❤Tahap Revisi❤
Andita Andriani adalah seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya demi perempuan lain. Empat tahun menjalin hubungan jarak jauh, Andita tidak menyangka akan menerima sebuah pengkhianatan.
Dirinya bertekad untuk membalas semua penghinaan dan pengkhinatan yang sudah diterimanya dari sang kekasih.
Disatu sisi, seorang CEO muda yang tampan dan sukses, juga sedang mengalami patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Zidan Pratama Wijaya, harus merelakan cinta pertamanya pada sang sahabat. Dan karena hal itu pula yang membuat Zidan berubah menjadi pribadi yang dingin dan sulit didekati.
Lalu bagaimanakah kisah perjalanan mereka?
Ikuti ceritanya yaa...
Jangan lupa berikan Like, Komen, Vote, dan Hadiah kalian untuk Author, supaya Author semangat nulisnya..
Terimakasih ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RatuElla11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Ferdy Sebenarnya
Tiga hari kemudian.
Sejak tadi pagi Andita melihat seluruh wajah karyawan Royal Group terlihat berseri-seri. Semangat mereka dalam bekerja semakin meningkat. Dalam hati, Andita bertanya-tanya apa yang membuat mereka begitu semangat. Andita pun bertanya pada Ferdy.
"Fer, sejak tadi pagi kulihat semua karyawan disini sangat antusias sekali dalam bekerja. Apa perusahaan ini baru saja memenangkan tender?" tanya Andita pada Ferdy yang duduk disebelahnya sedang menatap layar laptop.
Ferdy tertawa mendengar ucapan gadis disampingnya itu.
"Kau tahu ini tanggal berapa?" tanya Ferdy.
"Tanggal dua. Memangnya kenapa?"
"Apa kau tidak tahu jika tanggal dua adalah tanggal gajian bagi para karyawan Royal Group?"
Seketika Andita membulatkan matanya dan membekap mulutnya sendiri.
"Ah iya aku baru ingat! Tapi sepertinya aku tidak akan mendapatkan gaji, karena aku belum ada sebulan bekerja disini." ucap Andita lesu.
Melihat ekspresi Andita, Ferdy tertawa kecil.
"Kau tenang saja. Meski kau belum genap satu bulan bekerja, tapi kau akan tetap mendapatkan gaji sesuai dengan total hari kerjamu sejak awal masuk. Lalu dibulan berikutnya baru kau akan menerima gaji secara utuh." Jelas Ferdy sambil menepukkan tangannya pada bahu Andita.
"Benar begitu Fer?!" Andita seolah mendapat angin segar. Jujur saja keuangannya saat ini sedang menipis.
"Tentu saja." jawab Ferdy membuat mata Andita berbinar.
"Oh iya Andita, karena kebetulan hari ini kita gajian, aku ingin mengajakmu makan malam direstoran, bagaimana? Kau mau?"
"Ehm, sepertinya aku tidak bisa Fer. Bulan ini aku memiliki begitu banyak pengeluaran, jadi aku harus berhemat." Tutur Andita.
"Kau tenang saja. Karena aku yang mengajakmu maka aku yang akan mentraktirmu." Ferdy mengedipkan sebelah matanya pada Andita.
Tentu saja Andita setuju, namun tiba-tiba Andita teringat ucapan Ibunya beberapa hari yang lalu, kalau ibunya merasa bahwa Ferdy menyukainya. Seketika terbesit dikepala Andita untuk menanyakan sesuatu pada lelaki itu.
"Ehm, Fer." Panggil Andita membuat Ferdi menoleh.
"Ya?"
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja. Kau ingin bertanya apa? Sepertinya serius?" Ferdy mulai menyimak.
"Apa kau memiliki kekasih?"
Seketika wajah Ferdy memerah saat mendengar pertanyaan Andita.
"Ehm tidak. Aku tidak memiliki kekasih." Jawab Ferdy jujur.
"Memangnya kenapa?"
Kini gantian Andita yang kikuk ketika Ferdy balik bertanya. Ia mulai memutar otak mencari alasan.
"Ah tidak apa-apa Fer. Aku hanya bertanya saja. Bukankah kau akan mengajakku dinner? aku hanya takut jika kau memiliki kekasih nanti dia akan cemburu padaku." jawab Andita sambil terkekeh.
Ferdy tersenyum kecut.
"Untuk sekarang aku tidak memiliki kekasih Andita, karena aku sedang menanti seseorang." Ucap Ferdy tiba-tiba. Sontak Andita terkejut.
"Benarkah? Siapa dia, Fer? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku jika kau sedang menanti seseorang?" cicit Andita.
Siapa seseorang yang dinanti Ferdy? Semoga saja bukan.. Ah tidak! Kau ini berpikir apa sih Andita?! Mana mungkin Ferdy menyukaimu! Pasti dugaan Ibu salah!
"Untuk apa aku cerita padamu? Itu sangat memalukan." Jawab Ferdy.
"Hishh kau ini! Memalukan bagaimana? Bukankah aku temanmu?"
Ferdy tersenyum kecil.
"Apa dia tinggal dikota ini juga?" cecar Andita.
"Ya. Dia tinggal dikota yang sama dengan kita."
"Apa aku mengenalnya?"
Ferdy menganggukan kepalanya sedikit ragu.
"Ya kau sangat mengenalnya."
"Hemm, aku jadi penasaran. Siapa gadis beruntung yang mendapatkan cintamu?" Andita memutar matanya keatas tangannya menopang dagu seolah ia sedang berpikir.
Gadis yang beruntung itu adalah kau Andita. ~Ferdy
"Oh iya, Apa kau sudah pernah mengutarakan isi hatimu padanya?"
"Aku akan segera mengutarakannya."
"Wah itu bagus sekali! Aku jadi ingin bertemu dengan gadis itu!"
"Kau akan terkejut jika kau bertemu dengannya." Gurau Ferdy.
"Benarkah?!"
"Hemm."
"Kalau begitu kapan-kapan ajak aku untuk bertemu dengannya. Aku akan membantumu mengutarakan isi hatimu padanya."
"Tidak perlu menunggu kapan-kapan, malam ini pun aku bisa mengajakmu bertemu dengannya."
"Benarkah?!"
Ferdy mengangguk. Tanpa pikir panjang Andita pun setuju dengan ajakan Ferdy. Ia begitu senang karena Ferdy akan memperkenalkan gadis yang disukainya itu padanya.
Semoga saja Ferdy segera mendapatkan cinta gadis itu.
*******
Malam telah tiba. Andita tampil sangat cantik malam ini dengan memakai dress selutut berwarna navy. Rambut hitam lurusnya ia biarkan tergerai. Saat Ferdy menjemput Andita, dirinya begitu terpukau melihat penampilan Andita yang sederhana namun terlihat elegant.
"Gaun itu sangat pas ditubuhmu Andita. Kau jadi terlihat semakin cantik." Puji Ferdy.
Andita tersenyum.
"Terimakasih Fer. Kau juga terlihat sangat tampan malam ini. Pasti gadis yang kau sukai akan langsung jatuh hati saat melihatmu." Goda Andita.
Ferdy hanya membalas perkataan Andita dengan senyuman.
"Oh iya apa kita akan menjemputnya Fer?"
"Ehm, tidak perlu Ta. Kita akan bertemu langsung dengannya disana." jawab Ferdy canggung.
"Oh begitu, baiklah ayo kita berangkat!"
Setelah memakan waktu setengah jam perjalanan akhirnya mereka berdua pun telah tiba direstoran. Dari awal masuk Andita berjalan mengekori Ferdy dari belakang.
Setelah sampai didepan meja kosong, Ferdy menarik kursi untuk Andita. Kemudian Ferdy duduk diseberangnya hingga posisi mereka kini saling berhadap-hadapan.
Setelah keduanya sama-sama duduk Ferdy pun memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Sebaiknya kita menunggu gadis yang kau sukai itu datang dulu Fer! Baru kita memesan makanan." bisik Andita.
Ferdy tergelak.
"Untuk apa kita menunggunya? Gadis itu sudah ada disini, dihadapanku." jawab Ferdy santai.
Andita mengernyitkan keningnya bingung.
"Maksudmu?"
Ferdy tak langsung menjawab pertanyaan Andita. Setelah memesan makanan dan pelayan itu pun pergi, Ferdy kemudian menarik tangan Andita yang berada diatas meja lalu menggenggamnya erat.
"Andita, gadis yang kusukai adalah kau."
Jreng..jreng..jreng..
"A-apa Fer?!!"
Andita kaget bukan kepalang. Ternyata dugaan ibunya benar. Ferdy menyukai dirinya.
Kini Ferdy semakin erat memegang tangan Andita.
"Ya Andita, aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Aku sudah lama memendam perasaan ini kepadamu. Maaf jika aku baru bisa mengatakannya sekarang. Tapi sungguh perasaanku ini tulus, jadi Andita maukah kau menjadi kekasihku?"
Tanpa mereka berdua sadari, kehadiran mereka dari awal masuk telah mengusik hati seseorang yang sedang duduk tidak jauh dari tempat mereka berada.
Zidan yang juga berada direstoran itu untuk menghadiri acara makan malam bersama keluarga Tuan Reyhan, menatap Andita dan Ferdy dengan tatapan marah. Ia menggertakan giginya menahan emosi kala melihat Ferdy menggenggam tangan Andita.
Ketika Andita sedang dilanda kegugupan dengan pertanyaan Ferdy, ekor matanya tidak sengaja menangkap sosok Zidan yang duduk tidak jauh dari tempatnya berada. Seketika netra Andita membulat sempurna.
Tu-tuan Zidan..
Darah Andita berdesir hebat. Degub jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Kegugupannya semakin menjadi. Apalagi ketika Andita melihat sorot mata Zidan yang menatapnya dengan tatapan membunuh seolah-olah ingin melahapnya hidup-hidup.
Be-benarkah itu Tuan Zidan? Di-dia disini? Astaga! Kenapa dia menatapku seperti itu?!
Andita langsung menundukkan pandangannya. Ia tidak sanggup melihat tatapan Zidan ataupun Ferdy yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Andita." Panggil Ferdy.
Andita hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Andita." Ferdy menepuk bahu gadis itu.
"I-iya Fer?" Andita berusaha mengangkat pandangannya. Jantungnya masih setia jedag jedug didalam sana.
"Bagaimana? Apa kau mau menjadi kekasihku?!"
.
Bersambung..
ternyata marahnya berkelanjutan karena lagi San*e ya Dita?🤔🫣
Bilang atau rayu suamimu dong..
kan lucu jadinya.. mirip ayam betina suka nyerang tanpa sebab kalau lagi birahi 😁🤣🤣🫣
pada kemana?
jajan bakso ya?😁🫣
sebelum nikah saja Dita sudah dikawal bodyguard bayangan untuk mengetahui pergerakannya.
kok sudah nikah, malah nggak ada pengamanan sama sekali walaupun dari jauh
kamu harus bisa buktikan omongan keluarga Dirga bahwa fokus kamu cuma uang bukan janji itu adalah benar
wajar dong dia mencari keuntungan ganda..
ibu sehat, sisa uang ada.. malah dapat suntikan dana dari camer yg nggak setuju.
kaya dan bebas dari tanggung jawab.
janji dan hutang Budi urusan belakangan ya Dita🤣🤣🤣
menang 2x kamu..
kalau terpojok tinggal keluarkan jurus andalan..
status sosial, tidak ada restu dan tidak ada cinta..
buktikan kalau kamu muna sejati
jadikan status sosial sebagai alasan 👍
toh uang juga sudah diterima..
jangan pikirin perasaan orang lain, pikirkan perasaanmu saja dan juga kepentinganmu..
ibumu sudah sehat, saatnya ngelunjak
baru kali ini baca novel yang mana sekeluarga hobinya menjegal kaki orang 😁
mereka keluarga pebisnis apa keluarga pemain sepak bola antar kampung?🤣🤣🤣