Seasons 1:
Gara-gara kesalahannya yang tidak membawa helm saat berkendara. Ceisya, harus terjebak jaring razia yang membuatnya berpikir keras. Di satu sisi Ceisya tidak keberatan kalau mendapat hukuman. Tapi, di sisi lain dia tidak mau berhadapan dengan Dosen killernya yang terkenal seantero kampus. Berkat usahanya yang keras akhirnya dia bisa lari dari hukumannya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka?
Seasons
2 (kisah tentang anak Ceisya & Zafran) :
Judul Novel: (Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Sore ini mereka menemani Ibu hamil itu. Singgah ke sana, singgah ke sini. Makan itu, makan ini. Biasalah yang namanya Ibu hamil.
Sejenak Ceisya melupakan niat awalnya yang ingin pulang ke kosan untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk.
"Isy, apa kau punya pacar?" tanya Emi tiba-tiba.
"Oh ayolah, Kak. Kau jangan bercanda." jawab Ceisya.
"Aku tidak bercanda, Isy. Sepertinya dugaanku benar. Kau tidak punya pacar kan?" ledek Emi.
"Ya ya ya."
"Kak, apa dia mendengar kalau kita berbicara?" tanya Ceisya yang kini sudah berada di depan perut Emi yang masih datar.
"Tidak lah. Umurnya saja masih sebesar gumpalan darah."
"Oh, dulu waktu kecil aku juga suka berbicara di depan perut Bundaku saat mengandung adikku."
"Oh ya?" ujar Emi takjub.
"Iya, Kak. Dulu saat dia masih kecil sangat lucu dan imut. Tapi, kenapa saat sudah besar dia menjadi begitu menyebalkan." Ceisya terkekeh kecil saat mengingat moment yang begitu manis baginya.
"Bukankah itu adalah sebagian dari sifat Kakaknya ya?" goda Emi.
"Mana ada, Kak. Apa aku menyebalkan?" tanya Ceisya menunjukkan wajah polosnya.
"Kau tidak menyebalkan. Tapi menggemaskan." jawab Emi jujur.
"Rasanya aku sedang terbang di langit-langit, Kak." ujar Ceisya terkekeh. "Lalu...kenapa saat aku bicara dengannya, dia marah-marah melulu." bisik Ceisya sambil menunjukkan Zafran yang duduk berhadapan dengan mereka sambil memainkan ponselnya.
"Mungkin lagi pms. Biasalah itu anak."
"Hahahaa...mungkin saja, Kak."
Mereka berdua tertawa bersamaan membuat Zafran mendongakkan kepalanya menatap heran dua perempuan di hadapannya.
"Eumm, Kak. Hari sudah sore, aku pamit pulang ya?" ucap Ceisya hati-hati.
"Ohh, iya. Sampai lupa. Biar Zafran yang mengantarkanmu."
"Tidak usah, Kak. Motorku masih berada di kampus. Jadi, aku mau ke kampus dulu untuk mengambilnya."
"Jangan menolak, Isy. Ini permintaan keponakanmu." sahut Emi yang lagi-lagi membawa nama bayi di dalam kandungannya yang tidak tahu apa-apa.
"Baiklah, Kak. Aku tidak akan menolak." jawab Ceisya pasrah.
"Zafran, kau antarkan Isy-ku pulang. Biar nanti aku pulang bersama Kakak iparmu. Sebentar lagi dia sampai ke sini. Jadi kau tidak perlu khawatir."
"Sungguh, Kak?" tanya Zafran kemudian menelfon seseorang yaitu Kakak iparnya. "Baiklah. Karena kau tidak berbohong."
"Cih! Siapa juga yang berbohong." cibir Emi.
"Jangan marah, Kak. Ini kami berangkat." Zafran menarik tangan Ceisya.
"Dadahhh Kak Emi. Jaga baik-baik si segumpal darah itu ya!" teriak Ceisya membuat pengunjung lain di restoran melihat ke arahnya.
"Astaga! Baru saja dia mengatakan bayiku si segumpal darah!" batin Emi frustasi.
"Jangan berteriak sembarangan! Kau pikir ini di hutan!" amuk Zafran sambil membekap mulut Ceisya. Matanya menatap tajam bola mata Ceisya yang berwarna hitam pekat dan memiliki lingkaran bola mata hitam yang sedikit besar. Hal itu membuat Ceisya menjadi semakin imut dan lucu.
Ceisya menarik tangan Zafran dari mulutnya. "Kebiasaan main nutup mulut orang!" balas Ceisya.
"Ter-serah." sahut Zafran. "Cepatlah! Kau mau pulang tidak?"
"Sabar kenapa sih, Om!" ucap Ceisya kesal.
Di dalam perjalanan mereka hanya terdiam. Biasanya Ceisya yang suka mengoceh kini hanya terdiam sambil melihat ke jalanan melalui kaca mobil.
"Sa."
Ceisya tidak menyahut.
"Sasa." panggil Zafran sekali lagi.
Ckittt
Bruk
"Aishhhh! Om, kau apa-apaan sih!" ucap Ceisya setengah berteriak sambil mengelus dahinya yang terbentur karena Zafran memberhentikan mobilnya secara mendadak. Beruntung tidak ada kendaraan lain di belakang mobilnya.
"Kau ku panggil tidak menjawab."
"Memangnya Om memanggilku apa? Sasa? Mana ku tau. Nama aneh lagi yang kudapatkan. Jelas-jelas namaku itu Ceisya. C-E-I-S-Y-A." ucap Ceisya mengeja namanya.
"Ya. Memang namamu Ceisya. Tapi, terserah orang mau memanggil namamu siapa termasuk aku." balas Zafran.
"Kau benar-benar, Om!" Ceisya membuka tasnya dan mengambil ponsel untuk bercermin.
"Tuh kan. Jidatku benjol. Dan itu semua gara-garamu, Om." ujar Ceisya sambil melihat dahinya yang sedikit membenjol.
"Ya, maaf."
Ceisya hanya diam tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya ke samping lebih memilih untuk memandangi jalanan. Bukannya marah. Ceisya hanya sedikit lelah. Hari ini aktivitasnya benar-benar menguras tenaganya.
"Sa."
"Hemmm."
"Kau kenapa? Apakah sakit?"
"Tidak." jawab Ceisya pelan. "Jangan mengajakku berbicara, Om." pinta Ceisya tanpa membilang dirinya lelah.
'Apa aku keterlaluan? Batin Zafran sambil melihat Ceisya.
Zafran segera membongkar isi dashboardnya untuk mencari sesuatu. Saat telah menemukannya Zafran tersenyum melihat barang yang dia cari.
"Hadap sini dulu, Sa!"
"Hemmm...apa, Om? Jangan mengajakku bicara."
Zafran menarik tangan Ceisya hingga berhadapan dengannya.
Zafran membuka tutup salep dan menaruhnya di ujung telunjuknya sedikit. Kemudian dia menyibakkan rambut Ceisya sedikit untuk memudahkannya mengobati lukanya.
Masih dengan posisinya, Ceisya hanya memandang wajah Zafran yang tengah mengobatinya. Ceisya akui memang kalau Zafran itu sedikit tampan. Sedikit ya, hehe. Sebenarnya Ceisya ingin memuji Zafran sangat atau terlalu tampan. Cuma, Ceisya takut nantinya dia akan menjatuhkan hatinya sebelum waktu yang tepat. Ya, Ceisya sudah memegang prinsip saat dia sudah lulus kuliah atau sudah menjalani profesinya sebagai Dokter dia baru akan menjalani kisah asmara.
Memang terkesan lebay atau apa lah itu. Tapi, itu lah prinsipnya. Demi kebaikannya dan keberlangsungan hidupnya.
"Sakit?" tanya Zafran sesekali meniup dahinya.
Ceisya menggelengkan kepalanya.
Tanpa sadar Zafran merapikan anak rambut Ceisya ke belakang telinganya membuat Ceisya memejamkan matanya sejenak. Entahlah. Baginya Zafran selalu membuatnya nyaman. Walaupun Zafran terkesan menyebalkan di matanya. Berbeda dengan pria lain yang selalu membuatnya risih jika berdekatan.
Zafran tersenyum tipis. "Langsung pulang ya? Biar nanti motornya nanti orang yang mengantarkannya."
Ceisya mengangguk.
"Duduknya benerin dulu."
Ceisya langsung duduk normal. Dia memalingkan wajahnya ke samping. Malu, mengingat dirinya yang menjadi gadis yang patuh. Biasanya dia akan mengoceh sampai mulutnya lelah.
Tidak lama kemudian akhirnya mobil yang dikendarai Zafran berhenti tepat di depan kosan Ceisya. Beruntung saat dia memasuki jalan yang lumayan kecil mobilnya bisa masuk. Dan juga halaman tempat kosan lumayan luas.
Saat Ceisya keluar, Zafran juga keluar dari mobilnya.
"Terima kasih, Om."
"Ya. Sama-sama." jawab Zafran. "Masuk lah! Istirahat."
"Om duluan aja."
"Tidak. Kau duluan saja yang masuk."
"Huumm...baiklah. Aku masuk ke dalam ya, Om. Hati-hati pulangnya."
Zafran tanpa sadar melambaikan tangannya dadah.
"Astaga! Bocah ingusan itu manis sekali." lirih Zafran memandangi pintu kosan Ceisya sudah tertutup rapat.
Zafran masih berdiri di depan kosan Ceisya. Tidak rela beranjak pergi.
Saat dia sudah mau beranjak, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara deru mesin motor yang berhenti tepat di depan kosan.
"Daniel?"
"Bukankah itu Reva? Wah! Kenapa bisa bersamaan seperti ini ya?"
"Hei, Niel. Jangan pernah masuk ke dalam kosan para wanita. Aku pulang duluan. Bye." teriak Zafran sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar Zafran sialan!" sungut Daniel sambil menatap kepergian Zafran.
"Astaga! Dunia sepertinya sangat sempit."
.
.
.
gemeusyy sama si om 🤣