Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1
Rumah itu tetap berdiri megah.
Tidak ada yang berubah dari luar. Gerbang besi masih terbuka setiap pagi, taman masih terawat, dan lantai marmer tetap berkilau di bawah cahaya lampu gantung. Namun bagi Yurie Harielyn Nazeeran, rumah itu telah kehilangan sesuatu yang paling penting—kehangatan.
Sejak hari kematian ibunya, Yurie tidak lagi berlari di lorong-lorong rumah. Langkah kecilnya menjadi pelan, nyaris tak terdengar. Ia belajar berjalan dengan hati-hati, seolah takut membuat suara yang bisa memancing amarah.
Shella Nazeeran dimakamkan dengan upacara yang layak. Banyak orang datang, membawa bunga, mengenakan pakaian hitam, dan menyampaikan belasungkawa dengan suara rendah. Mereka berkata Shella wanita baik, istri yang anggun, ibu yang penyayang. Mereka berkata Shella meninggal karena sakit.
Yurie berdiri di samping peti jenazah, menggenggam boneka kelincinya erat-erat.
Ia ingin berkata bahwa semua itu tidak benar.
Ia ingin berteriak bahwa ibunya tidak sakit.
Ia ingin mengatakan bahwa ada gelas, ada obat, ada seseorang yang tersenyum terlalu tenang.
Namun setiap kali Yurie membuka mulut, ayahnya hanya menatapnya dengan pandangan keras.
“Yurie jangan bicara yang aneh-aneh,” kata Bimantara suatu malam, suaranya dingin. “Mama kamu sakit. Itu saja.”
Yurie menunduk.
Ia belum tahu bahwa hari itu adalah awal dari kebiasaannya untuk diam.
Dua hari setelah pemakaman, rumah kembali ramai.
Bukan oleh tawa, melainkan oleh persiapan. Karangan bunga baru datang, bukan untuk kematian, melainkan untuk pernikahan. Tirai diganti. Meja makan dipenuhi hidangan. Para pembantu berbisik-bisik, tak berani menatap terlalu lama ke arah Yurie.
Ia duduk sendirian di tangga, memeluk lututnya.
Wanita yang sama—Agnesa—berjalan menyusuri rumah dengan anggun, seolah ia sudah lama menjadi bagian dari tempat itu. Gaunnya berwarna lembut, riasannya sempurna, dan senyumnya selalu terpasang.
“Mulai sekarang panggil Mama,” katanya suatu siang.
Yurie menatapnya, bingung. “Mama Yurie sudah ada.”
Agnesa tersenyum tipis. “Mama kamu sudah meninggal.”
Kalimat itu diucapkan tanpa jeda, tanpa empati.
Yurie tidak menjawab. Ia berbalik dan berlari ke kamarnya, menutup pintu rapat-rapat, lalu menangis dalam diam. Tidak ada yang datang menenangkannya.
Hari pernikahan itu berlangsung cepat. Yurie hanya tahu karena ia melihat ayahnya mengenakan setelan rapi, dan Agnesa mengenakan gaun putih. Tidak ada yang mengajaknya bicara. Tidak ada yang menggandeng tangannya.
Ia berdiri di balik pilar, menonton ayahnya tersenyum—senyum yang tidak ia lihat sejak lama.
Sejak hari itu, segalanya berubah.
Agnesa mengambil alih rumah dengan cepat. Aturan baru muncul, satu per satu, tanpa pernah menanyakan pendapat Yurie. Ia tidak lagi boleh makan di meja utama. Ia tidak boleh masuk ke ruang kerja ayahnya. Kamarnya dipindahkan ke sisi rumah yang paling jauh.
Dan yang paling menyakitkan—ia tidak lagi diperlakukan sebagai anak.
“Bangun lebih pagi,” perintah Agnesa suatu hari. “Kamu bantu di dapur.”
Yurie mengangguk. Ia belum mengerti bahwa itu bukan bantuan, melainkan kewajiban.
Hari-hari berikutnya menjadi pola yang melelahkan. Yurie menyapu lantai, mencuci piring, membersihkan kamar, dan mengantar teh untuk Agnesa. Tangannya yang kecil sering gemetar, tapi ia berusaha tidak mengeluh.
Ia masih berharap.
Mungkin Ayah akan melihatnya.
Mungkin Ayah akan bertanya.
Mungkin Ayah akan melindunginya.
Namun harapan itu perlahan memudar.
Setiap kali Agnesa memarahinya, Bimantara hanya diam. Setiap kali Yurie menangis, ayahnya berpaling. Setiap kali ia mencoba bicara tentang ibunya, ayahnya memotong.
“Sudah cukup.”
Kalimat itu menjadi dinding yang tak bisa ia lewati.
Kayla datang tidak lama kemudian.
Gadis kecil itu seusia Yurie, tapi hidup mereka sangat berbeda. Kayla mengenakan gaun cantik, membawa mainan baru, dan selalu ditemani Agnesa. Ia bebas berlari di rumah, tertawa keras, dan memerintah Yurie sesukanya.
“Ambilin minum,” kata Kayla suatu sore.
Yurie menoleh ke arah Agnesa, berharap ada penolakan. Namun wanita itu hanya duduk santai, menyeruput tehnya.
“Cepat,” tambah Kayla.
Yurie mengambil gelas dan berjalan ke dapur.
Ia belajar banyak hal di usia yang terlalu muda—tentang ketidakadilan, tentang rasa iri yang tidak berani ia akui, dan tentang bagaimana rasanya tidak diinginkan di rumah sendiri.
Hari-hari berlalu.
Tahun berganti.
Yurie tumbuh lebih cepat dari seharusnya. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan matanya selalu menyimpan kewaspadaan. Ia jarang tertawa. Senyum pun hanya muncul jika benar-benar diperlukan.
Ia melihat anak-anak lain pergi ke sekolah dengan seragam rapi. Ia bertanya sekali.
“Ayah, Yurie mau sekolah.”
Bimantara menatapnya sebentar, lalu kembali pada berkas-berkasnya. “Tidak perlu. Kamu sudah cukup membantu di rumah.”
Itu jawaban terakhir.
Sejak saat itu, Yurie berhenti bertanya.
Ia belajar membaca dari buku-buku lama di gudang. Ia belajar berhitung dari sisa catatan pembantu. Ia belajar memahami dunia dari pengamatan diam-diam.
Ia tidak bodoh.
Ia hanya tidak diberi kesempatan.
Dan di dalam hatinya, ada satu janji kecil yang terus ia pegang, meski nyaris padam.
Suatu hari nanti, ia akan pergi dari rumah ini.
Suatu hari nanti, ia akan menemukan kebenaran.
Dan suatu hari nanti, ia akan hidup sebagai dirinya sendiri—bukan bayangan yang dipaksa tunduk.
Namun untuk saat itu, Yurie masih bertahan.
Di rumah yang tetap berdiri megah,
namun tak lagi bisa ia sebut rumah.