Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Akun Yang Alay!
"Pie! Kau sudah mendengarnya?"
Caca menghampiri Pie yang duduk seorang diri di kursi.
"Apa?"
"Sedang booming facebook. Lihat, aku baru saja membuat akun dan memiliki beberapa teman." Caca memperlihatkan ponsel yang menampilkan web facebook.
"Bagaimana cara memainkannya?" Pie sedikit penasaran karena beberapa minggu ke belakang sebagian teman-temannya sudah bermain Facebook.
Caca dengan sabar mengajari Pie cara bermain dan mendaftarkan akun untuk Pie.
"Coba kau add akunku."
"Kenapa nama akunmu alay sekali?" Pie mengerutkan keningnya.
Caca berdecak sebal. Sebab ia hanya ikut-ikutan dengan kebanyakan orang saat ini.
Caca dengan sabar memperlihatkan beberapa nama akun orang yang lebih mengerikan, sulit dibaca, tidak jelas, aneh dan sok cantik. Pie terkejut melihat hal itu, jika dibandingkan nama akun Caca belum apa-apa dengan nama akun yang Caca perlihatkan.
Suasana ujian yang berlangsung damai dan tenang. Para siswa kelas tiga terlihat mulai santai dengan berakhirnya masa ujian mereka.
"Pie? Bagaimana ujianmu?" Kim menghampiri Pie yang sedang mengobrol dengan Caca sebelum mereka pulang.
"Seperti hari yang lalu, sedikit menegangkan." Pie tersenyum kecil.
"Kau langsung pulang?"
"Eumm, bagaimana Ca?" Alih-alih menjawab, Pie malah bertanya pada Caca yang asyik mengunyah kripik singkong.
"Aku? Aku akan pulang."
"Bagaimana jika kau pulang nanti saja?" Kim menatap Pie
"Kenapa?"
"Aku ingin mengobrol denganmu sebentar."
"Oke. Ca, aku akan bersama Kim. Kau hati-hati di jalan."
"Baiklah, byee."
Caca berlalu pergi meninggalkan Kim yang membawa Pie ke taman pojok.
Di sana masih ada beberapa siswa yang enggan pulang, karena hari masih pagi.
"Kau mantap akan ke SMA itu?" Pie duduk meletakkan tas di sisi tubuhnya.
"Ya? Ada apa, Kim?"
"Tidakkah kau mendaftar di SMK yang kutuju?"
Pie memikirkan dirinya pergi-pulang saat sekolah.
SMK tujuan Kim terlalu jauh dan masuk ke dalam gang yang memerlukan ojek untuk sampai ke depan gerbang sekolah.
"Tidak. Itu terlalu jauh untukku."
"Kau bisa kos di dekat sana. Aku akan mencarikannya untukmu."
Pie tersenyum dan menggeleng.
Kos? Artinya ia harus membuat orang tuanya bekerja lebih keras lagi demi biaya pendidikannya. Ia memilih SMA di Kecamatan karena jaraknya yang dekat dan tak memerlukan biaya yang besar. Pie tahu diri dengan kemampuan orang tuanya yang hanya buruh tani.
Cukuplah keinginannya yang ingin ke museum dan menonton pertandingan kemarin adalah hal yang terakhir menyulitkan orang tuanya. Ia tak mau lagi membebani mereka.
"Di sana ada jurusan yang kusukai, Kim."
"Apa itu?"
"Ipa. Aku suka Biologi."
"Ah, begitu ya."
Pie mengangguk.
"Padahal aku ingin dekat denganmu." Kim bergumam pelan, Pie dapat mendengarnya.
"Kenapa tidak kau saja yang ke SMA?"
"Seperti dirimu, aku memiliki jurusan yang kusuka."
"Tak apa. Kita bisa bertemu jika ada waktu, Kim." Pie menenangkan Kim yang tampak sedih.
"Jika kita satu sekolah, aku tak keberatan untuk menjemput dan mengantarmu pulang, Pie. Aku tak bisa membayangkan harus berjauhan darimu. Dan hanya beberapa kali bertemu dalam waktu yang tidak bisa dipastikan."
Jujur, Pie menginginkan dirinya tetap melihat Kim setiap hari. Dan tawaran Kim terdengar menggiurkan. Namun, lagi-lagi ia berpikir, tak mungkin keluarganya akan menyetujui saran dari Kim. Bisa-bisa ia malah dinilai akan sibuk berpacaran daripada sekolah.
"Semua pasti ada jalan yang terbaik untuk kita, Kim." Pie menepuk punggung Kim dengan lembut.
Masa ujian selesai, para murid kelas tiga masih bersekolah tanpa belajar. Mereka mengisi waktu dengan bermain dan membaca di perpustakaan.
Kim dan gengnya seperti biasa bermain voli bersama kelas-kelas lain.
Hari ini ia tak melihat batang hidung kekasihnya, Pie.
Caca juga jarang sekali terlihat masuk sekolah.
Kim berpapasan dengan Ezti yang sedang bersama temannya.
"Pie masuk sekolah?"
"Tidak. Dia bekerja di kebun."
"Di kebun?"
"Ya. Kau tak tahu?"
Kim menggeleng pelan.
Ezti mengangkat bahu dan berlalu pergi meninggalkan Kim yang terlihat mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Telepon terhubung menunggu jawaban dari nomor tujuan.
"Halo?" suara yang Kim rindukan terdengar di seberang telepon.
"Pie? Kau tak sekolah hari ini?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku pergi ke kebun membantu orangtuaku."
"Ah, begitu."
"Ya, begini."
"Apa kau besok masuk sekolah?"
"Belum tahu. Apa besok ada pengumuman?"
"Aku tak tahu."
"Hmm."
"Apa kau sibuk?"
"Aku sedang istirahat."
"Apa itu melelahkan?" Kim khawatir Pie kelelahan dan kembali jatuh sakit.
"Tidak."
"Sejak kapan kau membantu orang tuamu di kebun? Kenapa kau tak memberitahuku."
"Sejak aku SD, haruskah aku memberitahumu?"
"Tentu saja. Aku kan pacarmu, Pie."
"Hahaha, benar juga."
"Yasudah, istirahatlah. Aku akan lanjut main voli."
"Ya, semangat, Kim."
"Oke Sayang. Bye."
"Bye."
Kim memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan menuju lapangan Voli. Di sana sudah ada beberapa orang yang berkumpul untuk bermain.
"Ada apa dengan wajahmu, Pie? Kau terlihat seperti mereka." Kim menunjuk beberapa teman perempuannya yang senang bersolek.
"Eumm.. aku memakai krim merkuri, Kim." Raut wajah Pie yang sedikit murung.
Kim melongo mendengar ucapan Pie. Wajah kekasihnya itu, kini terdapat panu berukuran besar di beberapa titik wajahnya dan terlihat mengelupas.
"Krim merkuri? Apa itu?"
"Krim berbahaya, Kim. Bisa menyebabkan kanker."
"Astaga! Bagaimana bisa kau menggunakan itu?"
"Awalnya aku tak tahu. Teman-teman lain sedang ramai memakai krim itu. Jadi aku hanya ikut-ikutan."
Kim menggeleng tak percaya. Kulit sawo matang kekasihnya terlihat aneh dengan bercak putih-putih seperti panu di wajahnya.
"Lalu, apa ini bisa normal?" Kim menunjuk bercak yang ada di wajah Pie.
"Semoga saja bisa."
"Semoga saja? Kau juga tak yakin?"
Raut wajah Pie terlihat ingin menangis. Ia menyesali perbuatannya. Harusnya ia berhati-hati dalam menggunakan kosmetik yang belum ia ketahui, bukan hanya ikut hal yang sedang trend.
Kim merasa kasihan dengan Pie, namun ia juga tak tahu harus bagaimana.
"Apa wajahku terlihat aneh?"
"Kau ingin aku jujur, Pie?" Kim menatap kekasihnya dengan miris. Sungguh dunia perempuan yang aneh.
"Tentu saja."
"Ya. Wajah dan lehermu putih tapi lenganmu coklat. Kau terlihat belang, Pie."
Mendengar hal itu Pie merasa semakin tak percaya diri.
"Kau tak sendirian. Lihat wajah mereka juga kurang lebih sama sepertimu." Kim menunjuk menggunakan dagu ke arah geng Mel yang sedang bergerombol menuju kantin.