Langit sendiri telah memiliki rumah yang ditinggalinya bersama Cahaya.
Selalu menjadi bayang-bayang Langit, tak lantas membuat Jupiter rendah diri. Tidak sama sekali karena Langit juga memperlakukannya dengan sangat baik. Sudah menganggap layaknya adik kandung jika di rumah dan memperlakukan dia seperti karyawan pada umumnya jika di kantor. Dengan adanya Jupiter juga sangat memudahkan Langit. Selain bisa dipercaya menghandel beberapa pekerjaan penting yang Langit sudah kuwalahan mengurusi, juga dapat diandalkan sebagai body guard paling kompeten buat Cahaya. Kasih sayang yang Jupiter berikan pada sang keponakan sangatlah besar. Sama halnya kasih sayang yang Langit berikan untuk putrinya itu. Tak heran jika Cahaya dan Jupiter memiliki hubungan serta kedekatan yang sangat erat sekali.
Satu cup coffee sudah berada di tangan Jupiter. Menyesapnya perlahan menikmati kenikmatan dari perpaduan kopi dengan sedikit gula yang begitu melewati tenggorokannya terasa hangat juga menambah semangat untuknya menjalani aktifitas di satu hari ini.
Ponsel yang tadi berada di saku celana, sudah berpindah di tangan begitu cangkir yang isinya masih tersisa banyak diletakkan di atas meja.
Mengingat pembicaraan yang dilakukannya bersama dengan Langit tadi, menuntut Jupiter untuk membuka aplikasi berkirim pesan yang hampir setiap orang memilikinya. Ia buka nomor kontak Bulan Purnama yang tersimpan di sana. Sebelum menghubungi gadis itu, Jupiter membuka profil yang terdapat foto gadis itu. Sangat cantik. Dan juga terlihat sekali berbeda dengan Bulan Purnama yang dia jumpai di Surabaya tempo hari.
Bulan dalam kehidupan nyata terlihat manja dan menggemaskan. Dengan wajah dan juga penampilannya yang polos. Sementara Bulan yang ada di dalam foto profil yang tengah diamati oleh Jupiter saat ini adalah seorang wanita karir dengan wajah berpoles make up, tidak tebal tapi tampak lebih dewasa. Ditambah dengan penampilan dengan seragam kerja yang Bulan kenakan, membuat kesan mandiri dan wanita tangguh.
Jupiter gelengkan kepalanya. Ciut nyali ketika membayangkan jika Bulan adalah seorang pemimpin sebuah hotel mewah dan megah di pulau Dewata. Akankah wanita itu nantinya mau dia dekati atau bahkan menjalin hubungan dengannya.
Ah, jika tidak berusaha dan mencoba Jupiter tak akan tahu reaksi apa yang akan Bulan berikan padanya ketika gadis itu menyadari bahwa dia memang berniat menjalin hubungan yang lebih jauh lagi dari sekedar pertemanan.
Baiklah, Jupiter memilih nekat. Ia embuskan napas panjang sebelum menuliskan sesuatu pada aplikasi pesan tersebut. Harap-harap cemas menanti balasan dari gadis cantik yang membuatnya terpesona ketika pertama kali jumpa.
••••
Langit tak habis pikir dengan kegigihan sosok Bulan Purnama yang tak ada kata menyerah memberikan dia proposal penawaran lahan. Kali ini nilai beli proposal yang dia terima tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Bulan bahkan berani menaikkan harga penawaran lebih dari sepuluh persen dari proposal terkahir yang dia tolak.
"Benar-benar gadis keras kepala dan pantang menyerah," ucap Langit masih dengan membaca tulisan yang terdapat dalam proposal yang baru saja Johan sodorkan padanya.,
Kening Johan mengernyit heran mendengar Langit menyebut gadis itu. Gadis siapa yang dimaksud oleh atasannya itu. Apakah nama pemilik hotel yang tertera dalam proposal itu masih gadis? Dari mana Langit bisa tahu jika Bulan Purnama masih gadis? Tanya yang memenuhi otak Johan ingin mendapatkan jawaban.
"Jo!"
"Iya, Pak."
"Menurutmu aku harus bagaimana?"
Johan mengedikkan bahunya tak tahu jawaban apa yang harus dia berikan pada Langit terkait pertanyaan atasannya itu. Yang tahu jawabannya tetaplah hanya Langit karena yang memiliki lahan tersebut juga Langit. Johan pernah mengusulkan agar menerima saja tawaran itu, tapi Langit terang-terangan menolaknya. Sekarang kenapa Langit justru bertanya padanya. Johan tak paham akan apa yang sedang dipikirkan Langit Biru.
"Bukankah sejak awal Bapak sudah menolak? Apa mungkin Pak Elang berubah pikiran?"
Kepala Langit menggeleng cepat. "Tidak ... tidak. Aku tak ada keinginan itu. Apa kamu tahu, Jo. Tadi Vivian mendatangiku. Dan dia ingin rujuk denganku."
"Oh, ya? Lalu apa kaitannya dengan lahan tersebut?"
"Vivian sudah tahu jika lahan itu ada yang menawarnya. Ketika aku di Surabaya waktu itu, Vivian juga mendatangiku. Mengungkit perihal lahan dan dia meminta bagian. Gila saja. Semua dia minta. Tanpa peduli jika itu adalah bagian milik Cahaya. Tentu saja aku tidak akan bodoh dengan mengabulkan keinginannya. Setelah terang terangan aku menolak memberi dia bagian, justru dia kembali berulah dengan embel-embel rujuk."
"Bapak menyetujuinya?"
"Tentu tidak."
"Lalu?"
"Aku harus mengamankan lahan itu."
"Caranya?"
Langit menggelengkan kepala tanda dia masih bingung juga.
"Dan mengenai proposal itu bagaimana, Pak?" Johan bertanya yang kembali mengingatkan Langit akan proposal di tangan.
"Tolak lagi saja. Aku ingin tahu seberapa gigih gadis itu untuk mendapatkan lahan milikku. Kita lihat apa setelah penolakan ini ... akan kembali datang proposal lagi. Atau dia menyerah. Aku heran. Bagaimana mungkin ada gadis yang berambisi sangat tinggi."
"Maaf, Pak Elang. Apa Anda mengenal pemilik hotel tersebut?"
Kepala Langit mengangguk. "Ya."
"Saat Anda ke bali kemarin ... Anda bertemu dengan pemilik hotel itu?"
"Tidak. Aku hanya mencari tahu saja niatnya, tapi aku justru mendapatkan lebih daripada itu." Ucapan Langit pada Johan.
Yang Langit maksudkan adalah pertemuan tak sengaja berkali-kali dengan Bulan hingga berakhir dirinya mengetahuinya jika Bulan keponakan Dirga.
Namun, Johan tak paham dengan apa yang dimaksud dari perkataan Langit barusan.
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Kirain g d lanjut...