Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendaki kepuncak langit
Keheningan di dalam gubuk itu terasa begitu berat. Zhou Yu masih menggenggam tangan Ling'er yang mungil, merasakan denyut nadi nya yang mulai stabil meski masih lemah. Nyonya Liu meletakkan mangkuk ramuan di atas meja kayu kecil, lalu ia menghela napas panjang sembari menatap Zhou Yu dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara iba dan peringatan.
"Kau beruntung membawanya tepat waktu, bocah," ujar Nyonya Liu pelan, suaranya serak namun berwibawa.
Zhou Yu mendongak, matanya yang sembap mencari jawaban. "Apa yang terjadi padanya? Dia selalu terlihat ceria, dia selalu bilang dia baik-baik saja..."
Nyonya Liu berjalan mendekat dan menyibakkan sedikit kerah baju Ling'er. Di sana, di pangkal leher gadis kecil itu, terdapat semburat keunguan yang samar, menyerupai jaring laba-laba yang merambat.
"Demam Kristal Hitam," ucap Nyonya Liu. "Itu bukan penyakit biasa. Itu adalah kutukan bagi mereka yang terlalu lama menghirup debu dari urat mineral paling dalam di tambang ini. Tubuh sekecil dia tidak memiliki pertahanan untuk menyaring racun dari bebatuan yang kau gali setiap hari."
Zhou Yu tertegun. Rasa bersalah menghujam jantungnya lebih tajam daripada cangkul tambang mana pun. Selama ini, Ling'er selalu setia menemaninya di lorong-lorong sempit itu. Ia mengira kehadiran Ling'er adalah anugerah, tanpa menyadari bahwa udara yang mereka hirup bersama perlahan-lahan meracuni tubuh kecil nya.
"Debu itu mengendap di paru-parunya, membeku menjadi kristal-kristal kecil yang tajam," lanjut Nyonya Liu sambil mengaduk ramuannya. "Jika kau terlambat satu malam saja, kristal itu akan menutup jalur napasnya selamanya. Dia jatuh pingsan karena tubuhnya sudah kehabisan oksigen."
Zhou Yu menunduk, air matanya jatuh mengenai punggung tangan Ling'er. "Ini salahku... Aku yang membawanya ke sana. Aku hanya ingin kami selalu bersama."
"Jangan hanya meratap," potong Nyonya Liu tegas. "Dia selamat karena tekadmu berlari menembus hujan semalam. Tapi ketahuilah, ramuan ini hanya meredakan gejalanya. Untuk benar-benar menyembuhkannya, dia tidak boleh lagi menginjakkan kaki di lorong tambang yang kotor itu. Dia butuh udara bersih dan nutrisi yang lebih baik daripada sekadar roti kering yang kau pungut dari debu."
Zhou Yu mengangguk cepat, menghapus air matanya dengan lengan baju yang kasar. "Aku akan melakukan apa saja. Aku akan bekerja dua kali lebih keras di sini, atau apa pun yang kalian minta, asalkan Ling'er bisa sembuh."
Nyonya Liu menatap punggung kecil Zhou Yu yang gemetar namun kokoh. Ia melihat sesuatu yang jarang ia temukan di kegelapan tambang ini sebuah api dedikasi yang murni.
"Kita lihat saja nanti," ucap Nyonya Liu sembari menyerahkan sesendok cairan hitam yang beraroma pahit. "Sekarang, bantu aku meminumkan ini padanya. Jika dia bisa melewati malam ini tanpa demam tinggi, maka dia punya kesempatan untuk melihat matahari suatu hari nanti."
Dengan tangan gemetar namun penuh kehati-hatian, Zhou Yu membantu Nyonya Liu. Di luar, penduduk desa tersembunyi itu mulai beraktivitas, namun bagi Zhou Yu, seluruh dunianya kini hanya berputar di gubuk kecil ini, memastikan bahwa cahaya kecilnya tidak akan padam lagi.
Malam itu, gubuk Nyonya Liu menjadi saksi bisu dari sumpah yang tak terucapkan. Ketika napas Ling’er mulai teratur dan rona merah tipis kembali ke pipinya yang pucat, Zhou Yu menyadari bahwa meratap tidak akan mengubah nasib.
Nyonya Liu benar. Ramuan itu hanyalah penunda waktu. "Demam Kristal Hitam" adalah vonis mati perlahan jika akar masalahnya tidak dicabut. Zhou Yu mulai mengingat setiap detail sudut sudut tambang. Ia dapat melihat di kejauhan, menara pengawas Tambang Azure berdiri angkuh, dengan cerobong asap yang memuntahkan asap hitam ke langit malam yang pekat. Jauh di dalam hutan di sanalah obat yang sesungguhnya berada Sari Embun Langit, sebuah tanaman langka yang hanya tumbuh di puncak tebing yang mengelilingi lembah tambang, tempat di mana udara tidak tercemar oleh debu mineral.
Namun, untuk mencapai tebing itu, Zhou Yu harus keluar dari zona tambang yang dijaga ketat oleh tentara bayaran berpakaian besi. Keluar tanpa izin berarti hukuman mati.
Tepat tengah malam, saat lonceng pergantian jaga berbunyi, Zhou Yu bergerak. Ia tidak membawa apa-apa selain sebilah belati karatan dan kantong air dari kulit binatang. Ia mencium kening Ling’er untuk terakhir kalinya.
"Tunggu aku, Ling'er. Aku akan membawa langit turun untukmu," bisiknya.
Keluar dari area pemukiman budak adalah tantangan pertama. Zhou Yu merangkak di antara parit pembuangan limbah yang berbau menyengat. Air limbah yang mengandung sisa pencucian mineral terasa panas dan gatal di kulitnya, namun ia menahan erangan. Ia tahu jadwal patroli setiap pengawal bertahun-tahun di tambang telah membuatnya hafal akan ritme kekejaman tempat ini.
Ia harus melewati "Gerbang Tikus", sebuah lubang ventilasi tua yang tertutup jeruji besi yang sudah keropos. Dengan kekuatan yang lahir dari keputusasaan, ia menarik jeruji itu. Logam itu berderit pelan. Zhou Yu membeku ketika lampu senter seorang pengawal melintas hanya beberapa meter di atas kepalanya. Detak jantungnya berpacu seirama dengan tetesan air di dinding terowongan. Begitu lampu menjauh, ia menyelinap masuk.
Terowongan itu sempit, lembap, dan dipenuhi gas beracun yang membuat paru-parunya perih. Namun, bagi Zhou Yu,rasa sakit ini adalah penebusan dosanya karena telah membiarkan Ling'er menghirup udara yang sama.
Setelah dua jam merayap di dalam perut bumi, Zhou Yu akhirnya muncul di lereng luar pegunungan. Udara dingin pegunungan menghantam wajahnya. Ini adalah pertama kalinya dalam tiga tahun ia merasakan udara yang tidak berasa logam. Namun, perjuangan baru saja dimulai.
Tebing tempat Sari Embun Langit tumbuh adalah dinding batu vertikal yang licin akibat embun malam. Tanpa tali, tanpa pengaman, Zhou Yu mulai memanjat. Jari-jarinya berdarah saat mencengkeram celah-celah batu yang tajam. Setiap kali tangannya tergelincir, ia membayangkan wajah Ling’er yang sesak napas, dan seketika itu juga kekuatannya pulih.
"Satu langkah lagi... sedikit lagi..." ia memotivasi dirinya sendiri.
Di ketinggian ratusan meter, angin bertiup kencang, mencoba menghempaskannya ke jurang kegelapan di bawah. Ketika fajar mulai menyingsing dan semburan cahaya oranye muncul di ufuk timur, ia melihatnya. Di sela-sela batu yang paling tinggi, sebuah bunga mungil berwarna biru transparan bersinar lembut. Itulah Sari Embun Langit.
Dengan sisa tenaga, ia meraih bunga itu, mencabutnya bersama akarnya, dan menyimpannya di dalam kain di balik bajunya. Kehangatan bunga itu seolah-olah mengalir ke dadanya, memberinya harapan baru.
Menurun tebing jauh lebih sulit daripada mendakinya. Kelelahan mulai menggerogoti kesadarannya. Saat ia hampir mencapai dasar, ia mendengar gonggongan anjing pelacak. Para pengawal telah menyadari hilangnya salah satu budak.
"Cari dia! Jangan biarkan tikus itu lari ke hutan!" teriak seorang komandan dari kejauhan.
Zhou Yu tidak berlari ke arah hutan. Ia justru melakukan hal yang paling tidak terduga ia kembali ke dalam tambang. Ia tahu jika ia lari ke luar, mereka akan terus memburunya. Namun, jika ia bisa kembali ke gubuk Nyonya Liu sebelum pagi benar-benar terang, ia memiliki peluang untuk menyembuhkan Ling'er secara diam-diam.
Ia memanfaatkan kekacauan di gerbang utama untuk menyelinap melalui jalur pembuangan yang sama. Pakaiannya kini compang-camping, tubuhnya penuh luka sayatan batu, dan wajahnya tercoreng lumpur hitam. Namun matanya memancarkan api yang tak terpadamkan.
Shang Zhi tersungkur di depan pintu gubuk Nyonya Liu tepat saat matahari pertama menyentuh atap jerami. Nyonya Liu terkejut melihat sosok yang hancur itu, namun ia segera menangkap apa yang ada di genggaman Zhou Yu
"Kau gila!, bocah... Kau benar-benar melakukannya," bisik Nyonya Liu dengan nada tidak percaya.
Tanpa membuang waktu, Nyonya Liu menumbuk bunga biru itu, mencampurnya dengan air mata pegas yang murni. Cairan yang dihasilkan tidak lagi hitam pahit, melainkan bening keperakan dan beraroma segar seperti hutan setelah hujan.
Zhou Yu mengangkat kepala Ling’er dengan sangat lembut. "Ling'er, minumlah... Aku sudah membawakanmu obatnya."
Gadis kecil itu meminum cairan itu dalam tidurnya yang gelisah. Selama beberapa saat, tidak ada yang terjadi. Zhou Yu menahan napas, tangannya menggenggam erat tangan kecil Ling'er hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Tiba-tiba, Ling’er terbatuk keras. Dari mulutnya, ia mengeluarkan gumpalan kecil berwarna hitam kristal mineral yang selama ini menyumbat paru-parunya. Ia terbatuk lagi dan lagi, setiap batuk mengeluarkan racun yang telah mengendap di tubuhnya. Semburat ungu di lehernya mulai memudar, digantikan oleh warna kulit yang sehat.
Beberapa jam kemudian, mata Ling’er perlahan terbuka. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Zhou Yu yang kotor namun tersenyum lebar dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Kak zhou" suara Ling’er terdengar jernih, tidak lagi serak dan berat. "Kenapa Kakak menangis? Dan kenapa bau Kakak seperti bunga?"
Shang Zhi tertawa di tengah tangisnya, ia memeluk ling'er erat-erat, seolah takut ia akan menghilang. "Tidak apa-apa, Ling'er. Semuanya sudah berakhir. Kau sudah sembuh."
Nyonya Liu berdiri di sudut ruangan, memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Ia tahu bahwa meskipun mereka masih berada di dalam area tambang, jiwa mereka telah merdeka.
Beberapa minggu berlalu, Ling’er benar-benar pulih. Zhou Yu berhasil menyembunyikan bekas luka pelariannya dan kembali bekerja, namun kali ini dengan rencana yang lebih besar. Ia tidak lagi bekerja untuk menggali mineral bagi para pengawas, melainkan bekerja untuk mengumpulkan perbekalan demi pelarian mereka yang sesungguhnya di masa depan.
Setiap sore, di depan gubuk kecil itu, Ling’er akan duduk menunggu zhou Yu pulang. Ia tidak lagi pucat; pipinya merona dan matanya bersinar. Ia menghirup udara dalam-dalam tanpa rasa sakit. Di tangannya, ia memegang satu kelopak bunga biru yang dikeringkan sebuah pengingat bahwa tidak peduli seberapa gelap tambang ini, ada seseorang yang bersedia memanjat langit demi dirinya.
Cahaya kecil itu tidak pernah padam. Justru sekarang, cahaya itu membakar kegelapan di sekitar mereka, menjanjikan hari esok di mana mereka benar-benar akan berjalan di bawah sinar matahari yang bebas.
Bersambung....