Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut polisi?!!
Arzetya pulang dari sekolahnya dengan perasaan bahagia, ia membawa teman barunya yang bernama Rania.
"Ibu... Ibu...!" Teriak Tya saat masih di luar rumah.
Arumni keluar menghampirinya, "ada apa, sayang?" Ia menatap gadis kecil seusia anaknya. "Hey, siapa ini? sepertinya, ibu baru pertama lihat," ucapnya.
"Namanya Rania, ibu." Tya pun memperkenalkan ibunya pada Rania, "ini ibu ku, Rania." Ucapnya.
Arumni mengajaknya masuk, diberinya jus buah dan makanan yang dia punya untuk kedua anak itu. Mereka terlihat sangat cocok satu sama lain, menikmati bermain dan belajar bersama dengan sangat antusias.
Tanpa terasa, mereka sudah menghabiskan waktu selama berjam-jam, hingga sore pun tiba, namun Rania masih belum ada yang menjemputnya.
Arumni duduk mendekati, lalu bertanya padanya. "Rania, ibu tidak melarang mu main ke rumah ini, tapi apa sebelumnya sudah pamit pada orang tua mu?"
Pertanyaan itu hanya dijawab gelengan kepala oleh Rania.
Arumni mengerutkan dahi, "belum? bagaimana jika orang tua mu, mencari?"
Rania masih terdiam, bukannya menjawab Rania justru terlihat sedang berlindung di punggung Arumni.
"Ada apa, sayang?" tanya Arumni yang tak kunjung mendapat jawaban dari Rania.
"Assalamu'alaikum, ayah pulang...!" seru Adit saat memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab Arumni. Ia hendak berdiri menyambut kepulangan suaminya, namun Rania menarik bajunya dengan sangat kuat, seperti sedang ketakutan hingga tak ingin jauh dari Arumni.
Tya berlari ke arah ayahnya, lalu memeluk ayahnya yang baru saja pulang itu. "Ayah, aku bawa teman baru." Katanya.
"Oh ya? Di mana?" Adit mengedarkan pandangannya namun teman yang Tya maksud tidak terlihat berada di sana.
Arumni menoleh ke belakang, menatap Rania dengan wajah pucat, dan tubuh gemetar, tangannya meremas baju Arumni. "Kamu kenapa, sayang?"
Rania semakin takut, bahkan ia memejamkan matanya saat Adit mendekat.
"Mas, apa dia takut padamu?" bisik Arumni.
Adit terdiam, membenarkan ucapan Arumni.
"Rania, ini ayah ku." Ucap Tya lembut.
Rania semakin kuat meremas baju Arumni. "A—aku—aku mau pu—pulang." Ucapnya terbata.
"Tapi kenapa, sayang?" Tanya Arumni, "sebelumnya tidak ada masalah, kan?"
Adit mendekat, berjongkok di samping Rania. "Apa kamu takut sama, aku?" Tanya Adit yang dijawab anggukan oleh Rania tanpa menunjukkan wajahnya.
"Rania, jangan takut, ini ayah ku." Ucap Tya lagi.
Bel berbunyi memecah suasana, semua menatap luar. Dari kaca jendela, tampak seorang wanita berseragam guru sedang berdiri menunggu di sana.
"Siapa itu?" Arumni hendak membuka pintu, namun Rania masih saja menahannya.
"Biar ayah yang buka." Kata Adit sambil berjalan menuju pintu.
"Assalamu'alaikum, saya Winda. Saya mencari anak saya, Rania. Menurut informasi yang saya dapat, anak saya datang ke rumah anda, pak." Kata Winda, tanpa basa basi.
"Waalaikumsalam, i—" baru Adit akan menjawab, Rania sudah lebih dulu berlari keluar.
"Ibu....!" Teriaknya sambil berlari dengan sangat kencang, lalu membenamkan wajahnya di perut Winda.
Melihat anaknya sangat ketakutan, Winda pun segera pamit dari sana. "Maafkan saya, sampai jumpa lain waktu." Ucapnya seraya menunduk, "terimakasih, pak!" katanya lalu pergi begitu saja.
"Apa salah ayah?" Tanya Tya setelah Rania pergi bersama ibunya.
Adit mengangkat kedua bahu, "ayah juga tidak tahu." Ucapnya lalu melangkah ke dalam.
Langkahnya terhenti ketika Adit menyadari bahwa Arumni tidak membersamai, Adit menoleh ke belakang, menatap Arumni yang masih berdiri di sana. Ia pun berjalan mundur, melingkarkan lengannya di perut sang istri, lalu menariknya ke dalam. "Jangan melamun, ibu." Kata Adit.
"Nggak melamun, ayah... ibu lagi berpikir."
"Melamun sama berpikir beda ya ayah?" Saut Tya.
"Beda tipis," katanya. "Itu teman mu takut sama ayah? atau takut sama polisi?" tanya Adit.
"Aku nggak tahu, ayah. Rania itu murid baru, dari kemarin belum ada yang mau jadi temannya, oleh sebab itulah aku ajak dia ke rumah, biar dia tidak merasa sendiri."
"Sepertinya Rania punya trauma," saut Arumni. "Lihat, baju ibu sampai kusut begini." Ucapnya sambil memperlihatkan baju bagian samping dan belakang.
"Iya," Adit membenarkan. "Ibunya tadi sampai nggak bisa berkata-kata."
"Aku akan bertanya besok ya, ayah?" Ucap Tya yang dijawab anggukan oleh ayahnya.
* *
Matahari mulai turun, memancarkan cahaya keemasan yang hangat di kota Wonosobo. Di sore yang cerah itu, Rama telah mengatur pertemuannya dengan bu Winda di sebuah cafe.
"Rama, ayah malu. Kita tidak tahu siapa bu Winda, tiba-tiba kamu ajak bertemu dengan ayah?" Kata Galih saat mereka dalam perjalanan.
"Bertemu doang, Galih." Saut bu Susi, "siapa tahu kalian nyambung." Katanya.
"Iya, ayah. Bu Winda tinggal sendirian di kota kita. Anggap saja tambah saudara, kalau ayah nggak cocok." Ucap Rama.
"Coba dulu, Galih. Lagi pula pertemuan ini kan tentang silaturahmi, bukan pertemuan yang dibuat secara resmi." Kata ibunya.
Galih menghela napas, "terserah kalian saja lah." Ucapnya pasrah.
Mereka telah sampai lebih dulu di cafe itu. Tiga puluh menit menunggu, bu Winda tak kunjung datang, membuat Galih semakin bosan berada di sana. "Kita pulang saja ya, Rama." Ajak Galih.
"Tunggu sebentar, ayah." Ucap Rama yang langsung membuat Winda datang, "ah, itu bu Winda, ayah!" Seru Rama saat melihatnya.
Netra bu Susi menyipit, "bu Winda sudah punya anak? itu pasti seusia Tya." Tebak bu Susi yang membuat Galih tersenyum lebar.
Galih merasa bahagia, jika benar itu anak Winda sudah pasti Winda punya suami, jadi niat Rama dan ibunya sudah pasti batal! pikirnya.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/