Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 14
"Bibi Mei, dimana Mamaku?" Tanyaku sopan berusaha menahan sesak di dada.
"Humph," Dia memalingkan wajahnya dariku."Apa kamu pikir Mamamu masih sudi melihat anak tidak tahu malu seperti kamu?"
Jauh di dalam hati aku berharap Mama merestui pernikahan ini.
"Dimana Mamaku, Bibi? Acara akan segera dimulai dan aku harus turun bersama Mamaku."
"Teruslah bermimpi karena Mamamu tidak mau mendampingi mu turun ke bawah. Baginya kamu tidak ada bedanya dengan seorang pengkhianat, menjebak calon suami adikmu sendiri dan sekarang berhasil menikahinya! Rain, kamu sangat keterlaluan!" Bibi Mei tidak berbohong, aku tahu.
"Aku tidak tahu apa yang akan Almira katakan jika dia mengetahui tentang semua rencana busuk mu. Ck, Almira dan Deon sangat malang bisa bertemu dengan dirimu anak pembawa sial!" Dan,
Brak
Bibi Mei menutup pintu kamarku dengan keras setelah mengeluarkan kata-kata hinaan kepadaku. Ini menyakitkan, bahkan dihari bahagia pun aku masih merasakan sakit.
"Tapi tidak apa-apa, aku bisa makan bersama Deon nanti." Kataku menyemangati diri sendiri sambil melihat keluar jendela.
Aneh, aku tidak melihat siapapun di bawah. Seharusnya tamu undangan sudah banyak di bawah tapi kenapa aku tidak melihat satupun bayangan mereka?
"Apa semua tamu undangan masih di aula?" Pasalnya saat pertunangan adikku semua orang berkumpul di aula.
Hem, adikku bertunangan dengan Deon di aula dan sekarang orang yang menikah dengan Deon di aula adalah aku, bukan Almira. Aku tidak tahu apakah ini bisa dikatakan sebagai nasib baik atau buruk namun yang jelas bagiku ini semua adalah sebuah keberuntungan.
"Astaga, aku lupa memberi tahu Kak Bimo mengenai pernikahan ku hari ini. Aku harus segera menelponnya-"
Tok
Tok
Tok
Aku sontak menoleh menatap pintu masuk, untuk sementara masalah Kak Bimo aku kesampingkan dulu.
"Masuk." Kataku sambil berjalan cepat duduk kembali di atas ranjang.
Pintu kamar ku dibuka oleh Bi Imah, pembantu yang sudah bekerja di rumah ini sejak aku kecil.
"Non Rain, Tuan besar meminta Anda segera turun ke bawah."
Aku seketika tercengang mendengarnya. Bagaimana bisa aku turun sendirian tanpa seorang pendamping?
"Dimana Mama?" Tanyaku terdengar parau.
"Nyonya besar sedang kurang sehat dan memintaku untuk mendampingi non Rain ke bawah."
Bagaikan di sambar petir, aku spontan memejamkan mataku menahan perih di hati. Betapa hancurnya hatiku ketika mengetahui satu-satunya wanita luar biasa yang telah berjasa besar melahirkan dan membesarkan ternyata menolak menjadi pendampingku di hari pernikahanku sendiri.
Ya Tuhan, aku sungguh tidak ingin menangis tapi hatiku sangat sakit, Tuhan. Aku tidak bisa menahan luapan air mataku jatuh dari pelupuk mataku.
"Non Rain, kita harus bergegas turun." Bi Imah mendesak ku agar segera turun.
Aku menganggukkan kepalaku. Mengambil tissue kering dan buru-buru menghapus air mata di wajahku.
Setelah itu Bi Imah mengambil tangan ku dan menuntunku berjalan dengan hati-hati mengikuti langkahnya. Menuruni tangga aku lagi-lagi dibuat bingung karena tidak menemukan satu tamu undangan pun. Jangankan tamu, dekorasi indah yang aku bayangkan sebelumnya pun tidak terlihat dimana-mana.
Aku menatap kosong sekelilingku. Pernikahan ini hanya dihadiri beberapa orang saja dari keluargaku maupun keluarga Deon. Bahkan aku tidak melihat kehadiran Mama dan Mama Deon, hanya Om Sam dan beberapa sepupu Deon di sini.
Dan mereka semua menatapku dengan tatapan tidak bersahabat. Mereka semua menatapku dengan sinis. Ada kebencian di dalam mata mereka.
"Rain, cepatlah kemari, kami tidak punya waktu lagi!" Panggilan Papa menarik ku dari kekosongan.
"Ayo, tandatangani namamu." Kata Papa sambil memberikan ku pulpen.
"Tanda tangan?" Kami bahkan belum bertukar cincin.
"Ya, segera tandatangani namamu di sini." Alih-alih memberikan ku buku nikah, Papa malah menyodorkan ku sebuah kertas putih bermaterai.
Aku lagi-lagi dibuat speechless ketika membaca secara singkat kata-kata di atas kertas putih yang telah dicetak dengan tinta hitam.
"Cepatlah, apa yang perlu kamu tunggu." Bibi Lara mendesak ku agar segera menandatanganinya.
Aku terhenyak,"Kami menikah siri?" Tanyaku kosong.
sok polos...
masih penasaran 💪❤️