NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: DARAH DAN PENGKHIANATAN MASA LALU

BAB 11: DARAH DAN PENGKHIANATAN MASA LALU

Langkah kaki Alana terasa berat saat ia menapaki lantai marmer kediaman Adiwangsa yang biasanya terasa hangat, namun kini seolah berubah menjadi lorong es yang membeku. Kata-kata Siska di depan pengadilan tadi terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak. “Kau adalah putri dari orang yang menghancurkan keluarga pria yang kau cintai.”

Benarkah? Apakah kebahagiaan yang baru saja ia cicipi ini dibangun di atas tumpukan bangkai masa lalu?

Alana tidak menuju kamarnya. Ia langsung menuju ruang kerja utama, di mana ia tahu ketujuh kakaknya pasti sedang berkumpul untuk membicarakan hasil persidangan tadi. Tanpa mengetuk pintu, Alana mendorong daun pintu kayu jati itu dengan keras.

BRAKK!

Tujuh pasang mata menoleh seketika. Di sana ada Elvan yang sedang menuangkan wiski ke gelas kristal, Bastian yang masih dengan setelan advokatnya, Satya dengan laptopnya, dan adik-adiknya yang lain. Suasana yang tadinya riuh dengan perdebatan bisnis mendadak sunyi senyap.

"Katakan padaku itu bohong," suara Alana bergetar, namun tatapannya tajam menghunjam ke arah Elvan, sang kakak tertua yang memegang kendali atas semua rahasia keluarga.

Elvan meletakkan gelasnya pelan. Wajahnya yang biasanya tidak terbaca kini menunjukkan sedikit gurat kecemasan. "Alana, kau seharusnya istirahat. Jangan dengarkan racun yang keluar dari mulut jalang seperti Siska."

"Jawab aku, Kak!" teriak Alana, air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai tumpah. "Apakah sepuluh tahun lalu, Ayah sengaja mencelakai keluarga Dirgantara untuk menguasai pasar saham? Apakah Kenzo adalah anak dari korban yang dihancurkan oleh orang tua kita sendiri?!"

Bastian berdiri, mencoba mendekati Alana. "Al, dunia bisnis itu abu-abu. Apa yang terjadi di masa lalu adalah persaingan. Ayah tidak bermaksud—"

"Berarti itu benar?" Alana tertawa getir, mundur selangkah menghindari sentuhan Bastian. "Berarti selama ini aku hidup di bawah perlindungan orang-orang yang membuat pria yang aku cintai menjadi yatim piatu? Berarti alasan Kenzo mencariku selama sepuluh tahun bukan karena cinta, tapi karena aku adalah satu-satunya cara baginya untuk membalas dendam pada keluarga Adiwangsa?!"

"Itu tidak benar!" Satya menyela, ia memutar laptopnya. "Kenzo mencarimu karena dia memang mencintaimu, Alana. Aku melihat semua data pencariannya selama sepuluh tahun ini. Dia tidak pernah sekali pun mencoba menyerang aset kita secara ilegal."

"Tapi ayahnya!" Alana memotong dengan histeris. "Siska bilang dia menemui ayah Kenzo. Dan ayah Kenzo sangat membenciku sekarang. Bagaimana aku bisa berdiri di samping Kenzo jika setiap kali dia menatapku, dia diingatkan pada darah keluarganya yang tumpah karena ulah ayahku?!"

Ruangan itu kembali sunyi. Elvan menghela napas panjang, ia berjalan mendekati Alana dan kali ini ia memegang bahu adiknya dengan kuat, memaksanya untuk tenang.

"Dengarkan aku baik-baik, Alana Adiwangsa," ucap Elvan dengan suara yang sangat rendah dan berwibawa. "Sepuluh tahun lalu, memang terjadi kecelakaan itu. Tapi ada satu hal yang Siska tidak tahu dan ayah Kenzo pun mungkin tidak tahu. Ayah kita tidak melakukannya sendirian. Ada pihak ketiga yang mengadu domba kedua keluarga besar ini agar kita saling menghancurkan. Dan tahukah kau siapa yang memicu itu? Itu adalah keluarga besar Ardiansyah—keluarga mantan suamimu."

Alana tertegun, matanya membelalak. "Raka?"

"Bukan Raka, dia masih terlalu kecil saat itu. Tapi ayahnya, mendiang mertuamu. Dia adalah sekretaris kepercayaan ayah kita yang membocorkan rute perjalanan keluarga Dirgantara dan memanipulasi rem mobil mereka, lalu memfitnah ayah kita sebagai dalangnya. Ayah kita baru mengetahuinya terlambat, dan sebelum dia bisa menjelaskan pada keluarga Dirgantara, dia sendiri tewas dalam kecelakaan yang sama yang membuatmu hilang selama sepuluh tahun."

Alana merasa dunianya seolah dijungkirbalikkan kembali. Jadi, Raka dan keluarganya bukan hanya menyiksanya selama tiga tahun pernikahan, tapi mereka adalah dalang kehancuran keluarganya sejak sepuluh tahun lalu?

"Lalu kenapa kalian diam saja selama ini?!" tanya Alana dengan penuh amarah.

"Karena kami tidak punya bukti fisik, Alana," sahut Gio, si bungsu, dengan wajah sedih. "Hanya ayah Raka yang tahu di mana dokumen aslinya disimpan. Dan kami yakin, Raka atau Ibunya sekarang memegang dokumen itu untuk memeras kita atau menghasut Kenzo."

Sementara itu, di sebuah hotel mewah namun tersembunyi di pusat kota, Kenzo Dirgantara sedang berdiri di balkon kamar penthouse-nya. Di tangannya terdapat sebuah dokumen tua yang diberikan oleh asisten ayahnya. Wajahnya tampak sangat gelap, lebih gelap dari langit malam Jakarta.

Ponselnya berdering. Nama "Alana" muncul di layar, namun untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Kenzo ragu untuk mengangkatnya.

Pintu kamarnya terbuka. Ayahnya, Tuan Besar Dirgantara, masuk dengan kursi roda. Pria tua itu tampak sangat lemah namun matanya masih menyimpan dendam yang membara.

"Kenzo," suara ayahnya parau. "Kau lihat dokumen itu? Itu adalah bukti bahwa pria yang kau sebut sebagai calon mertuamu adalah pembunuh ibumu. Dan kau... kau masih ingin menikahi putrinya? Kau ingin membawa darah pembunuh ke dalam garis keturunan Dirgantara?"

Kenzo mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Ayah, Alana tidak tahu apa-apa. Dia hanyalah korban, sama seperti kita."

"Korban atau bukan, dia tetap membawa nama Adiwangsa!" bentak ayahnya hingga terbatuk. "Jika kau tidak meninggalkannya, maka aku sendiri yang akan menghancurkan perusahaan yang baru saja dia rintis. Aku akan memastikan dia kembali menjadi gelandangan seperti saat kau menemukannya di panti asuhan!"

Kenzo terdiam. Di satu sisi adalah cintanya yang ia jaga selama sepuluh tahun, di sisi lain adalah kehormatan keluarga dan dendam kematian ibunya.

Kembali ke kediaman Adiwangsa, Alana tidak bisa duduk diam. Ia harus bertemu Kenzo. Ia harus menjelaskan semuanya. Ia tidak peduli jika hari sudah larut. Ia mengambil kunci mobilnya—sebuah Porsche merah pemberian Kak Bastian—dan melesat keluar rumah mengabaikan teriakan kakak-kakaknya.

Ia memacu mobilnya menuju apartemen Kenzo. Namun, saat sampai di lobi gedung mewah itu, ia justru melihat Siska sedang keluar dari lift dengan senyum puas di wajahnya. Siska tampak sangat cantik malam itu, mengenakan perhiasan yang terlihat sangat mahal.

"Oh, lihat siapa yang datang," sapa Siska dengan nada mengejek. "Putri Adiwangsa yang malang. Mencari pangerannya yang sekarang sedang membencinya?"

Alana tidak membuang waktu. Ia berjalan mendekat dan...

PLAKK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Siska hingga wanita itu tersungkur ke lantai lobi yang dingin.

"Itu untuk fitnahmu di panti asuhan," ucap Alana dingin.

PLAKK!

Alana menampar pipi satunya lagi sebelum Siska sempat bereaksi. "Dan itu untuk kebencian yang kau tanam di antara keluargaku dan Kenzo."

Siska memegang pipinya yang panas, matanya melotot penuh amarah. "Kau pikir kau sudah menang?! Kenzo tidak akan mau menemuimu! Ayahnya sudah memerintahkan seluruh keamanan untuk menolakmu! Kau sudah tamat, Alana!"

"Kita lihat saja," sahut Alana. Ia melangkahi Siska yang masih terduduk dan menuju lift eksekutif.

Benar saja, dua orang pengawal bertubuh besar menghalangi jalannya di depan lift. "Maaf Nona Alana, Tuan Besar Dirgantara memberikan perintah agar Anda tidak diperbolehkan masuk ke area ini."

"Aku ingin bertemu Kenzo, bukan ayahnya!" tegas Alana.

"Maaf, ini perintah mutlak."

Alana merasa hatinya hancur. Apakah Kenzo benar-benar setuju untuk mengusirnya? Apakah cinta sepuluh tahun itu kalah oleh selembar dokumen palsu atau dendam masa lalu?

Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Kenzo berdiri di sana. Ia melihat Alana yang sedang ditahan oleh pengawalnya, dan ia melihat Siska yang sedang menangis di lantai lobi, mencoba mencari perhatian.

"Kenzo!" panggil Alana.

Kenzo menatap Alana. Tatapannya tidak lagi hangat. Ada kekosongan yang menakutkan di mata itu. Ia melangkah keluar dari lift, namun ia tidak menghampiri Alana. Ia justru berjalan menuju Siska dan membantunya berdiri.

Alana merasa jantungnya seolah diremas oleh tangan raksasa. "Kenzo... apa yang kau lakukan?"

Kenzo menoleh sebentar ke arah Alana, suaranya terdengar sangat datar dan asing. "Pulanglah, Alana. Untuk sementara waktu, jangan temui aku. Hubungan kita... mungkin memang sebuah kesalahan sejak awal."

Alana mematung. Dunia di sekelilingnya seolah runtuh menjadi kepingan-kepingan tajam yang menusuk jantungnya. Ia melihat Kenzo membawa Siska masuk kembali ke dalam lift—Siska yang menatapnya dengan pandangan kemenangan yang paling menjijikkan yang pernah Alana lihat.

Lift tertutup.

Alana berdiri sendirian di lobi yang luas itu. Hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras di luar, seolah ikut menangisi kehancuran hatinya. Untuk pertama kalinya setelah kembali menjadi seorang Adiwangsa, Alana merasa jauh lebih kesepian dan hancur daripada saat ia masih menjadi istri Raka.

Namun, di tengah rasa sakit itu, sebuah kekuatan baru muncul di matanya. Alana menghapus air matanya dengan kasar.

"Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan cara ini, Siska? Kau pikir kau bisa membuatku menyerah pada Kenzo?" gumam Alana pada dirinya sendiri.

Alana berjalan keluar menembus hujan. Ia tidak akan pulang untuk menangis. Ia akan mencari bukti itu sendiri. Ia akan masuk ke sarang serigala—rumah lama keluarga Ardiansyah—dan menemukan dokumen asli yang disembunyikan Raka sebelum semuanya terlambat.

Jika Kenzo tidak bisa memperjuangkannya, maka ia sendiri yang akan menjemput kebenaran itu dan melemparkannya ke wajah semua orang yang meragukannya.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!