NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Anak Ketua Sekte (2)

Suasana halaman utama tidak kembali seperti semula setelah mereka pergi.

Bisik-bisik tidak berhenti. Justru semakin terarah.

Xu Tian masih berdiri di tempat yang sama ketika suara langkah kembali mendekat. Kali ini lebih banyak, lebih berisik. Beberapa murid senior dari aula latihan terbuka keluar, wajah mereka basah oleh keringat, napas masih berat. Di tengah mereka, Zhao Heng berjalan santai, seolah latihan barusan hanyalah pemanasan ringan.

Ia berhenti tepat di tengah halaman.

Bukan kebetulan.

Beberapa murid yang masih bertahan otomatis membentuk lingkaran longgar. Tidak ada yang mengusir. Tidak ada yang diperintah. Semua bergerak sendiri, naluri yang terbentuk oleh hierarki yang sudah terlalu lama tertanam.

Zhao Heng menoleh, matanya menemukan Xu Tian dengan mudah.

“Kau belum pergi,” katanya.

Nada suaranya sama seperti sebelumnya. Tenang. Bahkan terdengar sedikit heran, seolah ia benar-benar mengira Xu Tian sudah seharusnya menghilang dari tempat ini.

Xu Tian mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya sejak siang itu, ia menatap langsung ke depan. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. “Aku… sedang menunggu jadwal tugasku,” katanya pelan.

Beberapa murid saling pandang.

Zhao Heng mengangguk pelan. “Tugas murid luar,” ulangnya. “Membersihkan gudang, membawa air, atau mengantar barang.”

Ia tersenyum tipis. “Memang sesuai dengan kemampuanmu.”

Kalimat itu jatuh dengan ringan, namun efeknya langsung terasa. Tawa kecil muncul dari sisi kiri lingkaran. Tidak keras. Tidak kasar. Cukup untuk memastikan bahwa semua orang mendengar dan memahami.

Xu Tian merasakan telinganya memanas. Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa berat, tertahan di dada.

Zhao Heng melangkah satu langkah ke depan. Lingkaran otomatis melebar, memberi ruang. “Aku mendengar banyak hal tentangmu,” katanya. “Tentang kegigihanmu. Tentang usahamu bertahan di sekte ini meski bakatmu… terbatas.”

Ia berhenti tepat di depan Xu Tian.

Jarak mereka kini dekat. Terlalu dekat untuk dihindari, namun masih cukup jauh untuk menjaga kesopanan palsu.

“Beberapa orang menyebut itu ketekunan,” lanjut Zhao Heng. “Beberapa menyebutnya keras kepala.”

Tatapan mereka bertemu.

Xu Tian melihat matanya sendiri terpantul di sana. Mata yang tampak lelah. Mata yang kehilangan sesuatu sejak pagi tadi.

“Menurutku,” kata Zhao Heng, “itu hanya ketidaktahuan akan posisi diri.”

Hening sesaat.

Kata-kata itu tidak perlu diteriakkan. Tidak perlu diulang. Semua orang mengerti maksudnya.

Seorang murid senior tertawa kecil. “Senior Zhao terlalu halus,” katanya sambil menggeleng. “Kalau sudah jelas tidak punya bakat, harusnya tahu diri.”

Tawa lain menyusul. Lebih berani. Lebih terbuka.

Xu Tian menurunkan pandangan. Rahangnya mengeras. Tangannya gemetar kecil di sisi tubuhnya.

Zhao Heng tidak menghentikan mereka. Ia membiarkan suara-suara itu mengalir, seperti bukti tambahan yang tidak perlu ia bantah.

“Xu Tian,” katanya lagi, memanggil nama itu dengan nada hampir bersahabat. “Kau pernah berpikir mengapa Ruo’er membuat pilihannya?”

Nama itu terasa seperti pisau.

Xu Tian mengangkat kepala dengan cepat. “Senior Zhao,” katanya, suaranya serak, “ini tidak ada hubungannya dengan—”

“Justru ada,” potong Zhao Heng.

Suaranya tetap datar, namun kini lebih tegas. “Segalanya ada hubungannya dengan posisi.”

Ia menoleh sedikit, melirik Lin Ruo’er yang berdiri tidak jauh dari lingkaran, bersama beberapa murid perempuan lain. Wajahnya tenang. Tatapannya menghindar, seolah pemandangan di depan matanya bukan sesuatu yang ingin ia perhatikan terlalu lama.

“Kau murid luar,” lanjut Zhao Heng. “Tanpa latar belakang. Tanpa bakat istimewa. Tanpa masa depan yang jelas di sekte ini.”

Ia kembali menatap Xu Tian. “Apa yang membuatmu berpikir kau pantas berdiri sejajar dengannya?”

Kalimat itu tidak disampaikan dengan marah.

Justru karena itu, ia terasa lebih kejam.

Xu Tian membuka mulut. Kata-kata menumpuk di ujung lidahnya—kenangan, janji lama, waktu yang dihabiskan bersama. Namun semua itu terasa rapuh di hadapan tatapan-tatapan yang mengelilinginya.

Ia menutup mulutnya kembali.

Seorang murid lain menyahut, suaranya penuh ejekan. “Senior Zhao benar. Perasaan tidak bisa menggantikan kekuatan.”

“Di sekte ini,” tambah yang lain, “hanya yang kuat yang berhak memilih.”

Zhao Heng mengangkat tangan sedikit. Suara-suara itu langsung mereda.

“Tenang,” katanya. “Aku tidak bermaksud mempermalukanmu.”

Beberapa orang tersenyum, seolah mendengar lelucon.

“Tapi ada hal yang perlu diluruskan,” lanjutnya. “Agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan.”

Ia berdiri lebih tegak. Posturnya berubah, bukan lagi sekadar senior yang menasihati. Ada aura resmi yang perlahan muncul, sesuatu yang membuat beberapa murid senior menegakkan punggung mereka.

“Xu Tian,” katanya, “selama ini kau bertahan karena aturan sekte memberi kesempatan bagi semua murid.”

Ia berhenti sejenak. “Tapi aturan yang sama juga mengatur perbedaan.”

Xu Tian menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Zhao Heng melanjutkan, “Aku tidak akan melarangmu berada di sekte ini. Itu bukan tugasku.” Nada suaranya tetap tenang. “Namun, sebagai murid inti dan putra Ketua Sekte, aku berkewajiban memastikan keteraturan tidak terganggu oleh ambisi yang tidak pada tempatnya.”

Beberapa murid mengangguk. Beberapa senior menyilangkan tangan, menonton dengan minat dingin.

“Kau telah melangkahi batas,” kata Zhao Heng. “Bukan hari ini saja.”

Xu Tian terdiam. Ia ingin bertanya batas apa. Ia ingin membantah. Namun tubuhnya terasa berat, seolah setiap gerakan membutuhkan izin yang tidak ia miliki.

Zhao Heng menatapnya lama. Lalu, dengan nada yang hampir kasual, ia berkata, “Karena itu, aku pikir sudah waktunya semuanya diselesaikan dengan cara yang jelas.”

Hening menyebar.

Beberapa murid tampak terkejut. Beberapa justru terlihat bersemangat.

“Cara yang jelas?” ulang seorang senior pelan.

Zhao Heng mengangguk. “Sesuai aturan sekte.”

Ia melangkah satu langkah ke tengah lingkaran, memastikan semua orang mendengar. “Duel resmi.”

Kata itu jatuh seperti batu.

Xu Tian membeku.

Dunia di sekitarnya seakan menjauh. Ia mendengar desah napas orang-orang, suara kain bergesek, namun semuanya terdengar jauh dan teredam.

“Duel?” seseorang berbisik. “Dengan Xu Tian?”

“Bukankah itu… terlalu berat sebelah?”

Zhao Heng mendengar bisik-bisik itu. Ia tersenyum tipis. “Aturan tidak melarang perbedaan tingkat,” katanya. “Selama kedua pihak setuju.”

Ia menoleh kembali ke Xu Tian. “Dan ini adalah cara paling adil untuk menentukan apakah kau masih pantas mempertahankan… perasaanmu itu.”

Lin Ruo’er mengangkat kepala sedikit. Wajahnya berubah pucat sesaat, lalu kembali tenang. Ia tidak berbicara.

Xu Tian merasakan darahnya berdesir. Tubuhnya gemetar, bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang lebih dalam—ketakutan yang dingin.

“Senior Zhao,” katanya pelan, hampir memohon, “aku—”

“Tidak perlu sekarang,” potong Zhao Heng.

Nada suaranya kembali lembut. “Pikirkan baik-baik. Duel resmi. Di hadapan sekte. Tanpa kecurangan. Tanpa alasan.”

Ia menambahkan, suaranya sedikit lebih rendah, “Atau kau bisa memilih mundur. Mengakui bahwa kau tidak pantas sejak awal.”

Lingkaran terasa semakin sempit.

Xu Tian berdiri di tengahnya, sendirian.

Semua mata tertuju padanya. Tidak ada simpati. Tidak ada dukungan. Hanya penantian dingin atas jawabannya.

Ia terdiam.

Di dadanya, jantungnya berdetak terlalu cepat. Di kepalanya, kata-kata Lin Ruo’er dari pagi tadi berulang, bercampur dengan suara Zhao Heng yang tenang namun menekan.

Langit masih terang.

Tidak ada tempat bersembunyi.

Dan di hadapannya, dunia sekte menunggu satu jawaban yang tidak memberinya jalan keluar.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!